Manusia

almostvelvet.files.wordpress.com

Diolah dari kuliah terbuka yang diberikan Komaruddin Hidayat di UIN, Jakarta pada 2008 lalu

Oleh Reza A.A Wattimena

Kebahagiaan yang sejati hanya dapat diraih, jika orang dapat bersikap seturut dengan sifat-sifat dasariahnya sebagai manusia. Setiap sifat dasariah manusia selalu mempunyai kebutuhan. Dalam arti ini kebahagiaan adalah pemenuhan kebutuhan dari sifat dasariah tersebut. Dengan kata lain Anda baru bisa merasa bahagia, jika semua kebutuhan dari sifat dasariah Anda sebagai manusia telah terpenuhi. Pertanyaannya lalu apakah ragam sifat dasariah manusia itu?

Mahluk Nabati

Yang pertama manusia adalah mahluk material (matter being). Artinya manusia itu terbuat dari sari pati tanah, dan nantinya akan kembali menjadi tanah, yakni setelah kematiannya. Jika manusia meninggal maka tubuhnya akan diurai oleh tanah. Hal ini semakin tampak, ketika kita sedang bersujud. Dahi kita menempel ke tanah. Ini adalah sebuah simbol, betapa manusia itu selalu harus dekat dengan tanah, karena dari situlah ia berasal. Walaupun ia telah sukses, manusia tetap harus selalu ingat, bahwa dirinya berasal dari tanah. Maka itu ia harus rendah hati, sama seperti tanah yang selalu bersikap rendah hati. Diri manusia pertama-tama adalah tanah, dan ketika ia meninggal, ia kembali menjadi bagian dari tanah.

Apa yang identik dengan tanah? Apa yang secara nyata menjadikan tanah sebagai sumber kehidupannya? Jawabannya sederhana yakni tumbuh-tumbuhan! Tumbuhanlah yang secara integral hidup dan berkembang di tanah. Salah satu ciri mendasar dari tumbuhan adalah, bahwa ia “tumbuh”! Tumbuhan terus berkembang. Di dalam proses pertumbuhannya, bunga muncul. Buah pun ranum matang, dan siap untuk dipetik. Akar terus berkembang dan meluas. Batang semakin besar dan tinggi. Tumbuhan terus ber “tumbuh”.

Hal yang sama terjadi pada manusia, yakni ia juga bertumbuh. Waktu kecil orang tua memberikan kita makanan dan minuman, supaya kita tumbuh menjadi anak yang sehat. Proses pertumbuhan pun tidak berhenti. Setelah dewasa kita terus bertumbuh. Walaupun tentu saja pola pertumbuhannya sudah berbeda. Perhatikan rambut, bulu mata, bulu hidung, bulu kaki, ataupun kuku Anda, apakah mereka bertumbuh? Jika Anda memotongnya sesering apapun, apakah mereka tetap bertumbuh? Atau tidak? Jika kondisi tubuh Anda sehat, maka seharusnya semua elemen tersebut bertumbuh. Inilah yang disebut sebagai karakter vegetabilitas (vegetability) manusia. Dalam arti ini manusia adalah mahluk nabati.

Mahluk Hewani

Keberadaan manusia memiliki karakter yang bertingkat. Ini yang disebut sebagai the degree of existence, yakni tingkat-tingkat keberadaan manusia. Tingkat pertama adalah tingkat matter manusia, yakni manusia sebagai mahluk nabati. Oleh karena itu ia perlu terus makan dan minum, supaya ia bisa tetap hidup dan berkembang.

Pada tingkat kedua manusia adalah mahluk hewani. Inilah yang disebut sebagai karakter animalitas (animality) manusia. Dalam banyak hal manusia memang menyerupai hewan. Coba Anda pikirkan lebih jauh, apa yang menjadi ciri dari hewan? Tentu saja hewan itu bergerak. Hewan memangsa. Hewan melihat. Hewan mendengar. Hewan mengeluarkan suara. Hewan melakukan hubungan seksual. Dalam arti tertentu hewan juga bisa menyayangi. Dengan kata lain hewan memiliki kehidupan inderawi yang meriah. Dunia hewan adalah dunia yang gegap gempita.

Coba perhatikan apakah manusia seperti itu? Tentu saja jawabannya ya! Manusia bergerak. Manusia melihat. Manusia memangsa tentu dengan cara yang berbeda dibandingkan hewan. Manusia mendengar. Manusia bersuara. Manusia melakukan hubungan seksual. Manusia bisa menyayangi. Sama seperti hewan manusia memiliki kehidupan inderawi. Manusia juga memiliki dunia yang meriah. Dunia manusia adalah dunia yang gegap gempita, sama seperti dunia hewan.

Manusia juga bisa belajar dari hewan. Hewan tidak pernah merusak habitatnya. Mereka menghormati dan merawat habitatnya. Manusia tidak. Manusia menghancurkan lingkungan tempat ia hidup. Lihat saja fenomena global warming dan polusi yang parah di kota-kota besar. Perlahan tapi pasti manusia akan menghancurkan seluruh habitatnya sendiri, jika ia tidak berbuat sesuatu yang konkret untuk mencegahnya.

Hewan juga adalah mahluk yang bijaksana. Banyak kisah yang mencoba mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada manusia dengan menggunakan analogi sifat-sifat hewan. Melalui cerita itu manusia bisa belajar tentang kebaikan. Contohnya adalah tawon. Banyak orang takut terhadap tawon. Sebetulnya ketakutan tersebut tidak beralasan. Tawon adalah hewan yang bijaksana. Kemanapun ia pergi tawon selalu meninggalkan sesuatu yang berharga, seperti madu, ataupun beberapa jenis gula. Tawon juga bisa membantu proses penyerbukan bunga. Dengan proses penyerbukan itu, bunga akan kembali bertumbuh, dan menunjukkan kecantikannya kepada dunia.

Tentu saja tidak semua sifat hewan bisa diteladani. Beberapa hewan menunjukkan sifat-sifat yang licik, yang tidak pernah boleh ditiru oleh manusia. Lagi pula peradaban manusia tidak akan pernah berkembang, jika manusia hanya terpaku pada karakter hewani dan karakter nabatinya saja. Mengapa begitu? Hewan itu pada dasarnya sudah final. Mereka tidak lagi berkembang. Hidup hewan sebenarnya sudah selesai. Hewan tidak akan menciptakan senjata untuk membantunya berburu. Hewan juga tidak akan menciptakan kipas angin, jika ia kepanasan. Hewan tidak akan menciptakan telepon untuk membantunya berkomunikasi dengan hewan lainnya di benua yang berbeda.

Mahluk Insani

Hal ini tentunya berbeda dengan manusia. Memang manusia memiliki sisi nabati dan sisi hewani. Akan tetapi manusia tidak pernah boleh hanya mengikuti insting hewaninya belaka. Peradaban manusia hanya dapat berkembang, jika manusia mampu mengatasi sisi hewaninya. Dalam arti ini tidak seperti hewan, hidup manusia tidaklah pernah selesai. Dalam bahasa filsafat manusia itu terus menjadi. Ia tidak pernah selesai berproses. Proses baru akan selesai, jika ia meninggal.

Dalam arti ini manusia memiliki karakter yang lebih tinggi. Manusia adalah mahluk insani. Dengan karakter insaninya manusia bisa menyadari dan mengembangkan kemanusiaannya. Apakah ciri-ciri yang menandakan, bahwa manusia adalah mahluk insani? Pertama, manusia memiliki nalar untuk berpikir. Itulah ciri pertama yang menandakan, bahwa manusia merupakan mahluk insani. Melalui kegiatan nalarnya manusia menciptakan teknologi yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidupnya.

Kedua, manusia memiliki rasa seni. Tidak ada sesuatu pun di alam ini yang indah pada dirinya sendiri. Sesuatu itu baru bisa disebut indah, jika ada pihak yang mempersepsinya. Siapakah pihak yang mempersepsi itu? Tentu saja jawabannya adalah manusia! Hanya manusia yang bisa memberi penilaian tentang indah tidaknya sesuatu. Hanya manusia yang bisa berkata, bahwa bunga itu indah. Hewan tidak mampu melakukan ini. Tumbuhan juga tidak. Hanya manusia dengan rasa senilah yang bisa mempersepsi dan menghargai keindahan alam.

Jadi nalar dan rasa seni adalah dua ciri yang menandai manusia sebagai mahluk insani. Akan tetapi yang seringkali terjadi adalah, bahwa nalar manusia mengabdi kepada insting hewaninya. Jika itu terjadi maka dunia akan hancur. Teknologi bukannya digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan alam, tetapi justru untuk mengeksploitasi alam habis-habisan. Nalar memang merupakan sebuah potensi besar yang dimiliki manusia untuk mengembangkan dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Namun jika disalah gunakan, nalar bisa menjadi senjata yang sangat mematikan. Senjata nuklir dan senjata biologis misalnya, kedua senjata itu bisa dengan mudah membunuh jutaan manusia, dan menghancurkan lingkungan sekitarnya.

Mahluk Rohani

Sifat dasariah tertinggi dari manusia adalah, bahwa ia merupakan mahluk rohani. Manusia adalah the divine being atau the angelic being. Manusia memang memiliki sifat nabati dan sifat hewani, tetapi ia juga tidak hanya itu. Manusia memang memiliki nalar dan rasa seni, tetapi ia pun tidak hanya itu. Pada level tertinggi manusia adalah mahluk yang memiliki roh di dalam dirinya. Dengan adanya roh manusia bisa berkomunikasi dengan Tuhannya. Rohlah yang membuat manusia terbuka, dan kemudian bersentuhan dengan penciptanya. Karena manusia memiliki roh, maka ia bisa berdoa. Ia bisa berbincang-bincang akrab dengan Tuhannya. Hewan tidak bisa berdoa. Tumbuhan pun tidak. Hanya manusia yang bisa menyadari secara otentik keberadaan penciptanya.

Dengan demikian manusia adalah mahluk nabati, mahluk hewani, mahluk insani, dan sekaligus mahluk rohani. Sisi rohani manusia membimbing sisi nabati, hewani, maupun insaninya. Sisi rohani adalah guru bagi semua sifat dasariah lainnya. Sebaliknya sisi nabati dan hewani menopang sisi insani dan sisi rohani manusia. Jika sisi nabati dan sisi hewani manusia tidak diperhatikan, maka sisi insani dan sisi rohaninya juga tidak akan berfungsi dengan baik. Manusia menjadi lumpuh. Hanya dengan memperhatikan semua sifat dasariah inilah manusia bisa mencapai kebahagiaan yang sejati.

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s