Bahagia (Beberapa Pandangan)

ideaofhappiness.files.wordpress.com

OLEH:

REZA A.A WATTIMENA

Dahulu kala ada seorang pemikir besar bernama Plato yang hidup di Yunani sekitar 2600 tahun yang lalu. Ia berpendapat bahwa setiap manusia memiliki ragam keinginan dan hasrat yang saling berkonflik satu sama lain, serta bahwa manusia harus mengatur semua hasrat yang bergejolak di dalam dirinya tersebut. Memang pandangan ini jauh dapat ditelusuri di peradaban-peradaban kuno Mesopotamia maupun Hindu kuno, namun Platolah orang yang pertama kali mengajukan pertanyaan ini dan berusaha menjawabnya secara sistematis.

Pada salah satu tulisannya, Plato menyebut salah seorang bernama Gorgias. Tentu saja ia lebih merupakan tokoh fiksi yang digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan orang-orang pada jamannya. Gorgias di dalam tulisan Plato berpendapat, bahwa kebahagiaan seseorang terletak di dalam kemampuannya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan, apapun bentuknya.

Pada dasarnya Gorgias adalah seorang ahli retorika, yakni guru yang mengajarkan kemampuan untuk mempengaruhi orang dalam segala bidang, atau yang juga disebut sebagai seni persuasif. Seni persuasif mengajarkan orang untuk terampil berargumen dan mempengaruhi orang lain, walaupun orang yang berargumen tersebut mungkin saja tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang apa yang ia bicarakan. Dengan kemampuan ini orang dapat mempengaruhi para hakim dan jaksa di pengadilan, para pejabat di rapat pemerintah, maupun orang pada umumnya di sebuah rapat terbuka, sehingga ia dapat memiliki kekayaan besar hanya dengan mengandalkan kemampuannya untuk berbicara.

Gorgias menegaskan bahwa jika orang memiliki kemampuan ini, ia akan mendapatkan apapun yang dinginkan, tak peduli seberapapun sulitnya. Inilah kebaikan tertinggi yang bisa diraih manusia, yakni mencapai apapun yang diinginkannya, demikian kata Gorgias. Sebagai seorang filsuf Gorgias tidak mengatakan apa yang membuat manusia menjadi bahagia, melainkan ia menawarkan cara untuk mewujudkan setiap keinginan yang ada di hati setiap orang, karena kebahagiaan setiap orang sangatlah tergantung pada apa yang diinginkan jauh di lubuk hatinya. Dengan kata lain menurut Gorgias, orang perlu untuk menggunakan semua kekuatan akal maupun fisiknya untuk mencapai setiap keinginan yang ia miliki, karena di dalam pencapaian keinginan itulah terletak kebahagiaan.

Jadi Gorgias menyamakan begitu saja antara kebahagiaan di satu sisi dengan kepuasan yang diperoleh dari pencapaian keinginan di sisi lain. Hidup yang baik adalah hidup yang menuruti semua bentuk keinginan untuk mencapai kepuasan. Ketika keinginan dan hasrat yang ada begitu kuat, maka semua itu haruslah dipuaskan, dan jika tidak, maka orang tidak akan merasa bahagia. Pandangan semacam ini rupanya bukan hanya milik Gorgias semata, tetapi juga dapat ditemukan di kebudayaan-kebudayaan kuno lainnya yang muncul dalam sejarah.

Pandangan itu terdengar dangkal dan jahat, namun tampaknya tidak sepenuhnya salah. Plato sendiri sudah mengantisipasi argumen semacam itu dengan berpendapat, bahwa setiap orang memiliki beragam keinginan dan hasrat yang saling tumpang tindih di dalam dirinya. Di dalam bukunya yang berjudul The Republic, ia mengajukan sebuah teori tentang kepribadian manusia, atau yang disebutnya sebagai teori tentang Jiwa.

Baginya jiwa manusia memiliki tiga bagian, yakni bagian akal budi, semangat, dan nafsu-nafsu rendah, dan ketiga bagian ini saling berlomba untuk mengatur keseluruhan manusia. Jika bagian akal budi menang, maka ia akan menjadi manusia yang rasional, jika bagian semangat yang menang, maka ia akan menjadi orang yang berani, dan jika bagian nafsu-nafsu rendah yang menang, maka ia akan menjadi orang yang diperbudak oleh nafsu-nafsu rendahnya, seperti nafsu seks berlebihan, nafsu makan, dan nafsu akan kekuasaan.

Tentu saja teori ini agak terasa ketinggalan jaman, namun ada satu hal yang kiranya membuat teori Plato relevan, yakni penegasannya bahwa manusia memiliki beragam keinginan, tujuan, cita-cita, hasrat, dan ambisi yang saling tumpang tindih di dalam dirinya. Orang seringkali tidak menyadari beragam keinginan saling bertarung di dalam dirinya ini, karena dibutuhkan kemampuan berpikir reflektif dan kritis yang tinggi untuk mengenalinya, sementara semakin sedikit orang jaman ini yang memiliki kemampuan itu.

Kita kembali ke pernyataan Gorgias, bahwa manusia bisa hidup bahagia, jika ia memuaskan semua keinginan dan hasratnya seumur hidupnya. Menanggapi argumen ini Plato memberikan kita sebuah analogi; orang yang memuaskan keinginannya itu seperti orang yang menggaruk kulitnya, ketika terasa gatal, dan itu terasa nikmat serta memuaskan. Akan tetapi adakah orang di dunia ini yang mau menghabiskan hidupnya untuk menggaruk kulitnya terus menerus? Tentu saja tidak. Keinginan untuk menggaruk memang memuaskan, tetapi sifatnya sangatlah sementara.

Setiap orang pasti dihadapkan pada pilihan-pilihan tentang keinginan manakah di dalam diri mereka yang ingin diwujudkan. Di dalam dilema semacam itu, beberapa keinginan lebih layak diwujudkan dari keinginan lainnya, dan beberapa keinginan yang tampaknya memuaskan justru harus dikekang demi kesejahteraan orang itu sendiri. Seorang dokter misalnya, ia bisa menegaskan supaya pasien tidak mengikuti nafsu makannya ketika mereka sakit, karena itu justru akan merusak kesehatannya lebih jauh.

Plato kira-kira memiliki pemikiran yang sama. Memang orang suka menggaruk ketika kulitnya gatal, namun ia tidak mungkin menghabiskan hidupnya untuk menggaruk kulitnya yang gatal, walaupun itu seringkali sangat memuaskan rasanya. Maka manusia haruslah memilih hasrat ataupun keinginan apa yang ingin dipuaskannya, karena tidak mungkin ia menghabiskan hidupnya untuk memenuhi hasrat dan keinginan rendah terus menerus, seperti menggaruk kulit misalnya. Untuk bisa memilih secara tepat, maka manusia haruslah memiliki kemampuan untuk melakukan pertimbangan reflektif, yang dapat diperoleh melalui olah pikir dan olah rasa.

Maka saran Gorgias supaya manusia bekerja dan berusaha memenuhi semua hasrat dan keinginannya tidaklah tepat, dan justru sebaliknya, orang yang hidupnya berusaha mewujudkan semua hasrat dan keinginannya justru tidak akan merasa bahagia, dan hidupnya malah jadi sia-sia.

Di dalam aktivitas sehari-hari, Anda pasti seringkali mengalami konflik keinginan, misalnya Anda ingin tidur di pagi hari, karena cuaca sangat dingin, akan tetapi Anda harus bekerja, supaya Anda dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membayar biaya sekolah anak Anda. Keinginan tidur dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan bekerja adalah dua keinginan yang saling bertentangan, dan Anda tidak bisa melakukan ataupun mewujudkan keduanya sekaligus.

Ketika ada dua keinginan yang berkonflik, Anda tentunya harus membuat keputusan, bahkan walaupun keduanya tidak berkonflik, seperti Anda bisa menulis dan membaca, Anda tetap harus membuat keputusan, yang mana yang akan Anda lakukan terlebih dahulu. Hidup penuh dengan pilihan, dan hidup juga penuh dengan penundaan yang muncul, ketika Anda memilih untuk mewujudkan keinginan yang ada secara bertahap. Contoh paling jelas sekarang yang biasa dihadapi oleh banyak orang adalah soal kebiasaan merokok. Mereka ingin berhenti untuk menjaga kesehatan, tetapi mereka sudah ketagihan untuk merokok, maka untuk bisa menjaga kesehatan, orang itu harus pertama-tama berusaha berhenti merokok dahulu, baru kesehatannya secara bertahap bisa meningkat.

Konflik antara beragam keinginan dan hasrat di dalam diri manusia bukanlah sesuatu yang melulu buruk, melainkan itu justru hal yang sangat manusiawi. Semua orang, bahkan orang yang paling suci pun, menghadapinya. Hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan perencanaan yang matang adalah cara untuk menghadapi konflik atau dilema keinginan semacam itu. Ketiganya dibutuhkan tanpa bisa terpisahkan.

Tidak adanya rencana dan prioritas akan membuat hidup Anda menjadi kacau. Plato menyebut kondisi kacau ini sebagai kondisi ‘manusia demokratis’ (democratic man). Memang Plato terkenal sebagai pemikir yang tidak suka pada demokrasi, karena demokrasi hanya menghasilkan kekacauan, dan bukan menghasilkan tatanan yang adil. ‘Manusia demokratis’ ini menjalani hidupnya dengan memuaskan hasrat serta keinginan yang ia punya tanpa perencanaan ataupun prioritas yang jelas. Hari ini ia minum anggur dan bermain musik. Esok ia hanya tidur-tiduran sepanjang hari. Esoknya ia berjumpa dengan teman, dan esoknya ia ikut-ikutan berkomentar soal politik dengan berdasarkan hanya pada apa yang muncul di kepalanya.

Tanpa perencanaan dan prioritas yang jelas, Anda tidak akan menghasilkan apapun di dalam hidup Anda, demikian kata Plato. Perencanaan hidup sendiri dapat dibagi menjadi dua, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Anda dapat membuat rencana untuk hari ini, minggu depan, bulan depan, atau bahkan rencana untuk seumur hidup Anda. Orang-orang yang beriman justru mempunyai rencana yang lebih panjang daripada umur mereka.

Aristoteles adalah murid Plato, dan ia memiliki pendapat yang berbeda dengan gurunya. Bagi Aristoteles memang setiap orang perlu perencanaan di dalam hidupnya. Namun yang terpenting bukanlah perencanaan itu sendiri, melainkan tujuan akhir yang mengarahkan perencanaan itu. Tujuan itu mengatasi semua hasrat dan keinginan yang ada di dalam diri manusia. Setelah orang sampai pada tujuan itu, maka ia tidak lagi menginginkan apapun.

Anda pun bisa menerapkan cara berpikir ini. Tujuan itu membingkai seluruh hidup Anda dengan kerangka yang jelas. Bahkan bisa dibilang seluruh hidup Anda adalah perjalanan untuk mewujudkan tujuan itu. Tujuan itu hanya satu, tidak boleh lebih, maka setiap usaha dan tindakan yang Anda lakukan otomatis adalah satu langkah untuk mencapai tujuan itu. Jika orang sudah mencapai tujuan itu, maka ia akan bahagia.

Namun di sisi lain, ada beberapa pemikir dalam sejarah yang menolak konsep kebahagiaan sebagai terwujudnya tujuan akhir hidup manusia. Bagi mereka tidak ada yang disebut sebagai tujuan akhir, karena tujuan manusia selalu berubah, dan ia pun sebagai pribadi juga berubah bersama dengan bertambahnya waktu dan pengalaman yang ia miliki. Dua diantara pemikir terkenal yang berpendapat bahwa tidak ada tujuan akhir di dalam hidup manusia yang bisa memberikan kerangka bagi semuanya adalah Thomas Hobbes dan Immanuel Kant.

Sampai sekarang yang saya tuliskan adalah melulu soal kebahagiaan individual. Akan tetapi yang bisa merasa bahagia bukanlah hanya individu saja, tetapi juga komunitas, atau tepatnya dunia sosial. Di dalam bukunya yang berjudul The Republic, Plato menyatakan dengan jelas bahwa masyarakat yang ideal itu seperti orang yang berbahagia, yakni semua unsur yang ada di dalamnya bisa berfungsi secara normal dan optimal. Dan sebaliknya masyarakat yang tidak sehat itu juga seperti individu yang tidak sehat. Unsur-unsur di dalam dirinya tidak berfungsi secara optimal.

Kondisi Indonesia sekarang ini sebenarnya mirip orang sakit. Situasi politik, hukum, ekonomi, budaya, dan pendidikan tidak berjalan harmonis. Akibatnya kemiskinan terus bertambah dari hari ke hari. Situasi ini mirip dengan orang yang organ pernafasannya tidak berfungsi dengan baik, sehingga organ-organ lainnya juga tidak mampu menjalankan fungsinya. Analogi Plato ini memang tampak simplistik. Akan tetapi ada sepercik kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Relativitas Kebahagiaan?

Kebahagiaan adalah soal mengatur hasrat dan keinginan yang beragam di dalam diri manusia, sehingga semuanya bisa terarah pada satu tujuan yang bisa membuatnya bahagia. Itulah rumusan yang kiranya bisa menjadi kesimpulan sementara kita. Akan tetapi apakah rumusan ini bersifat universal, yakni berlaku untuk siapapun, kapanpun, dan dimanapun? Ataukah apa yang dianggap sebagai hasrat dan keinginan buruk bagi orang lain bisa menjadi hasrat dan keinginan yang baik bagi orang lainnya, jadi sifatnya relatif? Apakah tujuan hidup bagi orang yang satu justru bisa menjadi suatu kejahatan bagi orang lainnya?

Banyak orang tidak tahan dengan pluralitas dan relativisme. Maka kemudian mereka berusaha mencari pendasaran yang bersifat universal atas pluralitas, dan sekaligus menghapus relativisme tersebut. Manusia selalu mencari jawaban yang terdalam. Dan yang terdalam tersebut selalu dianggap sebagai sesuatu yang tunggal dan universal. Ini adalah kecenderungan dasar manusia sejak dulu. Hal yang sama berlaku di dalam pencarian kebahagiaan. Banyak orang berpendapat bahwa kebahagiaan itu satu, utuh, dan universal. Tentu saja ini adalah sebuah generalisasi yang seringkali dilakukan tanpa dasar yang kuat. Akibatnya banyak orang salah paham akan arti sesungguhnya dari kebahagiaan.

Tidak ada standar yang betul-betul sama untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang, apalagi jika itu dibandingkan dengan kebahagiaan orang lainnya. Ada sepercik relativisme di dalamnya. Dan relativisme semacam ini adalah sesuatu yang sifatnya alamiah, maka tidak bisa dihindari. Orang Tibet, Norwegia, dan orang Zimbabwe memiliki kriteria berbeda tentang apa yang membuat hidup mereka berbahagia dan bermakna. Tidak hanya itu tingkat pendidikan juga menentukan definisi dan kriteria kebahagiaan yang ada. Maka dapatlah dikatakan bahwa apa yang disebut sebagai kebahagiaan sangatlah bergantung pada kultur dan latar belakang historis setiap orang.

Pada titik ini kita perlu membedakan apa yang dimaksud kebahagiaan secara formal maupun kebahagiaan secara substansial. Fakta bahwa kriteria dan isi dari kebahagiaan berbeda-beda untuk setiap orang tidaklah dapat dibantah. Jadi di tataran substansial kebahagiaan itu sifatnya relatif. Namun di tataran formal yakni bentuknya, setiap orang yang bahagia pasti adalah orang-orang yang telah mencapai tujuan hidupnya, atau minimal sedang melangkah secara benar untuk mewujudkan tujuannya itu. Dan ini adalah suatu rumusan yang bersifat universal, yakni berlaku untuk siapapun, kapanpun, serta dimanapun.

Tentang ini Aristoteles pernah berkata, bahwa lepas dari keberagaman kriteria dan isi dari apa yang membuat orang bahagia, ada satu hal yang sama, yakni bahwa kebahagiaan mencakup aktivitas jiwa manusia yang didasarkan pada keutamaan. Jadi lepas dari segala perbedaannya, kebahagiaan itu selalu terkait dengan sifat dan sikap hidup yang baik, yang disebutnya sebagai keutamaan. Keutamaan itu adalah sikap rendah hati, jujur, toleran, dan sikap-sikap baik lainnya. Orang yang bisa hidup dengan berdasarkan keutamaan pasti akan berpeluang besar untuk meraih kebahagiaan.

Kebahagiaan sebagai Harmoni Kehidupan

Kebahagiaan pada hakekatnya adalah upaya manusia untuk menata beragam hasrat, dorongan, dan keinginan yang beragam di dalam dirinya, sehingga ia bisa mencapai kondisi harmonis, serta mulai mengarahkan hidupnya untuk mencapai tujuan yang bermakna bagi dirinya. Inilah inti pandangan Plato dan Aristoteles tentang kebahagiaan. Orang yang mencapai kebahagiaan adalah orang yang telah berhasil mencapai harmoni antara tegangan antara jiwa luhur dan hasrat-hasratnya. Ia tidak membiarkan keinginannya tumpang tindih, selalu tertata, kuat secara pribadi, dan dalam semuanya itu ia menjadi orang yang utuh serta bersahaja.

Ada dua pertimbangan yang mendasari pandangan ini, yakni bahwa konflik antar beragam hasrat, dorongan, dan keinginan di dalam diri manusia adalah sesuatu yang buruk. Konflik tersebut akan menciptakan kegelisahan. Pada akhirnya manusia tidak lagi mampu menentukan dan mulai bekerja untuk meraih tujuan hidupnya yang paling dalam. Dan yang kedua tidak ada cara lainnya yang cukup memadai untuk sungguh memahami apa arti kebahagiaan, secara formal, jika kita menolak ide harmoni di dalam hidup manusia. Buah dari konflik antara beragam keinginan dan hasrat di dalam diri manusia adalah frustasi. Dan frustasi sudah pada arti definitifnya adalah sesuatu yang negatif bagi manusia.

Logikanya begini ada dua keinginan yang saling bertentangan di dalam diri Anda. Tidak mungkin Anda bisa mewujudkan keduanya. Salah satunya harus dikorbankan. Jika begitu maka ada satu keinginan yang tidak bisa terpenuhi, dan keinginan tersebut terus merongrong Anda, sampai Anda akhirnya menjadi frustasi. Kondisi ini disebut Plato sebagai ‘rumah penjara’ (prison house), yakni suatu kondisi di mana diri (self) manusia dipenuhi oleh hasrat dan keinginan tidak teratur, seperti kerakusan, kesombongan, dengki, dan iri hati. Kondisi ini akan bermuara pada terciptanya keadaan tirani ketidakbahagiaan (tyranny of unhappiness). Jika sudah seperti itu, kebahagiaan akan semakin jauh dari genggaman tangan.

Konflik antara beragam hasrat dan keinginan juga bisa membuat salah satu fungsi jiwa tidak bisa menjalankan fungsinya secara normal. Latar belakang rumusan ini adalah pernyataan Plato, bahwa jiwa manusia memiliki unsur-unsur yang masing-masing memiliki fungsi khususnya sendiri. Misalnya rasa lapar. Unsur ini memungkinkan manusia merasa lapar, ketika tubuhnya membutuhkan nutrisi, sehingga ia tidak mati karena kekurangan gizi. Rasa lapar ini seringkali dikaburkan dengan perasaan untuk terus makan, yang bisa disebut juga sebagai dorongan untuk makan secara rakus. Jika orang makan secara rakus, maka ia tidak lagi punya waktu dan kesempatan untuk berolah raga. Tubuhnya menjadi tidak sehat. Dalam hal ini unsur rasa lapar di dalam diri manusia tidak bisa berfungsi secara normal, karena dikaburkan dengan dorongan rakus makan.

Konflik antara beragam hasrat dan keinginan juga muncul, karena akal budi belum menjadi tuan atas diri manusia. Akal budi masihlah kalah dari nafsu dan hasrat sesaat untuk meraih kenikmatan. Dalam arti ini akal budi belum menjalankan fungsi normalnya, yakni sebagai penata berbagai hasrat dan keinginan yang bergejolak di dalam diri manusia. Akal budi belum menjadi sumber harmoni kehidupan. Kegagalan akal budi untuk menjadi tuan atas diri manusia ini disebut juga sebagai irasionalitas. Maka searah dengan pendapat Plato, kita tidak dapat memahami kebahagiaan, selain sebagai harmoni antara berbagai hasrat dan keinginan di dalam diri manusia.

Semua rumusan ini dapat digunakan sebagai panduan hidup setiap orang untuk mencapai kebahagiaan. Rumusan di atas dapat membantu kita, ketika ketidakpastian hidup datang dan membuat kita menjadi gelisah. Di dalam kegelisahan kita mulai beralih ke Tuhan yang telah memberikan kita akal budi untuk mengatur semua gejolak yang muncul dari hasrat dan keinginan yang membabi buta. Hidup yang didasarkan pada kejernihan akal budi dapat membawa kita menuju kebahagiaan. Itulah yang kiranya bisa kita pelajari dari Plato.

Maka kebahagiaan tidak melulu soal memenuhi semua keinginan yang datang dan pergi saja. Dan jika orang malas berpikir, serta memilih untuk hidup menuruti kemauan sesaatnya saja, kebahagiaan justru jauh dari genggaman tangan. Ingatlah analogi yang dibuat Plato, menggaruk rasa gatal memang memberikan kenikmatan, namun tidak mungkin kita menghabiskan seluruh hidup kita sekedar untuk menggaruk rasa gatal. Kulit yang terus menerus digaruk akan rusak. Begitu pula hidup yang terus menerus berorientasi pada kenikmatan sesaat adalah hidup yang rusak.

Harmoni dan Perubahan

Manusia adalah mahluk yang sangat kompleks. Pada bagian sebelumnya kita sudah membicarakan hasrat dan keinginan yang secara sadar diketahui oleh manusia. Walaupun seringkali orang tidak dapat mengatur keinginan dan hasratnya, namun mereka mengetahui bahwa hasrat dan keinginan tersebut mempengaruhi pikiran dan tingkah laku mereka. Hasrat dan keinginan yang disadari ini dapat juga disebut sebagai konflik hasrat yang sinkronik (synchronic conflicts).

Akan tetapi ada juga yang disebut sebagai konflik hasrat yang diakronik (diachronic conflicts). Hasrat yang bersifat diakronik adalah hasrat yang keberadaannya tidak disadari sepenuhnya, karena hasrat tersebut terus berubah seturut dengan berjalannya waktu. Hasrat itu berubah bersamaan dengan berubahnya pandangan seseorang akan diri dan dunianya. Misalnya Anda baru saja memperoleh uang tambahan. Hati Anda senang dan Anda menjadi ramah terhadap orang-orang sekitar Anda. Dunia seolah menjadi tempat yang ramah. Namun bayangkan misalkan Anda habis ditipu orang di dalam bisnis. Hati Anda marah dan sedih. Maka Anda mulai memaki-maki orang sekitar Anda. Dunia menjadi tempat yang jahat.

Dalam suasana seperti itu, Anda perlu berhenti sejenak dari aktivitas, dan mulai mengambil jarak terhadap perasaan Anda sendiri, sehingga mendapatkan perspektif yang lebih netral dan menyeluruh. Sikap mengambil jarak ini disebut juga sebagai sikap reflektif. Dengan sikap reflektif Anda dapat terhindar dari sudut pandang sempit yang muncul akibat emosi, karena pada dasarnya tidak ada suatu kejadian yang sungguh jahat ataupun baik pada dirinya sendiri. Perspektif yang digunakan untuk memahami dan memaknai kejadian menentukan arti kejadian itu bagi Anda.

Dengan bersikap reflektif Anda juga mampu menjaga jarak dari hasrat dan keinginan tidak teratur yang ada, sehingga dalam arti tertentu, sudut pandang Anda menjadi lebih obyektif. Sikap seperti inilah yang diperlukan untuk membuat keputusan atau penilaian yang membutuhkan pemikiran yang obyektif. Hidup manusia itu penuh dengan perubahan. Jika tidak mampu menjaga jarak dari perubahan yang terjadi, Anda akan hanyut di dalam perubahan itu, dan pada akhirnya kehilangan diri Anda sendiri.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Plato pernah berpendapat bahwa individu yang baik adalah individu yang hidup dalam harmoni, baik di dalam dirinya maupun dalam dunia sosialnya. Individu tersebut utuh dalam arti bagian-bagian kepribadiannya berfungsi secara normal dan membentuk kesatuan jati diri yang jelas. Tanpa kesatuan itu orang akan terpecah kepribadiannya. Orang yang pecah kepribadiannya ini disebut Plato sebagai manusia demokratis (democratic man). Di dalam tulisan-tulisannya, Plato memang memandang demokrasi sebagai sesuatu yang buruk.

Di dalam gejolak perubahan dunia yang terus berlangsung, orang memerlukan jati diri yang kuat, sehingga ia tidak terbawa arus. Jati diri yang jelas namun terbuka ini berakar pada tradisi panjang tentang kebijaksanaan. Kebijaksanaan membuat orang tetap tenang menghadapi segala sesuatu, termasuk peristiwa yang paling menakutkan sekalipun, karena ia bisa menjaga jarak dari emosi dan peristiwa yang dihadapinya. Tidak ada peristiwa yang pada dirinya sendiri murni jahat dan murni baik. Inilah kiranya yang menjadi pendapat salah seorang filsuf Jerman yang hidup lebih dari 500 tahun yang lalu, Spinoza. Baginya kejahatan dan kebaikan tidaklah bisa dinilai pada dirinya sendiri, karena itu merupakan bagian dari keharusan gerak takdir alam semesta.

Dilihat secara parsial memang suatu kejadian bisa dianggap buruk. Namun dilihat dari kaca mata keseluruhan, kejadian itu biasanya mengabdi pada satu tujuan tertentu yang tidak diketahui sebelumnya, dan tujuan itu mungkin saja memiliki nilai kebaikan tertentu. Proses semacam itulah yang menjadi ciri dari gerak perubahan di dalam realitas. Dengan memahami itu secara tepat, orang bisa mencapai kebahagiaan dan ketenangan jiwa.

Konflik yang Membahagiakan

Seperti sudah kita lihat, konsep kebahagiaan sebagai harmoni berakar pada pemikiran Plato. Sumber kebahagiaan individu adalah harmoni di dalam dirinya, dan sumber masyarakat yang sejahtera adalah harmoni yang terdapat di dalam masyarakat itu. Akan tetapi konsep itu rupanya banyak dikritik. Salah satunya adalah oleh Aristoteles, murid Plato. Bagi Aristoteles negara yang harmonis bukanlah negara yang ideal, karena biasanya negara itu menyembunyikan konflik di dalamnya, atau justru menjadi tidak ramah pada perbedaan. Perbedaan identitas haruslah diakui di dalam suatu masyarakat, walaupun perbedaan itu seringkali menciptakan konflik satu sama lain.

Jadi Aristoteles memberi tempat bagi pluralitas yang memang tidak selalu harmonis. Bahkan seringkali konflik yang muncul akibat perbedaan adalah suatu tanda yang positif. Hidup manusia akan menjadi jauh lebih miskin tanpa perbedaan dan konflik. Tentunya konflik yang bisa diterima adalah konflik yang masih dalam batas-batas kemanusiaan. Jika suatu konflik mulai memutuskan untuk menghancurkan nyawa orang atau merampas kebebasannya, maka itu juga menjadi tidak sehat.

Kontrol berlebihan terhadap keinginan juga membuat hidup Anda tidak bahagia. Pendapat Aristoteles diradikalkan lebih jauh oleh Aristippus. Ia berpendapat bahwa hasrat dan keinginan tidak membutuhkan pengaturan apapun. Kebahagiaan hanya dapat dicapai, jika manusia memberikan ruang yang besar bagi kebebasan hasrat dan keinginannya. Yang harus diperhatikan adalah keinginan disini dan saat ini. Tidak perlu ada penilaian moral atas keinginan kita, karena itu hanya akan menciptakan kekangan bagi kita untuk sampai pada kebahagiaan.

Pendapat itu semakin berkembang di dalam pemikiran Nietzsche, seorang filsuf Jerman abad ke-19. Baginya pertarungan antara hasrat dan keinginan di dalam diri manusia bisa menciptakan kenikmatan tertentu. Dan ketika salah satu keinginan tersebut menjadi kenyataan, maka akan tercipta perasaan bangga dan kagum, yang menimbulkan bersit kenikmatan tertentu di dalam diri. Pemenuhan keinginan terus menerus juga akan mencegah orang merasa bosan, akibat hidup yang selalu menjalani rutinitas belaka.

Dalam hal ini Nietzsche membedakan dua macam manusia, yakni manusia yang lemah dan manusia yang kuat. Bagi orang lemah kebahagiaan itu sama dengan ketenangan jiwa, yang muncul dari harmoni kehidupan. Inilah ideal orang bahagia di dalam agama-agama yang menurut Nietzsche menandakan lemahnya seseorang. Sementara bagi orang kuat, kebahagiaan itu sama dengan mengiyakan dorongan-dorongan manusiawi di dalam diri manusia, termasuk di dalamnya dorongan untuk menguasai, kebebasan, dan penegasan diri yang kuat. Orang yang kuat bagi Nietzsche akan menolak semua bentuk ketenangan maupun harmoni, karena itu melemahkan daya juang manusia.

Nietzsche mengingatkan bahwa hasrat dan keinginan manusia itu tidak akan pernah bisa diatur, apalagi dimusnahkan. Bahkan keinginan untuk memusnahkan keinginan itu adalah sebuah keinginan juga. Hasrat dan keinginan yang bertarung di dalam diri manusia itu menciptakan tegangan, dan tegangan itu sebenarnya bisa memberikan kenikmatan dalam jangka pendek, serta kebahagiaan dalam jangka panjang, demikian kata Nietzsche. Perjalanan untuk mewujudkan keinginan adalah sebuah tantangan. Orang butuh tantangan di dalam hidupnya, sehingga ia bisa terus berkembang. Tantangan demi tantangan dalam hidup bisa memberikan alasan bagi orang untuk terus belajar. Di dalam proses itu ia akan merasa bahagia.

Jadi ada dua ekstrem, yakni pemikiran Plato di satu sisi dan pemikiran Nietzche di sisi lain. Plato menekankan harmoni sementara Nietzsche menolak harmoni, dan mengabdi pada keinginan serta hasrat yang berkobar-kobar. Akan tetapi ada beberapa pemikir lainnya yang memilih untuk tidak jatuh pada kedua ekstrem itu. Salah satunya yang layak untuk mendapat perhatian adalah Pico della Mirandola.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Plato menolak pluralitas hasrat dan keinginan di dalam diri manusia. Pico menolak hal ini. Baginya keragaman hasrat dan keinginan di dalam diri manusia adalah sesuatu yang harus dikagumi. Keragaman atau pluralitas ini adalah pemberian Tuhan yang patut disyukuri dan dikembangkan. Jika hasrat tersebut dibunuh, maka manusia kehilangan sesuatu yang membuat dia menjadi manusiawi. Jika hasrat tersebut diarahkan pada seksualitas melulu, maka ia akan menjadi liar. Akan tetapi jika hasrat tersebut diarahkan pada rasionalitas, maka ia akan menjadi mahluk mulia. Dan jika hasrat dan keinginan tersebut diarahkan pada kegiatan intelektualitas, maka ia akan menjadi malaikat Tuhan. Itulah perkataan Pico.

Dan jika manusia bisa mengarahkan seluruh hasrat dan kenginannya yang beragam itu dalam terang intelektualitas dan rasionalitas, ia bisa menjadi satu dengan Tuhan. Hasrat dan keinginan itu tidaklah boleh diterangi oleh seksualitas ataupun kenikmatan akibat kekuasaan belaka. Jika itu yang terjadi, maka ia akan menjadi mahluk liar yang tidak beradab. Intelektualitas dan rasionalitas haruslah menjadi inti dari hasrat dan keinginan manusia, supaya pada akhirnya ia bisa menjadi mahluk Tuhan yang sesungguhnya.

Cara untuk Mencapai Harmoni Diri

Memang ada banyak pemikir yang berbeda pendapat di dalam sejarah tentang cara untuk mencapai kebahagiaan. Akan tetapi mayoritas di antara mereka sepakat, bahwa cara terbaik untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan menciptakan harmoni diri. Salah satu tugas filsafat adalah untuk merumuskan arti dari harmoni diri tersebut, dan bagaimana cara untuk mencapainya. Dan itu tampaknya bukanlah suatu tugas yang mudah.

Ada seorang psikolog-filsuf yang hidup di abad keduapuluh. Namanya adalah Sigmund Freud. Ia terkenal dengan rumusannya, bahwa manusia itu terdiri dari id, ego, dan superego. Rumusan tersebut sebenarnya sangatlah diinspirasikan oleh Plato dengan pembagiannya terhadap jiwa manusia, yang terdiri dari hasrat, roh, dan akal budi. Walaupun nanti Freud mengubahnya untuk kepentingan teoritisnya. Di dalam tiga konsep itu, ego haruslah menjadi pemimpin dari id dan superego. Id adalah dorongan-dorongan liar. Superego adalah kumpulan aturan dan moralitas yang ditanamkan oleh lingkungan sosial sedari kecil. Sementara ego adalah individualitas seseorang, atau bisa dikatakan juga sebagai jati dirinya. Ketiganya harus berada di dalam situasi harmonis dengan ego sebagai pemimpinnya.

Kebahagiaan juga bisa dicapai dengan cara lain, yakni dengan memahami dan mengkontemplasikan alam semesta berserta segala isinya. Di dalam tradisi Yunani Kuno dan pemikiran abad pertengahan, cara ini disebut juga sebagai vita contemplativa. Dengan memandang alam semesta beserta segala isinya, manusia bagaikan memandang Tuhan itu sendiri. Momen itu menciptakan kebahagiaan sejati di dalam jiwa manusia, yang pada akhirnya bisa mengakhiri semua gejolak hasrat dan keinginan yang menggelisahkan di dalam dirinya. Dengan memandang alam manusia juga memandang Tuhan, dan dengan itu ia menjadi satu denganNya. Itulah kebahagiaan sejati yang paling tinggi yang bisa diraih manusia.

Kebahagiaan juga bisa diraih dengan mencari kenikmatan-kenikmatan sederhana yang mungkin dialami seseorang di dalam kehidupannya. Misalnya apakah ia memiliki sahabat? Bagaimana hubungannya dengan lingkungan sosialnya? Apakah pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, sekaligus untuk mengembangkan dirinya? Bagaimana interaksinya dengan keluarganya? Jika orang memiliki jawaban positif akan semua pertanyaan itu, maka ia bisa dikatakan lebih berbahagia daripada orang yang menjawab ketiga pertanyaan itu secara negatif. Ini adalah pemikiran sederhana yang seringkali dilupakan, ketika orang mulai coba memikirkan kebahagiaan secara mendalam.

Dapatlah disimpulkan bahwa kebahagiaan sebagai harmoni diri dapat dicapai dengan tiga cara, yakni dengan mengatur semua hasrat dan keinginan di dalam diri, kontemplasi terhadap alam semesta untuk memahaminya, dan dengan memperbanyak situasi kenikmatan-kenikmatan kecil di dalam aktivitas sehari-hari. Idealnya ketiga cara itu adalah satu dan sama, sehingga harus dilakukan secara bersamaan. Dengan hidup menggunakan ketiga cara ini, orang akan hidup secara bermakna, karena ia akan merasa hidupnya memiliki nilai, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang lain.

Tantangan terhadap Kebahagiaan

Bagi beberapa filsuf ide bahwa orang ingin atau harus mencapai kebahagiaan di dalam hidupnya adalah ide yang tidak masuk akal. Bagi mereka kebahagiaan adalah suatu proses yang elusif, yakni tidak pernah mampu diwujudkan ke dalam realitas, dan hanya berhenti sebagai cita-cita saja. Orang yang hidupnya bertujuan untuk mencapai kebahagiaan adalah orang yang hidup dalam mimpi dan tidak mau bangun dari mimpinya itu.

Salah satu argumen mengatakan, bahwa beragam hasrat dan keinginan yang bergejolak di dalam diri manusia tidak mungkin akan dapat didamaikan, dan mencapai situasi harmoni. Tidak ada satu tujuan hidup yang bisa dirumuskan, yang mampu mencakup sekaligus melampaui beragam hasrat dan keinginan yang ada di dalam diri manusia. Tujuan hidup yang utuh dan harmoni diri tersebut merupakan buah pikiran dari para filsuf di dalam sejarah yang lebih banyak bermimpi dengan ide-ide mereka daripada bertatapan langsung dengan realitas.

Argumen di atas keluar dari mulut dan tulisan Nietzsche. Baginya kita tidak perlu mengontrol hasrat dan keinginan yang ada di dalam diri kita. Bukan hanya tidak perlu, namun tidak ada satupun cara yang bisa dipakai untuk mengontrol hasrat maupun keinginan tersebut. Hasrat dan keinginan bukanlah sesuatu yang sistematis, sehingga bisa diatur secara rasional. Bagi Nietzsche kehidupan manusia bukanlah soal pengaturan, tetapi soal menerima dorongan terdasar hasrat manusia yang justru membuatnya utuh sebagai manusia. Itulah kebahagiaan menurut versi Nietzsche.

Setidaknya ada dua bentuk tantangan terhadap konsep kebahagiaan, yakni orang-orang yang berpikir bahwa kebahagiaan itu tidak penting, dan orang-orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan sebagai harmoni diri tidak akan bisa terwujud dalam realitas, sehingga usaha untuk mencapainya adalah sesuatu yang sia-sia. Bagi pandangan pertama kehidupan manusia bukanlah soal untuk mencapai kebahagiaan, tetapi sebagai upaya untuk menjadi otentik, dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip universal yang diyakini dengan teguh. Sementara bagi yang kedua, kehidupan manusia tidak akan pernah bisa mencapai harmoni diri sejati, seperti yang diidealkan oleh Plato. Tujuan hidup manusia adalah mengakui hasrat terdasar di dalam dirinya, dan hidup berdasarkan itu.

Di sisi lain ada beberapa filsuf yang berpendapat, bahwa hidup harmonis adalah hidup yang tidak sehat, karena membuat orang melulu harus menyesuaikan diri dengan skema harmoni tersebut. Di dalam perjalanan untuk menjadi harmonis, orang bisa kehilangan dirinya sendiri, dan pada akhirnya menjadi tidak bahagia. Cita-cita untuk menjadi pribadi yang harmonis bisa mengorbankan perasaan dan keinginan, yang sebenarnya merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari manusia.

Seorang filsuf Jerman abad ke-18 yang bernama Immanuel Kant berpendapat, bahwa kebahagiaan bisa dicapai oleh manusia. Namun caranya tidaklah dengan mencapai harmoni diri, melainkan dengan hidup yang bermoral. Kebahagiaan yang terdalam terletak pada kehendak baik yang ada di dalam diri manusia, ketika ia bertindak secara moral. Kebahagiaan bukanlah soal perasaan puas ataupun harmoni diri, melainkan soal bertindak dengan rasionalitas, kejernihan, dan keteguhan pada nilai-nilai moral yang ada. Jadi kebahagiaan bukan hanya soal memuaskan kepentingan diri semata, tetapi soal hidup berdasarkan nilai-nilai moral yang jelas, jernih, dan rasional. Dalam jangka pendek cara hidup seperti ini memang kelihatan menyiksa. Akan tetapi prinsip, keteguhan, rasionalitas, dan kejernihan adalah kriteria untuk mengukur kualitas seseorang. Tanpanya orang tidak bisa menjadi manusia yang utuh. Pada cara berpikir ini, kebahagiaan dan moralitas adalah satu dan sama.

Pada bagian-bagian sebelumnya, Anda sudah melihat bahwa salah satu cara untuk mencapai hidup yang bahagia adalah dengan hidup yang baik, yakni hidup yang dijalankan seturut dengan nilai-nilai moral kebaikan. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman abad ke-18, kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, melainkan cara untuk mencapai hidup yang bermoral. Jadi moralitas adalah tujuan, sementara kebahagiaan adalah sarana. Mengapa begitu? Karena bagi Kant kebahagiaan bukanlah konsep yang cukup rasional ataupun koheren untuk dievaluasi. Hanya moralitaslah yang cukup rasional dan koheren untuk dipertimbangkan. Dan letak moralitas bukanlah dilihat semata dari hasil tindakannya saja, tetapi dari kehendak baik yang mendasari suatu tindakan. Kehendak baik itulah yang sungguh bernilai.

Walaupun begitu seperti sudah disinggung sebelumnya, moralitas dan kebahagiaan seringkali bertolak belakang. Bagi banyak orang kebahagiaan itu identik dengan kenikmatan. Sementara kenikmatan langsung tidak dapat diperoleh dengan hidup bermoral, karena hidup bermoral membutuhkan penekanan kehendak, dan itu juga seringkali berbentuk penekanan kenikmatan. Jadi untuk hidup bermoral, orang seringkali harus mengekang dirinya dari kenikmatan. Hidup bermoral dan hidup bahagia tidak selalu berjalan bersama, melainkan seringkali bertentangan.

Kant juga menyatakan dengan jelas, bahwa kebahagiaan dan moralitas bertentangan setidaknya di dua level. Yang pertama adalah bahwa kebahagiaan seringkali bertentangan dengan kewajiban orang untuk selalu bertindak seturut dengan kehendak baiknya. Bagi Kant orang dituntut untuk selalu bertindak baik di dalam hidupnya. Itu adalah kewajiban moral manusia yang tidak dapat diganggu gugat. Orang berbuat baik bukan karena perbuatan itu akan mendatangkan pahala atau untuk menyenangkan Tuhan, melainkan karena berbuat baik adalah suatu kewajiban mutlak yang tidak bisa ditolak.

Dalam kerangka filsafat moral, ajaran Kant ini banyak juga dikenal sebagai deontologisme moral, yakni moralitas sebagai kewajiban yang sifatnya mengikat dan rasional. Yang kedua adalah bahwa untuk hidup bermoral, orang seringkali harus berkorban. Ia harus melepaskan kepentingannya, sehingga tindakan yang baik sungguh dapat terwujud. Tindak berkorban ini seringkali juga berarti harus mengorbankan kebahagiaan tertentu dalam hidupnya.

Pembedaan antara moralitas di satu sisi dan kebahagiaan di sisi lain tidak unik Kant. Banyak filsuf dahulu kala sudah membuat pembedaan tersebut. Di dalam filsafat setidaknya ada dua cara untuk mendamaikan tegangan kuno antara kebahagiaan dan moralitas. Yang pertama adalah dengan memisahkan tolok ukur moralitas dari kebahagiaan. Artinya moralitas adalah sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kebahagiaan. Dalam arti ini tidak ada konflik antara tindakan yang bermoral di satu sisi dan tindakan yang membahagiakan di sisi lain, karena keduanya bermain di arena yang berbeda.

Yang kedua adalah dengan memahami konsep kebahagiaan sebagai sesuatu yang luas dan menyeluruh, sehingga moralitas bisa tercakup ke dalamnya. Artinya orang yang bermoral adalah orang yang berbahagia. Hidup yang bermoral adalah jaminan untuk hidup berbahagia. Logikanya sederhana. Ketika orang hidup bermoral, ia akan berbuat baik untuk sesamanya. Artinya relasinya dengan orang lain adalah relasi yang positif, saling menghargai, dan menghormati. Di dalam relasi seperti itu, hidup yang bahagia sebenarnya sudah berada di dalam genggaman tangan.

Pada tulisan ini sudah ditunjukkan, bahwa kebahagiaan adalah pengertian yang terus menjadi pergulatan sepanjang sejarah. Dengan memahami begitu banyak pandangan tentang kebahagiaan, Anda diharapkan untuk menentukan satu yang kiranya cocok dengan kepribadian Anda. Berbagai perspektif ini kiranya juga bisa mengantarkan Anda pada pengertian yang lebih utuh tentang manusia.

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s