Dunia yang Galau

3245448002b2cb6a848e6f3b9b360d54
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita, rupanya, hidup di dunia yang galau. Orang-orang di dalam dunia ini selalu dalam gerak cepat. Mereka merasakan kegalauan di hati mereka. Mereka selalu ingin mencapai sesuatu di luar diri mereka, dan selalu ingin mengubah, atau memperbaiki sesuatu. Apakah anda merasakan hal yang sama?

Ketidaktenangan dunia, die Unruhe der Welt, begitulah judul buku dari Ralf Konersmann, filsuf asal Jerman, pada 2015 lalu. Apakah rasa galau dan tidak tenang ini sesuatu yang secara alamiah ada di dalam diri manusia? Ataukah peradaban dan lingkungan sosial mengubah kita menjadi mahluk-mahluk yang galau, yang selalu merasa harus mengejar sesuatu di luar diri kita? Inilah yang menjadi pertanyaan dasar Konersmann. Lanjutkan membaca Dunia yang Galau

Di atas Rasa Sakit

SONY DSC
Daily Creativity

Oleh Reza A.A Wattimena

Rasa sakit adalah bagian dari hidup manusia. Ketika terlahir di dunia, kita sudah langsung berjumpa dengan rasa sakit. Ibu yang melahirkan kita pun sudah akrab dengan rasa sakit. Tak mungkin manusia untuk menghindar dari rasa sakit.

Ketika rasa sakit tiba, tubuh dan pikiran langsung mengalaminya secara bersamaan. Ia melukai tubuh, sekaligus menggetarkan pikiran. Cerita tentang sakit datang tanpa diundang. Cemas dan khawatir juga datang menerkam. Lanjutkan membaca Di atas Rasa Sakit

Jurnal Filsafat Terbaru: Pendidikan Filsafat untuk Anak?

Tulisan lama saya, ketika masih mengajar di Unika Widya Mandala Surabaya dulu: 

8e05d9d1c7a2fa5901c0a3a7d7af4ece
pinterest

PENDIDIKAN FILSAFAT UNTUK ANAK?

PENDASARAN, PENERAPAN DAN REFLEKSI KRITIS UNTUK KONTEKS INDONESIA
Reza A.A. Wattimena

Abstrak
Tulisan ini ingin memperlihatkan pentingnya pendidikan filsafat untuk anak di Indonesia. Filsafat disini dilihat sebagai pendidikan nilai sekaligus pendidikan hidup yang amat penting bagi perkembangan kepribadian manusia. Oleh karena itu, pendidikan filsafat harus diberikan sejak usia dini, yakni usia sekolah dasar. Namun, pola mengajar filsafat berbeda dengan pola mengajar ilmu-ilmu lainnya. Ia mengajak orang berpikir sendiri dan menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan hidupnya. Namun, filsafat untuk anak tidak boleh membebani proses belajar anak. Ia juga harus mempertimbangkan konteks kultur lokal yang sebelumnya telah ada di Indonesia.

Lengkapnya bisa dilihat dan diunduh di: https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/12782/9147 

Tulisan lainnya bisa dilihat di 

https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/search/search?simpleQuery=wattimena&searchField=query

 

Menuju Politik Beradab

8e988264adec7eb0564774217c768956
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Belakangan ini, diskusi politik di Indonesia begitu biadab. Suku, ras dan agama dijadikan bahan untuk saling memaki dan mencaci di ranah publik. Orang-orang yang dulunya dianggap cerdas kini berbalik menjadi beringas, mungkin karena sakit hati, karena tak lagi mendapat kue kekuasaan. Berbagai kelompok kepentingan yang pikirannya primitif dibiarkan merajalela di ruang publik, dan menciptakan keresahan sosial.

Mengapa mutu diskusi politik di Indonesia menjadi begitu rendah? Penyebabnya tentu tak sederhana. Akarnya panjang ke masa lalu yang kini terlupakan. Ada tiga hal yang kiranya perlu diperhatikan. Lanjutkan membaca Menuju Politik Beradab

Dialog sebagai Jalan Hidup

600full-dimensions-of-dialogue-photo
tasteofcinema.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Banyak masalah di dalam hidup kita bisa ditarik ke satu sebab mendasar, yakni tidak adanya dialog. Orang mengira pendapatnya sendiri sebagai benar, dan menghina pendapat orang lain. Orang tidak lagi mendengar dengan seksama, sehingga salah paham, dan cenderung menanggapi dengan amarah dan kebencian. Akibatnya, banyak masalah tak selesai, sementara masalah baru datang bermunculan.

Sebenarnya, dialog bukanlah barang baru di dalam hidup manusia. Ia sudah selalu menjadi bagian hidup kita. Dialog adalah upaya untuk memahami maksud dan cara berpikir seseorang dengan berbicara langsung dengannya. Ia adalah landasan dari beragam bentuk diskusi.

Ketika kita merencanakan sesuatu, misalnya tujuan dari liburan tahun ini, kita berdialog dengan teman ataupun keluarga kita. Dialog dan diskusi juga amat penting untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang biasanya berujung pada konflik. Ia juga menjadi cara paling baik untuk membuat berbagai keputusan penting dalam hidup.

Bisakah kita membayangkan dialog sebagai jalan hidup kita? Artinya, kita siap sedia untuk berdialog saat demi saat, baik dengan diri kita dalam bentuk refleksi, maupun dengan orang lain. Kita lalu bisa belajar dari pengalaman hidup kita, dan bekerja sama dengan orang lain. Apakah yang kiranya diperlukan untuk mewujudkan hidup dialogis semacam itu?   Lanjutkan membaca Dialog sebagai Jalan Hidup

Menjadi Manusia Reflektif

htb1dmcwjxxxxxa8xfxxq6xxfxxxw
aliexpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Kutipan ini kiranya perlu untuk kita resapi bersama: „Hidup yang tidak direfleksikan (diperiksa) tidaklah layak dijalani.“ Begitu kata Sokrates, pemikir asal Yunani, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Hidup yang tidak direfleksikan berarti hidup seperti robot yang otomatis dan tanpa makna.

Di Indonesia, ketika mendengar kata “refleksi”, orang langsung berpikir tentang pijat refleksi. Ini berarti memijat titik-titik tertentu di telapak kaki, supaya orang bisa merasa lebih segar. Bukan refleksi semacam itu yang dimaksud disini. Refleksi, dalam arti sesungguhnya, adalah belajar dari apa yang sudah dilalui sebelumnya. Lanjutkan membaca Menjadi Manusia Reflektif

“Ikut Campur”

pop-surrealism-mixed-media_1
nelliewindmill.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Ikut campur, ini mungkin salah satu hobi orang mayoritas orang Indonesia. Mulai dari politik sampai dengan urusan kelamin, semua dicampur-dicampur. Akhirnya, orang jadi bingung. Kalau sudah bingung, ketegangan dan konflik lalu menjadi warna dari hidup sehari-hari.

Politik Ikut Campur

Di September 2016 ini, warga Jakarta sedang menantikan pemilihan gubernur di 2017 nanti. Langkah “ikut campur” pun mulai tampak. Para calon gubernur baru muncul dengan menggunakan militer dan agama sebagai pendukungnya. Politik “campur baur” adalah hasilnya, dan ini membuat para calon pemilih menjadi bingung, serta terpecah. Lanjutkan membaca “Ikut Campur”

Tentang “Kepantasan”

tetsuya-ishida-09Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Beberapa bulan ini, saya tinggal di dua kota terbesar di Indonesia, yakni Jakarta dan Surabaya. Ada satu hal yang cukup menganggu pikiran saya. Di dua kota besar tersebut, mobil sekaligus motor mewah seri terbaru berkeliaran di jalan raya. Rumah mewah juga bertebaran di mana-mana.

Pesta perkawinan dan ulang tahun dirayakan dengan begitu mewah. Banyak orang juga bergaya hidup mewah, tanpa peduli hal-hal lain, kecuali kenikmatan diri dan kerabatnya. Keadaan ini sebenarnya tak bermasalah, jika Indonesia sudah bisa dianggap sebagai negara makmur. Namun, kenyataan berbicara berbeda: Indonesia masih merupakan negara berkembang dengan tingkat kemiskinan yang terus meningkat (per data Badan Pusat Statistik Juli 2016). Lanjutkan membaca Tentang “Kepantasan”

“Seduksi” dan Sistem

pablo-picasso-figures-on-a-beachOleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Seduksi adalah rayuan. Namun, ia tidak sekedar rayuan. Rayuan normal bersifat pribadi. Lawan jenis saling merayu untuk mencapai kenikmatan bersama, atau untuk tujuan lainnya, seperti uang dan kuasa. Seduksi adalah rayuan yang bersifat sistemik. Seluruh unsur kehidupan kita, mulai dari politik sampai dengan hiburan, merayu kita untuk melupakan jati diri kita, dan hanyut di dalam sistem.

Seduksi Sistemik

Sistem politik melakukan seduksi, supaya kita memberikan suara kita, ketika pemilihan umum tiba. Janji-janji cemerlang diucapkan, guna memikat hati rakyat. Hadiah-hadiah mewah dibagikan, kerap kali dengan cara-cara yang melanggar hukum. Seduksi politik adalah seduksi yang memoles kepercayaan rakyat terhadap kekuasaan. Lanjutkan membaca “Seduksi” dan Sistem

Dasar Bagi Kebaikan

 

cvylw-3
learnaboutsurrealism.sitew.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Mengapa orang berbuat baik? Pertanyaan ini sudah lama menganggu saya. Saya melihat seorang pemuda membantu orang buta menyeberang jalan. Saya melihat anak muda yang lain membantu ibu tua membawa belanjaan. Saya juga melihat sepasang kekasih yang begitu mesra bergandengan tangan, siap untuk saling membahagiakan.

Kebaikan adalah harapan universal manusia. Setiap orang, jauh di dalam hatinya, ingin menjadi orang baik. Mereka ingin melakukan kebaikan, sedapat mungkin setiap saat dalam hidupnya. Dorongan untuk menjadi baik sudah selalu tertanam di dalam diri manusia. Lanjutkan membaca Dasar Bagi Kebaikan

Karya-karya “Sudut Pandang”

Beberapa Bahan dasar Program “Sudut Pandang”

Info lebih jauh klik DISINI

FullSizeRender14141870_10154014202077017_8079534910423302359_n

Buku Terbaru: Tentang Manusia

Foto Hard CopyTentang Manusia: Dari Pikiran, Pemahaman sampai dengan Perdamaian Dunia

Bisa didapatkan di Jl. Gabus VII No. 24 – Rt 23/Rw 05, Minomartani YOGYAKARTA – 55581
Telp. 081 227 10938
 e-mail:penerbitmaharsa@gmail.com, info@maharsa.co.id
, website:http://www.maharsa.co.id

Learning Organization dan Budaya Kepemimpinan

Miro_CarnivalOleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Learning organization? Apa itu? Saya harus minta maaf. Saya tidak menemukan padanan kata Indonesia untuk konsep ini. Yang paling dekat adalah organisasi pembelajar. Namun, kata itu terdengar aneh di telinga saya. Maka dari itu, demi kenyamanan saya menulis, dan kenikmatan anda membaca, mari kita pertahankan kata learning organization. Saya akan terlebih dahulu menjelaskan maksudnya.

Learning Organization

Ada banyak sekali organisasi di dunia ini, mulai dari pemuda Masjid, karang taruna, senat mahasiswa, organisasi siswa di sekolah, pramuka, sampai dengan berbagai institusi besar, seperti kementerian, militer dan organisasi lintas negara internasional. Semuanya memiliki kesamaan, yakni adanya sekumpulan orang dengan berbagai macam kemampuan yang memiliki tujuan yang sama, dan diatur dengan seperangkat aturan-sistem maupun nilai-nilai tertentu. Lanjutkan membaca Learning Organization dan Budaya Kepemimpinan

Melampaui “Manusia”

reason
wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Mengapa saya menulis kata “manusia” dengan tanda kutip? Ini untuk menerangkan, bahwa “manusia” sebagai sebuah realitas tidaklah pernah ada. Ia dianggap ada sebagai bagian dari kesepakatan sosial untuk keperluan hidup sehari-hari, seperti misalnya berkomunikasi. Namun, sebagai sebuah kenyataan yang utuh dan kokoh, ia tidak pernah ada. Ia adalah ilusi, yakni seolah ada, namun sebenarnya tak ada.

“Manusia”

Di balik kata “manusia”, ada sebuah tradisi pemikiran yang telah berkembang lama, terutama di Eropa dan Timur Tengah. Manusia dilihat sebagai mahluk yang istimewa, lebih daripada mahluk hidup lainnya, sehingga punya hak untuk menguasai bumi. Tentu saja, yang merumuskan pandangan tersebut juga “manusia”. Ada konflik kepentingan di dalamnya yang harus terus ditanggapi secara kritis.[1]   Lanjutkan membaca Melampaui “Manusia”

Demokrasi di Indonesia Sekarang

Kompas Cetak Sabtu, 20 Agustus 2016 hal. 24.

reclaiming state-page-001.jpg

 

Mentalitas Ilmiah untuk Indonesia

download
neosurrealism.artdigitaldesign.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Penulis dan Peneliti di Sudut Pandang (www.rumahfilsafat.com)

Kita tidak boleh mencomot secuil data dan fakta dari penelitian ilmiah untuk membenarkan keyakinan religius kita. Kita juga tidak boleh mencomot seenaknya data dan fakta dari penelitian ilmiah untuk kepentingan politik ataupun ekonomi kita. (degrasse Tyson, 2015) Jika kita melakukan itu, kita sedang merusak nalar kita sebagai manusia, dan menghancurkan ilmu pengetahuan. Sayangnya, itu yang kerap kali kita lakukan di Indonesia.

Metode

Apa yang membuat ilmu pengetahuan begitu istimewa, sehingga ia begitu dipercaya oleh seluruh dunia sekarang ini? Secara gamblang, ilmu pengetahuan telah menghasilkan hal-hal yang memperbaiki kualitas hidup kita, mulai dari kesehatan, pendidikan sampai dengan kemudahan hidup sehari-hari, seperti mesin cuci, kulkas, AC dan sebagainya. Ilmu pengetahuan adalah upaya manusia untuk memahami alam, sehingga ia bisa meramalkan apa yang akan terjadi dengan tingkat ketepatan yang tinggi. Sumbangan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia tidak dapat diragukan lagi.   Lanjutkan membaca Mentalitas Ilmiah untuk Indonesia

Bangsa yang Berhasil

Dd105119_1

Oleh Reza A.A Wattimena

Sebentar lagi, kita akan menyambut peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke 71. Kiranya perlu bagi kita untuk sejenak berhenti, dan melihat apa yang telah kita capai sekarang ini. Setitik pembedaan dasar juga kiranya penting untuk diperhatikan.

Tujuan Sebenarnya

Secara umum, bisa dibilang, kita adalah bangsa yang amat berhasil. Tunggu dulu, tulisan ini bukanlah yang seperti anda harapkan. Secara teoritis, bangsa kita memiliki beberapa tujuan dasar yang hendak dicapai, salah satunya adalah mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kecerdasan bagi seluruh bangsa. Ini adalah pernyataan visi dan misi secara umum. Lanjutkan membaca Bangsa yang Berhasil

Agama dan Kemunafikan

art,illustration,painting,surrealism-a22a4fc9ad95bea443970f085264c07e_h
cdnstatic.visualizeus.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada dua pandangan tentang kaitan antara agama dan kemunafikan. Di satu sisi, orang bodoh dan munafik memeluk agama tertentu, sehingga agama tersebut membenarkan kemunafikan dan kebodohannya. Inilah cikal bakal segala bentuk kemunafikan dan kebodohan atas nama agama yang banyak kita lihat sehari-hari, mulai dari pembenaran atas kekerasan, nafsu birahi, sampai dengan kerakusan atas harta dan kuasa yang dibalut dengan ayat-ayat suci.

Di sisi lain, agama itu sendiri sudah selalu mengandung kemunafikan di dalamnya. Dengan kata lain, jauh di jantung agama-agama, ada hal yang membuat orang biasa menjadi munafik dan bodoh. Pandangan kontroversial inilah yang hendak saya gali lebih dalam. Lanjutkan membaca Agama dan Kemunafikan

Berpikir Sistemik

tumblr_nmrwtdSSLF1rsx7eao1_500
tumblr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pernahkah anda mengalami, bahwa jalan keluar yang anda harapkan dari sebuah masalah justru melahirkan masalah baru yang lebih besar? Atau, ketika obat yang anda minum untuk lepas dari sakit justru menciptakan sakit yang lebih besar, atau sakit yang baru? Anda tidak sendirian. Banyak ahli di berbagai bidang yang terjebak pada masalah yang sama, ketika mencoba menyelesaikan beragam masalah di jaman kita, mulai dari kemiskinan, terorisme sampai dengan pemanasan global.

Salah satu alasan, mengapa ini terjadi adalah, karena kita tidak melihat masalah secara jernih. Kita hanya melihat masalah sebagai masalah itu sendiri, seolah tanpa keterkaitan dengan hal-hal lainnya. Pada titik ini, kita memerlukan sudut pandang baru, yakni pola berpikir sistemik. Lanjutkan membaca Berpikir Sistemik

“AKU” di dalam Penderitaan

13285440_1551142341856523_1205172435_n
scontent.cdninstagram.com

Percikan Kebijaksanaan Timur

Oleh Reza A.A Wattimena

Kerap kali, kita merasakan emosi yang sangat kuat. Kebencian atau kesedihan menguasai batin. Bagi banyak orang, ini merupakan masalah besar. Akibatnya, mereka jadi ganas dan jahat pada orang lain, bahkan pada orang-orang terdekatnya.

Pikiran-pikiran mengerikan juga kerap datang tanpa diundang. Ketakutan dan kecemasan akan masa depan yang tak pasti menerkam jiwa. Penyesalan atas masa lalu yang menyesakkan dada sering datang berkunjung. Jika itu semua amat kuat dan terjadi dalam waktu lama, orang bisa sakit, entah sakit jiwa, kanker, jantung, darah tinggi maupun kelainan hormon. Lanjutkan membaca “AKU” di dalam Penderitaan