Dasar Bagi Kebaikan

 

cvylw-3
learnaboutsurrealism.sitew.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Mengapa orang berbuat baik? Pertanyaan ini sudah lama menganggu saya. Saya melihat seorang pemuda membantu orang buta menyeberang jalan. Saya melihat anak muda yang lain membantu ibu tua membawa belanjaan. Saya juga melihat sepasang kekasih yang begitu mesra bergandengan tangan, siap untuk saling membahagiakan.

Kebaikan adalah harapan universal manusia. Setiap orang, jauh di dalam hatinya, ingin menjadi orang baik. Mereka ingin melakukan kebaikan, sedapat mungkin setiap saat dalam hidupnya. Dorongan untuk menjadi baik sudah selalu tertanam di dalam diri manusia.

Tradisi, Diri dan Hati Nurani

Sedari kecil, kita diajarkan juga untuk menjadi baik. Tentu saja, pemahaman tentang apa yang baik terkait dengan moralitas berbeda-beda. Agama dan budaya memainkan peranan besar dalam hal ini. Namun, ini semua tidak menjawab, mengapa orang menemukan dorongan untuk menjadi baik di dalam hatinya.

Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan, bahwa menjadi baik adalah bagian dari proses pelestarian diri manusia (self-preservation). Orang yang baik hati dan tindakannya cenderung lebih sukses dan bahagia dalam hidupnya. Mereka disukai keluarga dan teman-temannya. Ketika krisis melanda, mereka bisa mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak.

Di samping pertimbangan untung rugi semacam ini, ada orang yang berbuat baik, karena dorongan hatinya (conscience). Ia merasa, jika berbuat baik, ia mengikuti panggilan hidup terdalamnya. Hati nuraninya memanggilnya untuk terus berbuat baik saat demi saat di dalam hidupnya. Pertimbangannya tidak lagi untung rugi demi pelestarian dirinya, melainkan dorongan hati nurani sebagai keutamaan (virtue).

Immanuel Kant, filsuf Pencerahan asal Jerman, juga menegaskan, bahwa moralitas, yakni pemahaman tentang baik dan buruk, sudah selalu tertanam di dalam akal budi kita sebagai manusia (Vernunft). Menjadi baik itu rasional, karena sesuai dengan kodrat alamiah akal budi kita. Hukum moral sudah selalu tertanam di dalam sanubari manusia, dan mewujud secara konkret di dalam kewajiban (Pflicht) hidup sehari-hari yang dijalankan dengan setia.

Gagal

Lepas dari keempat hal ini, banyak orang tetap tidak mampu mencapai kebaikan, walaupun mereka menginginkannya. Harapan mereka tidak sejalan dengan tindakan nyata mereka. Niat baik tidak dibarengi dengan kerja nyata untuk mencapai kebaikan. Sebaliknya yang terjadi, yakni orang yang dikira baik ternyata menjadi koruptor, atau menjadi pelaku kejahatan biadab lainnya.

Mengapa ini terjadi? Mengapa niat baik kerap kali menjadi buah mimpi belaka, tanpa pijakan kenyataan? Saya berpendapat, bahwa ini terjadi, karena empat alasan di atas, yakni tradisi, pelestarian diri, akal budi dan hati nurani, tidak mencukupi untuk menjadi dasar bagi kebaikan. Keempatnya berpijak pada kesalahan berpikir dan ketidaktahuan.

Jika keempatnya tidak cukup, lalu apa dasar yang kokoh bagi kebaikan? Saya berpendapat, dasar paling kokoh dari kebaikan adalah kesadaran sepenuhnya akan jati diri sejati kita (awareness of our true self). Artinya, kita paham, siapa kita sebenarnya, sebelum segala identitas sosial ditempelkan pada kita.

Jati Diri Sejati

Kesadaran ini tidak dapat berhenti pada tingkat intelektual saja. Konsep, pengetahuan serta kepercayaan, sebagaimana ditawarkan oleh agama, filsafat dan ilmu pengetahuan modern, sama sekali tidak mencukupi. Kesadaran mendalam atas jati diri sejati kita adalah puncak kebijaksanaan, sebagaimana menjadi cita-cita dari berbagai orang besar sepanjang sejarah manusia.

Ini hanya dapat dicapai, jika orang bisa hidup disini dan saat ini. Masa lalu ditunda sebagai ingatan semata. Masa depan dilihat sebagai harapan belaka. Ketika tubuh dan pikiran bisa sepenuhnya disini dan saat ini, semua identitas akan tertunda, dan orang akan bisa menyadari jati diri sejatinya. Kesadaran akan keberadaan tubuh (body awareness) memainkan peranan amat penting disini.

Keadaan pikiran (state of mind) semacam ini lalu dipertahankan. Orang bekerja dan hidup dengan keadaan pikiran ini. Kebaikan lalu menemukan dasar yang kokoh. Ia tidak lagi dipengaruhi oleh tekanan tradisi, motif keuntungan diri ataupun kerapuhan hati nurani.

Bagaimana jika emosi kuat, seperti marah atau sedih, datang melanda? Caranya sederhana: kita kembali ke kesadaran akan tubuh kita. Segala emosi disadari, diberi nama dan dibawa ke dalam kesadaran akan tubuh yang kita punya. Dengan cara ini, perlahan namun pasti, emosi akan melebur dengan kesadaran yang merupakan jati diri sejati kita.

Kebaikan akan muncul secara alami. Saat demi saat, kita menemukan kedamaian dalam diri kita. Emosi dan pikiran boleh datang. Namun, kita selalu bisa membawanya ke dalam kesadaran tubuh kita. Disini, kebaikan menemukan dasarnya yang paling kokoh. Tak percaya? Silahkan dicoba.

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Dasar Bagi Kebaikan”

  1. Namun skrg knp bnyk seseorang yang enggan beebuat baik? Pdahal hakikat didlam hti manusia sudah tertanam hati yang alamiah utk berbuat baik..seirung brjalannya wktu pun juga dibekali dgn pemahaman spiritual, dan filsafat dlm hidup(proses).

    Suka

  2. halo pak reza, bolehkah saya meminta anda memberi contoh konkret seperti apa rupa kesadaran akan jati diri yang sejati itu? terimakasih pak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s