Manusia Kosmopolis

cosmic-birth-ian-macqueenPendidikan dan Pencarian yang “Asli”

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Banyak konflik di dunia ini disebabkan kelekatan kita pada identitas sosial kita. Kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, entah ras, etnis, bangsa, negara ataupun agama.

Lalu, kita beranggapan, bahwa kelompok kita memiliki kebenaran tertinggi. Kelompok lain adalah kelompok sesat.

Kesalahan berpikir ini telah mengantarkan manusia pada konflik berdarah, pembunuhan massal, pembersihan etnis sampai dengan genosida. Ratusan juta orang terkapar berdarah sepanjang sejarah, akibat kesalahan berpikir semacam ini.

Bagaimana supaya kesalahan berpikir mendasar tentang dunia ini bisa diperbaiki? Saya ingin menawarkan ide tentang manusia kosmopolis.

Manusia Kosmopolis

Manusia kosmopolis adalah manusia yang melihat dirinya sendiri sebagai warga negara dunia. Ia tidak melekat pada identitas sosial tertentu, melainkan melihat dirinya sebagai salah satu mahluk hidup di alam semesta ini.

Ia hidup dengan nilai-nilai universal yang menghormati tidak hanya manusia lain, tetapi juga semua mahluk hidup. Bisa juga dibilang, bahwa manusia kosmopolis adalah mahluk semesta.

Sejatinya, kita semua adalah mahluk semesta. Sedari lahir, kita tidak melihat diri kita sebagai manusia, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta, dan segala isinya.

Di dalam perjalanan hidup, kesadaran semesta ini lenyap, dan digantikan dengan kesadaran sempit sebagai bagian dari kelompok sosial tertentu. Kesadaran sempit inilah yang nanti bisa berbuah menjadi tindak diskriminatif dan penindasan pada kelompok lain.

Untuk bisa mengembalikan dan menjaga kesadaran semesta ini, orang memerlukan pendidikan. Namun, pendidikan macam apa yang kiranya cocok untuk membentuk manusia kosmopolis ini?

Unsur-unsur Sejati Pendidikan

Pendidikan manusia kosmopolis adalah pendidikan yang berakar pada unsur-unsur sejati pendidikan itu sendiri. Ada tiga unsur sejati pendidikan, yakni pemanusiaan, pembudayaan dan pembebasan.

Pemanusiaan berarti penanaman nilai-nilai beradab manusia melalui kurikulum, interaksi dan pedagogi pendidikan yang ada. Nilai-nilai beradab itu menjadikan nilai-nilai universal hak-hak asasi manusia sebagai acuan utamanya.

Pembudayaan memiliki nada searah dengan pemanusiaan, yakni penanaman nilai beradab di dalam hidup, beserta dengan cita rasa seni, serta penghargaan pada karya-karya berharga dunia. Dalam arti ini, budaya dipahami sebagai bentuk-bentuk kehidupan yang berpijak pada nilai-nilai universal peradaban, seperti kehidupan, kebebasan, dan solidaritas.

Pembebasan berarti pelepasan manusia dari segala bentuk kemiskinan dan kebodohan. Dalam arti ini, kemiskinan tidak hanya berarti kemiskinan ekonomis, tetapi terlebih kemiskinan sudut pandang di dalam melihat dunia.

Pendidikan yang sejati berarti pendidikan yang memanusiakan, membudayakan dan membebaskan. Ia tidak mengubah orang menjadi robot-robot yang tunduk patuh pada tradisi ataupun kebiasaan lama yang tak pernah dipertanyakan sebelumnya.

Nilai “Asli” Indonesia

Banyak wacana yang menekankan pentingnya menggali kembali nilai-nilai asli Indonesia sebagai dasar pendidikan. Namun, wacana ini, pada hemat saya, mengandung kesalahan berpikir mendasar.

Tidak ada yang “asli” di muka bumi ini. Semua merupakan percampuran dari berbagai hal.

Di dalam filsafat Timur, ini dinyatakan dengan pandangan sederhana, bahwa semua merupakan bagian dari semua. Seluruh alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang saling bertaut erat, dan tak terpisahkan.

Indonesia pun juga selalu merupakan sebuah campuran yang terus berubah. Tidaklah mungkin untuk menunjuk, bahwa “inilah” yang merupakan Indonesia yang asli.

Dengan demikian, keaslian adalah ilusi. Terlebih, keaslian adalah ideologi, yakni kesadaran palsu (falsches Bewusstsein) tentang dunia, yang sering digunakan untuk membenarkan penindasan atas orang ataupun kelompok tertentu, yang dianggap tidak asli.

Yang Alami

Sebagai alternatif, kita perlu memahami dan menyadari yang alami. Yang alami adalah diri kita sebagai mahluk semesta dalam hubungan dengan mahluk-mahluk lainnya di jagad semesta ini.

Inilah yang disebut sebagai kesadaran semesta yang sejalan dengan nilai-nilai ekologis yang sedang menjadi wacana dominan dewasa ini. Kesadaran akan apa yang alami ini berada sebelum segala identitas sosial muncul.

Manusia kosmopolis hidup dengan kesadaran atas apa yang alami semacam ini. Ia memegang nilai-nilai kehidupan universal, sambil terus peka pada perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Di dalam wacana pendidikan karakter, ia disebut juga sebagai well rounded person, yakni orang yang berkembang hidup dan kepribadiannya secara menyeluruh. Inilah manusia masa depan, dan pendidikan kita harus mengarah ke sana.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

28 tanggapan untuk “Manusia Kosmopolis”

  1. Izin koment ya :
    Tulisan anda sangat sangat inspiratif,
    – pertanyaan saya ketika semua konflik sosial ini terjadi akibat dari kelekataan kita pada identitas sosial, apakah mungkin semua kelekatan sosial itu nantinya terhapus dan hanya ada satu identitas sosial satu negara, bangsa, ras, agama yang menguasai dunia ini?
    Terima Kasih Bapak Dosen
    Mohon penjelesannya pak 🙂

    Suka

    1. Salam. Terima kasih. Identitas akan tetap beragam. Namun, itu semua tidak dilihat sebagai sesuatu yang mutlak, melainkan seturut fungsi2 sosial saja. Yang mutlak hanya satu, bahwa kita adalah warga bumi, warga semesta… semoga terbantu

      Suka

  2. Saya ingin bertanya lebih kepada nila-nilai Universal mengenai agama. Jika tawaran-nya harus mengakui nilai-nilai yang bersifat universal ikuti peradaban. Bukankah sebenarnay tawaran nilai-nilai agama secara universal itu yang justru ,ia membuat konflik dengan simbol-simbol dari agama-agama tertentu secara universal yang dipaksakan oleh orang Eropa, Amerika dan Timur tengah kepada kami? Karena menurut saya kepercayaan kami sekarang ini semua-nya nilai-nilai baru tidak sesuai dengan agama asli kami. Misalnya di beberapa wilayah contohnya di Papua salah satu suku di pegunungan tengah Papua. Suku Dani (Balim) mereka mempunyai kepercayaan tentang Tuhan (Walhowak, Nagawan, Mbok, Ninobo) seperti dengan nama-nama dalam kptak itu ada dan sampai saat ini masih menghargai-Nya sebagai pencipta atau Tuhanya mereka, namun mereka juga percaya agama universal atau agama impor. Dari kedua perilaku seperti ini justru mereka (Orang Balim (Dani) sampai saat ini mereka sering kontak fisik demi mempertahankan dan membelah agama universal (import) tadi yang sebenarnya sangat tidak menguntungkan buat mereka atau agama import ini yang sangat bertentangan atau degan Tuhan-nya mereka?

    Suka

    1. terima kasih atas uraiannya. Saya rasa, setiap kelompok agama berhak menyembah apapun yang mereka anggap suci dan luhur. Ini tidak ada hubungan langsung dengan manusia kosmopolis yang hidup dengan nilai-nilai semesta, dan melihat dirinya sebagai mahluk semesta..

      Suka

  3. Sayom pk Reza ..
    Mau tanya .. bagaimna mnurut bpk sendiri , cara untuk merubah pola pikir indvidu atau klompok .?
    Krna mnurut sy jika drubah dri pendidikan formal kyknya blum cukup.. mungkin ada metode lain dri bpk yg dpat sy adopsi?

    Suka

    1. salam… dengan mengubah sistem secara radikal, sehingga orang tidak punya pilihan lain, selain mengikuti sistem tersebut… namun ini pun sulit, karena perubahan hanya sementara dan di permukaan saja… pendidikan adalah satu2nya jalan…

      Suka

  4. “Dalam arti ini, budaya dipahami sebagai bentuk-bentuk kehidupan yang berpijak pada nilai-nilai universal peradaban, seperti kehidupan, kebebasan, dan solidaritas.”. Saya jadi teringat tentang Socrates saat membaca kalimat itu Pak Reza. Apakah pemikiran Socrates masih relevan terhadap zaman ini?

    Suka

  5. Apakah cara mngubah pola pkir dan perilaku secara radikal tdak bresiko mengingat sbagian masyarakat sudah betah dngan atribut kesukuan, agama dan budaya yang olehnya dianggap terbaik di antra yg lain.. Bukankah ini bisa mnciptakan konflik.. Planggaran Ham, bahkan penistaan.. Mhon pncrahannya pak

    Suka

  6. Apakah cara mngubah pola pkir dan perilaku secara radikal tdak bresiko mengingat sbagian masyarakat sudah betah dngan atribut kesukuan, agama dan budaya yang olehnya dianggap terbaik di antra yg lain.. Bukankah ini bisa mnciptakan konflik.. Planggaran Ham, bahkan penistaan.. Mhon pncrahannya pak

    Suka

  7. Kita adalah mahluk semesta yang merupakan bagian dari keseluruhan, satu kesatuan yang tak terpisahkan ?. Kok terkadang ‘kita’ lupa akan hal ini ya Pak. Egois. Tidak hidup dengan kesadaran..haha. terimakasih pak..terus menginspirasi!

    Suka

  8. Pertanyaan terakhir Pak Reza, setelah membaca secara menyeluruh wacana “manusia kosmopolis” ini, saya melihat ada sedikit kemiripan dengan “ubermensch”-nya Nietzsche. Mungkin “manusia kosmopolis” ini, “ubermensch” versinya Pak Reza hehe. Gimana pendapat Bapak?

    Suka

  9. Jika dikatakan bahwa keaslian itu adalah ilusi, sementara itu sekarang kembali didengungkan tentang keaslian Indonesia, lalu manakah atau apakah yang disebut dengan keaslian Indonesia? Mohon pencerahannya…

    Suka

  10. salam kenal kang reza, semua tulisanya inspiratif
    agak susah ya kang mengubah pola atau kebiasaan manusia ini untuk melepaskan diri dari kemelekatan identits sosial, jujur belajar dalam melepaskan kelekatan dari identitas sosial, salah satu kebutuhan dasar manusia salah satunya adalah aktualisasi diri, dan masyarakat sosiallah ya bisa memberikan, manusia memiliki perasaan ingin diakui, ingin didukung dan ingin bersama”, sehingga pengaruh kelompok sangat besar pengaruhnya. terima kasih banyak ya kang reza, barangkali ini saya salah satu fans club penikmat tulisannya kang reza:)))
    doakan ya smoga saya bisa menerapkan menjadi manusia kosmopolis…

    Suka

    1. terima kasih. semoga terbantu dengan tulisan-tulisannya. Mungkin bukan melepas identitas sosial, tetapi melihatnya sebagai sesuatu yang sementara. Ia bisa berubah, dan dicopot, jika keadaan memerlukan. Intinya bukan melepas, tetapi bisa menjaga jarak darinya, dan menggunakannya sesuai kebutuhan. Semoga terbantu

      Suka

  11. Terimkasih pak, sangat bermanfaat.

    Saya berencena membuat organisasi mahasiswa pak. Bolehkan saya dibantu oleh bapak secara rela ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s