Tirani Asumsi

Jo Cody

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup dengan asumsi. Asumsi adalah hal-hal yang dianggap benar, dan tidak dipertanyakan lagi. Ia adalah anggapan-anggapan lama yang diwarisi dari generasi sebelumnya. Ada kalanya, ia mengandung kebenaran. Namun, tak jarang pula, ia menggiring orang pada kesalahan berpikir, dan penderitaan.

Deretan Asumsi

Misalnya, di abad 21 ini, banyak orang berpikir, bahwa politik itu busuk. Ini anggapan lama yang lahir dari kekecewaan. Padahal, politik adalah soal urusan bersama, guna menciptakan kebaikan bersama. Ia adalah panggilan luhur, asalkan lahir dari nilai-nilai kehidupan, dan bukan kerakusan semata. Lanjutkan membaca Tirani Asumsi

“Ikut Campur”

pop-surrealism-mixed-media_1
nelliewindmill.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Ikut campur, ini mungkin salah satu hobi orang mayoritas orang Indonesia. Mulai dari politik sampai dengan urusan kelamin, semua dicampur-dicampur. Akhirnya, orang jadi bingung. Kalau sudah bingung, ketegangan dan konflik lalu menjadi warna dari hidup sehari-hari.

Politik Ikut Campur

Di September 2016 ini, warga Jakarta sedang menantikan pemilihan gubernur di 2017 nanti. Langkah “ikut campur” pun mulai tampak. Para calon gubernur baru muncul dengan menggunakan militer dan agama sebagai pendukungnya. Politik “campur baur” adalah hasilnya, dan ini membuat para calon pemilih menjadi bingung, serta terpecah. Lanjutkan membaca “Ikut Campur”

Menyamaratakan

ivorymagazine.com
ivorymagazine.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat di Unika Widya Mandala Surabaya

“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Benarkah? Karena satu kesalahan, lalu semua hal baik juga ikut rusak? Karena kesalahan satu orang, lalu seluruh kelompoknya juga ikut bersalah?

Inilah salah satu pertanyaan terpenting yang perlu kita ajukan sekarang ini. Banyak orang hidup dengan prasangka. Pikirannya melihat sesuatu, lalu menyamaratakan kesalahan itu ke konteks yang lebih luas. Misalnya, ada satu orang Ambon yang menjadi preman. Lalu, kita dengan gampangnya menarik kesimpulan, “semua orang Ambon itu preman”.

Kesalahan satu orang lalu dianggap sebagai kesalahan kelompok. Ada orang asing berbuat kriminal, maka semua orang asing lalu dicurigai sebagai kriminal. Inilah yang sekarang ini berkembang di Jerman, dan di berbagai tempat lainnya. Saya menyebut gejala ini sebagai pola pikir “menyamaratakan”.

Kecenderungan ini lalu juga meluas. Kesalahan kelompok dianggap sebagai kesalahan ras. Kesalahan ras lalu dianggap sebagai kesalahan seluruh peradaban. Dunia lalu terpecah di antara berbagai kelompok yang saling membenci satu sama lain.

Prasangka

Pola pikir menyamaratakan adalah ibu kandung dari prasangka. Prasangka adalah pandangan kita akan sesuatu, sebelum sesuatu itu terjadi. Ia tidak nyata. Ia hanya khayalan di kepala kita yang berpijak pada ketakutan dan kesalahpahaman. Lanjutkan membaca Menyamaratakan