Korupsi, Zen, Filsafat dan Kehidupan: Sebuah Percakapan Santai namun Ilmiah

Tema: Pendidikan Anti-Korupsi Berbasis Nilai- Nilai Pancasila

Fasilitator : Hendar Putranto, M. Hum.

Narasumber: Dr. der Phil. Reza A.A Wattimena

Hari, tanggal: Selasa, 12 Juni 2018 (14.00-14.50)

Lokasi: Booth Dairy Queen, Mall Kota Kasablanka

Sesi Pembuka oleh Hendar Putranto, M. Hum.

Oke, hari ini tanggal 12 Juni 2018, bertempat di Dairy Queen, Kota Kasablanka jam 13.55. Hendar Putranto sebagai ketua tim peneliti skema PKPT, sebagai ketua tim TPP (Tim Peneliti Pengusul) sedang bertemu dengan narasumber, salah satu narasumber ahli untuk pendalaman tema: Anti-Korupsi Berbasis Nilai-Nilai Pancasila. Beliau bernama Reza Wattimena, doktor filsafat lulusan dari Universitas Munchen[1] jurusan filsafat dan kapasitas beliau sebagai penulis buku Filsafat Anti-Korupsi yang diterbitkan Kanisius tahun 2012. Atas dasar itulah, maka Hendar mengontak Dr. Reza Wattimena untuk dijadikan narasumber terkait dengan pendalaman tema Anti-Korupsi Berbasis Nilai-Nilai Pancasila. Lanjutkan membaca Korupsi, Zen, Filsafat dan Kehidupan: Sebuah Percakapan Santai namun Ilmiah

Mentalitas Ilmiah untuk Indonesia

download
neosurrealism.artdigitaldesign.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Penulis dan Peneliti di Sudut Pandang (www.rumahfilsafat.com)

Kita tidak boleh mencomot secuil data dan fakta dari penelitian ilmiah untuk membenarkan keyakinan religius kita. Kita juga tidak boleh mencomot seenaknya data dan fakta dari penelitian ilmiah untuk kepentingan politik ataupun ekonomi kita. (degrasse Tyson, 2015) Jika kita melakukan itu, kita sedang merusak nalar kita sebagai manusia, dan menghancurkan ilmu pengetahuan. Sayangnya, itu yang kerap kali kita lakukan di Indonesia.

Metode

Apa yang membuat ilmu pengetahuan begitu istimewa, sehingga ia begitu dipercaya oleh seluruh dunia sekarang ini? Secara gamblang, ilmu pengetahuan telah menghasilkan hal-hal yang memperbaiki kualitas hidup kita, mulai dari kesehatan, pendidikan sampai dengan kemudahan hidup sehari-hari, seperti mesin cuci, kulkas, AC dan sebagainya. Ilmu pengetahuan adalah upaya manusia untuk memahami alam, sehingga ia bisa meramalkan apa yang akan terjadi dengan tingkat ketepatan yang tinggi. Sumbangan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia tidak dapat diragukan lagi.   Lanjutkan membaca Mentalitas Ilmiah untuk Indonesia

Hakekat Penelitian Ilmiah menurut Onora O’Neill

IMG_6493Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Sebagai salah seorang filsuf kontemporer, Onora O’Neill banyak menulis soal politik dan moral, termasuk kebijakan publik, keadilan global, bioetika, dan filsafat Kant. Ia kini aktif mengajar sekaligus menjadi bagian dari Komisi Kesetaraan dan Hak-hak Asasi Manusia di Inggris. Dalam artikelnya soal penelitian ilmiah, ia mengajak kita berpikir soal argumen Marx yang menyatakan, bahwa para filsuf hanya sibuk memahami dunia, padahal yang terpenting adalah mengubahnya. Argumen ini dirumuskan oleh Marx di dalam bukunya Theses on Feuerbach pada 1845. Sekilas mendengar, banyak orang langsung sepakat dengan argumen ini, termasuk para filsuf sendiri. Bagi mereka, penelitian filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya, harus memberikan dampak yang jelas pada dunia. Akan tetapi, pertanyaan yang diajukan oleh Onora O’Neill tampaknya juga perlu menjadi pergulatan kita bersama, yakni apa yang sesungguhnya dimaksud dengan “dampak”? Akan tetapi, sebagaimana diajukan oleh O’Neill, bukankah kata “dampak” juga bisa diartikan sebagai dampak negatif, yakni dampak yang merusak? “Dalam pandangan yang simplistik”, demikian tulisnya, “dampak berarti adalah dampak ekonomi.” (O’Neill, 2013) Artinya, penelitian filsafat ataupun ilmu-ilmu lainnya haruslah memberikan dampak ekonomi bagi sang peneliti maupun masyarakat luas secara keseluruhan. Dengan adanya dampak ekonomi yang jelas, orang pribadi maupun negara bisa melakukan investasi pada ilmu pengetahuan, dan mendapatkan untung dari proses tersebut. Secara gamblang dapat dikatakan, bahwa penelitian ilmiah bisa menghasilkan produk baru, menghasilkan pekerjaan baru, atau meningkatkan produktivitas yang sudah ada. Akan tetapi, apakah pandangan ini bisa dibenarkan, atau justru pandangan ini lahir dari pemahaman yang salah tentang apa itu penelitian ilmiah?

Semua bentuk penelitian, menurut O’Neill, lahir dari pertanyaan dan keraguan, namun tak selalu bisa mengarah pada hasil nyata yang bersifat ekonomis. Tidak ada satu penelitian tunggal yang secara langsung bisa menghasilkan produk nyata yang menghasilkan uang. Setiap bentuk penelitian adalah hasil dari kumpulan ratusan bahkan ribuan penelitian lainnya yang berkembang sejalan dengan perubahan waktu dan perkembangan pemahaman. Ia memberikan contoh penemuan chip komputer GPS (Global Positioning System) yang merupakan pengembangan dari teori Einstein tentang Relativitas Umum yang diterbitkan pada 1916, dan pada masa itu sama sekali tidak memiliki nilai ekonomi untuk dijual! Inilah sebabnya, mengapa banyak perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi di dunia melakukan investasi besar-besaran pada segala jenis bentuk penelitian, dan siap menerima fakta, bahwa sedikit sekali di antara penelitian tersebut yang bisa menghasilkan “dampak ekonomi” yang nyata. Penemuan suatu produk yang memiliki dampak ekonomi adalah kumpulan dari ribuan penelitian yang dilakukan oleh beragam orang di beragam tempat yang berbeda dan di tempat-tempat yang berbeda, yang bahkan sebelumnya tak terpikirkan. Banyak juga penelitian, yang awalnya dikira bisa memberikan dampak ekonomi yang besar, ternyata justru malah merusak lingkungan (zat kimia untuk pertanian), menciptakan penyakit baru bagi manusia (efek samping dari obat-obatan), atau menghancurkan manusia (bom atom, senjata nuklir, senjata biologis pemusnah massal).  Lanjutkan membaca Hakekat Penelitian Ilmiah menurut Onora O’Neill