Menuju Politik Beradab

8e988264adec7eb0564774217c768956
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Belakangan ini, diskusi politik di Indonesia begitu biadab. Suku, ras dan agama dijadikan bahan untuk saling memaki dan mencaci di ranah publik. Orang-orang yang dulunya dianggap cerdas kini berbalik menjadi beringas, mungkin karena sakit hati, karena tak lagi mendapat kue kekuasaan. Berbagai kelompok kepentingan yang pikirannya primitif dibiarkan merajalela di ruang publik, dan menciptakan keresahan sosial.

Mengapa mutu diskusi politik di Indonesia menjadi begitu rendah? Penyebabnya tentu tak sederhana. Akarnya panjang ke masa lalu yang kini terlupakan. Ada tiga hal yang kiranya perlu diperhatikan.

Krisis di dalam Ruang Publik

Pertama, agama telah menjadi begitu dominan di ruang publik, sehingga merobohkan nalar kritis yang merupakan unsur penting di dalam demokrasi. Agama selalu sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Namun, ketika ia digunakan untuk membenarkan kepentingan-kepentingan politik yang tidak jujur, ia justru menciptakan petaka. Akhirnya, kita menjadi bangsa yang berlebihan doa, namun kekurangan nalar.

Ini kiranya sejalan dengan pandangan Jürgen Habermas, filsuf Jerman, di dalam bukunya yang berjudul Theorie des kommunikativen Handelns: Zur Kritik der funktionalistischen Vernunft. Di dalam buku ini, ia menguraikan pandangan dengan penjajahan dunia kehidupan manusia (Lebenswelt) oleh sistem. Dunia kehidupan adalah sumber dari pembentukan identitas dan jati diri manusia. Sementara, sistem adalah bagian yang menjalankan fungsi-fungsi praktis kehidupan bersama.

Dalam arti ini, menurut saya, agama bisa dilihat sebagai bagian dari sistem, sekaligus dunia kehidupan. Namun, yang kini terjadi, bagian dari sistem agama menjajah dunia kehidupan (Kolonisierung der Lebenswelt). Akibatnya, agama menjadi organisasi politik yang tidak lagi memahami kerumitan jiwa manusia, sekaligus kemajemukan hidup bersama. Ia tidak lagi menyediakan kedamaian dan kebijaksanaan, tetapi menjadi alat politik untuk menyebarkan kebohongan, kebencian dan perpecahan.

Kedua, ekonomi juga merangsek ke dalam ruang publik, dan memaksakan cara berpikirnya ke berbagai bidang kehidupan. Inilah yang disebut oleh B. Herry Priyono, Pengajar di STF Driyarkara, sebagai homo oeconomicus. Apa yang awalnya merupakan sebuah pengandaian di dalam ilmu ekonomi, kini dipaksakan menjadi kenyataan yang meliputi keseluruhan hidup manusia, termasuk politik. Bidang-bidang lain yang bermakna bagi kehidupan manusia kini terpinggirkan, dan menjadi seolah tak punya nilai.

Pandangan ini kiranya juga sejalan dengan pandangan Habermas di dalam bukunya Strukturwandel der Öffentlichkeit: Untersuchungen zu einer Kategorie der bürgerlichen Gesellschaft. Ia menguraikan, bagaimana kehidupan bersama dijajah oleh kepentingan ekonomi yang mengendepankan akal budi instrumental. Akal budi ini tidak mendorong orang untuk mencapai pemahaman bersama, melainkan menggunakan alam, dan juga manusia, untuk mencapai kepentingan-kepentingan ekonomi jangka pendek semata.

Ketika ruang publik dan dunia politik dijajah oleh agama dan ekonomi, maka nalar pun lenyap. Diskusi dan perdebatan publik menjadi biadab dan miskin wawasan. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di banyak negara lainnya yang berada di persimpangan politik, seperti Amerika Serikat. Politik semacam itu hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin bermutu rendah yang akan merugikan rakyat banyak.

Ketiga, di Indonesia, kesalehan pribadi kerap kali tidak sejalan dengan keadaban publik. Orang bisa saleh secara pribadi, namun beringas secara publik. Ia bisa rajin berdoa dan mengikuti ritual keagamaan, tetapi sekaligus kejam di jalan raya, dan gemar melakukan korupsi. Pandangan Elias Canetti di dalam bukunya yang berjudul Masse und Macht kiranya bisa membantu kita memahami hal ini.

Baginya, diri manusia seolah berubah, ketika ia menjadi bagian dari massa. Orang bisa saleh secara pribadi, tetapi menjadi beringas, ketika ia menjadi bagian dari pengendara motor jalan raya yang gemar menerobos berbagai tanda lalu lintas. Massa ini pun memiliki beragam bentuk dan ciri. Namun, ia memiliki satu ciri dasar yang sama, yakni kekuatan di dalam jumlah.

Jumlah seolah membenarkan segalanya. Hal yang salah berubah menjadi benar, ketika banyak orang mendukung dan menyukainya. Kekuatan jumlah bisa mengubah jati diri orang dalam sekejap. Kerumunan massa semacam ini juga ditopang oleh miskinnya nalar yang disebarkan oleh tafsiran sesat berbagai ajaran agama (massa para fanatik religius), dan logika mutlak ekonomi yang merangsek masuk ke dalam kehidupan bersama kita (massa konsumen yang rakus dan tak peduli).

Politik Beradab

Apakah politik Indonesia masih bisa diselamatkan dari kebiadaban yang ia buat sendiri? Harapan selalu ada. Namun, politik itu adalah tata kelola harapan. Kita maju satu langkah untuk mundur setengah langkah. Ada dua hal yang kiranya bisa dilakukan.

Pertama, kita perlu terus bersikap kritis pada penjajahan ruang publik yang dilakukan oleh agama dan ekonomi. Ruang publik demokratis adalah ruang publik untuk semua pihak, baik kalangan yang beragama, ataupun tidak. Ia adalah ruang terbuka, tempat berbagai pembicaraan tentang masalah hidup bersama dilakukan, tanpa rasa takut. Sikap kritis ini perlu dikembangkan di berbagai jenjang pendidikan, baik di dalam keluarga, maupun di dalam berbagai tingkat institusi pendidikan.

Kedua, kita perlu mengembangkan sikap keadaban publik sejalan dengan kesalehan pribadi. Orang bisa tetap saleh secara pribadi, dan kesalehan itu tercermin di dalam perilakunya di ranah umum, seperti jalan raya, maupun panggung politik. Inti dasar dari kesalehan adalah kebijaksanaan dan keterbukaan. Orang semacam ini jauh dari kebencian dan rasa iri, serta siap untuk hidup bersama di dalam kemajemukan.

Selama sikap kritis terawat, maka sikap beradab masih dalam jangkauan harapan. Selama kesalehan pribadi menyebar keluar ke dalam kehidupan bersama, maka politik yang beradab masih bisa diwujudkan. Indonesia, terutama Jakarta, kini dalam pertaruhan. Apakah ia akan jatuh ke dalam ketakutan dan kebiadaban, atau maju menyongsong keterbukaan, demokrasi, keadilan serta kemakmuran bersama? Kita tunggu jawabannya.

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

15 tanggapan untuk “Menuju Politik Beradab”

  1. “Kita menjadi bangsa yang berlebihan doa, namun kekurangan nalar”
    Setuju, Pak.
    Saya pernah ajak mereka (orang-orang yang enggan bernalar) untuk mengkritisi aksi 4 Nov dengan akal mereka, tapi mereka menolak dengan bilang gak semua hal harus menggunakan akal. Hal yang menyedihkan adalah jawaban mereka seragam semua, menolak untuk bernalar dan lebih mementingkan rasa (iman).

    Suka

    1. iya… itu salah satu penyakit orang beragama: menggunakan alasan2 iman dan agamis untuk membenarkan kemalasan berpikir jernih… itu yang membuat kita semua mengalami krisis hidup bersama, bukan hanya di INdonesia, tetapi juga di seluruh dunia..

      Suka

  2. sangat menggambarkan sikon politik saat ini cak…pola-pola yang dipakai hampir sama ketika jaman mbah saya #ehh 65 maksudnya, sentimen agama yang dipakai, supaya balance tidak berat sebelah alias ngeblok disalah satu pihak, jadul (jaman dulu…hehehe) ada ‘non blok’ tapi akhirnya ketahuan juga berat sebelah akhirnya dimunculkan sentimen sara. Mungkin kalau sekarang bukan ‘non blok’ tapi ‘non kuota’ (pulsa habis kalee…) karena tidak kebagian roti kekuasaan…mangap #eh maap analisa ngawur, tapi yg pasti tulisane sampean mbois cak !!!

    Suka

  3. Mas Reza. Salam kenal. Senang sekali bisa membaca tulisan tulisannya.
    Soal politik biadab lawan kata beradab yg berkembang pesat di indonesia karena ketidakdewasaan beragama dan ketidakadilan Ekonomi. Sejauh ini saya melihatnya kedewasaan beragama kita jauh lebih baik dari banyak negara di dunia. Meski tentu ada saja krikil krikilnya tapi selalu mampu memperbaiki dirinya. Sama seperti luka luka tergores yg bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu obat obat kimia. Sejauh ini urusan agama memang hanya berkelindan dengan hal hal yg transendental, manusia mendatanginya sebagai kebutuhan nutrizi jiwanya. Tapi kerumitan kerumitan manusia bukan hanya melulu di jiwanya, juga ada yg tdk bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak punya kesempatan, tertindas habis habisan. Sementara di depan matanya ada yg begitu berlebihan, tumpah ruah, berjalan begitu congkaknya. Kemana orang orang miskin yang kalah ini kebanyakan pergi meratap? Mereka pergi menemui Tuhannya meminta makanan kekuatan bagi jiwanya agar terus menerus kuat. Setiap hari setiap bulan setiap tahun. Rakyat Indonesia cukup terlatih seperti ini mas Reza. Gereja gereja, masjid masjid, pura dan wihara memang selalu jadi tempat menenangkan diri. Agama agama ini sepanjang indonesia merdeka, mereka hidup berjuang sendiri. Bikin gereja sendiri, bikin masjid sendiri, bikin pure da wihara sendiri. Betapa sanggup agama agama ini melihat ketidakadilan ekonomi bersuka ria berpesta. Saat itu agama lalu dianggap terbang tinggi bertahta jauh dari realita hidup masyarakatnya.

    Mas Reza, yang unik di Indonesia secara sosial adalah kesanggupannya bertoleransi. Karena itu ditahbiskan menjadi doktrin politik dalam pancasila. Meski ujian ujian bertoleransi juga tidaklah sedikit. Tapi kita juga selalu bisa sembuh karena sudah begitu dalam mengakar. Di tempat lain belum tentu sukses menyembuhkan diri.

    Suka

    1. terima kasih. Saya setuju. Kesenjangan sosial memang masalah besar di masyarakat kita, dan toleransi memang amat tinggi di Indonesia. Pertanyaanya: sampai batas mana toleransi tersebut di hadapan kesenjangan sosial yang ekstrem?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s