Mentalitas Ilmiah untuk Indonesia

download
neosurrealism.artdigitaldesign.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Penulis dan Peneliti di Sudut Pandang (www.rumahfilsafat.com)

Kita tidak boleh mencomot secuil data dan fakta dari penelitian ilmiah untuk membenarkan keyakinan religius kita. Kita juga tidak boleh mencomot seenaknya data dan fakta dari penelitian ilmiah untuk kepentingan politik ataupun ekonomi kita. (degrasse Tyson, 2015) Jika kita melakukan itu, kita sedang merusak nalar kita sebagai manusia, dan menghancurkan ilmu pengetahuan. Sayangnya, itu yang kerap kali kita lakukan di Indonesia.

Metode

Apa yang membuat ilmu pengetahuan begitu istimewa, sehingga ia begitu dipercaya oleh seluruh dunia sekarang ini? Secara gamblang, ilmu pengetahuan telah menghasilkan hal-hal yang memperbaiki kualitas hidup kita, mulai dari kesehatan, pendidikan sampai dengan kemudahan hidup sehari-hari, seperti mesin cuci, kulkas, AC dan sebagainya. Ilmu pengetahuan adalah upaya manusia untuk memahami alam, sehingga ia bisa meramalkan apa yang akan terjadi dengan tingkat ketepatan yang tinggi. Sumbangan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia tidak dapat diragukan lagi.  

Hal terpenting dari ilmu pengetahuan adalah metode penelitian ilmiah. Inti dari metode penelitian ilmiah adalah upaya sistematik dan berkelanjutan untuk menemukan obyektivitas, yakni kebenaran yang bisa diakui lepas dari keyakinan pribadi ataupun pandangan pribadi dari orang yang menyatakannya.

Pola berpikir semacam ini lahir dari semangat filsafat modern yang berkembang di Eropa. Tokohnya yang ternama adalah Francis Bacon. Ia menegaskan, bahwa semua pemahaman kita haruslah diuji dalam eksperimen, sehingga tingkat kebenarannya bisa dipastikan. Hasil dari eksperimen tersebut harus juga bisa diuji oleh orang-orang lainnya dari ranah keilmuan yang sama. Jika banyak dari peneliti bisa menguji hasil dari eksperimen tersebut, dan sampai pada hasil yang sama, maka pandangan tersebut bisa dianggap sebagai pandangan obyektif.

Pola semacam ini membawa hasil yang luar biasa. Komunitas para ilmuwan menjadi semacam komunitas yang mengontrol dirinya sendiri. Para penipu akan secara alamiah tersingkir. Sementara, para peneliti unggul akan juga secara otomatis berhasil karirnya.

Kerap kali juga terjadi perdebatan keras di antara para ilmuwan. Data dan fakta yang sama dibaca dan dimengerti dengan cara yang berbeda. Dari perdebatan inilah penemuan yang berguna bisa lahir. Penemuan tersebut kerap kali begitu mengguncang, karena menawarkan sudut pandang baru yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Obyektivitas/Intersubyektif

Ilmu pengetahuan mencoba mengungkap kebenaran yang bersifat obyektif/intersubyektif, yakni bisa dibuktikan melalui eksperimen oleh orang lain. Kebenaran semacam ini tidak tergantung pada kekuasaan apapun. Siapapun bisa melihat dan menyatakannya, dan tetap diakui sebagai benar. Hanya ada sedikit kebenaran “obyektif” di alam ini yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan, misalnya bahwa matahari itu panas, bahwa bumi itu tidak datar, dan bahwa manusia itu terdiri dari komponen DNA. Pernyataan-pernyataan kebenaran lainnya masih terbuka untuk dialog dan diskusi lebih jauh.

Kebenaran obyektif tentu berbeda dengan kebenaran subyektif, yakni kebenaran yang kita yakini secara pribadi seturut dengan latar belakang kita. Kita tidak bisa membuat orang lain memiliki keyakinan yang sama dengan kita. Kita hanya bisa memaksanya, kerap kali dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan mental. Keyakinan imani di dalam agama adalah salah satu bentuk kebenaran subyektif.

Kamu tidak setuju dengan aborsi. Namun, kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk juga tidak setuju dengan aborsi. Tidak ada orang yang akan memaksamu untuk aborsi. Namun, jika kamu membuat hukum untuk melarang aborsi, maka kamu memaksakan kebenaran subyektifmu pada orang lain. Ini adalah kekerasan, atau totalitarianisme di dalam politik.

Ilmu pengetahuan juga berkembang pesat, karena orang berani berbicara dan berpikir berbeda. Orang menolak untuk tunduk dan patuh pada kebenaran yang telah dipercaya secara umum, baik oleh budaya maupun tradisi. Diskusi dan dialog pun terjadi, sehingga penemuan-penemuan baru yang berguna bisa muncul. Orang hidup di dalam kebebasan berpikir dan berpendapat yang mendorong peradaban manusia untuk maju ke depan.

Untuk Indonesia

Iklim ilmiah belum berkembang di Indonesia. Jabatan menteri pendidikan yang baru lebih bernada politis, daripada penekanan pada keutamaan ilmiah. Orang juga masih malas berpikir kritis dan melakukan eksperimen untuk membuktikan pendapatnya. Orang lebih percaya pada gosip dan rumor, daripada nalar yang kritis dan tercerahkan.

Di sisi lain, kita di Indonesia juga belum bisa membedakan antara kebenaran subyektif dan kebenaran obyektif. Kita mencampurkan keduanya. Akibatnya, kita memaksa orang untuk sejalan dengan keyakinan pribadi kita. Kita menjadi bangsa yang totaliter, terutama terhadap orang-orang yang memiliki sudut pandang berbeda.

Melihat kekacauan, kita cenderung diam, tunduk dan patuh. Kita tak berani merumuskan pemikiran dan berpendapat secara mandiri. Kita lebih senang tidak berpikir, dan menyandarkan diri pada pandangan-pandangan lama yang berpijak pada budaya, tradisi dan agama yang sesat. Alhasil, di abad 21 ini, kita masih menjadi bangsa terbelakang hampir di semua bidang.

Kita juga seringkali menggunakan argumen-argumen ilmiah untuk membenarkan kepentingan politik, religius maupun ekonomi kita. Partai politik mengobarkan sentimen agama untuk meraih dukungan semu. Perusahaan membawa label-label agama untuk menipu konsumen. Para agamawan berkoar soal kesucian untuk mengisi kantong mereka dengan uang, kuasa dan kenikmatan badani.

Jika keadaan seperti ini dibiarkan, kita akan tetap menjadi bangsa terbelakang. Konflik dan ketegangan akan mewarnai hidup sehari-hari kita. Orang akan hidup dalam suasanan tertekan, karena tak mampu berpikir dan berpendapat sejalan dengan nuraninya. Hidup macam apa yang mereka jalani?

Indonesia tidak hanya harus berinvestasi di dalam penelitian ilmiah, tetapi juga di dalam pembentukan budaya dan mental ilmiah. Peralatan canggih dan gedung bagus akan percuma, jika kita masih hidup dalam budaya ketakutan, dan patuh buta pada pandangan-pandangan lama. Sebaliknya, gubuk sederhana akan menjadi laboratorium yang sempurna, jika diisi dengan orang-orang yang terbuka, kritis, analitis dan berani menantang pandangan-pandangan lama. Jadi, tunggu apa lagi?

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

20 tanggapan untuk “Mentalitas Ilmiah untuk Indonesia”

  1. Super sekali.

    Sayangnya, saya yakin paling banyak 1/4 pembaca Indonesia yang akan setuju.

    Pendapat “kita orang timur, kita punya budaya, bla bla bla” masih mendominasi.

    Contohnya kasus “syarat masuk TNI kudu perawan”. Abstrak sekali kan. Apa sih hubungannya?

    Suka

  2. Mentalitas ilmiah mungkin tak sejalan dengan bangsa Indonesia.
    Bangsa Indonesia lebih suka dengan keadaan terkini. Keadaan yang nyaman untuk mental kerdil mereka.

    Dahulu saya kira Orang nomor 1 di Indonesia sekarang menyuarakan Jargon yang membuat saya penasaran apakah jargon itu akan dijalankan. Dan ternyata selama ini jargon itu hanya retorika yang dilontarkan beliau saja.
    “Revolusi Mental” mungkin akan dibawa oleh orang yang benar-benar muak dengan keadaan terkini dan menginginkan suatu keadaan baru.
    Semoga akan tiba masa ketika orang itu datang. Aamiin.

    Salam damai pak reza.

    Suka

  3. sangat cocok dengan apa yang saya temui di kampus. beberapa mahasiswa/organisasi keagamaan mengadakan kegiatan mencocokkan bukti sains terkini dengan pandangan di agama masing-masing. padahal banyak hal-hal fundamental di dalam sains yang sudah terbukti benar kontradiksi dengan ajaran-ajaran di kitab suci masing-masing. tetapi mereka menutup mata akan hal itu. bukankah itu seperti kekanak-kanakan?

    Suka

  4. Berkaitan dg artikel ‘Mentalitas Ilmiah untuk Indonesia’, pertanyaan besarnya: “Mengapa bangsa ini belum memiliki budaya menggagas ide2 besar kejeniusan dlm ilmu pengetahuan dan kritisisme?”
    Banyak faktor yg mempengaruhinya, diantaranya:
    Laporan OECD budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat bawah dari 52 negara di Asia. Bahkan laporan UNESCO 2012 kemampuan membaca anak Indonesia mencapai titik terendah, yakni 0 persen, tepatnya 0.001 persen. Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya 1 anak yang mampu menghabiskan 1 buku/tahun (versus anak2 Eropa secara rata2 menghabiskan 25 buku/tahun). Ini persoalan penting, perkara penting.
    Pendidikan dasar (grade 6-9) tidak diajarkan atau diperkenalkan dg nalar kritis (filsafat unt pendidikan dasar). Sayangnya di tingkat perguruan tinggi pun, pengajar filsafat masih sering mengajar filsafat secara teologis tinimbang metodologis. Mengajar filsafat perlu pedagogi subversif (ajak anak didik debunking ala Berger) yg menerabas UN. Menghapus label bahwa seperti sosiologi bukanlah ilmu ‘hafalan’. Tak mungkin mengajar filsafat dg memelihara ‘local wisdom’ yg konservatif ataupun memelihara watak agama yg patriarkis dan misoginis. Sekian dan salam hangat.

    Suka

    1. terima kasih atas uraiannya yang tajam dan bernas. Sikap kritis dan ilmiah sebenarnya sudah selalu ada, karena itu sifat alamiah manusia. Itu tertutup oleh sikap buta yang dikembangkan tradisi lama. Butuh waktu untuk mengikisnya.

      Suka

  5. thanks pak tentang pikirannya, sangat membangun dan juga kritis, saya kurang sepakat mengenai argumen bahwa agama membawa pahaman buta, memang tidak tertera di tulisan bapak, tapi saya tangkapnya begitu, jika memang seperti itu mohon dipahamkan.thanks pak reza

    Suka

    1. salam. Semoga membantu ya. Agama itu keyakinan pribadi yang tak dapat dipaksakan kepada orang lain. Ia bukan ilmu pengetahuan, dan tak punya klaim kebenaran obyektif, seperti pada ilmu pengetahuan. Itu posisi saya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s