Kebebasan dan Empati

Abed Alem

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita ingin menjadi manusia bebas. Kita ingin bisa membuat keputusan kita sendiri terkait dengan hidup yang kita jalani. Kita ingin bisa berpikir bebas. Kita ingin bisa bertindak bebas, seturut dengan pilihan yang kita buat.

Kita ingin bisa memilih hobi yang ingin kita tekuni. Kita ingin bisa memilih orang yang kita cintai. Kita juga ingin bisa memilih agama yang kita anut. Namun, kebebasan juga memiliki banyak tantangan. Lanjutkan membaca Kebebasan dan Empati

Iklan

Tentang “Kepantasan”

tetsuya-ishida-09Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Beberapa bulan ini, saya tinggal di dua kota terbesar di Indonesia, yakni Jakarta dan Surabaya. Ada satu hal yang cukup menganggu pikiran saya. Di dua kota besar tersebut, mobil sekaligus motor mewah seri terbaru berkeliaran di jalan raya. Rumah mewah juga bertebaran di mana-mana.

Pesta perkawinan dan ulang tahun dirayakan dengan begitu mewah. Banyak orang juga bergaya hidup mewah, tanpa peduli hal-hal lain, kecuali kenikmatan diri dan kerabatnya. Keadaan ini sebenarnya tak bermasalah, jika Indonesia sudah bisa dianggap sebagai negara makmur. Namun, kenyataan berbicara berbeda: Indonesia masih merupakan negara berkembang dengan tingkat kemiskinan yang terus meningkat (per data Badan Pusat Statistik Juli 2016). Lanjutkan membaca Tentang “Kepantasan”

Empati, Kemanakah Dirimu?

empathyOleh Reza A.A Wattimena,

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Nawa, dan anaknya Bashar yang masih berumur 11 tahun, berasal dari Maroko dan kini tinggal di München, Jerman. Nawa sendiri sudah sekitar 15 tahun tinggal di Jerman. Ia pindah kesini, karena ia harus bekerja, guna menghidupi dirinya sendiri. Di Jerman, ia berjumpa dengan seorang pria, dan akhirnya mereka mempunyai anak.

Hubungan mereka tidak berjalan lancar. Akhirnya, mereka berpisah. Kini, Nawa harus bekerja keras untuk menghidupi diri dan anaknya. Pemerintah Jerman tahu kisah ini, dan kemudian membantunya dengan memberi keringanan biaya sewa rumah.

Nawa tahu, bahwa ia harus berterima kasih pada pemerintah Jerman. Maka, ia pun bekerja dengan rajin, dan membayar pajak dengan teratur. Ia bisa berbahasa Jerman dengan amat baik. Kini, ia bahkan membangun usaha kecil, guna memberikan pekerjaan pada pendatang-pendatang lainnya di Jerman. Usahanya berkembang dengan pesat. Lanjutkan membaca Empati, Kemanakah Dirimu?

Kolaborasi

mekinvestments.com

Sketsa tentang Dinamika Kerja Sama di dalam Organisasi

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Kita hidup di dunia yang semakin rumit. Banyak hal tak lagi bisa dilakukan sendirian. Maka kita perlu kerja sama, atau berkolaborasi. Kolaborasi adalah model kerja masa kini dan masa depan. Lanjutkan membaca Kolaborasi

Mendidik Ulang Kewargaan

Oleh B Herry Priyono

http://www.callcentrehelper.com

Selamat datang di negeri yang berlagak demokrasi. Sebagaimana lagak itu ibarat topeng yang mengimpit wajah, begitu pula lagak demokrasi adalah topeng kebebasan yang memangsa isi demokrasi.

Jutaan kata telah dikerahkan untuk menjelaskan kemajuan dan kemacetan proses demokrasi: dari telaah ciri agonistik dan antagonistik sampai prasyarat deliberatif bagi kemungkinannya di Indonesia. Namun, kedegilan peristiwa tetap saja keras kepala. Deretan bom, teror, dan tersingkapnya jaringan ambisi Negara Islam Indonesia belakangan ini mengisyaratkan, perkaranya barangkali lebih sederhana daripada urusan agonistik, antagonistik, ataupun deliberatif demokrasi. Mungkin perkaranya adalah rasa-merasa kewargaan yang digusur dari kehidupan bersama dan bernegara. Bagaimana memahami pokok sederhana ini? Lanjutkan membaca Mendidik Ulang Kewargaan