Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?

Huffington Post

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Sejarah manusia memang tidak selalu bergerak maju. Yang kerap kali terjadi, tiga langkah maju ke depan diikuti dengan dua langkah mundur ke belakang. Inilah yang kiranya seringkali dialami oleh bangsa Indonesia. Pemahaman sejarah tak selalu berkembang ke arah kedewasaan, tetapi juga kerap mundur ke arah pembodohan.

Kesalahpahaman tentang apa yang terjadi pada 30 September 1965 dan tahun-tahun berikutnya masih saja tersebar. Fitnah dan kebohongan masih menjadi senjata utama untuk memecah belah dan memperbodoh rakyat luas. Tak heran, ketika banyak bangsa sudah mulai bergerak ke arah eksplorasi ruang angkasa, kita masih saja ribut soal isu komunis yang sudah ketinggalan jaman. Nalar sehat seolah menjadi barang langka di Indonesia. Lanjutkan membaca Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?

Iklan

“Seduksi” dan Sistem

pablo-picasso-figures-on-a-beachOleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Seduksi adalah rayuan. Namun, ia tidak sekedar rayuan. Rayuan normal bersifat pribadi. Lawan jenis saling merayu untuk mencapai kenikmatan bersama, atau untuk tujuan lainnya, seperti uang dan kuasa. Seduksi adalah rayuan yang bersifat sistemik. Seluruh unsur kehidupan kita, mulai dari politik sampai dengan hiburan, merayu kita untuk melupakan jati diri kita, dan hanyut di dalam sistem.

Seduksi Sistemik

Sistem politik melakukan seduksi, supaya kita memberikan suara kita, ketika pemilihan umum tiba. Janji-janji cemerlang diucapkan, guna memikat hati rakyat. Hadiah-hadiah mewah dibagikan, kerap kali dengan cara-cara yang melanggar hukum. Seduksi politik adalah seduksi yang memoles kepercayaan rakyat terhadap kekuasaan. Lanjutkan membaca “Seduksi” dan Sistem

Para Perampas Akal Sehat

http://blog.lib.umn.edu
http://blog.lib.umn.edu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Krisis akal sehat bagaikan kanker yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa kita sekarang ini. Di berbagai bidang, kita bisa langsung menemukan beragam keputusan-keputusan konyol yang, sayangnya, dapat mempengaruhi kehidupan ratusan ribu orang. Politik yang digerogoti korupsi, karena para pejabatnya kehilangan akal sehat mereka, dan hanyut di dalam terkaman uang maupun kuasa sesaat. Produk Undang-undang, yang nantinya menentukan hidup begitu banyak orang, lahir dari kedangkalan berpikir, prasangka kultural yang begitu jelek, serta ketidakmampuan membedakan urusan publik dan urusan pribadi.

Bidang pendidikan, yang merupakan kunci kemajuan bangsa, terperosok kembali menjadi proses penghasil robot yang tak berpikir, dan pandai memuntahkan pendapat orang lain. Akibatnya, tingkat kemampuan sumber daya manusia secara umum nyaris tak mampu bersaing di tingkat global. Ketika ini terjadi, bangsa kita akan terjebak menjadi pemakai ulung dari hasil pikiran maupun produk bangsa lain, serta tak mampu menjadi pencipta ide ataupun barang yang bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Hasilnya, kita akan semakin miskin, dan dengan kemiskinan, beragam masalah sosial lainnya, seperti kriminalitas dan konflik sosial, pun akan bertumbuh dengan subur.

Akar dari semua masalah ini, pada hemat saya, adalah krisis akal sehat yang membuat kita tak lagi mampu berpikir jernih, serta semakin hanyut di dalam ketakutan serta kebodohan setiap harinya. Akal sehat kita dirampas oleh situasi, dan membuatnya tumpul, bahkan mungkin lenyap. Ketika akal sehat hilang, maka krisis-krisis lainnya pun tampil di depan mata, mulai dari krisis ekonomi, krisis moral politik, sampai dengan krisis kepribadian. Hidup bersama maupun hidup pribadi pun akan selalu berada di ambang kehancuran. Lanjutkan membaca Para Perampas Akal Sehat