Di atas Rasa Sakit

SONY DSC
Daily Creativity

Oleh Reza A.A Wattimena

Rasa sakit adalah bagian dari hidup manusia. Ketika terlahir di dunia, kita sudah langsung berjumpa dengan rasa sakit. Ibu yang melahirkan kita pun sudah akrab dengan rasa sakit. Tak mungkin manusia untuk menghindar dari rasa sakit.

Ketika rasa sakit tiba, tubuh dan pikiran langsung mengalaminya secara bersamaan. Ia melukai tubuh, sekaligus menggetarkan pikiran. Cerita tentang sakit datang tanpa diundang. Cemas dan khawatir juga datang menerkam.

Yang paling ditakuti manusia sebenarnya bukan kematian, melainkan proses menuju mati. Rasa sakit disini adalah kepastian. Orang kehilangan kemampuan panca inderanya, dan memasuki kekosongan dengan rasa sakit. Setelah itu, lenyap dan gelap.

Penyelidikan tentang sumber dari rasa sakit, dan penderitaan yang mengikutinya, juga menjadi tema penting di dalam filsafat Timur. Rasa sakit itu pasti. Namun, penderitaan itu selalu bisa dihindari. Ada dua sumber dasar penderitaan.

Yang pertama adalah tak mendapatkan yang diinginkan. Orang ingin kenikmatan, tetapi justru mendapatkan kesakitan. Orang ingin rejeki lancar, tetapi justru bankrut, ketika menjalankan usahanya. Penderitaan dan rasa sakit muncul, ketika keinginan bertentangan dengan kenyataan.

Sumber kedua adalah sisi lain dari sumber pertama, yakni ketika orang mendapatkan apa yang tak diinginkan. Orang menginginkan menjadi A, tetapi justru mendapat B. Setiap orang pasti mengalami kedua sumber ini di dalam hidupnya. Yang membedakan hanyalah sikap mereka, ketika dua hal ini terjadi.

Rasa sakit dan penderitaan bukanlah sesuatu yang mutlak, dan tak dapat diatasi. Orang hanya perlu melihat hakekat dari rasa sakit itu sebagaimana adanya, tanpa memberinya label ataupun penilaian apapun. Rasa sakit selalu merupakan bagian dari hidup. Orang yang berharap terbebas dari rasa sakit berarti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, dan justru semakin menderita, ketika sakit tiba.

Rasa sakit tak bisa lenyap. Yang bisa diubah adalah hubungan kita dengan rasa sakit tersebut. Ketika kita melihat rasa sakit sebagai bagian dari pengalaman hidup manusiawi, maka rasa sakit itu tidak lagi menganggu. Ia sama netralnya, seperti pengalaman-pengalaman lain di dalam hidup, misalnya menggaruk kulit gatal.

Kita bisa melihat rasa sakit sebagaimana adanya, ketika kita melatih pikiran kita. Pikiran bisa dilatih, ketika ia disadari sebagai kosong dan sementara. Orang lalu menyentuh dimensi yang lebih dalam dari pikiran, yakni dimensi kesadaran. Pada titik ini, semua menjadi jelas sebagaimana adanya, tanpa diliputi ilusi sedikitpun.

Kita pun lalu berada di atas rasa sakit…

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

13 tanggapan untuk “Di atas Rasa Sakit”

  1. SEKOLAH

    Telah kubongkar isi rumah. Lihatlah:
    baju, radio, kulkas, buku-buku, ranjang
    dan aneka keyakinan yang pernah kucintai
    yang dikumpulkan dengan bersusah-susah
    Telah menjadi usang dengan mudah
    Segala yang kukira kumiliki
    Adalah tanggungan
    Aku harus pergi subuh ini
    Memikul kuk yang enak, pemberianmu
    Mengusung kenangan, rindu dan mimpi
    Yang serba sedikit, serba secukupnya.
    Di tempat baru
    kutemukan orang-orang baru
    Barang-barang baru, detik-detik baru
    Dan segala yang akan segera berlalu.
    Serta sebuah pertanyaan yang begitu-begitu saja
    “Apa yang awetnya melebihi kenangan?”
    Di sana aku disekolahkan dengan dua ujian saja:
    diberi yang tak kupinta dan kehilangan yang kucinta.
    Eh, seperti ada yang duduk sambil terpingkal-pingkal.

    2014

    Suka

  2. mungkin memang rasa sakit berasal dari pikiran … kadang saya merasa stres ttg pekerjaan ..merasa “tak ingin berada disana”.. stres, sedih.. itupun seperti membuat tubuh ikut tidak berdaya… dan kadang ditengah kondisi seperti itu saya agak terobati dengan membaca tulisan2 di rumah filsafat..mengingatkan saya kembali bahwa segala sesuatu kembali pada diri kita…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s