Learning Organization dan Budaya Kepemimpinan

Miro_CarnivalOleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Learning organization? Apa itu? Saya harus minta maaf. Saya tidak menemukan padanan kata Indonesia untuk konsep ini. Yang paling dekat adalah organisasi pembelajar. Namun, kata itu terdengar aneh di telinga saya. Maka dari itu, demi kenyamanan saya menulis, dan kenikmatan anda membaca, mari kita pertahankan kata learning organization. Saya akan terlebih dahulu menjelaskan maksudnya.

Learning Organization

Ada banyak sekali organisasi di dunia ini, mulai dari pemuda Masjid, karang taruna, senat mahasiswa, organisasi siswa di sekolah, pramuka, sampai dengan berbagai institusi besar, seperti kementerian, militer dan organisasi lintas negara internasional. Semuanya memiliki kesamaan, yakni adanya sekumpulan orang dengan berbagai macam kemampuan yang memiliki tujuan yang sama, dan diatur dengan seperangkat aturan-sistem maupun nilai-nilai tertentu.

Learning organization adalah semua hal tersebut, ditambah dengan gairah untuk belajar, sehingga bisa mengembangkan diri dan organisasi yang ada, dan mencapai tujuan utamanya dengan maksimal. Bagus bukan? Sayangnya, tak semua organisasi adalah learning organization. Artinya, tak semua orang suka belajar. Mereka malas mengembangkan diri dan organisasinya. Akibatnya, kinerja organisasi jadi lesu, dan tujuan utama mereka pun tak tercapai. Yang mereka dapatkan justru tegangan, masalah dan bahkan konflik di dalam organisasi mereka. Sayang bukan?

Mengapa orang atau sebuah organisasi menjadi malas belajar? Ini terjadi, karena kita, dan banyak orang lainnya di seluruh dunia, memiliki pemahaman yang salah tentang belajar. Kita mengira, bahwa belajar itu hanya di sekolah. Di dalam sistem pendidikan yang kacau, seperti yang kita miliki di Indonesia, belajar adalah proses yang membosankan dan menyakitkan.

Kita diminta untuk menghafal banyak hal, dan memuntahkannya kembali di ujian secara mentah-mentah. Kreativitas banyak dipasung. Kepatuhan buta banyak dituntut. Akibatnya, jika tidak bosan, orang mengalami penderitaan dan trauma berat, ketika mendengar kata “belajar”. Berlebihan? Saya rasa tidak juga.

Padahal, belajar adalah kegiatan alami manusia. Setiap orang, sedari kecil, adalah mahluk pembelajar. Lihatlah anak kecil yang banyak bertanya tentang berbagai hal. Rasa ingin tahu dan mengembangkan diri adalah dorongan alamiah manusia. Ketika ini dipasung atas nama kepatuhan pada pandangan-pandangan lama, penderitaan, trauma dan masalah pun tercipta.

Learning organization adalah tempat untuk melampaui segala bentuk trauma dan pandangan salah tentang proses belajar di dalam organisasi. Di dalam learning organization, proses belajar dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama di dalam ruang yang menyenangkan. Di dalam proses, itu semua orang, dan organisasi yang ada, berkembang secara alamiah. Untuk membangun organisasi dengan pola semacam ini, banyak usaha perlu dilakukan. Salah satu langkah terpenting adalah dengan menata pola kepemimpinan yang ada.

Kepemimpinan di dalam Learning Organization

Konfusius, filsuf besar asal Cina, pernah berkata, “Untuk menjadi seorang pemimpin, orang mesti terlebih dahulu menjadi manusia.” Ia mengatakan itu lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu. Terselip di dalam kalimat tersebut adalah ide tentang kebijaksanaan. Menjadi pemimpin sejati berarti pertama-tama harus menjadi orang yang bijaksana.

Sayangnya, banyak orang lupa akan hal ini. Kata “pemimpin” dipersempit semata menjadi “direktur”, atau “manajer”. Segala perubahan harus datang dari “atas”, yakni dari pemilik, direktur atau manajer. Dan ketika krisis melanda, orang juga sering menyalahkan para bos tersebut.

Di balik pandangan ini terselip sebuah anggapan, bahwa perubahan hanya mungkin digerakkan oleh orang-orang yang berkuasa. Anggapan ini adalah kesalahan besar. Pertama, anggapan ini menyatakan, bahwa ada orang yang berkuasa, dan ada orang yang lemah. Orang lemah tidak memiliki sumbangan apapun, sementara orang-orang yang berkuasa menentukan segalanya. Dunia tidak sesederhana itu, Bung!

Kedua, anggapan ini juga buta terhadap kenyataan, bahwa perubahan selalu muncul dari berbagai sudut. Ada keterkaitan yang rumit antara berbagai hal yang kemudian mendorong perubahan. Jaringan kompleks inilah yang bertanggungjawab atas berbagai perubahan yang terjadi, dan juga terhadap berbagai krisis yang ada. Tidak ada satu aktor tunggal yang menyulut terjadinya perubahan.

Dari sudut pandang ini, kita tidak bisa lagi menunjuk kepemimpinan sebagai satu orang kuat dan berkuasa saja. Di dalam learning organization, kepemimpinan adalah hal kolektif. Ini disebut juga sebagai “ekologi kepemimpinan” (ecology of leadership). Di dalam ekologi kepemimpinan ini, ada tiga bentuk kepemimpinan, yakni kepemimpinan lokal, kepemimpinan jaringan dan kepemimpinan eksekutif. Ketiganya saling terkait dan saling membutuhkan di dalam mewujudkan learning organization.

Lokal, Jaringan dan Eksekutif

Ketiga bentuk kepemimpinan ini berdiri sejajar. Mereka saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain, guna menciptakan suasana yang mendukung lahir dan berkembangnya learning organization. Ketiga bentuk kepemimpinan ini tidak menunjuk pada satu sosok tertentu yang dianggap berwibawa, melainkan pada ciri dari kerja sama dan hubungan di dalam organisasi. Pendek kata, ketiganya adalah kepemimpinan yang bersifat sistemik.

Kepemimpinan lokal adalah orang-orang yang secara langsung terhubung ke lapangan. Mereka menerapkan konsep-konsep yang ada ke dalam praktek nyata. Tanpa kehadiran kepemimpinan lokal yang kokoh, ide sebagus apapun tidak akan pernah membawa perubahan yang berarti. Mereka adalah ujung tombak organisasi.

Kepemimpinan jaringan adalah orang-orang yang menghubungkan berbagai pihak, guna mencapai tujuan tertentu. Mereka mengenal banyak orang, dan punya kemampuan menghubungkan orang-orang yang sebelumnya tak terhubung. Mereka adalah penyebar ide dan informasi ke berbagai pihak yang membutuhkan. Mereka adalah pembangun jaringan dan komunitas di berbagai tempat. Kehadiran mereka amatlah penting di dalam mewujudkan visi dan misi tertentu menjadi kenyataan.

Kepemimpinan eksekutif adalah orang-orang yang melihat dari sudut pandang keseluruhan. Mereka melihat segala masalah dan tantang secara sistemik, yakni dalam keterkaitan dengan berbagai hal lainnya. Mereka juga menjadi figur teladan dari organisasi, karena mereka dianggap sebagai orang-orang yang secara langsung menghidupi nilai-nilai organisasi terkait. Dalam konteks teori kepemimpinan tradisional, kepemimpinan eksekutif adalah posisi tertinggi di dalam organisasi.

Tanpa kepemimpinan lokal, jaringan sekuat apapun tidak akan berguna. Namun, tanpa jaringan yang kuat, dampak kepemimpinan lokal juga menjadi amat sempit. Kepemimpinan eksekutif juga tidak berdaya, jika ide-idenya tidak terhubung ke komunitas yang lebih luas. Ia menjadi tak berguna, ketika tidak ada yang bisa menerapkan idenya secara tepat di berbagai konteks yang berbeda.

Kepemimpinan jaringan dan kepemimpinan lokal akan terjebak pada kesempitan sudut pandang mereka sendiri, tanpa keberadaan kepemimpinan eksekutif. Mereka akan tersesat, dan kehilangan pegangan terhadap nilai-nilai organisasi. Ciri utama dari kepemimpinan di dalam learning organization adalah kesalingbergantungan, atau interdependensi. Dalam arti ini, kepemimpinan menjadi bagian utuh dari budaya dan sistem yang ada. Ia tidak tergantung pada kehadiran orang-orang yang berkharisma tinggi.

Perubahan Cara Pandang

Pandangan lama tentang kepemimpinan haruslah ditinggalkan. Kepemimpinan adalah budaya, dan bukan semata orang berwibawa dan kuat, yang membuat berbagai keputusan, dan memotivasi semua orang di sekitarnya. Ini pandangan yang amat individualistik dan salah kaprah. Kepemimpinan bukanlah semata sosok superhero yang menyelamatkan semua orang dari bahaya dan krisis yang terjadi.

Selama pandangan lama ini masih kita pertahankan, selama itu pula budaya kepemimpinan tidak akan tercipta. Dan jika budaya kepemimpinan tidak tercipta, maka learning organization tidak akan tercipta. Orang hanya menjadi penunggu datangnya satria piningit atau ratu adil yang akan menyelamatkan keadaan. Ia hanya menjadi penonton tak berdaya yang tunduk pada segala perubahan yang ada.

Di dalam learning organization, kepemimpinan adalah soal budaya dan sistem. Kehadirannya adalah untuk melahirkan sosok-sosok pemimpin baru yang siap menanggap tantangan jaman. Orang boleh datang dan pergi. Namun, sistem dan budaya tetap ada, serta berubah sesuai dengan keadaan jaman yang terus berubah. Ini semua hanya mungkin di dalam learning organization.

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Learning Organization dan Budaya Kepemimpinan”

  1. “Di dalam learning organization, kepemimpinan adalah hal kolektif”. menurut saya ini menjadi atitesis dari model kepemimpinan yang diterapkan di Indonesia khususnya dlm Parpol yang selalu menitikberatkan pada seorang figur tertentu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s