Dialog sebagai Jalan Hidup

600full-dimensions-of-dialogue-photo
tasteofcinema.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Banyak masalah di dalam hidup kita bisa ditarik ke satu sebab mendasar, yakni tidak adanya dialog. Orang mengira pendapatnya sendiri sebagai benar, dan menghina pendapat orang lain. Orang tidak lagi mendengar dengan seksama, sehingga salah paham, dan cenderung menanggapi dengan amarah dan kebencian. Akibatnya, banyak masalah tak selesai, sementara masalah baru datang bermunculan.

Sebenarnya, dialog bukanlah barang baru di dalam hidup manusia. Ia sudah selalu menjadi bagian hidup kita. Dialog adalah upaya untuk memahami maksud dan cara berpikir seseorang dengan berbicara langsung dengannya. Ia adalah landasan dari beragam bentuk diskusi.

Ketika kita merencanakan sesuatu, misalnya tujuan dari liburan tahun ini, kita berdialog dengan teman ataupun keluarga kita. Dialog dan diskusi juga amat penting untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang biasanya berujung pada konflik. Ia juga menjadi cara paling baik untuk membuat berbagai keputusan penting dalam hidup.

Bisakah kita membayangkan dialog sebagai jalan hidup kita? Artinya, kita siap sedia untuk berdialog saat demi saat, baik dengan diri kita dalam bentuk refleksi, maupun dengan orang lain. Kita lalu bisa belajar dari pengalaman hidup kita, dan bekerja sama dengan orang lain. Apakah yang kiranya diperlukan untuk mewujudkan hidup dialogis semacam itu?  

Dialog dan Kesadaran

Peter Senge di dalam bukunya The Fifth Discipline dan Chade Meng Tan di dalam bukunya Search Inside Yourself sepakat, bahwa dasar terpenting dari dialog adalah Mindfulness. Saya belum menemukan terjemahan yang tepat untuk kata ini. Namun, untuk keperluan tulisan ini, saya akan menerjemahkan kata tersebut sebagai kesadaran. Dalam arti ini, kesadaran adalah kemampuan orang untuk memperhatikan segala hal yang terjadi di dalam dirinya dari saat ke saat, mulai dari rasa pegal, gejolak emosi, sampai dengan semua sensasi panca indera, tanpa penilaian dan analisis apapun.

Ketika orang berbicara di dalam dialog, ia juga perlu untuk sadar akan hal-hal yang terjadi di dalam dirinya, serta kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ini membuatnya tetap tenang dan jernih, sehingga bisa menyampaikan maksudnya secara jelas dan sopan. Inilah yang disebut berbicara dengan kesadaran (mindful speaking). Tanpa pola ini, orang akan cenderung berbicara dengan emosi, dan menimbulkan kesalahpahaman dari pihak lain.

Untuk bisa berbicara dengan penuh kesadaran, orang juga harus belajar mendengar dengan kesadaran. Orang perlu menyimak sepenuhnya pembicaraan orang lain, tanpa melakukan penilaian atau analisis apapun. Inilah yang disebut dengan mindful hearing. Jika tidak jelas, orang boleh bertanya kepada orang tersebut. Itu pun dilakukan dengan penuh kesadaran.

Dasar dari mendengar dan berbicara dengan kesadaran adalah hidup yang berkesadaran (mindful living). Hidup yang berkesadaran berarti hidup yang penuh perhatian pada setiap gejolak di dalam tubuh yang terjadi saat ke saat. Ini berarti memperhatikan semua perasaan, emosi, pikiran dan sensasi panca indera yang muncul di sini dan saat ini. Semua perhatian ini dilakukan juga dengan tanpa penilaian dan analisis apapun.

Hidup yang Dialogis

Di dalam bukunya yang berjudul Theorie des kommunikativen Handelns, Jürgen Habermas, filsuf Jerman, menekankan pentingnya tindakan komunikatif sebagai unsur penyatu di dalam masyarakat majemuk. Tindakan komunikatif adalah sebentuk dialog dengan memperhatikan setidaknya tiga klaim dasar, yakni klaim kebenaran, klaim kejujuran dan klaim komprehensibilitas. Artinya, tiga klaim tersebut menjadi ukuran, ketika orang berbicara. Apakah pembicaraannya bisa dipertanggungjawabkan kebenaran, kejujuran dan komprehensibilitasnya?

Ini tentu berguna. Namun, tanpa mendengar dan berbicara dengan kesadaran, ketiga klaim tersebut akan sulit tercapai. Orang lalu terjebak pada kebohongan, kebingungan dan kesalahpahaman. Gabungan antara teori tindakan komunikatif Habermas dan teori kesadaran (mindfulness) dari Senge dan Tan kiranya cocok untuk menjadi dasar bagi hidup yang dialogis.

Jika kita melihat hidup kita sebagai sebentuk dialog, maka segalanya akan lebih mudah. Kita bisa melakukan refleksi mendalam atas pengalaman hidup kita dengan dialog dengan diri sendiri. Kita bisa mencapai kesalingpemahaman dengan orang lain yang berbeda cara berpikir dengan kita. Kita juga bisa hidup dalam harmoni dengan alam, karena keterbukaan dan kesadaran kita.

Dialog juga merupakan jantung hati dari kerja sama di dalam tim. Sebuah tim bisa bertumbuh bersama dalam kekompakan, jika ia memiliki pola dialog yang sehat di antara anggotanya. Visi bersama bisa ditegaskan dan kemudian diterapkan dalam hidup sehari-hari. Berbagai tantangan pun bisa dilampaui melalui kerja sama tim yang mantap.

Jadi tunggu apa lagi?

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

12 thoughts on “Dialog sebagai Jalan Hidup”

  1. DIALOG KESADARAN

    Saya Taufik, Mahasiswa Filsafat. Status mahasiswa filsafat terjadi sebab dialog; waktu itu, saya ditanya oleh pengasuhku, Haidar Buchori: apa tujuanmu menulis? Saya ditanyakan itu berulang-ulang. Saya jawab berulang-ulang. Lamat-lamat, pengulangan saya bertabrakan dalam memori saya, akhirnya, saya tidak tahu tujuanku menulis.

    Sejak itu, saya berminat untuk mengkaji filsafat, mengkajif filsafat karena saya terpikat dengannya, dia lulusan S1 filsafat. Bagiku dia, gayanya sederhana, kalimat-kalimatnya mudah dipahami, dan itu membuatku tertarik; mengetuk pintu kamarnya dan cerita-hati, bahkan pembicaraan apa-apapun itu, bersamanya, menghadirkan diriku rindu ingin mendatanginya. Dialog, lagi, lagi, dan terus.

    Dan akhirnya, saya dioleh-olehi kalimat ini: apa tujuanmu menulis? Kamu tidak punya tujuan. itulah oleh-oleh yang menjadikanku terserang sesuatu yang bagiku aneh, ialah rindu. Rindu karena kami berjarak. Rindu yang aneh. Rindu kepada pengasuh. Rindu yang tidak jelas. Tapi rindu itu memotivasi saya mencari: jawaban ringkas dari pertanyaannya: apa tujuanmu menulis? Kamu tidak punya tujuan.

    Kalimat yang awalnya sederhana, mendadak berubah menjadi kalimat yang multi fungsi, dan paling dasar: “Apa tujuan hidupmu? Kamu tidak punya tujuan. Apa tujuanmu datang? kamu tidak punya satu jawaban kongkrit. Apa tujuanmu bicara? Kamu tidak punya jelas. Apa tujuanmu menyampaikan pesan? Kamu tidak mempunyai tujuan pasti.” Kalimat-kalimat itu mengiang dalam diriku, sekalipun secara nyata, saya mengetahui, secara terang-terangan saya mempunyai alasan, tapi tetap saja, perasaan di dalam diri, tidak terpuaskan. Tidak terlegakan.
    Jadilah di sisi lain, saya tanya-tanyakan kepada orang-orang yang mampu berbicara denganku, atau orang-orang yang setidaknya duduk denganku, tentang hal-hal sederhana tersebut. Mulai di kamar, angkringan, atau waktu-waktu lenggang.

    Saya tidak malu untuk mengungkapkan hal tersebut, karena pertanyaan itu bergulir tidak secara langsung. Alasannya, supaya tidak terlalu jelas dan menekan orang yang saya tanya. Sebabnya, belajar dari pengalaman: Orang akan bosan apabila ditanyakan hal dasar lalu diputarkan kata-kata, diperjelaskan diksinya. Dari itu proses itu saya terngiang pengasuhku, secara tidak langsung, sesuatu yang mengikatkan itu (Yang mengantarkanku ke gerbang kesadaran) saya terapkan kepada orang-orang yang saya ajak bicara. Padahal saya tidak berusaha menggukan gaya dia, tapi seakan itu selalu terngiang, sampai sekarang (a ha ha ha)

    Selain bertanya kepada orang, saya masih tetap membaca, daerah pembacaannya (setelah saya kenang) orientasinya adalah cenderung hal-hal praktis, how-to, misal, bagaimana berkomunikasi dengan baik? Bagaimana berbicara yang baik? Bagaimana membaca tubuh? Teks interaksi dengan orang lain adalah sangat saya sukai.

    Dan juga, buku-buku yang cenderung kepada ketimuran, sering mengamati kutipan-kutipan kebijaksanaan dari tokoh-tokoh filsafat timur, membaca tentang zen, juga tentang sufisme, karena memang backgrone dari pesantren, tentu tidak ketinggalan dari pembacaan kitab al-quran.

    Dan tentu juga ranah filsafat, saya tertarik dengan Friedrick Nietzche—bahasanya dialog, ternyata dia juga pengaggum Socrates—, selain itu, waktu dulu tidak tertarik dengan selainnya. Sampai sekarang, perjalanan perihal ketertarikan perihal tokoh juga masih terbatas, malah bahkan minim (Nietzche, Soren Kiekegaard, Hegel, Descartes, Edmun Hurssel), perihal ketertarikan adalah bagaimana itu mengiang saya, sekali pun masih sekelebatan, tapi setidaknya agak mengerti, dibanding dengan tokoh-tokoh lain.

    “Apakah tokoh-tokoh lain tidak mengerti? Atau tidak ada ketertarikan?”

    Tentu mengerti, tapi tidak semengerti tokoh di atas. Karena ada kecenderungan dengan Filsafat Timur, walau dari filsafat timur, sejauh ini, sekedar penyukaan teks-teks sederhana yang diungkapkan, Lao Zi, Confusius, dan teks berkaitan dengan pegembangan diri, bagi saya timur cenderung agak instan dan mudah diterapkan, intermezzo, yang orientasinya, pikiran, diri, rasakanlah sentuahan alam: dulu saya menyukai, ‘pikiran zen, pikiran pemula,’namun tetap saja, pola-pemikiran sejauh ini, orientasinya ke filsafat barat, filsafat timur sekedar lintasan, filsafat islam juga sekedar lintasan –mungkin sekarang minim-kelanjutan ketertarikan dengan keduanya: karena ada yang lebih menarik, bagiku. Sejarah indonesia dan Filsafat Barat—

    “Jadi apa tujuanmu kuliah filsafat?”

    Tujuan saya kuliah, mencari tahu bagaimana saya berpikir. Itulah awalnya, faktalah berbicara, yang kurang menikmati jalannya kuliah, kecuali menjalani proses-kuliah dan saya sibuk dengan mencari jawaban, bagaimana saya berpikir! saya terus menerus mencari, walau dalam prosesnya tidak semulus menyatakan: saya terus menerus mencari. Tapi itulah, endingnya, pendek kata: saya telah menemukan apa yang saya cari! Maksudnya, hati atau jiwa atau pemikiran saya, plong. Lega. Tidak ada yang mengganjal dalam diri saya. Maka muncullah saya di dunia kenyataan:

    Jreng…!

    Saya terkejut bukan main. Saya terheran bukan kepalang. Rupanya, kisah ini agak mirip dengan orang yang terjebak di dalam goa. Maka nampaklah, sejauh ini, selama ini, sayalah yang tidak menerima kehadiran dunia. Saya terlambat jauh terhadap keduniaan. Seharusnya memang seperti itu, Taufik. Apa yang salah dengan dunia ini? Kamulah yang sejauh ini yang salah. Tapi saya tetap protes, bahwa pasti ada yang salah, saya melihat banyak kesalahan, artinya tidak ada keserasian antara yang semestinya dengan yang terjadi. Tapi saya selalu tidak mempunyai daya untuk menulisnya. Tidak mempunyai daya untuk berbicara lebih, kecuali menularkan kepada teman-temanku, teman-teman yang dapat dikatakan baru—ingat! Saya baru keluar dari goa-diri. Saya baru menyadari bahwa sejauh ini, saya tidak tahu tentang Immanuel Kant, saya tidak benar-benar memahami apa yang telah saya ketahui. Sejarah kuno sampai kontemporer telah saya ketahui, ternyata, saya benar-benar tidak mengetahui. Ternyata sejauh ini, pembacaan saya sejauh ini minim tentang filsafat, kecuali membaca diri. Ah…

    Saya masih terkejut, heran.

    Saya merasa kesepian, begitu juga dengan sikap guruku, yang menurutku dia mulai berbeda, jauh lebih berbeda dari sebelum saya keluar dari goa-diri ini. kini ia bersikap lebih dingin, kalimatnya ringkas, padat, dan jelas. Tidak bertele-tele. Saya merasa hampa, kikuk, juga rindu. Saya mulai malu mencurahkan diri, saya malu ia mengetahui sesuatu dariku, saya malu menampakan diri—walau harapku besar ingin mengunjungi. Akhirnya saya tidak menemukan gairah berpuisi, laksana tak ada kata yang layak untuk disampaikan. Akhirnya kata-kata, yang mungkin dikatakan puisi, tepatnya kalimat-diri, curhatan, atau diary yang berbentuk rangkaian kata, tersimpan di dalam diri: bukan berarati saya enggan berbagi, tapi dalam diriku, tidak ada alasan khusus mengapa saya harus membagikan tulisan itu, sejauh ini, belum ada.

    “Bagaimana kalau dicoba untuk dikirimkan ke media?”

    Sejauh ini, saya terlalu minder, terlalu tidak percaya diri, toh kalau diamat-amati, karakter tulisan tidak sesuai dengan selera puisi, ini sekedar kata-diri. Terlebih lagi, yang lebih parah adalah saya belum benar-benar memahami apa yang sebenarnya saya incar dari semua-kronologi ini, kecuali saat ini: menjalani proses entah berantah ini. Ya! Menjalani. Simaklah, kini, kata-diriku, menjelma seperti ini:

    SAAT KELIARAN MENYERUAK DAN KAU BERTANYA DIRIMU

    Ingatlah nafsu liar ingin-tahu yang bergelayut dalam dirimu

    Saat kau membaca, lebih dalam, lebih lama,
    Sejarah, filsafat, rubik prestasi, politik, ilmiah, sains
    Kau pikir dari membaca memecahkan problemmu
    Ingatlah nafsu yang membara dalam dirimu
    Membimbingmu liar, kesela-sela seluruh pengetahuan
    Matamu asyik menyelusuri kata demi kata
    Dan akhirnya, kau mengeluh padaku,
    Aku tidak seperti mereka, yang rajin, rapi dan selalu seperti itu
    Yang kubisa adalah merangkai puisi, tidak lebih, yang layak
    Ya! Seakan layak, bagi mataku pribadi. Menjelama curahan
    Lalu sekali lagi—aku tak memahami, nasibku kelak.

    Nasib yang buram, sebab suka ditambah suka yang lain
    Suka yang melimpah, enggan menangkap; inikah kemalasan?

    Jelas—itu bukan kemalasan. Tapi keserakahan dan pelit!
    Kau enggan membagi kebodohanmu. Kenapa tak kau curahkan
    Sesuatu yang menggelisahkanmu. Dirimu sarat gelisah
    Hatimu empuk, dan lezat bagi si hasrat dan nafsu—tuangkan:
    Dalam memori kata-katamu. Karena hanya itu yang kau mampu
    Puisi? Ya! Yakinlah rangkaian gelapmu adalah kelezatan dimatai:
    Khususnya tentu matamu, sendiri. agar kau semakin sadar:
    kau penting belajar berkali-kali lagi. Menjenguk orang-orang pandai
    tentulah kau bakal tersulut api marah ingin menandingi.
    Kalau kau telah mencoba dan gagal, sekali lagi:
    Akuilah kau bukan dia, dan apa yang telah kau cipta: itulah dirimu.
    Tepatnya, saat kau liar bersama keingin-tahuanmu,
    Dan kau terjebak rasa bosanmu, lalu pertanyaan menghampirimu:
    Kembalilah kepada dirimu. Kembalilah mengamati puisimu!

    November 2016

    Terlebih lagi, saya malah turun gairah terhadap menulis, saya mulai terpacu untuk membaca sejarah indonesia, juga berusaha membaca sekali lagi, lebih lama, tentang sejarah filsafat, dan berusaha mengerti apa yang sebenarnya apa yang saya baca.

    Immanuel Kant, Kritisesmenya, (saya izin mendowload: terlambat berkata, hehe.. tapi saya telah membaca komentar-komentar perihal pdf itu.) seakan mendekatkanku, memberanikan diri, untuk berdialog dengan Pak Reza, yang mungkin sudah lama (mungkin waktu, gambar fotonya gondrong) saya telah membaca tulisannya. Tapi entah mengapa, saya baru ngeh bahwasanya Pak Reza, manusianya terbuka dan perduli, dengan menyempatkan waktu, berdialog dengan siapa yang bertanya. Termasuk saya akan bertanya:

    1. Dengan melihat paparan ringkas itu tersebut, sejauh ini, saya masih gelap terhadap pola pikir saya: mohon dijelaskan bagaimana pola-pikir saya?
    2. Saya berharap saat penelitian-skiripsi mengangkat tema yang itu sesuai dengan apa yang melekat dari dalam diri saya, mohon petunjuknya?

    Suka

    1. terima kasih atas uraiannya yang begitu indah. Maaf baru membalas, karena saya pelan2 membaca uraian anda. Tulisan anda bergaya sastra posmodernis yang suka berada di antara tegangan, dan tidak mau jatuh ke dalam kepastian-kepastian semu. Saya sarankan, anda mulai membaca pemikir2 postmodernis, seperti Derrida dan Lyotard. Nietzsche juga menarik. Selamat belajar ya.

      Suka

  2. Terima kasih atas jawabannya, Pak. Sangat membantu. Sangat mengena. Tepat. Dan ternyata, saya mempunyai masalah lain, saya kurang bisa menyimpulkan, dan bahkan menyederhanakan tentang hal itu, di dalam pemikiran saya.

    Seakan filsafat itu malah buram, sebenarnya: bagaimana filsafat pada era post-modern: apakah filsafat menjadi tema-tema epistemology belaka, yakni mengerucut menjadi suatu tema yang hanya dipelajari: tentang berbagai apa-pun yang ada dan ukurannya adalah dunia? Atau sekedar, kumpulan kabar dari masa yang sekarang ini?

    (Sejauh itu, saya belajar, dengan cara berusaha memahami lewat media internet, yakni mengumpulkan tema-tema yang berhubungan dengan postmodern. Lalu saya memilih tokoh Lyotard. Sebelum itu, saya memang telah mematai tentang Derrida, Broudrille dan Faolcout, tapi ternyata: belum mendapatkan ketepatan dalam-pikiran dan hati saya. Sekarang, saya tidak mendapati filsafat menjadi praktis, tercerap dalam pemikiran saya: tapi filsafat menjadi sebuah teks dan sesuatu yang menuntut terus menerus membaca, filsafat layak ditempatkan pada ruang pembicaraan filsafat. Mohon diluruskan pemikiran saya.)

    SELANJUTNYA:

    Selain bertanya, dan curhat, atau mendialogkan diri saya, mohon izin, untuk mengomentari tulisan dialog sebagai jalan hidup:

    Pertama, saya tentu setuju bahwa dialog sebagai jalan hidup, sebab saya termasuk dalam hal ini, yakni, terkuak kesadaran sebab dialog, yakni interaksi dengan guru saya: karena mendialogkan diri saya, karena kedekatan kami, lamat-lamat, beliau menemukan ‘titik-pusat’ kesalahan saya.

    Kedua, saya tentu gembira, karena tema tulisan: mengajak manusia untuk tidak harus menyelesaikan masalah secara sendiri, bahkan sangat sulit: manusia tidak mungkin bisa mengoperasi dirinya sendiri, sekalipun manusia tersebut adalah dokter. Membutuhkan orang-lain, untuk mengoperasi luka yang ada pada dirinya.

    Hal itu, dinyatakan pada akhir tulisan:

    “Jadi tunggu apa lagi?” yang mampu bermakna, “Segeralah dialogkan dirimu!”

    Namun, setelah saya mengamati lebih lanjut, tentang tulisan ini:

    “Dalam arti ini, kesadaran adalah kemampuan orang untuk memperhatikan segala hal yang terjadi di dalam dirinya dari saat ke saat, mulai dari rasa pegal, gejolak emosi, sampai dengan semua sensasi panca indera, tanpa penilaian dan analisis apapun.”

    Selanjutnya,

    “Ketika orang berbicara di dalam dialog, ia juga perlu untuk sadar akan hal-hal yang terjadi di dalam dirinya, serta kata-kata yang keluar dari mulutnya.”

    Kemudian,

    “Ini membuatnya tetap tenang dan jernih, sehingga bisa menyampaikan maksudnya secara jelas dan sopan. Inilah yang disebut berbicara dengan kesadaran (mindful speaking).”

    Dan ditutup dengan ini,

    “Tanpa pola ini, orang akan cenderung berbicara dengan emosi, dan menimbulkan kesalahpahaman dari pihak lain.”

    Saya mendapati, bahwa ternyata, untuk mendialoggakan diri, ternyata tidak semudah, ‘jadi tunggu apa lagi’ sebab, dibutuhkan pengetahuan diri, dan control diri. Yakni, benar-benar menguasai perihal diri individu.

    Saat ini, bahkan saya tidak mengetahui persis bagaimana perasaan saya, mengenai komentar ini, yang jelas, saya berkecamuk dalam diri, karena saya berusaha mengingat dialog-dialog realitas yang terjadi pada diri saya. Perjalanan dialog saya, yang simple kata: dialog tidak semudah yang dikira. Apalagi dialog dengan tema kesadaran. Atau apakah saya belum paham tentang pentingnya teori: apakah itu, Habermas, Senge dan Chade Meng Tan, adalah sebuah teori untuk memperkuat tulisan? Sebab menurut saya, karena adanya teks-teks tersebut, menjadikan berat. Terlebih lagi, dengan pengalamanku, yang berangkat dari dialog. Hal itu terjadi, karena sekali-lagi, sekali lagi, saya amat-amati artikel tersebut (saya mungkin agak terinspirasi dengan kalimat komentar, Bapak, ‘Karena saya pelan-pelan membaca uraian anda.’ Pelan-pelan itu, juga saya terapkan untuk melihat tulisan. Saya terpikirkan: bahwa tulisan pun penting dialogkan, seakan-akan dia, si penulis, menceramahi saya.)

    Komentar saya: Hidup sebagai dialogis itu tidak mudah, tapi penting di dialogkan, karena dengan dialog maka akan melahirkan pola-pola kesadaran.

    Suka

    1. Terima kasih. Anda terlalu banyak terjebak pada pikiran dan konsep yang anda buat sendiri. Ini menciptakan kebingungan yang pada akhirnya membuat anda tidak mampu bertindak secara jernih dan gesit. Ini memang gejala yang banyak ditemukan di kalangan filsuf dan akademisi. Coba kurangi kecenderungan berpikir konseptual secara berlebihan, dan hiduplah di saat ini, saat demi saat. Anda akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menganggu anda tersebut.

      Suka

  3. Maksud saya tentang ‘catatan’2 saya. hehehe saya berharap dapat komentar dari tulisan-tulisan yang saya tuangkan dalam blog. Komentar tentang apa? Tentang keseluruhan, saya berharap bapak menunjukan karakteristik saya dari ‘pergerakan’ pemikiran saya. hehe terutama dari perspektif filsafat: lebih ringkasnya, -saya belum sepenuhnya menemukan arah kefilsafat yang sesungguhnya: bahasa lainnya, tentang identitas saya yang sesungguhnya. Apakah dalam hal ini saya terpusingkan dengan identitas saya? jawabnya, tidak. Hanya saja belum serasi antara filsafat dan diri saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s