Menjadi Manusia Reflektif

htb1dmcwjxxxxxa8xfxxq6xxfxxxw
aliexpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Kutipan ini kiranya perlu untuk kita resapi bersama: „Hidup yang tidak direfleksikan (diperiksa) tidaklah layak dijalani.“ Begitu kata Sokrates, pemikir asal Yunani, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Hidup yang tidak direfleksikan berarti hidup seperti robot yang otomatis dan tanpa makna.

Di Indonesia, ketika mendengar kata “refleksi”, orang langsung berpikir tentang pijat refleksi. Ini berarti memijat titik-titik tertentu di telapak kaki, supaya orang bisa merasa lebih segar. Bukan refleksi semacam itu yang dimaksud disini. Refleksi, dalam arti sesungguhnya, adalah belajar dari apa yang sudah dilalui sebelumnya.

Belajar

Refleksi berasal dari bahasa Latin reflectere dan reflexio yang berarti membungkuk ke belakang. Dalam arti sekarang, refleksi berarti tindak berpikir untuk melihat apa yang sudah dialami sebelumnya, supaya orang lalu bisa belajar dari pengalaman tersebut, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Refleksi, dalam arti ini, adalah sebuah proses belajar yang berlangsung terus menerus. Orang menimba nilai-nilai kehidupan tidak dari buku dan omongan orang lain, tetapi langsung dari apa yang dia alami dalam hidupnya.

Dengan bersikap reflektif, orang akan semakin bijak dalam hidupnya. Ia bisa belajar terus menerus dari apa yang sudah dialaminya. Ia lalu bisa membagikan hal tersebut kepada orang lain yang membutuhkan. Banyak orang mengalami sesuatu, tetapi tidak pernah melakukan refleksi. Akibatnya, ia tetap dangkal dan dungu, walaupun sudah tua, dan banyak pengalaman.

Orang yang dangkal berarti orang yang hanya peduli pada kesenangan dan kenikmatan hidup diri dan kerabatnya. Ia tidak punya cita-cita tinggi dalam hidupnya. Ia hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan akan kenikmatan sesaat dari hari ke hari. Ia tidak peduli pada kesulitan orang lain, dan pada masalah komunitas tempat ia hidup.

Kedangkalan semacam ini hanya bisa dicegah, jika orang bisa terus melakukan refleksi dalam hidupnya. Kutipan dari Konfusius ini kiranya bisa memberikan inspirasi: “Ada tiga cara untuk mencapai kebijaksanaan. Yang pertama adalah melalui refleksi. Ini adalah cara tertinggi dan terbaik. Yang kedua adalah melalui keterbatasan. Ini adalah cara termudah. Yang ketiga adalah dengan mengalami. Ini adalah cara paling sulit.”

Memantulkan

Di dalam filsafat Timur, terutama tradisi Zen Jepang dan Korea, kata refleksi memiliki arti tambahan. Refleksi adalah tindak melihat keadaan disini dan saat ini apa adanya, tanpa prasangka ataupun asumsi sedikit pun. Dalam arti ini, refleksi adalah ciri dari pikiran manusia, yakni pikiran yang seperti cermin. Artinya, pikiran tersebut memantulkan terus menerus semua keadaan sebagaimana adanya: langit biru, pohon hijau, dan sebagainya.

Pola pikiran reflektif yang memantulkan dunia sebagaimana adanya, seperti cermin, ini mirip dengan pola pikir tradisi fenomenologi Jerman yang dikembangkan oleh Edmund Husserl. Inti dasar fenomenologi Husserl adalah kembali ke obyek itu pada dirinya sendiri (zurück zu den Sachen selbst). Orang lalu melihat dunia apa adanya. Semua penilaian, asumsi dan prasangka harus ditunda terlebih dahulu, supaya orang bisa mendapatkan pengetahuan yang tepat.

Jika memiliki pikiran reflektif semacam ini, orang lalu bisa menyingkapi semua keadaan dengan tepat. Ia tidak melihat sesuatu dari prasangka ataupun pengalaman masa lalunya semata, tetapi dengan berpijak pada kejernihan (Klarheit). Kejernihan ini, menurut Eckhart tolle, pemikir psikologi transpersonal, lahir dari kesadaran yang berpijak sepenuhnya pada dunia disini dan saat ini. Orang lalu bisa bersikap dengan tepat di semua keadaan yang ia alami dalam hidupnya.

Pikiran seperti cermin ini bisa dilatih, supaya bisa menjadi bagian dari kebiasaan hidup manusia. Caranya adalah dengan bermeditasi. Ada banyak cara untuk bermeditasi. Namun, semuanya memiliki inti yang sama, yakni mendengar, bernapas, melihat dan merasa apa sesungguhnya ada disini dan saat ini. Meditasi, dalam arti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun.

Manusia Bijak

Orang perlu untuk melihat ke belakang. Ia perlu untuk belajar dan mengambil nilai-nilai kehidupan dari apa yang sudah lewat. Pengalaman dan refleksi adalah guru tertinggi kehidupan. Buahnya adalah kebijaksanaan hidup yang terus berkembang dari saat ke saat.

Namun, orang tidak boleh tenggelam di masa lalu. Orang tidak boleh terus menyalahkan masa lalu, dan hidup dalam penyesalan atas apa yang sudah lewat. Untuk itu, orang harus berpijak kuat di keadaan disini dan saat ini (hic et nunc). Ia perlu untuk memiliki pikiran seperti cermin yang memantulkan semua keadaan sebagaimana adanya, sehingga ia bisa bersikap tepat di dalam menanggapi apapun yang terjadi.

Ketika ada orang lapar, kita memberinya makan. Ketika ada orang haus, kita memberinya minum. Semua dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih apapun. Juga ketika badan lelah, kita beristirahat. Semua dilakukan dengan alami, tanpa terlalu banyak pertimbangan dan analisis.

Inilah artinya menjadi manusia reflektif. Menjadi manusia reflektif juga berarti menjadi manusia yang bijaksana. Banyak orang pintar di dunia ini. Namun, manusia bijaksana semakin langka. Tak heran, banyak kedangkalan dan kedunguan berkeliaran di dunia ini. Sayang sekali memang…

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Menjadi Manusia Reflektif”

  1. Sebuah Respon

    Refleksi Perlu Kehati-hatian
    Oleh Hamdan Husein

    “Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak dijalani”. Socrates

    Socrates, pada akhir kehidupannya mati mengenaskan. Ia mati minum racun. Bukannya waktu itu tidak ada pilihan, selain racun. Bahkan Socrates berkesempatan kabur dari penjara. Namun Socrates tetap mengambil keputusan “minum racun”. Bukankah itu bunuh diri?
    Apakah Socrates tidak bisa berefleksi lagi, sehingga ia melihat kehidupannya sudah tidak layak dijalani? Bukankah menurutnya kehidupan yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani? Jadi Socrates memang bijak, tapi tidak di akhir hayatnya.
    Atau Socrates tetap bijak dan selalu merefleksikan kehidupannya hingga akhir hayat. Bahkan keputusan untuk bunuh diri, keputusan untuk melihat kehidupannya sudah tidak layak dijalani, adalah hasil dari refleksi?
    Jika demikian, maka refleksi bisa mengantarkan orang bunuh diri, mengantarkan orang melihat kehidupannya menjadi tidak layak dijalani.
    Jadi hati-hatilah berefleksi, karena tidak selamanya refleksi membuat hidup lebih bermakna dan layak dijalani. Kadang refleksi berakhir pada keputusasaan, atau kematian.

    Benarkah demikian Pak?

    Suka

    1. Refleksi adalah tindakan untuk melihat ke pengalaman kita di masa lalu, dan belajar darinya. Refleksi juga berarti memiliki pikiran seperti cermin yang memantulkan kenyataan apa adanya, dan bertindak secara tepat. Apakah sudah cukup jelas?

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s