Belajar Seni dari Bali

2893433_image001Oleh Reza A.A Wattimena

Sore itu di Ubud, Bali, cuaca cerah mendadak mendung. Hujan deras pun langsung turun, tanpa rasa malu. Saya bersama seorang teman. Ia seorang seniman Bali, yang juga bekerja di dunia pariwisata.

Tiba-tiba, anak laki-lakinya datang. Katanya, ia baru datang dari Banjar. Ada pelajaran musik dan menari di Banjar. Wajahnya tampak ceria dan segar.

Teman saya menjelaskan, bahwa semua orang Bali pasti belajar seni. Mereka bisa menari, walaupun tidak sungguh ahli. Mereka bisa bermain musik, walaupun mungkin tak menjadi musisi profesional. Beberapa bisa melukis, atau menjadi pemahat batu maupun kayu.

Alhasil, semua yang disentuh orang Bali menjadi semacam karya seni. Budayanya begitu indah. Agamanya begitu berwarna dan harum. Seluruh dunia menengok ke Bali untuk belajar tentang keindahan.

Belajar seni juga bisa membuat hati gembira. Orang tak gampang sedih, karena kegagalan. Orang tak gampang kecewa, ketika rencananya tak sesuai kenyataan. Dengan pemahaman seni, orang bisa terhubung dengan dimensi yang lebih dalam dari kehidupan.

Orang yang gembira tak banyak membuat masalah. Kapan terakhir kita mendengar Bali membuat masalah? Apakah kita pernah mendengar, orang Bali membawa bom untuk menghancurkan tempat ibadah agama lain? Pada saat pandemik COVID mencekik dunia, penduduk Bali langsung siap untuk divaksin, tanpa ada tantangan yang berarti.

Di Bali, seni juga membuat kehidupan manusia bermutu tinggi. Surga tak lagi menunggu setelah mati, seperti anggapan salah para penganut agama kematian. Surga bisa hadir di dunia ini. Kuncinya adalah rasa keindahan yang dibentuk lewat pendidikan seni, seperti yang sudah lama menjadi tradisi di Bali.

Dengan pola ini, Bali menjadi contoh bagi bangsa lain. Jutaan orang belajar seni Bali. Jutaan orang menimba inspirasi dan kebahagiaan dari beragam karya seni yang lahir di Bali. Mengapa kita di Indonesia tak belajar dari Bali yang merupakan saudara sebangsa dan setanah air kita sendiri?

Karena buta dan bodoh, bangsa kita hidup dalam kekacauan. Kemiskinan tersebar di berbagai penjuru tanah air. Radikalisme agama kematian merasuki semua sendi kehidupan berbangsa. Jangan pendidikan seni, pendidikan akal sehat dan nurani pun terlupakan.

Formalisme agama menghabisi pendidikan Indonesia. Budaya hafalan menjadi cara mengajar. Budaya kepatuhan buta pada tradisi yang sudah busuk menjadi acuan utama. Pendidikan Indonesia pun menjadi salah satu pendidikan yang bermutu terendah di dunia.

Formalisme agama adalah pola pengajaran agama yang menekankan kepatuhan buta, tanpa pemahaman mendalam. Tak ada spiritualitas di dalamnya. Tak ada kebijaksanaan di dalamnya. Yang ada hanya tampilan busana agamis yang miskin kebijaksanaan, dan penuh dengan kebodohan.

Formalisme agama, dengan demikian, membunuh akal sehat. Sikap kritis menjadi musuh. Sikap rasional dan berpikir logis justru dianggap berbahaya, dan dilarang. Manusia-manusia Indonesia menjadi manusia yang bermutu rendah, karena pola pendidikan semacam ini.

Formalisme agama juga membunuh kepekaan nurani. Orang tak lagi bisa mendengar suara nuraninya. Itu semua tertutup oleh ajaran-ajaran sesat yang ditelannya dengan terpaksa dari lingkungan sosialnya. Orang lalu siap menjadi pelaku bom bunuh diri, tanpa ada rasa ragu sama sekali.

Formalisme agama kematian juga menyiksa perempuan. Tubuh perempuan dijajah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tak lagi terlihat kecantikan agung perempuan Indonesia. Semua ditutupi kebodohan dari ajaran agama kematian yang lahir di tanah yang gersang.

Semua ini harus segera dibongkar. Bersama dengan pendidikan nalar dan nurani, pendidikan seni harus menjadi bagian utama keseharian bangsa Indonesia. Sama seperti Bali, kita semua harus belajar seni. Tak harus jadi ahli, atau profesional, tetapi cukup memiliki rasa keindahan yang membuat hidup ini bermakna.

Kiranya tak berlebihan, jika dikatakan, bahwa seni membuat manusia menjadi semakin manusiawi. Seni membawa manusia pada tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Seni menawarkan harapan dan keindahan yang tidak batas. Maka, seni tak pernah boleh dipisahkan dari hidup manusia.

Tentang ini, kita semua boleh bangga, dan belajar, dari Bali…

***

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.