Trias Sapientia untuk Indonesia

vector-hand-drawn-surreal-illustration-portrait-modern-abstract-style-symbol-philosophy-astrology-magic-boho-esoteric-su-vector-139365496Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa waktu lalu, saya diminta memberikan materi di sebuah diskusi daring. Temanya langsung menyentuh tiga bidang kegemaran saya, yakni filsafat, sains dan agama. Apa yang bisa dibicarakan dengan tiga bidang besar itu? Diskusi daring mengalir, dan saya keluar dengan konsep ini: trias sapientia, atau tiga kebijaksanaan.

Ketiga bidang itu memiliki hubungan yang rumit. Terkadang, ada kebencian di antara mereka. Konflik, diskriminasi, intoleransi dan bahkan perang tak dapat dihindarkan. Namun tak jarang juga, ada hubungan cinta yang saling menguatkan dan membangun di antara ketiganya.

Sebenarnya, tiga bidang itu tak bisa dipisahkan. Sejarah mereka selalu bertaut begitu erat. Namun, seperti layaknya saudara dan sepasang kekasih, ada waktunya, salah paham terjadi. Ketegangan dan penolakan pun tak bisa dihindari.

Pandangan saya sederhana. Manusia Indonesia bisa menjadi maju dan bermutu tinggi, jika sungguh mendalami filsafat, sains dan agama sampai ke akar. Akal budi dan nuraninya akan terasah. Hanya dengan begitu, manusia Indonesia sungguh menjadi manusia yang adil dan beradab.

Apa artinya mendalami filsafat? Mendalami filsafat bukan berarti jago mengutip pendapat-pendapat orang dari masa lalu. Mendalami filsafat juga bukan berarti jago mengutip konsep-konsep sulit dalam bahasa asing. Mendalami filsafat berarti membangun cara berpikir yang kritis, rasional, sistematik dan terbuka di dalam kehidupan.

Kemampuan ini tampak, ketika orang mengolah informasi yang ia terima. Ia tidak percaya begitu saja, apalagi menyerang orang dengan berpijak pada prasangka, tanpa bukti. Ia juga mampu melihat hal dari berbagai sudut pandang. Dengan mendalami filsafat, orang tak akan jatuh pada ideologi sesat yang kerap menciptakan sikap ekstremis, bahkan mendukung kekerasan.

Bagaimana dengan sains modern? Sejatinya, sains adalah anak kandung filsafat. Pola pikirnya amat mirip, yakni kritis, rasional, sistematik dan terbuka. Namun, bahan kajian sains jauh lebih sempit. Hanya hal-hal yang bisa ditangkap dengan panca inderalah yang hendak diteliti di dalam sains.

Sains telah mengubah wajah dunia. Ia juga telah melahirkan teknologi yang banyak memudahkan hidup manusia. Namun, sisi gelap sains juga perlu untuk dipahami. Sains menciptakan senjata yang bisa menghancurkan manusia. Limbah teknologi modern juga menghancurkan kelestarian lingkungan hidup.

Bagaimana peran agama? Agama menyentuh manusia di banyak tingkatan, mulai dari emosional, spiritual, intelektual sampai dengan eksistensial. Maka, agama tidak akan lenyap dari peradaban manusia. Ia menawarkan stabilitas bagi batin dan hidup bersama, walaupun kerap tak lepas menjadi kendaraan politik busuk, maupun ekonomi yang berpijak pada kerakusan.

Trias Sapientia, yakni filsafat, sains dan agama, perlu untuk dipelajari berbarengan. Ketiganya bisa saling memurnikan satu sama lain. Agama bisa menjaga filsafat dan sains dari kecenderungan untuk melampaui batas-batas moral, seperti menciptakan senjata pemusnah massal, atau merusak alam. Filsafat dan sains bisa memurnikan agama dari mitos, takhayul dan ekstrimisme yang mengancam keutuhan hidup manusia.

Manusia beradab adalah manusia yang menghidupi ketiganya, tanpa jatuh ke dalam ekstremisme, ataupun radikalisme. Ini kiranya sejalan dengan sila kedua dari Pancasila, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Di abad 21 yang penuh dengan ketidakpastian, mutu manusia Indonesia harus ditingkatkan sampai ke akarnya. Hanya dengan begini, bangsa kita bisa menjadi bangsa maju, dimana keadilan dan kemakmuran sungguh terasa bagi seluruh rakyatnya.

Dengan pola ini, bangsa kita bisa juga terlibat di dalam berbagai usaha untuk menyelesaikan masalah-masalah global. Kita tidak lagi menjadi penonton yang pasrah di dalam melihat keadaan. Kita juga tidak lagi menjadi bangsa konsumen yang sibuk belanja, tetapi tak pernah mencipta. Sudah cukup pencitraan hebat, tanpa perkembangan nyata yang sungguh terukur.

Sayangnya, keadaan kita di Indonesia sungguh parah sekarang ini. Agama diajarkan dengan cara yang begitu keras, sehingga menciptakan kebodohan dan kedangkalan bagi penganutnya. Filsafat dan sains hampir tak disentuh, karena dianggap berbahaya untuk tradisi dan budaya yang penuh kemunafikan. Para pejabat pendidikan adalah orang-orang yang ditunjuk secara politis, dan tak punya pemahaman menyeluruh soal pendidikan yang sejati.

Mau sampai kapan?

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.