Kolaborasi

mekinvestments.com

Sketsa tentang Dinamika Kerja Sama di dalam Organisasi

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Kita hidup di dunia yang semakin rumit. Banyak hal tak lagi bisa dilakukan sendirian. Maka kita perlu kerja sama, atau berkolaborasi. Kolaborasi adalah model kerja masa kini dan masa depan. Lanjutkan membaca Kolaborasi

Jurnal Filsafat: Slavoj Zizek dan Manusia sebagai Subyek Dialektis

Oleh Reza A.A Wattimena

Filsafat dimulai pada saat kita tidak lagi menerima

apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan.”

Slavoj Žižek

Abstract

What or who is human? This is one of the oldest questions in history. Philosopher and scientist from various disciplines try to answer it based on their research and theories. What is unique in Žižek approach is his effort to combine two different schools of thought as an intellectual instrument to answer this question, namely German Idealism and Jacques Lacan’s Psychoanalysis. Inspired by the philosophy of German Idealism, he argued that the essence of human is not inside his or her self, but outside, namely the symbolic order that determine their self. And inspired by Lacan, he argued that the self always embedded in the symbolic order, and constantly disrupted by the Real. In this context, we can say that human is a dialectical subject.

Kata Kunci: subyek, manusia, subyek dialektis, fantasi, the Real, tata simbolik. Lanjutkan membaca Jurnal Filsafat: Slavoj Zizek dan Manusia sebagai Subyek Dialektis

Mendidik Ulang Kewargaan

Oleh B Herry Priyono

http://www.callcentrehelper.com

Selamat datang di negeri yang berlagak demokrasi. Sebagaimana lagak itu ibarat topeng yang mengimpit wajah, begitu pula lagak demokrasi adalah topeng kebebasan yang memangsa isi demokrasi.

Jutaan kata telah dikerahkan untuk menjelaskan kemajuan dan kemacetan proses demokrasi: dari telaah ciri agonistik dan antagonistik sampai prasyarat deliberatif bagi kemungkinannya di Indonesia. Namun, kedegilan peristiwa tetap saja keras kepala. Deretan bom, teror, dan tersingkapnya jaringan ambisi Negara Islam Indonesia belakangan ini mengisyaratkan, perkaranya barangkali lebih sederhana daripada urusan agonistik, antagonistik, ataupun deliberatif demokrasi. Mungkin perkaranya adalah rasa-merasa kewargaan yang digusur dari kehidupan bersama dan bernegara. Bagaimana memahami pokok sederhana ini? Lanjutkan membaca Mendidik Ulang Kewargaan

Pengganggu/Yang Tak Terduga

smalltownstudentministry.com

(Filsafat Bisnis)[1]

Oleh Reza A.A Wattimena

Orang benci para pengganggu (the disruptor). Namun penganggu itu bermata dua. Kehadirannya dibenci sekaligus dirindukan. Di tengah situasi penuh kompetisi, para pengganggu berharga bagaikan permata. Ide-ide mengalir tak terduga deras dari kepala dan tutur kata mereka.

Hal yang sama terjadi di dalam dunia bisnis-usaha. Ketika ada masalah mereka diajak untuk menganalisis situasi. Namun tak berhenti di situ; para pengganggu datang, menemukan anggapan-anggapan lama yang masih ada, dan membuatnya mati. Para penganggu adalah para pembunuh klise (pandangan umum).   Lanjutkan membaca Pengganggu/Yang Tak Terduga

Mengapa Kita Bersatu?

Kompas 3 Juni 2011

blogspot.com

Oleh Radhar Panca Dahana

Sungguh sebenarnya kita sudah menipu: menipu dunia, menipu diri sendiri, dan menipu sejarah kita sendiri. Bahwa kita adalah manusia dan masyarakat modern, bahkan posmodern, dan bahwa kita adalah masyarakat demokratis yang ditandai oleh manusia-manusia yang egaliter, progresif, mundial, dan menghargai minoritas. Sesungguhnya itu hanyalah sebuah tipu.

Sebagaimana para elite dan pemimpinnya yang getol menggunakan biaya rakyat untuk melakukan upaya pencitraan diri, kita pun sesungguhnya aktor-aktor murahan yang sibuk dengan pencitraan bahwa kita adalah masyarakat yang sama maju dan modernnya dengan bangsa-bangsa ”hebat” lainnya. Dalam realitasnya, kita tetap tenggelam dalam kemenduaan atau semacam skizofrenia kultural, di mana diri yang kita citrakan itu bertempur atau berebut tampil dengan diri kita yang tradisional, primordial, mistik, dan klenik. Lanjutkan membaca Mengapa Kita Bersatu?

Mitos Otentisitas?

blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pada awalnya ada sebuah kata; kebebasan. Ada sebuah mimpi; kebahagiaan. Keduanya seolah menyatu di dalam cita-cita; otentisitas. Katanya dengan hidup otentik –asli sesuai panggilan hati-, orang bisa mencapai kebebasan, dan dengan itu, ia akan mencapai kebahagiaan. Kita bisa menerima ini, karena tampak langsung menyentuh akal budi maupun hati nurani yang kita punya.

Seringkali kita diminta untuk melihat ke dalam diri sendiri, dan hidup seturut dengan panggilan hati terdalam yang kita punya. Sekilas ini semua terlihat menarik. Namun apakah saran semacam itu masih tepat untuk situasi Indonesia sekarang?

Di tengah sedikitnya lapangan kerja yang layak, apakah kita masih meminta anak-anak kita untuk menjadi otentik, dan setia pada panggilan hati mereka sendiri? Apakah kita siap dengan resiko, bahwa mungkin saja, mereka tidak mendapat pekerjaan yang layak, dan hidup di dalam kegagalan, ketika mengejar mimpi dan panggilan hati mereka dengan penuh semangat? Lanjutkan membaca Mitos Otentisitas?

Negeri Para Celeng

 

blogspot.com

Oleh Sindhunata

Pada awalnya, lembaran itu hanyalah sebuah lukisan. Lukisan yang berjudul ”Berburu Celeng” karya perupa Djoko Pekik. Ternyata lukisan itu kemudian menjadi bagaikan ramalan yang memfaalkan karut-marut dan kecemasan bangsa pada zaman sekarang.

Lukisan itu dibuat setelah kejatuhan Orde Baru. Konteksnya fajar merekahnya era reformasi. Digambarkan di sana tertangkapnya seekor celeng raksasa. Dengan badan yang terbalik, celeng itu diikat pada sebilah bambu yang digotong dua lelaki busung lapar. Kerumunan rakyat menyambut tertangkapnya celeng itu dengan pesta ria dan sukacita. Menyambut lukisan tersebut, penulis mengeluarkan sebuah buku berjudul Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga dan Telegram Duka (1999). Seperti halnya rakyat waktu itu, penulis juga diliputi euforia reformasi. Toh, terpengaruh oleh kecemasan si pelukis, penulis bertanya: ”Celeng dhegleng sudah tertangkap, tapi mengapa di depan semuanya tambah gelap?” Lanjutkan membaca Negeri Para Celeng

Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa?

http://www.projecthomeblog.org

Sebuah Pendekatan Fenomenologi Politis

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Abstrak

Di dalam tulisan ini, saya akan menjabarkan makna dan proses terbentuknya komunitas politis. Tulisan ini juga dapat dianggap sebagai suatu bentuk partisipasi di dalam diskusi tentang problematika tatanan, atau problem “yang sosial”. Saya menggunakan pendekatan fenomenologi yang dijabarkan oleh John Drummond yang mengacu langsung pada teks-teks Edmund Husserl, bapak fenomenologi. Argumen utama Drummond adalah, bahwa komunitas politis merupakan fakta yang berkembang melalui hipotesa, dan hipotesa yang di dalam perkembangannya selalu berpijak pada fakta. Di bagian akhir saya akan mengajukan tanggapan kritis terhadap argumen tersebut.

Kata kunci: komunitas politis, yang sosial, komunitas alamiah, komunitas sukarela. Lanjutkan membaca Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa?

Bandi Pengembara

http://www.plumflowermantisboxing.com

Oleh SUKARDI RINAKIT

Pagi itu, ditimpali deru mobil yang melintas, saya bertanya kepada Pak Harto tentang perjalanan Indonesia ke depan pada era reformasi. Pak Harto diam sejenak, lalu dengan serius menjawab, ”Nanti kamu akan saksikan, tidak mudah mengurus Republik!”

Ingatan itu hadir kembali setelah membaca hasil survei Indo Barometer minggu lalu (Kompas, 16/5).

Para responden mengamini bahwa era Soeharto lebih baik daripada saat ini, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi. Hasil ini tentu mengejutkan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Klaim bahwa mereka telah bekerja keras dan membawa Indonesia lebih makmur menjadi mentah.

Sebaliknya, para oponen SBY bergairah dan mempunyai pijakan keras untuk mengkritisi pemerintah. Dari ruang seminar sampai warung kopi ”amigos” (agak minggir got sedikit), mereka menolak tafsir bahwa SBY adalah presiden terbaik dibandingkan dengan presiden lain pada era reformasi. Mereka lebih suka mengatakan, mengutip ungkapan Adhie Massardi, ”Jika Soeharto buruk, SBY lebih buruk. Itulah tafsir data Indo Barometer.” Saya tersenyum mendengarnya. Data yang sama memang bisa ditafsirkan berbeda. Lanjutkan membaca Bandi Pengembara

Lenyap dan Putus

farm4.static.flickr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada yang lenyap di masyarakat kita. Lembaga perwakilan tanpa keterwakilan. Bangsa tanpa cita-cita kebangsaan. Agama tanpa spiritualitas yang mendalam.

Yang kita dapatkan kemudian adalah lembaga perwakilan yang merugikan orang-orang yang diwakilinya. Bangsa yang warganya tak memiliki semangat patriotisme. Agama yang tak memiliki belas kasih. Dan pendidikan tanpa cita-cita pencerahan maupun penyadaran kritis.

Juga ada yang putus di bangsa kita. Politik putus dari moralitas. Karya seni putus dan pendidikan. Agama putus dari ilmu pengetahuan dan filsafat.

Semua bidang itu ada di dalam masyarakat. Namun semuanya seolah tak terhubung. Yang kita dapatkan adalah politik tanpa moralitas. Seni tanpa aspek pendidikan. Agama yang amat tidak rasional sekaligus destruktif. Lanjutkan membaca Lenyap dan Putus

Aku Tak Berpikir, maka Aku Ada

wordpress.com

Oleh Bre Redana

Makin tak berpikir, makin lempang jalan. Pelibatan mendalam pada proses kehidupan, termasuk di dalamnya pelibatan proses pemikiran, makin tersingkir oleh segala hal yang sifatnya praktis, teknis, bersifat seketika. Orang kian malas berpikir.

Kalau mau film laku, bikin film yang tak usah berpikir. Makin berpikir, makin tak laku. Itu diucapkan teman yang beberapa kali membiayai pembuatan film—dimaksudkan sebagai film bermutu—akhirnya menjadi film kurang laku. Kalah oleh film-film hantu, kuntilanak, pocong dengan segala versinya dari yang keramas sampai kesurupan. Sudah hantu, kesurupan pula.

Anda silakan memaparkan sendiri indikasi-indikasi gejala keengganan berpikir itu. Museum-museum dan gedung-gedung tua di Indonesia merana. Dalam kondisi demikian, yang ditampilkan oleh televisi kemudian bukan paparan nilai kebudayaan dan historis situs-situs itu, melainkan hantu-hantu yang bergentayangan di dalamnya. Penjaga dan juru kunci diwawancarai pernah melihat apa saja. Diajak pelacak, yang bersedia kesurupan. Mengaum-ngaum seperti harimau. Menggelikan dan menyedihkan. Lanjutkan membaca Aku Tak Berpikir, maka Aku Ada

Kita (2011)

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

(Seluruh kerangka analisis tulisan ini diinspirasikan dari Martin James, The Jesuit Guide to (Almost) Everthing, Harper Collins, New York, 2010, hal. 183-185. Saya mengembangkan analisis Martin tersebut untuk konteks masyarakat kita.)

Kita hidup dalam masyarakat yang amat individualistik. Setiap orang mengejar kepentingan pribadinya, dan seolah tak terlalu peduli dengan kepentingan bersama. Kita hidup dalam masyarakat yang amat kompetitif; setiap orang mengurus dirinya sendiri, titik.

Memang mengejar kepentingan pribadi juga tidak salah. Bahkan dapat dengan lugas dikatakan, bahwa pengejaran kepentingan pribadi adalah esensi dari kapitalisme. Dan kita semua tahu, kapitalisme, lepas dari segala kekurangannya, adalah sistem terbaik yang dikenal umat manusia dalam hal produksi dan distribusi barang maupun jasa. Lanjutkan membaca Kita (2011)

Penonton

http://www.caravetgroup.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apa yang orang Jerman lakukan, ketika mereka menyaksikan banyak orang Yahudi digiring ke kamp-kamp konsentrasi pada waktu perang dunia kedua? Mereka menonton. Ya, mereka adalah penonton.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, ketika mereka melihat Yesus disalib? Sama.. mereka juga menonton. Mereka juga adalah penonton.

Apa yang orang-orang Indonesia lakukan, ketika mereka melihat banyak orang-orang tak bersalah ditangkap, lalu dibunuh begitu saja, sewaktu ramai pembantaian kaum PKI oleh militer pada dekade 1960-an? Kita menonton.

Pembiaran

Menonton berarti membiarkan. Kita menonton berarti kita juga membiarkan, bahkan ketika terjadi hal-hal yang amat buruk di depan mata kita. Kita menolak untuk ambil bagian. Kita memilih kenikmatan palsu dengan menjadi pengamat yang mau main aman. Lanjutkan membaca Penonton

Untuk Eric Mulyadi Santosa

cdn1.1stwebdesigner.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Januari 2008, Atma Jaya, Jakarta, saya lupa tepatnya. Itulah ketika saya pertama kali berjumpa dengan Eric Mulyadi Santosa. Saya sudah sering mendengar namanya waktu itu. Namun kami belum pernah berjumpa langsung.

Percakapan pertama kali kami adalah soal apa itu manusia. Wah memang terdengar berat sekali, tetapi itulah yang terjadi. Ia dulu bilang begini, “manusia itu bukan substansi, tetapi jaringan.” Saya langsung setuju dengan pendapat itu.

Saya merasa berbicara dengan cermin. Yah, bagaikan berbicara dengan diri sendiri. Sejak awal berbicara kami langsung nyambung, terutama tentang tema-tema yang terkait dengan kehidupan manusia. Dalam banyak hal kami juga amat mirip.

Eric cenderung mengatakan segala sesuatu secara tegas. Saya pun sama. Ketika di kelas ia tidak ragu untuk bilang begini, “paper-mu dangkal.” Saya pun sama. Hehehe… Tak perlu diragukan lagi. Saya dan Eric memiliki posisi teoritis maupun nilai-nilai kehidupan yang “sama”. Lanjutkan membaca Untuk Eric Mulyadi Santosa

Horor Kebudayaan

2.bp.blogspot.com

OLEH INDRA TRANGGONO

Kecuali sibuk menjadi panitia pasar bebas, para penyelenggara negara saat ini bergerak nyaris tanpa gagasan dan praksis ideologis yang berbasis pada kultur kebangsaan.

Antara struktur dan kultur terbentang lubang besar; dalam dan gelap. Di situ terjadi praktik berbagai anomali nilai, antara lain, dalam politik dan ekonomi. Anomali politik tampak pada crime democracy, demokrasi curang, yang menjadikan politik tak lebih siasat jahat untuk menggenggam kekuasaan. Politik dipisahkan dari keagungannya: martabat. Politik takluk pada berhala uang.

Anomali ekonomi melahirkan hegemoni kelas berkuasa yang berujung pada penumpukan modal, aset negara, dan pemusatan akses ekonomis. Akibatnya, keadilan dan kesejahteraan tak terdistribusi optimal. Peternakan kemiskinan (masyarakat miskin) dan perluasan lapangan pengangguran jadi kenyataan yang menikam hati nurani bangsa.

Dua anomali tersebut membuyarkan cita-cita besar membangun negara kesejahteraan. Lanjutkan membaca Horor Kebudayaan

Yang-Lain

immaculateheartacademy.org

Oleh Goenawan Mohamad

Beberapa saat sebelum ia tewas, Karna tahu ia akan kalah. Dan ia akan kalah dengan kesadaran yang pahit: ia akhirnya memang bukan apa-apa. Ia merasa diri telah bertempur dengan keberanian seorang pendekar perang, tapi siapakah dia sebenarnya? Bukan seorang dari keluarga Kurawa yang dibelanya. Bukan seorang ksatria seperti para pangeran di pertempuran di Kurusetra itu. Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna.

Saat terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Tapi ia ingat: mantra yang lengkap itu tak diberikan kepadanya oleh gurunya, Rama Bargawa. Sang guru membatalkan memberinya versi yang penuh, karena ia dianggap telah berdusta: ketika ia datang berguru, Karna tak mengaku ia datang dari kasta ksatria—kasta yang bagi Rama Bargawa, yang berasal dari kaum brahmana dan punya dendam khusus kepada para ksatria, harus dimusnahkan.

”Tapi hamba memang bukan dari kasta itu,” Karna ingin memprotes ketika sang guru membongkar ”kepalsuan” dirinya. Tapi protes itu, seperti air matanya, harus ia tahan. Ia segera kembali ke asrama, mengemasi pakaian dan busur serta panahnya, lalu pergi seperti dikehendaki: seorang murid yang diusir. Lanjutkan membaca Yang-Lain

Dekonstruksi Penampilan Profesional

chestofbooks.com

Dipresentasikan di Universitas Airlangga 24 Mei 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Apa artinya menjadi seorang profesional? Saya melihat setidaknya dua hal yang terkandung di dalam kata ini. Yang pertama adalah kompetensi seseorang di dalam satu bidang. Yang kedua adalah pemberian diri atau totalitas untuk melayani masyarakat di bidang tersebut. Saya akan coba bahas satu per satu tentang ini.

Profesional

Yang pertama; profesionalitas selalu terkait dengan kompetensi. Kompetensi adalah kemampuan pada satu bidang yang lahir dari latihan, ketekunan, kemampuan bertahan di dalam kesulitan, serta komitmen.

Misalnya saya adalah seorang dosen profesional di bidang filsafat. Artinya saya terlatih untuk berpikir dan menulis filsafat, terus bertahan di tengah kesulitan belajar dan mengajarkan filsafat, serta memiliki komitmen teguh untuk terus mengembangkan filsafat di Indonesia. Anda bisa deret banyak contoh lainnya. Lanjutkan membaca Dekonstruksi Penampilan Profesional

Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan

3.bp.blogspot.com

Dipresentasikan di Universitas Airlangga Surabaya, 19 Mei 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Ruang publik adalah sebuah ruang tempat dibentuk dan dimatangkannya opini publik. Di dalamnya orang-orang berkumpul, saling bertukar pendapat, saling memahami, dan sampai pada satu keputusan tentang satu masalah di dalam hidup bersama. (Wattimena, 2007)

Misalnya ada masalah terkait seorang mahasiswa yang terpaksa putus kuliah. Pihak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) Fakultas akan menanyakan penyebab utama dari peristiwa ini kepada dekanat. Lalu pihak BLM juga akan bertanya kepada mahasiswa terkait, apakah ia menerima keputusan ini dengan lapang dada. Jika ada masalah maka BLM akan membuat forum.

Forum ini bertujuan untuk dua hal, yakni perubahan keputusan, atau menjelaskan keputusan yang telah dibuat, sehingga seluruh pihak yang terkait bisa memahaminya. Tujuan forum adalah memberi legitimasi bagi setiap keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama.  Lanjutkan membaca Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan

Kebebasan dalam Demokrasi

2.bp.blogspot.com

Oleh A Tomy Trinugroho

Dari Harian Kompas 10 Mei 2011

Bayangkan pemilihan umum dilaksanakan secara bebas dan jujur, dan mereka yang terpilih adalah kaum rasis, fasis, separatis.” (Diplomat AS, Richard Holbrooke tentang Yugoslavia, tahun 1990-an).

Demokrasi, harus diakui, merupakan salah satu pencapaian terbaik umat manusia. Lewat sistem ini, rakyat di suatu negara dapat menentukan sendiri orang yang akan menjadi pemimpin mereka, menentukan sendiri orang yang menjadi wakil mereka di parlemen. Lewat sistem demokrasi pula, pemerintahan suatu negara tak dapat lagi bersikap sewenang-wenang. Lanjutkan membaca Kebebasan dalam Demokrasi

Arti Keluarga

wordpress.com

Soetikno Tanoko di Mata Adiknya, Suwandi Tanoko

Oleh Reza A.A Wattimena

                  Sosoknya masih terlihat perkasa, walau usianya sudah tua. Dari matanya kita bisa melihat, bahwa ia memiliki sifat yang keras. Suaranya lantang ketika bercerita. Memang di masa mudanya, ia terkenal sebagai jagoan di antara teman-temannya.

                  Sewaktu muda ia tak segan berkonflik dengan orang di jalan, jika ia merasa benar. Ya, ia memang pemberani yang sama sekali tak kenal takut. Itulah sosok Suwandi Tanoko, adik Pak Tik (Soetikno Tanoko), namun berbeda ibu.

                  Sewaktu Pak Tik sampai ke Indonesia, Suwandilah yang membantu Pak Tik belajar bahasa Indonesia, dan bahkan belajar naik sepeda. Itu semua mereka lakukan setiap hari, sampai akhirnya Pak Tik bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, serta naik sepeda. Lanjutkan membaca Arti Keluarga