Arti Keluarga

wordpress.com

Soetikno Tanoko di Mata Adiknya, Suwandi Tanoko

Oleh Reza A.A Wattimena

                  Sosoknya masih terlihat perkasa, walau usianya sudah tua. Dari matanya kita bisa melihat, bahwa ia memiliki sifat yang keras. Suaranya lantang ketika bercerita. Memang di masa mudanya, ia terkenal sebagai jagoan di antara teman-temannya.

                  Sewaktu muda ia tak segan berkonflik dengan orang di jalan, jika ia merasa benar. Ya, ia memang pemberani yang sama sekali tak kenal takut. Itulah sosok Suwandi Tanoko, adik Pak Tik (Soetikno Tanoko), namun berbeda ibu.

                  Sewaktu Pak Tik sampai ke Indonesia, Suwandilah yang membantu Pak Tik belajar bahasa Indonesia, dan bahkan belajar naik sepeda. Itu semua mereka lakukan setiap hari, sampai akhirnya Pak Tik bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, serta naik sepeda.

Sebagai adik dari Pak Tik, Suwandi tahu benar, betapa kolot dan keras sifat ayahnya. Sudah sejak kecil Suwandi diajak untuk bekerja oleh ayahnya, sehingga ia tidak sempat menyelesaikan sekolahnya. Sifat keras itu tampak menurun, baik kepada Suwandi, maupun kepada Pak Tik.

Ikatan keluarga inilah yang mengikat Suwandi dan Pak Tik. Mereka mulai semua usahanya bersama. Di awal-awal usaha, mereka susah dan senang bersama. Di mata Suwandi, Pak Tik adalah orang yang amat baik. Pak Tik adalah seorang kakak yang selalu siap diajak menanggung kesulitan bersama.

Mulai Bersama

                  Pak Tik dan Suwandi meniti keberhasilan mereka bersama sejak awal. Dulu mereka sama-sama miskin. Namun mereka banyak berjumpa dan berbicara. Dari perjumpaan itu lahirlah ide untuk bekerja sama mengembangkan bisnis.

                  Sebelumnya Pak Tik pernah jualan kedelai. Sementara pada masa itu, Bu Soeryani berjualan pakaian bekas. Ini terjadi pada sekitar 1961. Suwandi sudah menjalin hubungan amat erat dengan keluarga Pak Tik pada masa itu.

                  Konon Hermanto Tanoko, anak kelima Pak Tik, hampir diangkat anak oleh Suwandi. Namun karena Bu Soeryani tidak tega, maka rencana itu tidak jadi dijalankan. Seluruh cerita ini mungkin akan berubah, jika Hermanto menjadi anak dari Suwandi.

                  Dari sini kita bisa melihat, betapa dekat hubungan antara Pak Tik dan Suwandi. Bersama Pak Tik, Suwandi mencari tempat untuk membuka usaha bersama. Juga bersama Pak Tik, Suwandi meniti semua usahanya dari awal di sebuah tempat yang amat sederhana.

                  Bahkan toko pertama mereka, yang nantinya akan menjadi toko 73, juga tidak berada di tempat yang ideal. Kalau malam tiba sebagian area toko tersebut digunakan sebagai jalan umum. Namun Pak Tik dan Suwandi tetap tekun bekerja dan berharap. Inilah ikatan persaudaraan yang sejati.

Berusaha Keras

                  Dengan modal kecil dan tempat usaha yang tidak ideal, Pak Tik dan Suwandi merintis jalan mereka bersama. Jelaslah betapa mereka bekerja amat keras untuk meniti bisnis bersama. Yang mengikat mereka adalah ikatan darah persaudaraan, serta niat untuk keluar dari lubang kemiskinan yang membuat mereka dan keluarganya menderita.

                  Ketika memulai Toko 73, Suwandi membuat alat angkat dalam bentuk katrol, guna meletakkan alat-alat berat di atas ruangan. Ia membuat sendiri katrol tersebut, karena prihatin, betapa sempit toko yang mereka pakai untuk jualan, sehingga hampir tidak ada ruang untuk menaruh barang. Suwandi pun berinisiatif untuk membuat semacam papan di atas ruangan sebagai tempat menaruh barang.

                  Pak Tik dan Suwandi bekerja keras mengelola toko tersebut. Waktu itu mereka belum mampu menggaji pegawai untuk membantu. Maka mereka berdua bekerja sama mengangkat kaleng spiritus, cat, dan semua barang-barang jualan toko yang amat berat. Mereka mengerjakan bersama semua pekerjaan yang ada, mulai dari perencanaan, membeli barang, sampai bekerja fisik menata toko.

                  Suatu ketika Suwandi sedang mengangkat barang yang amat berat. Ia menggunakan katrol. Namun kawat katrol putus, dan barang menimpa kepalanya. Kepala Suwandi luka. Darah mengucur dimana-mana.

                  Ia pun segera diobat seadanya, dan dibawa ke rumah sakit. Namun Suwandi tak kapok. Ia tetap bekerja dan berusaha keras bersama Pak Tik. Pak Tik pun menyambut adik tercintanya itu dengan lapang dada pula.

                  Keluarga harus ada pada saat susah maupun senang. Itulah yang terjadi di antara Pak Tik dan Suwandi. Mereka bersama ketika susah, dan juga tetap berhubungan baik, ketika berhasil nantinya. Mereka menata mimpi mereka bersama, dan berhasil mencapai sukses bersama. Inilah nilai kerja keras dan ikatan keluarga yang patut kita teladani bersama.

Situasi pada Waktu Itu

                  Nama Toko 73 juga lahir dari pembicaraan antara Suwandi dan Pak Tik. Mereka hanya melihat nomor tempat tersebut, dan kemudian menamainya sama dengan nomor itu. Kebetulan tempat itu terletak di nomor 73. Di sana juga ada Depot 73. Bisa dibilang Toko 73 adalah hasil sentuhan bersama kakak beradik Tanoko tersebut.

                  Bagi Suwandi semua usaha manusia bisa berhasil, karena Tuhan membantunya. Orang bisa saja bekerja sekuat tenaga. Namun jika Tuhan tak menghendaki, maka usahanya tidak akan berhasil. Suwandi memperoleh pemahaman ini dari pengalaman hidupnya.

                  Misalnya dulu ketika ia dan Pak Tik memulai Toko 73, harga barang begitu cepat berubah. Ini semua terjadi karena situasi ekonomi dan politik yang tidak pasti. Ketika membeli barang mereka tidak dapat menawar. Namun ketika mereka jual, harga barang sudah beberapa kali lipat, sehingga keuntungan yang diperoleh juga amat besar.

                  Ketika mereka belanja ke Surabaya, mereka tidak punya banyak pilihan untuk menawar harga. Maka mereka membeli semua yang ada. Lalu mereka jual lagi juga dengan harga yang terus berubah. Ketidakpastian besar. Namun keuntungan pun juga besar.

                  Itulah yang terjadi. Situasi seperti menuntun mereka menuju keberhasilan. Suwandi meyakini ini sebagai kehendak Tuhan atas dirinya dan Pak Tik. Ia yakin Tuhan menyertai mereka di dalam semua usaha yang dilakukan.

                  Pengalaman ini semakin menegaskan keyakinan Suwandi, bahwa manusia boleh berusaha, namun Tuhanlah yang menentukan. Tanpa campur tangan Tuhan, usaha apapun tidak akan pernah berhasil. Namun tetap harus diingat, bahwa manusia pun perlu untuk terus berusaha.

Usaha Meluas

                  Dengan keuntungan dari Toko 73, Pak Tik dan Suwandi bisa membeli rumah yang lebih besar. Mereka dan keluarganya tinggal bersama. Mereka bisa membeli mobil dan motor untuk digunakan bersama. Bahkan bisa dibilang mereka melakukan segalanya bersama, kecuali mandi dan buang air. Mereka seperti anak kembar.

                  Tidak hanya itu bahkan mereka bisa membeli seluruh area Toko 73, termasuk rumah dan depotnya. Usaha Suwandi pun meluas ke toko kaca dan toko onderdil mobil. Dia dan Pak Tik juga bersama mengelola Apotik Airlangga. Usaha mereka sukses dan meluas.

                  Mereka pun memutuskan untuk membeli pabrik cat Avian, yang pada waktu itu memang kesulitan. Bersama pemilik lama Avian, Pak Tik dan Suwandi bekerja sama mengelola pabrik cat tersebut. Pak Tik dan Suwandi bergantian menjaga dan mengembangkan pabrik. Jika Pak Tik menginap, maka Suwandi pulang, dan begitu sebaliknya.

                  Mereka juga dibantu dengan para pegawai yang setia. Sampai sekarang para pegawai yang membantu Pak Tik dan Suwandi pertama kali itu masih ada yang bekerja di pabrik cat Avia Avian. Mereka dengan setia membantu dan mengembangkan pabrik, bahkan sampai di usia tuanya.

                  Pak Tik dan Suwandi adalah duet maut dalam bisnis. Mereka saling membantu dan bekerja sama. Dalam keadaan susah mereka bersama. Dalam keadaan senang mereka saling berbagi.

                  Memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Sebagaimana semau kakak beradik di dunia, mereka pun punya masalah. Namun di usia tuanya, mereka tetap berhubungan baik. Itulah arti persaudaraan yang sesungguhnya.

Kepercayaan

                  Ketika akan bekerja sama, Suwandi perlu uang. Ia pun meminjam pada ibunya. Namun ibunya menuntut adanya penjamin. Dan penjamin itu adalah Pak Tik.

                  Padahal waktu itu Pak Tik sedang tidak punya uang. Maka kalau pinjaman itu habis, Pak Tik, sebagai penanggung jawab, tidak dapat berbuat apa-apa. Namun semua berjalan lancar. Bisnis Pak Tik dan Suwandi berhasil, dan pinjaman pun dikembalikan.

                  Bisa dibilang Toko 73 dibangun di atas pinjaman. Toko 73 dibangun di atas modal kepercayaan semata. Pada akhirnya yang sungguh menentukan memang dua hal, menurut Suwandi, yakni usaha keras kita, dan kehendak dari Tuhan.

                  “Kepandaian bisa dibeli tetapi rejeki itu kehendak Tuhan”, demikian kata Suwandi, ketika mengenang usahanya bersama Pak Tik. Saya rasa inilah yang sungguh menjadi keyakinan Suwandi. Keberhasilan Toko 73 bukanlah karena usaha manusia semata, tetapi karena kehendak Tuhan.

                  Di mata Suwandi karena kehendak Tuhanlah, ia dan Pak Tik diberikan kepercayaan untuk meminjam uang. Juga karena kehendak Tuhanlah, ia dan Pak Tik bisa berusaha menjaga kepercayaan para pelanggannya. Pemikiran seperti ini yang saya rasa perlu kita hayati dalam hidup.

Persaudaraan

                  Walaupun sama-sama memiliki sifat yang keras, namun Pak Tik dan Suwandi selalu bisa berdamai, ketika mereka berbeda pendapat. “Selama berpuluh-puluh tahun, kami tidak pernah berkelahi, dan tidak pernah berantem mulut,” demikian kata Suwandi mengenang hubungannya dengan Pak Tik, kakaknya.

                  Memang dalam hubungan persaudaraan, orang harus bisa menyesuaikan diri. Orang perlu tahu kapan mereka harus mengalah. Kalau orang tidak pernah belajar untuk mengalah, maka usahanya pasti berantakan, bahkan ia bisa kehilangan saudara ataupun sahabat, akibat sikap kerasnya.

                  Dalam hubungan dengan saudara, kita tidak boleh terlalu perhitungan. Kita perlu terus untuk belajar mengalah, baik dalam soal uang, maupun dalam soal lainnya. Uang memang penting. Namun persaudaraan dan persahabatan jauh lebih penting daripada uang. Inilah prinsip hidup Suwandi yang perlu kita teladani bersama.

Nama

                  Suwandi juga memiliki jasa amat besar bagi seluruh keluarga Pak Tik. Ia memilih nama Tanoko sebagai nama keluarganya. Bahkan ia memilihkan nama Soetikno, Soeryani, dan Wiyono (anak pertama Pak Tik), ketika ada peraturan dari pemerintah untuk mengubah nama asing menjadi nama Indonesia.

                  Suwandi tidak secara sembarangan memilih nama itu. Ia memilih nama yang terbaik untuk keluarganya, yakni nama yang cukup dekat dengan nama aslinya yang berbahasa China. Sampai sekarang nama Tanoko tetap ada, dan keturunannya berkembang semakin banyak.

                  Bahkan sewaktu Pak Tik dan Suwandi masih kerja sama mengembangkan Toko 73, nama Tanoko sudah terkenal di Malang. Beberapa pegawai kantor pajak pada masa itu bahkan bercanda, “Jangan-jangan keluarga Tanoko ini mau menguasai Malang”. Ini terjadi karena begitu banyak pelaporan pajak atas nama Tanoko, terutama dalam pajak usaha.

                  Tidak hanya kantor pajak, kantor telepon dan kantor pos pun memiliki kesan yang sama. Mereka menemukan banyak sekali nama Tanoko di dalam pekerjaan mereka sebagai pelayan publik pada masa itu. Nama yang dipilih Suwandi itu pun menjadi terkenal sampai sekarang, baik di Malang maupun Surabaya.

Pecah Kongsi

                  Pak Tik dan Suwandi sudah tidak lagi berbisnis bersama. Mereka memutuskan untuk pecah kongsi (perpisahan bisnis) pada 1981. Pak Tik mendapatkan pabrik Avia Avian. Sementara Suwandi mendapatkan Toko 73.

                  Padahal pada waktu itu, pabrik cat Avia Avian masih merugi. Sementara sebaliknya Toko 73 sudah memperoleh keuntungan besar.

Bagi Pak Tik saingan bisnis di dalam keluarga itu berbahaya, karena bisa memecah keluarga itu sendiri. Maka ia pun memecah kerja sama dengan Suwandi, supaya tidak terjadi perpecahan di dalam keluarga di masa depan.

                  Situasi memang agak tegang dan dramatis waktu itu. Suwandi menangis. Namun pecah kongsi tetap dilaksanakan.

                  Sampai sekarang Suwandi masih ingat apa yang terjadi waktu itu. Walaupun begitu kakak beradik ini tetap saling menghormati sampai sekarang. Sewaktu Bu Soeryani (istri Pak Tik) sakit pada 2010 lalu, Suwandi datang mengunjungi. Ikatan persaudaraan mereka masih tetap kuat, walaupun waktu telah lama berlalu, dan berbagai peristiwa telah dialami bersama.

                  Konflik pasti terjadi bahkan di antara saudara yang paling dekat sekalipun. Ada waktunya mereka saling membenci. Ada waktunya mereka saling bersikap iri hati dan berpikiran jelek satu sama lain.

                  Namun semua itu harus diselesaikan. Konflik tidak boleh dibiarkan berlarut, apalagi di antara saudara. Kehidupan Suwandi dan Pak Tik menjadi contoh yang amat bagus tentang ini. Walau badai menghadang hubungan mereka, namun hubungan mereka tetap bertahan. Kini di usia tua, mereka tetap saling mencintai dan menghormati satu sama lain.

                  “Uang itu seperti setan”, demikian kata Suwandi, “kalau tidak hati-hati, kita bisa dikuasai olehnya. Kita menjadi orang rakus, bahkan saudara dan orang tua pun bisa kita bunuh, karena uang.” Ini benar sekali. Orang sekarang banyak yang rakus. Mereka rela mengorbankan keluarga demi memperoleh uang, guna memuaskan kerakusan mereka.

                  Kita tidak boleh jatuh ke dalam lubang ini. Belajar dari hubungan antara Pak Tik dan Suwandi, kita harus menempatkan saudara dan persahabatan lebih tinggi daripada uang. Ingatlah ketika kita jatuh, yang menemani kita bukanlah uang, tetapi saudara dan sahabat sekitar. Ingatlah itu selalu…

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Arti Keluarga”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s