Yang Tersisih

surrealism-10
arthit.ru

Oleh Reza A.A Wattimena

Di mata banyak orang, sekumpulan anak muda itu tampak mencurigakan. Mereka bertato. Telinga mereka ditindik. Gaya rambut mereka pun tidak umum.

Gaya berjalan mereka berbeda dengan kebanyakan orang. Gaya berbicara mereka pun lain. Dari sudut kategori moralitas umum, mereka berada di luar, atau bahkan melanggar. Dari kaca mata hukum, mereka pun tampak mencurigakan, mirip seperti pelaku kejahatan. Lanjutkan membaca Yang Tersisih

Yang-Lain

immaculateheartacademy.org

Oleh Goenawan Mohamad

Beberapa saat sebelum ia tewas, Karna tahu ia akan kalah. Dan ia akan kalah dengan kesadaran yang pahit: ia akhirnya memang bukan apa-apa. Ia merasa diri telah bertempur dengan keberanian seorang pendekar perang, tapi siapakah dia sebenarnya? Bukan seorang dari keluarga Kurawa yang dibelanya. Bukan seorang ksatria seperti para pangeran di pertempuran di Kurusetra itu. Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna.

Saat terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Tapi ia ingat: mantra yang lengkap itu tak diberikan kepadanya oleh gurunya, Rama Bargawa. Sang guru membatalkan memberinya versi yang penuh, karena ia dianggap telah berdusta: ketika ia datang berguru, Karna tak mengaku ia datang dari kasta ksatria—kasta yang bagi Rama Bargawa, yang berasal dari kaum brahmana dan punya dendam khusus kepada para ksatria, harus dimusnahkan.

”Tapi hamba memang bukan dari kasta itu,” Karna ingin memprotes ketika sang guru membongkar ”kepalsuan” dirinya. Tapi protes itu, seperti air matanya, harus ia tahan. Ia segera kembali ke asrama, mengemasi pakaian dan busur serta panahnya, lalu pergi seperti dikehendaki: seorang murid yang diusir. Lanjutkan membaca Yang-Lain