Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa?

http://www.projecthomeblog.org

Sebuah Pendekatan Fenomenologi Politis

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Abstrak

Di dalam tulisan ini, saya akan menjabarkan makna dan proses terbentuknya komunitas politis. Tulisan ini juga dapat dianggap sebagai suatu bentuk partisipasi di dalam diskusi tentang problematika tatanan, atau problem “yang sosial”. Saya menggunakan pendekatan fenomenologi yang dijabarkan oleh John Drummond yang mengacu langsung pada teks-teks Edmund Husserl, bapak fenomenologi. Argumen utama Drummond adalah, bahwa komunitas politis merupakan fakta yang berkembang melalui hipotesa, dan hipotesa yang di dalam perkembangannya selalu berpijak pada fakta. Di bagian akhir saya akan mengajukan tanggapan kritis terhadap argumen tersebut.

Kata kunci: komunitas politis, yang sosial, komunitas alamiah, komunitas sukarela.

Abstract:

In this paper, I want to give description and analysis concerning the meaning of the term political community. This paper also can be seen as a participation in the perennial debates concerning the problem of the order in the philosophy of social sciences. I will use phenomenology as a method to approach this problem as it developed by John Drummond and Edmund Husserl. The main argument is that the political community is a social fact that develop through hypothesis, and a hyphotesis that based always on social fact. In the end, I will give my critical remarks on this argument.

Keywords: political community, the social, natural community, voluntary community

Saya ingin mengajak anda membaca koran Kompas 24 Mei 2011. Bukalah tulisan yang berjudul Bangsa Kehilangan Visi Maju. Coba juga buka tulisan yang berjudul Godaan Korupsi tidak Mengenal Jender. Dan coba anda buka tulisan yang berjudul  Singapura dilibatkan untuk mencari Nunun pada koran Kompas 25 Mei 2011. Saya ingin anda fokus pada kata-kata berikut ini; “Bangsa”, “Jender”, dan “Singapura”.[2]

            Ketiga kata itu menggambarkan satu hal, yakni kolektivitas (collectivity). Ada sesuatu yang berkumpul di dalamnya, dan membentuk satu kesatuan (unity) yang memiliki keutuhannya tersendiri, yang berbeda dari bagian-bagian yang membentuknya (Singapura jelas berbeda dengan orang-orang Singapura yang jumlahnya cukup banyak). Satu kesatuan inilah yang disebut oleh para filsuf ilmu-ilmu sosial sebagai “Yang Sosial” (The Social). Pertanyaan yang menjadi pergulatan mereka selama ini adalah, apakah arti “Yang Sosial” itu? Bagaimana proses terbentuknya? Bagaimana proses perubahannya? Inilah pertanyaan yang ada di jantung hati filsafat ilmu-ilmu sosial (philosophy of social sciences).

            Bangsa adalah komunitas politik. Jender dan Singapura pun juga dapat dikategorikan sebagai suatu komunitas politis. Di dalamnya terdapat sekumpulan orang yang memiliki kesamaan, dan tergabung menjadi suatu kelompok; suatu kolektivitas tertentu. Giddens menyebutnya sebagai struktur sosial (social structure). Roy Bhaskar menyebutnya sebagai ontologi sosial (social ontology). Sementara Bourdieu menyebutnya sebagai bentukan dari habitus.[3]

Di dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan makna sekaligus proses pembentukan komunitas politis (political community) dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.[4] Untuk itu saya akan membagi tulisannya ini ke dalam empat bagian. Awalnya saya akan menjabarkan proses terciptanya politik dengan mengacu pada pandangan John Drummond dan Edmund Husserl (1). Lalu –masih berpijak pada pandangan Drummond dan Husserl- saya akan menjabarkan konsep komunitas politis sebagai sesuatu yang alamiah (2). Berikutnya saya akan menjabarkan konsep komunitas politis sebagai bentukan sukarela dari manusia (3). Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan serta tanggapan kritis dari saya (4).

Tulisan lengkap silahkan hubungi http://filsafat.wima.ac.id/


[1] Ide menulis judul ini saya peroleh, ketika mengikuti kuliah Masyarakat: Fakta atau Hipotesa? Di STF Driyarkara, Jakarta, 2006, bersama B. Herry Priyono.

[2] Harian Kompas, Rabu 24 Mei 2011 dan Kamis 25 Mei 211.

[3] Wattimena, Reza A.A., Filsafat dan Sains, Grasindo, Jakarta, 2008.

[4] Di dalam filsafat ilmu-ilmu sosial inilah yang dikenal juga sebagai problematika tatanan. Untuk keterangan lebih jauh lihat Stephen P. Turner and Paul A. Roth, Philosophy of the

Social Sciences, Blackwell, United Kingdom, 2003.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

3 tanggapan untuk “Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa?”

    1. Halah James. Ga usah minta maaf segala. Hahahaha… yap setiap komunitas bersifat politis. Namun tidak setiap politik selalu mengambil bentuk komunitas. Kata itu bisa dianggap penekanan, dan bukan semata pengulangan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s