“Religiosus Corruptus”

5a53444157cb01d54c8e75b677ebaee9Oleh Reza A.A Wattimena

Jam 7 pagi, Jakarta Timur, saya pergi mencari sarapan. Terdengar suara keras sekali di rumah ibadah terdekat. Ada orang bernyanyi-nyanyi dengan keras dalam bahasa asing. Suaranya sumbang, dan sangat menganggu lingkungan sekitar.

Kejadian ini sudah berulang. Warga sudah mengeluh, dan melapor ke pemerintah. Namun, laporan diabaikan. Pelanggaran peraturan dan gangguan ketenangan masyarakat tetap terjadi. Lanjutkan membaca “Religiosus Corruptus”

Jalan Zen untuk Dilema Landak

6ad37cfd51b06361c62563b78852d768Oleh Reza A.A Wattimena

Kisah ini ditulis oleh Arthur Schopenhauer. Ia adalah seorang pemikir Jerman di abad 18. Baginya, dunia ini bukanlah tempat yang masuk akal. Ia menolak pandangan para pemikir besar, seperti Plato dan Aristoteles, yang melihat dunia sebagai tempat yang rasional.

Bagi Schopenhauer, dunia berisi konflik yang tiada akhir. Tidak ada makna kehidupan di dalam dunia. Maka dari itu, kita mesti membatasi keinginan dan keterlibatan kita di dalam dunia. Dengan mengembangkan kesadaran moral dan estetik di dalam diri, manusia bisa mencapai kesadaran yang tenang, dan melampaui rasa kecewa dunia. Lanjutkan membaca Jalan Zen untuk Dilema Landak

Apakah Indonesia Masih Ada?

Pendidikan sebagai “Tindakan Kriminal”

1eb6c4ac57e8735ba4e0c513cc796f34--guns-artsy-fartsy

Pendidikan sebagai “Tindakan Kriminal”

Oleh Reza A.A Wattimena

Tak terhitung lagi keluhan yang saya dengar dari para orang tua. Orang-orang seumuran saya, sekitar 35-40 tahun, kini menjadi orang tua muda. Anak-anak mereka kini memasuki sekolah dasar. Begitu banyak tantangan dan kebingungan yang harus mereka alami.

Begitu banyak yang harus dipelajari oleh anak mereka yang berusia sangat muda. Banyak pula yang sungguh sulit, dan sungguh tak berguna. Anak dihabisi dengan materi pelajaran yang menyiksa batin maupun fisik mereka. Tak sedikit anak, dan juga orang tuanya, yang mengalami tekanan batin berat, karena semua ini. Lanjutkan membaca Pendidikan sebagai “Tindakan Kriminal”

Publikasi Terbaru: Kajian Filsafat-Neurosains Tentang Otak dan Kebahagiaan Manusia

depositphotos_42222049-stock-illustration-head-with-monstersOleh Reza A.A Wattimena

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT OCTOBER 2022 VOLUME 59

Abstrak

Tulisan ini ingin memahami konsep kebahagiaan dengan mengacu pada penelitian-penelitian neurosains dan refleksi filsafat yang sudah ada. Kedua penelitian tersebut akan juga mengacu pada tradisi-tradisi kontemplatif yang berkembang di Asia, terutama Buddhisme. Dari berbagai penelitian yang ada dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa otak manusia dapat berubah dengan latihan batin yang tepat. Manusia bisa mewujudkan kebahagiaan dengan berpijak pada kebijaksanaan, keutamaan dan kesadaran. Semua ini akan membawa perubahan yang besar pada struktur otak, dan kepada mutu kehidupan manusia secara keseluruhan. Tulisan ini mengacu pada penelitian yang dibuat oleh Mark Hanson, dan penelitian-penelitian penulis (Reza A.A Wattimena) sebelumnya.

Kata-kata Kunci: Kebahagiaan, Keutamaan, Kebijaksanaan, Neurosains, Neuroplastisitas, Kontemplasi. 

Abstract

This paper describes the concept of happiness by referring to existing neuroscience studies and philosophical reflections. Both studies will also refer to the contemplative traditions that developed in Asia, especially Buddhism. From various existing studies, it can be concluded, that the human brain can change with the right mind training. Humans can realize happiness by resting on wisdom, virtue and awareness. All of this will bring notable changes to the biological structure of the brain, and to the quality of human life as a whole. This paper refers to the research previously conducted by Mark Hanson, and of the author (Reza A.A Wattimena).

Keywords: Happiness, Virtue, Wisdom, Neuroscience, Neuroplasticity, Contemplation.

Silahkan diunduh disini Jurnal Reza, Otak dan Kebahagiaan

Burnout-Zen

960x0Oleh Reza A.A Wattimena

Dia baru saja punya anak. Ini adalah anak pertama yang sungguh dinantikan. Prosesnya lama. Ketika ia lahir, berbagai tanggung jawab baru pun datang bermunculan.

Pekerjaannya pun rumit. Ia harus selalu bersiap untuk menerima tugas. Terkadang, tugas tersebut datang tengah malam, atau dini hari. Tak pernah ia sungguh bisa beristirahat dengan tenang. Lanjutkan membaca Burnout-Zen

Buku Filsafat Terbaru: Filsafat untuk Kehidupan, Mengembangkan Akal Sehat dan Nurani untuk Kehidupan

WhatsApp Image 2022-10-12 at 12.23.16

Info Buku:
ISBN: 978-979-21-7376-5
Penulis: Reza A.A. Wattimena
Penerbit: Kanisius
Terbit: 2022
Halaman: 424
Dimensi: 15.5 x 23 cm
Berat: 650 gram

Pembelian bisa langsung di toko online, Media Sosial atau Kontak Penerbit Kanisius Yogyakarta

Sudah lama, filsafat dianggap sebagai ilmu yang murni akademik. Filsafat disamakan dengan kegiatan mengutip pendapat dari orang yang sudah mati, supaya terlihat cerdas. Filsafat pun menjadi ajang mengutip nama belaka, atau konsep-konsep rumit dalam bahasa asing. Ini yang sangat saya hindari.

Biasanya, kata-kata yang dikutip diambil dari bahasa Yunani Kuno, Latin atau Jerman. Dengan menggunakan kata-kata rumit, orang terlihat cerdas di mata orang lainnya. Di masyarakat miskin pemikiran kritis, pemikir gadungan menjadi selebriti. Ini juga yang mesti disadari, dan dihindari. Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Filsafat untuk Kehidupan, Mengembangkan Akal Sehat dan Nurani untuk Kehidupan

Apakah Kita Tinggal di “Dunia” yang Sama?

surrealist-art-illustrations-05Oleh Reza A.A Wattimena

Antri memang hal yang sangat membosankan. Setidaknya buat saya. Saya sudah coba berbagai cara, mulai dari membaca buku, sampai dengan meditasi, ketika sedang antri. Rasa bosan tak juga kunjung pergi.

Dua orang di depan saya tampak punya pengalaman berbeda. Mereka antri sambil berpegangan tangan. Terkadang, mereka berbicara, lalu tertawa. Kita sama-sama antri. Namun, pengalaman mereka jauh lebih indah, daripada apa yang saya alami. Lanjutkan membaca Apakah Kita Tinggal di “Dunia” yang Sama?

Tentang Penderitaan dari Kebahagiaan

8f50120188a6661a55c6828a1a873f4dOleh Reza A.A Wattimena

Selama 2021 dan 2022, saya banyak menetap di Bali. Saya jatuh cinta dengan alamnya. Saya juga sangat jatuh cinta dengan budayanya. Tidak seperti Jakarta, Pulau Jawa dan beberapa pulau lainnya di Indonesia yang tertindas oleh agama kematian, Bali sangat menghargai ajaran leluhur, merawatnya sepenuh hati dan mencapai keagungan yang dihormati seluruh dunia.

Namun, segalanya harus berlalu. Waktu yang indah pun di Bali pun harus berlalu. Saya harus kembali ke Jakarta. Persis setelah kembali ke Jakarta, saya jatuh ke dalam depresi ringan. Lanjutkan membaca Tentang Penderitaan dari Kebahagiaan

Mengembalikan Fungsi Hakiki Polisi

5864d0638a9f5df9d9032c2780e8ec89Oleh Reza A.A Wattimena

Pengalaman saya dengan polisi tak selalu bagus. Beberapa kali, saya dipaksa untuk menyuap polisi di jalan raya. Satu kali saya dimintai uang tak jelas di kantor polisi, karena kasus yang juga tak jelas. Lainnya, saya melihat mereka bekerja keras mengatur lalu lintas ibu kota yang kacau balau.

Belakangan ini, saya banyak bekerja dengan polisi. Saya memperhatikan, bagaimana cara berpikir mereka. Ada niat besar dari dalam institusi kepolisian Indonesia untuk sungguh memperbaiki diri. Tantangan terbesar adalah budaya lama yang korup, sehingga membuat polisi mendiamkan, bahkan ikut serta, di dalam pelanggaran hukum, serta krisis kepemimpinan yang terjadi di dalamnya. Lanjutkan membaca Mengembalikan Fungsi Hakiki Polisi

Seperti Stasiun Kereta Api

5784627-HSC00001-7Oleh Reza A.A Wattimena

Saya suka duduk di stasiun kereta api. Banyak orang berlalu lalang. Ada yang terburu-buru mengejar kereta yang hendak pergi. Ada yang duduk bersantai menunggu kedatangan kereta berikutnya.

Yang pasti, stasiun kereta amatlah dinamis. Beragam orang ada di dalamnya. Beragam kepentingan datang silih berganti. Di satu titik, pada malam hari, stasiun menjadi sunyi bersama dengan berakhirnya hari. Lanjutkan membaca Seperti Stasiun Kereta Api

Legitimasi sebagai Roh Demokrasi

s-l500

Oleh Reza A.A Wattimena

Atas nama agama, ia membunuh orang lain. Ia mengorbankan diri dan keluarganya. Mereka membawa peledak pembunuh massal di rumah ibadah agama lain. Banyak orang meninggal, dan seluruh bangsa mengalami shock.

Mereka melakukan kekerasan dengan sewewang-wenang. Dasarnya adalah kebodohan. Tidak ada legitimasi, atau persetujuan dari masyarakat luas atasnya. Indonesia sudah kenyang dari aksi kekerasan semacam ini, mulai dari Bom Malam Natal, Bom Bali sampai dengan Bom Gereja. Lanjutkan membaca Legitimasi sebagai Roh Demokrasi

Zen dari Amarah

5fbc247f934d28911a63b616ccdf8914

Oleh Reza A.A Wattimena

2006, pagi hari, saya berkendara motor di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Tiba-tiba, ada satu sepeda motor menyalip saya dari kiri. Saya kaget. Yang mengendarai adalah seorang pemuda dengan seorang perempuan yang membonceng di belakangnya.

Tak beberapa lama, hal serupa terjadi. Ternyata, pengendara motor yang sama yang melakukannya. Ia menyalip dari sebelah kiri dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga membuat saya kaget. Kemarahan saya meluap. Lanjutkan membaca Zen dari Amarah

Keluar dari Dunia Para Tikus

paul-jackson-dissection-art-20Oleh Reza A.A Wattimena

Percakapan dengan teman berakhir dengan kegelisahan. Ia merasa, hidupnya berhenti. Ia sudah bekerja keras. Namun, karirnya tidak berkembang.

Ia pun berpikir untuk berpindah kerja. Tujuannya supaya bisa menaiki tangga karir. Ia ingin punya posisi lebih tinggi dengan pendapatan lebih besar. Kerakusan menyiksa hati dan pikirannya. Lanjutkan membaca Keluar dari Dunia Para Tikus

Memulihkan Diri, Setelah Perpisahan

234441-HSC00001-7Oleh Reza A.A Wattimena

Janganlah berduka, begitu kata Rumi. Apa yang lenyap akan datang kembali dalam bentuk yang lain. Bulan tetap bersinar terang, justru ketika ia tidak menghindari gelap. Seperti bulan, kita bersinar terang, hanya ketika kita memeluk kegelapan.

Percakapan di bar itu sudah berlangsung lama. Bartender sudah mulai bersih-bersih, dan hendak menutup tempat. Entah berapa botol bir yang telah ia minum. Teman saya tampak lunglai. Lanjutkan membaca Memulihkan Diri, Setelah Perpisahan

Belajar Seni dari Bali

2893433_image001Oleh Reza A.A Wattimena

Sore itu di Ubud, Bali, cuaca cerah mendadak mendung. Hujan deras pun langsung turun, tanpa rasa malu. Saya bersama seorang teman. Ia seorang seniman Bali, yang juga bekerja di dunia pariwisata.

Tiba-tiba, anak laki-lakinya datang. Katanya, ia baru datang dari Banjar. Ada pelajaran musik dan menari di Banjar. Wajahnya tampak ceria dan segar. Lanjutkan membaca Belajar Seni dari Bali

Manusia Advaitan

778cd8e588989048470ded49abd98f69Oleh Reza A.A Wattimena

Patah hati memang tak bisa diremehkan. Ia terkesan dangkal dan biasa. Namun, bagi yang mengalami, patah hati bisa menjadi dorongan mengakhiri segalanya. Tak heran, patah hati menjadi tema abadi para pemikir dan seniman dunia.

Seorang teman mengalaminya. Dunianya hancur. Semua harapan dan rencana yang telah dirancang hancur di depan matanya. Batin menjadi sempit, dan begitu menyakitkan, bahkan untuk sekedar bernafas. Lanjutkan membaca Manusia Advaitan

Tentang Hidup, Filsafat dan Spiritualitas

Publikasi Terbaru: Kajian Filsafat-Neurosains Tentang Otak dan Hubungan Antar Manusia

surreal-drawings-redmer-hoekstra-1Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini menjelaskan konsep hubungan antar manusia dengan menggunakan sudut pandang neurosains dan filsafat. Neurosains adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk memahami kinerja otak, saraf dan perannya dalam hidup manusia. Beberapa pandangan inti tentang hubungan antar manusia di dalam neurosains akan dijabarkan terlebih dahulu. Beberapa pandangan filosofis tentang manusia juga akan dijelaskan. Keberadaan orang lain mutlak diperlukan untuk keberadaan dan perkembangan manusia. Ini dimungkinkan, karena adanya empati, proses bercermin dan penciptaan konteks sosial di dalam otak manusia. Penelitian ini juga penting untuk memahami pola di balik konflik antar manusia. Sumber utama tulisan ini mengacu pada pemikiran David Eagleman dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan penulis sebelumnya (Reza A.A Wattimena).

Kata-kata Kunci: Otak, Otak Sosial, Empati, Proses Bercermin, Konteks Sosial.

Abstract

This paper explains the concept of human relations using the perspective of neuroscience and philosophy. Neuroscience is a branch of science that aims to understand the brain, nerves and their role in human life. Some of the core views of human relations in neuroscience will be outlined first. Some philosophical views about humans will also be explained. The existence of other people is absolutely necessary for human existence and development. This is possible, because of the existence of empathy, the mirroring process and the creation of a social context in the human brain. This research is also important to understand the patterns behind human conflict. The article is inspired by the thoughts of David Eagleman and the studies that have been done by the author (Reza A.A Wattimena).

Key words: Brain, Social Brain, Empathy, Mirroring, Social Context.

Bisa diunduh di: Jurnal Reza, Otak dan Orang Lain

Tentang Agama Pemerkosa

consciousness-being-raped-by-ego-darwin-leonOleh Reza A.A Wattimena

Terjadi lagi, institusi agama terlibat dalam pemerkosaan. Sudah berulang kali, hal ini terjadi. Perempuan-perempuan muda menjadi korban pemuka agama bernafsu besar, namun nurani serta akal sehat yang sudah lenyap. Banyak orang tua tertipu, sampai akhirnya terlambat, karena anaknya sudah hamil diperkosa oleh pemuka agama yang ia percaya. Dalam hati saya bertanya, sampai kapan kita mau sungguh belajar?

Kejadian ini tidak hanya melibatkan satu agama. Ada agama lain, dengan rumpun serupa, melakukannya selama puluhan tahun. Korbannya mayoritas adalah anak-anak kecil pria yang menjadi calon pemuka agama. Namun, karena dukungan uang dan kelicikan, kasus itu terpendam dalam di Indonesia. Lanjutkan membaca Tentang Agama Pemerkosa