Revolusi Spiritual

7028873-HSC00001-7Oleh Dhimas Anugrah, Pendiri dan Ketua Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, komunitas pembelajar budaya, filsafat, dan sains.

“Mental manusia Indonesia itu tidak suka berpikir logis, tidak suka berusaha dengan gigih dan tekun, suka meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya diri, tidak disiplin, dan suka mengabaikan tanggungjawab,” ujar Prof. Koentjaraningrat.

Anda marah atas simpulan itu?

Tunggu dulu. Coba tilik amatan Mochtar Lubis yang tiba pada konklusi bahwa “Manusia Indonesia pada umumnya bermental munafik, enggan bertanggung-jawab, berjiwa feodal, percaya takhyul, berwatak lemah, boros, bukan pekerja keras, suka mengeluh, mudah dengki, arogan, dan tukang tiru.

Tambah marah? Jangan!

Simpulan para ahli tersebut mungkin mengejutkan, bahkan Anda boleh saja tidak setuju dengan kesimpulan mereka. Namun, tampaknya faktor manusia memang menjadi tantangan di bangsa ini.

Merestorasi Indonesia berarti merombak mental manusianya. Seperti ujar Joko Widodo (Jokowi) sebelum ia menjadi Presiden Republik Indonesia, “Nation building tidak mungkin maju kalau sekadar mengandalkan perombakan institusional tanpa melakukan perombakan manusianya atau mental mereka yang menjalankan sistem ini.”

Jokowi tidak berlebihan. Kita memang sering tertatih dalam mengubah mental kita. Anggaplah mental itu cara atau kecenderungan dasar pikiran kita. Sebagai orang Indonesia, mungkin mental kita tidak jauh-jauh dari hasil pengamatan Koentjaraningrat dan Lubis yang tadi disebutkan.

Spiritualitas yang Mendasari Mentalitas

Lantas bagaimana? Kelihatannya ini menjadi tantangan kita bersama, bukan sekadar untuk berjargon revolusi mental, tetapi wajib menilik akar mentalitas yang tidak ideal.

Kita perlu revolusi spiritual. Sebab, spiritualitas bukanlah sekadar “kehidupan batin” atau sesuatu yang bersifat rohani saja, lebih dari itu, ia juga menyatu dengan aspek tubuh dan jiwa, termasuk pikiran seseorang yang terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, seluruh aspek kehidupan seseorang sejatinya adalah spiritualitas.

Jika mengacu pada tradisi religius, sebuah dalil menyebutkan, “Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia, dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.”

Anda bisa menambahkan tawaran dari tradisi religius lainnya terkait isu ini. Hanya, jika mengacu pada pernyataan di atas, ketika seseorang serius dengan kehidupan religiusnya, ia diundang untuk hidup tidak lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Sang Khalik dengan “pikirannya yang sia-sia” dan “pengertiannya yang gelap.”

Melalui terang pemahaman ini, kita dapat mengerti bahwa perubahan pikiran perlu terjadi ketika seseorang mendaku sebagai manusia religius. Absennya perubahan signifikan (revolusi) spiritual, maka tidak heran bila segala macam kejahatan, termasuk korupsi, di negara Indonesia begitu kuat menggejala.

Maka, revolusi spiritual perlu terjadi demi terciptanya revolusi mental yang sesungguhnya.

Mental merupakan ikatan yang tak terpisahkan dari hati manusia. Revolusi spiritual berarti revolusi hati. Tepat seperti ujar Guru yang Bijak di Tanah Palestina pada pertama Masehi, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.”

Dengan kata lain, jika hati manusia direvolusi, pun mentalnya akan tertransformasi.

Langkah awalnya, kita diundang menyadari kondisi spiritualitas kita. Terus terang terhadap diri sendiri dan Sang Pencipta, bahwa hati kita tidak seindah yang orang kira.

Langkah kedua, kita diajak berhenti melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hukum positif dan hati nurani.

Langkah ketiga, kedua proses di awal tadi perlu terus dilatih.

Meski jatuh bangun, tidak masalah. Tidak perlu minder. Tidak perlu lelah! Revolusi spiritual memang butuh latihan, proses, dan energi. Syaratnya, kita bersedia. Itu saja.

Jika ikhtiar revolusi spiritual secara konsisten kita pertahankan, dengan bantuan dan rahmat Sang Khalik, maka niscaya revolusi mental bangsa Indonesia akan menemui titik terangnya. Menurut saya, inilah esensi dari revolusi mental itu sendiri, yang dulu pernah nyaring terdengar, tapi kini dianggap sepi.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.