Manusia Tiga Rangkap

eb760c93317108af36b4476bdbc36dbcOleh Dhimas Anugrah

Masalah utama jiwa manusia menurut Soren Aabye Kierkegaard adalah kebosanan, kecemasan, dan keputusasaan ( boredom, anxiety, and despair). Filsuf Denmark itu menghabiskan sebagian besar tulisannya untuk mendiagnosis ketiga penyakit ini. Anda pernah bosan? Saya pernah.

Ya, memang orang bisa bosan ketika tidak distimulus hal-hal yang menarik perhatiannya.

Maka, demi menghindari kebosanan orang mencari cara untuk menghindari kebosanan.

Sementara itu, adanya tensi antara kehendak seseorang dan kewajiban etisnya sering kali menyebabkan kecemasan.

Contohnya, ketika seorang pria beristri tetiba merasa tertarik pada seorang gadis lain yang menawan di kantornya atau di gim. Secara etis ia ingin setia pada istrinya, tetapi secara kehendak manusiawi, ia berhasrat menjalin relasi lebih intim dengan gadis tadi.

Pria ini mengalami kecemasan. Ia cemas karena ada tarikan dua kutup yang sama-sama kuat: bertahan pada sikap etis (setia pada pasangan) atau menjalin keintiman dengan orang lain (selingkuh). Seringkali kehidupan dipenuhi tegangan seperti ini, dan membuat seseorang harus mengambil pilihan yang tidak mudah. Mungkin tidak jarang, jalan yang dipilih adalah justru yang merugikan kesehatan spiritualnya.

Ketegangan antara pilihan yang saling bertentangan ini menyebabkan kecemasan, dan seperti halnya kebosanan, kecemasan perlu dikelola agar seseorang bahagia. Akhirnya, keputusasaan adalah buah dari ketegangan antara “yang terbatas” dan “yang tak terbatas.”

Manusia takut mati, tetapi juga takut hidup selamanya. Kierkegaard percaya bahwa setiap orang akan mati, tetapi juga memiliki jiwa yang abadi, yang akan berlangsung selamanya. Dilema jiwani ini mungkin yang menambah seseorang makin “putus asa.” Kebosanan dan kecemasan dapat dikurangi dengan berbagai cara, tetapi bagaimana cara melepaskan diri dari keputusasaan?

Bagi Kierkegaard, caranya hanya satu, yaitu dengan berserah penuh kepada kehendak ilahi. Atau yang dalam bahasa Kierkegaard, “To have total faith in God” (memiliki iman yang penuh kepada Tuhan.) Namun, memiliki iman penuh kepada Tuhan lebih dari sekadar rajin ke rumah ibadah secara teratur dan berperilaku saleh. Iman membutuhkan komitmen pribadi yang kuat dan dedikasi untuk melihat ke dalam batin sendiri tanpa henti.

Kierkegaard berpikir, memiliki iman penuh kepada Tuhan akan melepaskan diri dari keputusasaan, meski ini sangat sulit sekaligus sangat penting. Untuk mengatasi tiga masalah jiwa manusia tersebut, Kierkegaard mengusulkan bahwa setiap orang perlu melewati tiga tahap dalam perjalanan untuk menjadi diri sejati: estetis, etis, dan religius.

Menurut tafsir, masing-masing dari “tahapan dalam perjalanan hidup” ini bisa menghasilkan hidup yang bahagia bagi yang ingin mencobanya. Estestis berarti berperilaku elok atau indah. Seseorang diajak hidup teratur dan tertib, sehingga hidup yang demikian akan menghasilkan pola keindahan di dalam jiwanya sendirinya maupun di tengah masyarakat. Tata hidup yang teratur adalah pola hidup yang estetis.

Etis berarti setiap orang memahami apa yang ia lakukan rasional, atau ia tahu apa yang dilakukan tidak melawan moralitas dan hukum logika. Ia tahu sikap yang ia pilih memiliki dasar pemikiran yang masuk akal.

Religius berarti setiap orang diundang untuk mempercayai adanya Tuhan sebagai Pencipta Alam Semesta. Tuhan menjadikan manusia dan alam semesta dengan ajaib, maka sah-sah saja manusia hidup secara religius, dalam arti mengakui Tuhan sebagai Sumber Eksistensi manusia. Mungkin seperti itu yang Kierkegaard maksudkan.

Tetapi, ada titik awas bahwa aktivitas religiusitas yang tampak, seperti ritual atau perayaan agamawi, tidak boleh mengalihkan perhatian orang dari hubungan pribadinya dengan Tuhan. Bagi Kierkegaard, mengakui Tuhan sebagai Sumber Eksistensi berarti manusia diundang berhubungan dengan Tuhan secara eksklusif dan pribadi.

Ketiga hal ini: estetis, etis, dan religius, sejatinya layak dan pantas dipraktikkan, tanpa harus dipertentangkan satu sama lain. Kierkegaard memang menawarkan langkah yang tidak biasa dalam menggapai kebahagiaan, dan ia menghindari mendikte jawaban kepada para pembacanya. Ia lebih suka pembaca mencapai kesimpulan mereka sendiri dan merengkuh kebahagiaannya.

Secara imajinatif, saat ini Kierkegaard mencoba menantang Anda dengan pertanyaan: “Maukah Anda menerapkan hidup yang estetis, etis, dan religius?” Atau mungkin Anda mau, tetapi ada hal-hal tak terjelaskan yang membuat Anda sulit mencoba tawaran Kierkegaard ini?

Silakan ceritakan pengalaman Anda.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.