Sesat Alat dan Tujuan

Svitlana Andriichenko

Oleh Reza A.A Wattimena

            Tampaknya, seluruh dunia sedang terpeleset ke dalam kesesatan berpikir. Orang tidak lagi mampu melihat secara jernih, yang mana alat dan yang mana tujuan. Akibatnya, hidup bersama menjadi kacau. Hampir semua institusi mengalami cacat kinerja.

Antara Alat dan Tujuan

            Politik menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Memasuki politik, orang bercita-cita menjadi raja yang disembah dan kaya raya. Peluang korupsi dan mencuri menjulang tinggi. Politik menjadi sistem tak berguna yang hanya menghabiskan sumber daya.

            Padahal, politik bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Ia adalah alat untuk mencapai kemakmuran bersama. Ketika ia hanya merugikan rakyat, maka ia sebaiknya dihapus. Politisi adalah abdi rakyat, dan bukan raja-raja kecil yang gila hormat, dan doyan mencuri.

            Hal serupa terjadi di dalam ekonomi. Ekonomi telah menjadi ajang pemburuan uang. Jika perlu, cara-cara curang diterapkan, tanpa rasa malu, bahkan dengan rasa bangga. Ekonomi telah tercabut dari tujuan keberadaannya, yakni menciptakan kesejahteraan bersama.

            Tujuan dari ekonomi adalah mewujudkan kesejahteraan bersama, tanpa kecuali. Kemiskinan dan kesenjangan sosial adalah musuh besar ekonomi. Ketika ekonomi gagal menciptakan kesejahteraan bersama, dan hanya menjadi perburuan uang, maka ia tak lagi berguna. Sebaiknya, ia dilenyapkan.

            Hal ini paling parah terjadi di dalam agama. Agama menjadi Tuhan. Ia menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Orang menyembah agama, dan melupakan Tuhan.

            Padahal, agama hanyalah alat. Tujuan utamanya adalah membawa manusia kembali kepada Tuhan, Sang Pencipta segala sesuatu. Ketika agama menjadi Tuhan, dan disembah secara buta, maka ia tak menjalankan peran utamanya. Sebaiknya, ia dihapus saja.

            Hukum juga terjajah dengan sesat pikir macam ini. Hukum adalah alat untuk sampai pada keadilan. Ia tidak boleh disembah sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Hukum yang tak adil, mengutip pepatah Latin klasik, bukanlah hukum sama sekali. Ia wajib untuk tak dipatuhi.

            Di abad 21 ini, kita dihujam berita setiap harinya. Berita seolah menjadi tujuan pada dirinya sendiri untuk mengisi hidup kita. Padahal, berita adalah alat untuk tujuan lain, yakni pemahaman yang lebih jernih dan utuh tentang dunia. Ketika berita menjadi tujuan pada dirinya sendiri, dan bahkan menciptakan ketakutan serta kebingungan, maka sebaiknya ia dihapus saja.

            Hidup kita juga dihujam oleh teknologi komunikasi. Internet menjadi ‘tuhan’ baru bagi banyak orang. Ia menjadi tujuan yang disembah pada dirinya sendiri. Banyak orang yang menghabiskan hidupnya di internet, dan tercabut dari dunia nyata sehari-hari.

            Ketika internet menjadi candu, maka ia tak menjalankan peran utamanya. Ia telah kehilangan arah. Ia menjadi tujuan utama. Maka sebaiknya, ia dihapus saja.

            Semua ini bisa dinamakan korupsi, yakni pembusukan fungsi. Sesuatu yang kehilangan fungsi adalah sesuatu yang sudah busuk. Politik yang tak mengabdi rakyat adalah korupsi. Ekonomi yang menciptakan kesenjangan antara si kaya dan si miskin adalah korupsi.

            Agama yang dituhankan adalah sebentuk korupsi. Begitu pula hukum yang tak adil adalam hukum yang korup. Berita yang menipu adalah korupsi. Begitu pula dengan internet yang mencabut manusia dari hidupnya.

Krisis Keteladanan dan Pendidikan

            Mengapa korupsi semacam ini terjadi? Dua hal kiranya bisa diperhatikan. Pertama, sudah lama kita kehilangan keteladanan. Nilai-nilai luhur kehidupan digantikan dengan kerakusan akan kenikmatan sesaat.

            Ini terjadi kepada para pemimpin agama maupun masyarakat. Alhasil, seluruh masyarakat mengalami krisis keteladanan. Koruptor dan kaum radikal sempit dipuja puji, bahkan dianggap raja. Sementara, orang-orang berbudi luhur disingkirkan, bahkan dibiarkan melarat di dalam kesendirian.

            Dua, di Indonesia, dan di berbagai belahan dunia, pendidikan sudah korup. Ia mengabdi pada ajaran agama radikal, atau mengajar peserta didik menjadi penyembah uang. Di Indonesia, pejabat pendidikan tak pernah bermutu, sejak dari dulu. Ini terjadi, karena jabatan tersebut adalah hasil transaksi politik dan ekonomi. Mutu tak pernah menjadi ukuran utama.

Kesadaran Kita

            Semua ini perlu disadari sebagai suatu masalah dan tantangan. Kebanyakan orang tidak menyadari korupsi parah yang terjadi di berbagai bidang. Mereka cuek dan asik dengan kehidupan mereka sendiri yang sempit serta dangkal. Atau, mereka justru diuntungkan dari semua korupsi yang terjadi.

            Setelah kesadaran terbentuk, perubahan harus segera dilakukan. Keteladanan harus segera diberikan. Tidak perlu menunggu para pemimpin masyarakat ataupun agama untuk memberikan teladan. Mereka justru yang terakhir berubah, karena mereka seringkali diuntungkan dari keadaan masyarakat yang korup semacam ini.

            Keteladanan dimulai dari diri kita. Mulailah untuk menyadari korupsi di berbagai bidang. Mulailah membedakan secara jernih antara alat dan tujuan. Hanya dengan begitu, hidup yang kita jalani bisa sungguh bermakna, baik untuk diri sendiri, maupun orang lain.

            Pada tingkat yang lebih luas, terutama di Indonesia, sistem dan filsafat pendidikan haruslah dirombak total. Para pejabat pendidikan haruslah mereka yang sungguh bermutu. Hindari transaksi politik ekonomi di dalam jabatan pendidikan. Hanya dengan begini, Indonesia punya harapan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Kemerdekaan Paripurna

            Pada akhirnya, hidup sendiri adalah tujuan untuk mencapai pembebasan. Hidup bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, apalagi sekedar mencari kenikmatan sesaat yang akan lenyap dalam sekejap mata, dan menyisakan penderitaan. Kebebasan sejati adalah kebebasan dari korupsi di berbagai bidang, baik di tingkat hidup bersama maupun hidup pribadi. Ini hakekat sesungguhnya dari kemerdekaan kita di Indonesia.

Jangan sampai terlupakan. Atau kemerdekaan hanya akan menjadi korupsi baru. Ia membusuk. Ia disembah sebagai tujuan.

Kemerdekaan adalah alat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Ia adalah jembatan emas untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan bermartabat. Sekali lagi, jangan sampai ini terlupakan.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Sesat Alat dan Tujuan”

  1. terimakasih banyak Bung,, saya selalu update tulisan-tulisan terbaru dari bung, saya banyak menimba ilmu dan pemikiran dari tulisan-tulisan disini dan beberapa jurnal ilmiah yang diterbitkan. teruslah menulis dan memberikan perspektif bagi dunia khususnya bagi bangsa dan negara Indonesia. agar kiranya siapa saja yang membaca bisa menambah luas perspektifnya. salam sehat dan sukses selalu bung.

    #merdekasejakdalampikiran

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.