Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia

SSAE Online Exhibit: Hillsborough County 2021 - Salvador Dalí MuseumOleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda ingin hidup di negara yang bebas korupsi? Apakah anda ingin tinggal di negara bebas dari radikalisme agama yang merusak? Apakah anda ingin tinggal di negara yang pemerintah dan organisasi swastanya bekerja dengan sempurna? Saya iya.

Jalannya hanya satu, yakni benahi pendidikan. Jangan memilih menteri yang tak kompeten. Jangan memilih pejabat pendidikan atas dasar kompromi politik busuk. Indonesia terus melakukan dua hal ini, sehingga pendidikan kita sama sekali tidak bermutu.

Kita membutuhkan revolusi pendidikan total. Pendidikan kita habis dihancurkan radikalisme agama kematian. Pendidikan kita juga menjadi budak dari korporasi dan industri. Pendidikan kita justru membunuh kemanusiaan, dan melahirkan ketidakadilan. Bagaimana seharusnya pendidikan yang sempurna?

Tahap-tahap Pendidikan

Tahap pendidikan adalah tahap kehidupan. Seumur hidupnya, manusia tak pernah berhenti belajar. Kita perlu menggabungkan paradigma pendidikan Asia dan Eropa. Keduanya akan membentuk manusia yang seimbang, kritis, terampil sekaligus cerdas.

Tahap pertama adalah 12 tahun pertama dalam hidup. Di masa ini, anak hanya bermain. Tidak boleh ada paksaan untuk belajar, apapun bentuknya. Tidak ada hafalan ataupun hitung-hitungan yang tak berguna.

Ini sangatlah penting, agar anak bisa mengembangkan fungsi tubuh dan batinnya secara sempurna. Waktu bermain adalah waktu terpenting. Anak belajar untuk bekerja sama. Mereka bisa merasakan hidup tanpa beban di 12 tahun awal hidupnya.

Tahap kedua adalah dua tahun berikutnya, sampai anak berusia 14 tahun. Selama 2 tahun penuh, anak belajar Yoga dan Zen. Keduanya bukanlah agama, melainkan teknologi batin untuk memperluas identitas diri, dan belajar untuk mengelola batin.

Dengan Yoga, anak akan memahami dirinya sebagai warga semesta. Ia memiliki wawasan luas, dan berpikiran terbuka. Ia melihat semua mahluk hidup sebagai saudaranya. Dengan Zen, anak belajar untuk mengelola batinnya, sehingga ia tetap tabah dan kuat, walaupun kesulitan dan derita menghadang hidupnya.

Tahap ketiga adalah 10 tahun berikutnya, yakni sampai anak berusia 24 tahun. Disini, anak belajar tentang membaca-menulis-berhitung (calistung), filsafat, sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, agama dan keterampilan praktis untuk bertahan hidup. Setiap anak diarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya. Pada usia 24 tahun, mereka bekerja sebagai profesional di berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Tahap Kehidupan

Selama 3o tahun, orang bekerja untuk kepentingan masyarakat. Pada umur 24, ada juga yang memilih jalan spiritual. Mereka menjadi pertapa. Di masyarakat yang ideal, 30 persen orang antara 24-54 tahun memilih jalan pertapa. Ini penting untuk mengatur jumlah penduduk, supaya tetap seimbang dengan alam dan kemampuan ekonomi masyarakat.

Pada usia 54 tahun, orang melepaskan jabatan di masyarakat. Mereka lalu belajar spiritualitas sesuai pilihannya. Ini penting, supaya mereka memberikan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk bekerja. Ini juga penting, supaya mereka bisa mencapai pencerahan dan pembebasan batin, sebelum kematian tubuh menjemput.

Pada hemat saya, ini adalah sistem pendidikan dan kehidupan yang sempurna. Ia memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh bahagia dan sehat. Ia juga memberikan wawasan identitas yang luas, sehingga radikalisme dan korupsi tidak akan sempat bertumbuh. Dua hal itu lahir dari kesempitan identitas, dan ketidakmampuan mengelola rasa rakus.

Sistem pendidikan semacam ini juga memberikan keterampilan praktis untuk berperan di dalam berbagai jabatan di masyarakat. Dan yang terpenting, sistem pendidikan ini mempersiapkan manusia untuk meninggal dalam pencerahan dan pembebasan. Indonesia akan menjadi bangsa sempurna, jika menerapkan pola pendidikan seperti ini.

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia”

  1. Coba diimplementasikan, Pak.. Mungkin buka sekolah yg bisa menyediakan program belajar/ kurikulum demikian. 5-10 siswa aja dulu. Kalo ada, pas nanti saya punya anak, saya akan sekolahin di situ.. 😊😊

    Suka

  2. setuju sekali dgn pemikiran diatas. jalan pikiran orang tua juga harus di serasi kan, sebab orang motor penggerak, agar anak sendiri melebih i anak lain dalam segala bidang.
    umum nya org tua mengharap dan mendidik spy anak melebih i kemampuan org tua.
    mungkin ada baik nya, kalau anak mulai sekolah, org tua sadar system sekolah yg di pilih.
    anak, org tua, seluruh system pendidikan adalah investasi jangka panjang.
    di mana hasil baru terlihat setelah terlaksana dalam 1-2 generasi.
    sedang kan dewasa ini, system pendidikan lebih merusak kepribadian dp membina masa depan bangsa.
    cukup kita cermati cara masyarakat berbicara dan bertukar pikiran. seperti nya robot bernapas !
    salam hangat !!

    Suka

  3. Mungkin lebih baik selama 12 tahun pertama, anak bukan hnya dibiarkan bermain, tetapi juga diajarkan hal-hal mendasar sperti membaca, mnulis dn berhitung, agar kemudian, ia lebih mudah memahami berbagai hal dalam rentang usia 14 sampai 24 tahun. Mohon pencerahannya pak🙏🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.