Doa dan Bungkam yang Mulia

When Silence happens in the Marketplace Painting by Melinda Matyas ...
Melinda Matyas

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kita gemar sekali berdoa. Setiap ada bencana, kita berdoa. Setiap ada perayaan, kita berdoa. Doa dianggap mampu menyelesaikan segala tantangan kehidupan.

Gaya berdoanya pun macam-macam. Ada yang berdoa dengan berteriak-teriak ke seluruh penjuru arah. Ada yang berdoa sampai menangis-nangis. Bahkan, ada yang berdoa sampai pingsan, sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Lanjutkan membaca Doa dan Bungkam yang Mulia

Bukan Apa-apa Sekaligus Segalanya

WhatsApp Image 2020-03-31 at 20.41.55
Ilustrasi dari Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa minggu ini, kita semakin sadar, bahwa hidup manusia itu rapuh. Sedikit penyakit, hidupnya bisa berakhir. Sedikit terjatuh, cacat langsung menimpanya. Sudah mencapai segalanya, harta dan kuasa, namun manusia harus mati meninggalkan semuanya.

Virus nan kecil bisa menganggu kesehatan badannya. Tak hanya itu, sang virus kecil kini menciptakan kepanikan dunia. Ekonomi ambruk. Politik kacau. Masyarakat hidup dalam kecemasan akan kematian. Lanjutkan membaca Bukan Apa-apa Sekaligus Segalanya

“Jiayou, Andrà tutto bene”, Ketika Bencana Melanda

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

“Hai tetangga. Jika kamu berusia lebih dari 65 tahun, dan kekebalan tubuhmu lemah, saya ingin membantumu. Beberapa minggu ke depan, saya bisa membantumu berbelanja keluar. Jika kamu perlu bantuan, tinggalkan pesan di pintu rumahmu dengan nomor telefonmu. Bersama, kita bisa menjalani semuanya. Kamu tidak sendirian!” (dalam Bregman, 2020)

Itulah tulisan yang tertera di salah satu rumah di Jerman. Virus Korona bisa menyerang semua orang, terutama mereka yang berusia lanjut, dan lemah kekebalan tubuhnya. Memang, setiap bencana datang, manusia selalu berpegangan tangan. Mereka bersatu. Mereka saling membantu. Lanjutkan membaca “Jiayou, Andrà tutto bene”, Ketika Bencana Melanda

Berani Berpikir Sendiri… dan Setelahnya

Fractal Enlightenment

Oleh Reza A.A Wattimena

            Immanuel Kant, salah satu pemikir Eropa terbesar, menulis sebuah buku pendek pada akhir tahun 1784 di Prussia. Judulnya adalah Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung? Dalam bahasa Indonesia: Jawaban atas Pertanyaan, Apa itu Pencerahan? Ada satu paragraf penting yang kiranya perlu saya tulis disini.   

            “Pencerahan adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk menggunakan akal budi, tanpa pengarahan dari orang lain. Ketidakdewasaan ini dibuat oleh dirinya sendiri, karena sebabnya bukanlah kurangnya akal budi itu sendiri, melainkan karena kurangnya keberanian untuk berpikir tanpa pengarahan dari orang lain. Sapere Aude! Beranilah berpikir berpikir sendiri! Itulah semboyan dari Pencerahan.” (Kant, 1784) Lanjutkan membaca Berani Berpikir Sendiri… dan Setelahnya

Manusia Abad 21

spiritueux magazine

Oleh Reza A.A Wattimena

Banyak orang bertanya, apa minat penelitian saya? Saya tidak bisa menjawab secara lugas. Di abad ini, semua orang memiliki minat khusus. Saya tidak. Saya belajar semuanya, mulai dari politik, sejarah, budaya, seni, keamanan siber, kajian agama, spiritualitas dan sebagainya, tergantung dorongan hati dan kebutuhan profesional. Bisa dibilang, minat khusus saya adalah “kehidupan secara menyeluruh”.

Saya juga sulit menjawab, ketika orang bertanya, apa agama saya. Saya dilahirkan di dalam keluarga Katolik. Namun, minat saya merentang jauh dari ajaran Katolik, dan menyentuh Zen, Buddhisme, Yoga, Vedanta, Sufi Islam, Kabbalah Yahudi, Kejawen, Sunda Wiwitan dan masih banyak lagi. Agama saya tidak bisa dipenjara dalam satu konsep yang dipaksakan pemerintah kepada rakyatnya. Lanjutkan membaca Manusia Abad 21

Mengembalikan “Manusia” ke dalam Ilmu-ilmu Manusia

dev.null.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Sejujurnya, tidak ada satu pun orang yang memahami seluruh pendekatan metodik di dalam  ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu politik, pendidikan, sosiologi, ekonomi, manajemen, antropologi, hubungan internasional, psikologi, sejarah dan beragam cabangnya, hendak memahami manusia di dalam konteks sosialnya. Ia merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar, yakni ilmu-ilmu manusia, atau humaniora. Kesemuanya itu sudah mengembangkan beragam metode yang rumit, canggih dan sangat terspesialisasi.

Di era komputer seperti sekarang, beragam angka dan algoritma digunakan tidak hanya untuk memahami perilaku manusia, tetapi juga untuk meramalkannya. Tentu saja, kepastian adalah sesuatu yang selalu lolos dari genggaman. Namun, berkat kecanggihan dan kerumitan metode penelitian yang telah dikembangkan, orang bahkan berani memastikan temuan dari penelitiannya. Statistik dan algoritma seolah menjadi rumus pasti di dalam memahami manusia dengan segala dimensinya. Lanjutkan membaca Mengembalikan “Manusia” ke dalam Ilmu-ilmu Manusia

Manusia Kosmopolis

cosmic-birth-ian-macqueenPendidikan dan Pencarian yang “Asli”

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Banyak konflik di dunia ini disebabkan kelekatan kita pada identitas sosial kita. Kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, entah ras, etnis, bangsa, negara ataupun agama.

Lalu, kita beranggapan, bahwa kelompok kita memiliki kebenaran tertinggi. Kelompok lain adalah kelompok sesat.

Kesalahan berpikir ini telah mengantarkan manusia pada konflik berdarah, pembunuhan massal, pembersihan etnis sampai dengan genosida. Ratusan juta orang terkapar berdarah sepanjang sejarah, akibat kesalahan berpikir semacam ini.

Bagaimana supaya kesalahan berpikir mendasar tentang dunia ini bisa diperbaiki? Saya ingin menawarkan ide tentang manusia kosmopolis. Lanjutkan membaca Manusia Kosmopolis

Melampaui “Manusia”

reason
wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Mengapa saya menulis kata “manusia” dengan tanda kutip? Ini untuk menerangkan, bahwa “manusia” sebagai sebuah realitas tidaklah pernah ada. Ia dianggap ada sebagai bagian dari kesepakatan sosial untuk keperluan hidup sehari-hari, seperti misalnya berkomunikasi. Namun, sebagai sebuah kenyataan yang utuh dan kokoh, ia tidak pernah ada. Ia adalah ilusi, yakni seolah ada, namun sebenarnya tak ada.

“Manusia”

Di balik kata “manusia”, ada sebuah tradisi pemikiran yang telah berkembang lama, terutama di Eropa dan Timur Tengah. Manusia dilihat sebagai mahluk yang istimewa, lebih daripada mahluk hidup lainnya, sehingga punya hak untuk menguasai bumi. Tentu saja, yang merumuskan pandangan tersebut juga “manusia”. Ada konflik kepentingan di dalamnya yang harus terus ditanggapi secara kritis.[1]   Lanjutkan membaca Melampaui “Manusia”

Manusia, Serigala dan Ibu Kota

Wolf-Man_art
imagekind.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Penulis dan Doktor dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman

Sulit menemukan akal sehat, ketika kita terjebak macet total di tengah teriknya matahari ibu kota. Semua pengendara tenggelam dalam emosi dan nestapa, siap untuk menghajar siapapun yang memotong jalannya. Jalan sepanjang 3 km harus ditempuh dalam waktu satu jam, karena irasionalitas pembangunan kota yang tak punya visi. Orang bisa berubah kepribadiannya, setelah melalui pengalaman tersebut.

Kota, Uang dan Agama

Kelembutan diganti keberingasan. Motor dan mobil saling menghajar. Ketika tersenggol, makian dan bahkan pukulan sudah menanti di depan mata. Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, begitu kata diktum Latin klasik tentang keadaan alamiah (Naturzustand) manusia yang saling berperang satu sama lain. Lanjutkan membaca Manusia, Serigala dan Ibu Kota

Buku Filsafat Terbaru: Tentang Manusia

cover-1A-page-001Tentang Manusia: Dari Pikiran, Pemahaman sampai dengan Perdamaian Dunia

Penulis: Reza A.A Wattimena

ISBN 978-602-08931-5-0 Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Tentang Manusia

Berpikir itu Bermimpi

Touch-a-Dream_reference
artween.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Malam kemarin terasa panjang. Mimpi terasa begitu nyata. Ia hadir terus, bahkan ketika tidur telah berakhir. Jejaknya menempel sebagai ingatan yang mencabut diri dari saat ini.

Banyak orang sulit membedakan mimpi sebagai kenyataan. Mereka mengira, mimpi adalah pertanda. Bahkan tak sedikit yang mengira, mimpi adalah realita. Sigmund Freud, bapak psikoanalisis asal Jerman, juga melakukan penelitian tentang tafsir mimpi (Traumdeutung). Lanjutkan membaca Berpikir itu Bermimpi

Apa Yang Terpenting?

spiritualnow.com
spiritualnow.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Munich, Jerman

September 2015, industri mobil dunia terguncang oleh skandal. Volkswagen, salah satu produsen terbesar mobil dunia asal Jerman, melanggar ketentuan terkait dengan jumlah emisi mobil-mobil hasil produksinya. Harga saham Volkswagen menurun drastis. Pemecatan besar-besaran serta denda milyaran Euro pun sudah menunggu di depan mata.

Banyak analisis diajukan atas masalah ini. Intinya adalah, Volkswagen telah menipu pemerintah dan masyarakat terkait dengan jumlah polusi yang dihasilkan oleh mobil-mobilnya. Ia tidak hanya melanggar hukum dan menodai kepercayaan masyarakat, tetapi juga merusak alam. Pola pelanggaran semacam ini sudah terjadi begitu sering di dunia. Perusahaan-perusahaan multinasional mengabaikan semua hal, demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi. Lanjutkan membaca Apa Yang Terpenting?

Ciri dan Gerak Pikiran Manusia

niramartisrael.defesesfinearts.com
niramartisrael.defesesfinearts.com

Serta Bagaimana Kita Menanggapinya

Oleh Reza A.A Wattimena

Begitu banyak orang mengalami penderitaan dalam hidupnya. Hampir semua bentuk penderitaan datang dari pikiran, baik dalam bentuk kecemasan akan masa depan, maupun penyesalan atas masa lalu. Penderitaan nyata sehari-hari bisa dilampaui dengan baik, jika orang mampu berpikir jernih, jauh dari kecemasan dan penyesalan yang kerap mencengkram pikirannya. Sebaliknya, hal kecil akan menjadi sulit dan rumit, ketika pikiran orang dipenuhi dengan kecemasan dan penyesalan.

Orang semacam itu akan sulit berfungsi di masyarakat. Mereka tidak bisa menolong diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka pun cenderung menjadi penghambat bagi orang lain, dan bahkan bisa membuat orang lain menderita. Beban pikiran yang berlebihan membuat orang tak mampu menyadari, betapa indah dan sederhana hidup manusia itu sebenarnya.

Pikiran Manusia

Kunci untuk mencegah hal ini adalah dengan memahami hakekat dan gerak pikiran manusia. Setiap bentuk konsep adalah hasil dari pikiran manusia. Dengan konsep itu, manusia lalu menanggapi berbagai keadaan di luar dirinya. Dalam hal ini, emosi dan perasaan juga merupakan hasil dari konsep yang berakar pada pikiran manusia.

Apa ciri dari pikiran manusia? Ada tiga ciri mendasar, yakni tidak nyata, sementara dan rapuh. Pikiran itu bukanlah kenyataan. Ia adalah tanggapan atas kenyataan. Pikiran dibangun di atas abstraksi konseptual atas kenyataan.

Pikiran juga sementara. Ia datang, ia pergi, dan ia berubah. Cuaca berubah, maka pikiran juga berubah. Ketika lapar, pikiran melemah. Dan sebaliknya, ketika perut kenyang, pikiran bekerja lebih maksimal. Lanjutkan membaca Ciri dan Gerak Pikiran Manusia

“Racun” di dalam Pikiran

firstaidwithcare.com/
firstaidwithcare.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Jerman

Racun korupsi masih menjalari tubuh politik kita di Indonesia. Penyebabnya bersifat sistemik dalam bentuk kegagalan penegakan hukum, sekaligus bersifat personal dalam bentuk lemahnya integritas kepribadian para penjabat publik kita. Dalam hal ini, pemberantasan korupsi masih menjadi pekerjaan rumah yang besar dan berat bagi kita sebagai bangsa. Dukungan dari seluruh rakyat amatlah dibutuhkan.

Menjalarnya korupsi di berbagai bidang juga dapat dilihat sebagai kegagalan demokrasi. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di berbagai benua. Demokrasi sebagai bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang mendorong menuju keadilan sosial dan kemakmuran bersama semakin menjadi mimpi yang jauh dari jangkauan. Yang banyak tercipta adalah oligarki, yakni pemerintahan oleh sekelompok orang kaya yang hendak menghancurkan kepentingan umum, demi keuntungan pribadi mereka.

Keadaan ini menciptakan ketidakadilan sosial di tingkat global yang lalu menciptakan kemiskinan dan penderitaan yang begitu besar bagi banyak orang. Dari kemiskinan dan penderitaan lahirlah terorisme. Terorisme bermuara pada perang antar kelompok dan bahkan antar negara. Ini semua seperti lingkaran kekerasan yang justru membawa kemiskinan dan penderitaan yang lebih besar lagi.

Di bagian dunia lain, orang hidup dalam kelimpahan yang luar biasa. Ratusan tahun penaklukan dan perampokan atas negara lain memberikan kemakmuran yang luar biasa bagi mereka. Mereka adalah negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Ketika bagian dunia lain berjuang melawan kemiskinan dan korupsi, negara-negara ini berpesta pora dan menghabiskan sumber daya alam untuk menopang gaya hidup mewah mereka. Lanjutkan membaca “Racun” di dalam Pikiran

Jerman, Mobil dan Mobilitas

automobile.de
automobile.de

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Sedang belajar di Jerman

Siapa yang tidak kenal BMW? Atau VW, Volkswagen? Siapa juga yang tidak pernah mendengar merk mobil Audi? Ini adalah merk-merk mobil Jerman yang sudah memiliki reputasi internasional.

Mobil-mobil Jerman memang terkenal karena tiga hal, yakni kualitas, prestise dan harganya yang mahal. Perusahaan-perusahaan mobil di Jerman, mulai dari tingkat perakitan struktur kaki mobil sampai dengan direktur utama, memang amat menekankan ketepatan, guna menghasilkan mobil bermutu tinggi. Namun, mereka juga tidak kebal terhadap iklim persaingan ekonomi global, terutama dari AS, Jepang dan Cina. Dalam banyak hal, perusahaan-perusahaan mobil Jerman pun harus melakukan kompromi, bahkan seringkali menurunkan kualitas, supaya bisa menjual dengan harga yang lebih murah.

Jerman dan Mobilnya

Ekonomi Jerman hancur total setelah perang dunia kedua. Pada 1945, politik Jerman juga lumpuh total. Orang-orang Jerman bisa hidup, karena semata menerima bantuan dari tentara Sekutu (Inggris, AS, Prancis dan Uni Soviet). Kebangkitan ekonomi Jerman ditandai dengan berkembangya Volkswagen sebagai salah satu produsen mobil bermutu di dunia. Jenis mobil yang paling terkenal pada dekade 1950-an di dunia adalah VW Kodok (Volkswagen Käffer).

Mobil ini telah menyelamatkan Jerman dari keterpurukan ekonomi berkelanjutan. Tidak hanya itu, mobil VW kodok juga telah menjadi ciri khas Jerman setelah perang dunia kedua. Ia menawarkan fungsi sekaligus prestise bagi penggunanya. Tentu saja, kualitasnya juga tidak perlu dipertanyakan.

Kebangkitan ekonomi Jerman juga diikuti dengan kebangkitan berbagai perusahaan mobil lainnya, seperti Audi dan BMW. Pabrik-pabrik mobil di Jerman, dan berbagai industri pendukungnya, seperti industri ban, shock breaker dan sebagainya, menyediakan lapangan kerja bagi jutaan penduduk Jerman. Banyak tenaga ahli pun didatangkan dari luar negeri, guna mengembangkan teknologi di dalam pabrik-pabrik ini. Pajak yang ditarik dari perusahaan-perusahaan mobil Jerman juga amat besar. Lanjutkan membaca Jerman, Mobil dan Mobilitas

Lupa

hopeofglory.typepad.com
hopeofglory.typepad.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman

Ada satu band yang cukup menarik dari Indonesia. Nama bandnya adalah Kuburan. Mereka punya satu lagu yang cukup terkenal di Indonesia. Judulnya “Lupa”.

Syairnya menarik perhatian saya. Begini bunyinya: “lupa..lupa..lupa… lupa lagi syairnya. Ingat… ingat.. ingat cuma kuncinya.” Bagaimana mungkin seorang musisi menyanyi lagu ciptaannya sendiri, tetapi lupa syairnya? Mungkin, ini mirip seperti keadaan kita sekarang ini. Kita manusia, tetapi lupa, apa artinya menjadi manusia.

Kita bekerja. Kita belajar. Kita bercinta. Kita berkeluarga. Namun, semuanya itu terjadi secara begitu saja, seringkali tanpa kesadaran, karena kita hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh masyarakat dan keluarga kita. Kita lebih mirip robot, dan kehilangan kesadaran kita sebagai manusia.

Kelupaan Kita

Martin Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20, menyebut keadaan ini sebagai “kelupaan akan ada” (Seinsvergessenheit). Orang sibuk mencari dan melakukan apa yang tidak penting, dan pada waktu yang sama, mereka lupa akan inti yang terpenting dari segala sesuatu. Di dalam tradisi Buddhisme, ini juga disebut sebagai keadaan “tidak melihat” (avidya). Orang hidup dengan segala kesibukannya, tetapi tidak melihat apa yang sungguh penting, dan juga melupakan inti dari segala sesuatu.

Di dalam tradisi filsafat Yunani Kuno, Plato juga melihat keadaan yang sama. Ketika manusia lahir, ia melupakan segala pengetahuan yang ia punya, lalu harus mulai belajar segalanya dari awal lagi. Pendidikan, bagi Plato, adalah proses mengingat kembali (anamnesis) apa yang sudah diketahui sebelumnya, namun terlupakan. Sumber dari pengetahuan itu adalah Dunia Ide, tempat model dan eseni dari segala sesuatu berada. Lanjutkan membaca Lupa

Antara Kita dan Dunia

tumblr.com
tumblr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Awal 2014, masyarakat Ukraina sedang mengalami krisis politik. Demonstrasi besar berakhir dengan kekerasan yang terus berkelanjutan. Oposisi, yang mendapat dukungan besar dari rakyat Ukraina, menuntut pemilihan umum ulang. Mereka minta Presiden Viktor Yanukovych untuk turun dari jabatan presiden.

Ketegangan di Turki juga belum berakhir. Perlawanan terhadap pemimpin Turki sekarang, Reccep Tayyib Erdogan, terus berlangsung. Rakyat Turki merasa hidup di dalam pemerintahan totaliter yang menggunakan agama sebagai pembenarannya. Kebebasan diri masyarakat semakin terinjak oleh aturan-aturan yang, menurut mereka, tidak masuk akal.

Di Mesir, ketegangan juga masih belum mereda. Rakyat Mesir sedang mencari bentuk tata politik untuk masa depan mereka. Mereka ingin keluar dari tirani militer maupun agama, yang mencekik kemanusiaan mereka. Sampai kini, tegangan politik masih terus berlangsung. Banyak orang ditahan paksa, dan belum menemukan keadilan, sampai sekarang. Lanjutkan membaca Antara Kita dan Dunia

Trauma dan Jiwa Manusia

softwarewelt.de
softwarewelt.de

Belajar dari Franz Ruppert

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Masa lalu itu penting. Kita dibentuk oleh masa lalu kita. Tentu saja, kita tetap punya kebebasan. Tetapi, kebebasan itu pun juga dibatasi oleh masa lalu kita.

Salah satu bagian masa lalu yang amat penting untuk disadari adalah tentang kehidupan orang tua kita. Sedari kecil, kita membangun hubungan dengan orang tua kita. Mereka, tentu saja, bukan manusia sempurna, tetapi memiliki segala bentuk kekurangan. Kekurangan itu pula yang membentuk kita sebagai manusia, sekaligus cara kita berpikir, merasa, dan melihat dunia, ketika kita dewasa, termasuk segala ketakutan dalam hidup kita.

Di dalam bukunya yang berjudul Trauma, Angst und Liebe: Unterwegs zu gesunder Eigenständigkeit. Wie Aufstellungen dabei helfen (2013), Franz Ruppert, Professor Psikologi sekaligus praktisi psikoloanalitik (Psychoanalytiker) di München, berpendapat, bahwa orang tua juga bisa mewarisi trauma yang mereka punya kepada anaknya. Jadi, orang tua tidak hanya mewariskan ciri fisik, tetapi juga ciri psikologis kepada anaknya. Ciri psikologis itu bisa berupa karakter diri, tetapi juga trauma. Lanjutkan membaca Trauma dan Jiwa Manusia

Buku Filsafat Terbaru: Dunia Manusia, Manusia Mendunia

1001909_10200886749028212_456482070_nBuku Filsafat Terbaru:

Dunia Manusia, Manusia Mendunia

oleh

Emanuel Prasetyono

Dosen Filsafat Manusia, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Buku ini mencoba memahami manusia dari sudut pandang fenomenologis, yakni sebagai mahluk yang sudah selalu ada dan tertanama di dunia, namun sekaligus menciptakan dunia melalui tindakannya. Buku ini amat cocok digunakan untuk memperkaya literatur terkait dengan kuliah Filsafat Manusia.

Buku bisa diperoleh di:

theo.dolorosa@yahoo.com atau hubungi 088804858799

Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada

ndr.de
ndr.de

Markus Gabriel dan Metafisika Dunia

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Saat ini, saya sedang membaca buku berjudul Warum es die Welt nicht gibt (mengapa dunia tidak ada), terbitan Ullstein Verlag 2009 lalu. Harga buku itu murah, sekitar 15 Euro, tergantung beli dimana, dan baru atau bekas. Penulisnya adalah Markus Gabriel, seorang Professor Filsafat di bidang Epistemologi dan Filsafat Modern di Universität Bonn. Di artikelnya di Der Spiegel yang berjudul Eine Reise durch das Unendliche, Romain Leick melakukan wawancara yang cukup mendalam dengan Gabriel terkait dengan bukunya tersebut.

Sejauh saya tangkap, tujuan buku itu adalah mengajukan satu argumen baru terkait dengan realisme, yakni bahwa dunia memiliki sifat tetap pada dirinya sendiri, lepas dari pikiran manusia. Pertanyaan penting disini adalah, bagaimana manusia bisa tahu dengan dunianya? Ini adalah pertanyaan dasar di dalam Filsafat Pengetahuan (Erkenntnistheorie), atau epistemologi. Pertanyaan ini sama mendasarnya dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis lainnya yang terus menggangu manusia sepanjang jaman, yakni dari mana kita berasal? Apa artinya hidup? Dan apa tujuan keberadaan kita di dunia ini? (Leick, 2013)

Gabriel juga menjelaskan, bahwa filsafat masih dapat memberikan sumbangan besar terkait dengan pertanyaan kosmologis, yakni apa artinya alam atau dunia tempat kita tinggal? Dalam arti ini, dunia bukanlah hanya dunia fisik material semata, tetapi juga dunia yang dihayati dan dihidupi oleh manusia. Fisika modern, beserta dengan ilmu-ilmu modern lainnya, seperti neurosains, sering melakukan penyempitan pemahaman atas dunia dengan melihatnya semata sebagai gejala material-fisik-biologis saja. Pola inilah yang kiranya ingin ditantang sekaligus dilampaui oleh Gabriel. Lanjutkan membaca Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada