Belajar Seni dari Bali

2893433_image001Oleh Reza A.A Wattimena

Sore itu di Ubud, Bali, cuaca cerah mendadak mendung. Hujan deras pun langsung turun, tanpa rasa malu. Saya bersama seorang teman. Ia seorang seniman Bali, yang juga bekerja di dunia pariwisata.

Tiba-tiba, anak laki-lakinya datang. Katanya, ia baru datang dari Banjar. Ada pelajaran musik dan menari di Banjar. Wajahnya tampak ceria dan segar. Lanjutkan membaca Belajar Seni dari Bali

Publikasi Terbaru: Kajian Filsafat-Neurosains Tentang Otak dan Hubungan Antar Manusia

surreal-drawings-redmer-hoekstra-1Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini menjelaskan konsep hubungan antar manusia dengan menggunakan sudut pandang neurosains dan filsafat. Neurosains adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk memahami kinerja otak, saraf dan perannya dalam hidup manusia. Beberapa pandangan inti tentang hubungan antar manusia di dalam neurosains akan dijabarkan terlebih dahulu. Beberapa pandangan filosofis tentang manusia juga akan dijelaskan. Keberadaan orang lain mutlak diperlukan untuk keberadaan dan perkembangan manusia. Ini dimungkinkan, karena adanya empati, proses bercermin dan penciptaan konteks sosial di dalam otak manusia. Penelitian ini juga penting untuk memahami pola di balik konflik antar manusia. Sumber utama tulisan ini mengacu pada pemikiran David Eagleman dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan penulis sebelumnya (Reza A.A Wattimena).

Kata-kata Kunci: Otak, Otak Sosial, Empati, Proses Bercermin, Konteks Sosial.

Abstract

This paper explains the concept of human relations using the perspective of neuroscience and philosophy. Neuroscience is a branch of science that aims to understand the brain, nerves and their role in human life. Some of the core views of human relations in neuroscience will be outlined first. Some philosophical views about humans will also be explained. The existence of other people is absolutely necessary for human existence and development. This is possible, because of the existence of empathy, the mirroring process and the creation of a social context in the human brain. This research is also important to understand the patterns behind human conflict. The article is inspired by the thoughts of David Eagleman and the studies that have been done by the author (Reza A.A Wattimena).

Key words: Brain, Social Brain, Empathy, Mirroring, Social Context.

Bisa diunduh di: Jurnal Reza, Otak dan Orang Lain

Tentang Agama Pemerkosa

consciousness-being-raped-by-ego-darwin-leonOleh Reza A.A Wattimena

Terjadi lagi, institusi agama terlibat dalam pemerkosaan. Sudah berulang kali, hal ini terjadi. Perempuan-perempuan muda menjadi korban pemuka agama bernafsu besar, namun nurani serta akal sehat yang sudah lenyap. Banyak orang tua tertipu, sampai akhirnya terlambat, karena anaknya sudah hamil diperkosa oleh pemuka agama yang ia percaya. Dalam hati saya bertanya, sampai kapan kita mau sungguh belajar?

Kejadian ini tidak hanya melibatkan satu agama. Ada agama lain, dengan rumpun serupa, melakukannya selama puluhan tahun. Korbannya mayoritas adalah anak-anak kecil pria yang menjadi calon pemuka agama. Namun, karena dukungan uang dan kelicikan, kasus itu terpendam dalam di Indonesia. Lanjutkan membaca Tentang Agama Pemerkosa

Hossein Nasr dan Buddhisme

seyyed_hossein_nasr1Oleh Nuruddin Al Akbar, Peserta Kelas Circles Indonesia dan Platon Academy, Kandidat Doktor Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Pada saat penutupan kelas “Urban Zen” yang diselenggarakan oleh LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat), Budhy Munawar Rachman selaku “ketua kelas” memberikan pengumuman mengenai dibukanya kelas “Filsafat Seyyed Hossein Nasr”. Saat itu Rachman memberikan informasi, bahwa Nasr adalah seorang filsuf Islam kontemporer “terbesar” yang masih hidup hingga hari ini. Kelas tersebut direncanakan akan “mengupas” pemikiran Nasr dari berbagai sisi oleh para pengkaji intens karya-karya dan pemikiran Nasr di Indonesia semacam Subhi Ibrahim, Aan Rukmana, dan Gerardette Philips.

Saat Rachman memberikan informasi tersebut, penulis secara spontan berpikir, bahwa antara pembahasan kelas Zen dan pembahasan mengenai Nasr adalah pembahasan yang tidak memiliki kaitan apapun. Kecuali jika kaitan yang dimaksudkan bahwasanya baik tradisi Zen ataupun tradisi filsafat Islam yang menjadi kajian utama Nasr sama-sama bercorak “tradisi Timur” yang, dalam kacamata Nasr, berbeda dengan tradisi filsafat Barat modern yang notabene sudah melepaskan dimensi spiritualitas dari pembahasannya. Lanjutkan membaca Hossein Nasr dan Buddhisme

Kalkulator Zen: Siapa Saya, Jika Saya Tidak Berpikir?

9689428464f891f421ba40804720e8eeOleh Reza A.A Wattimena

Saya suka sekali berkendara di jalan-jalan di Bali. Keindahan arsitektur khas Bali, dibarengi wangi dupa dari ritual agama mereka, memang tiada tara. Namun, selalu ada satu hal yang menganggu saya. Orang Bali sangat suka berkendara dengan kecepatan tinggi.

Kerap kali, mereka memotong jalan saya dengan tiba-tiba. Entah apa yang ada di pikiran si pengendara. Mungkin, mereka terburu-buru untuk menghadiri satu acara tertentu. Atau mereka ingin segera mencari kamar mandi, guna melepas hasrat. Lanjutkan membaca Kalkulator Zen: Siapa Saya, Jika Saya Tidak Berpikir?

Harta yang Paling Berharga,… Bukanlah Keluarga

VCTkhCcR6Giv5ugSYwvA_2Oleh Reza A.A Wattimena

Pernahkah anda mendengar lagu tersebut? Harta yang paling berharga.. adalah keluarga. Belakangan ini, saya sering tergiang lagu itu. Lagu itu, pada hemat saya, berbahaya.

Orang lalu memuja keluarga. Seolah, keluarga tak pernah salah. Orang jadi buta di hadapan keluarga. Akal sehat tertutup kabut emosi yang disebarkan oleh iklan televisi dan industri musik dangkal. Lanjutkan membaca Harta yang Paling Berharga,… Bukanlah Keluarga

Beringin Rumah Kita

Pohon beringinOleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang mengunjungi Bali, ia sudah mengunjungi surga. Tak hanya saya yang merasa seperti ini. Ratusan juta orang di seluruh dunia merasakannya. Banyak pula yang lupa, bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia (negara yang terus digerogoti korupsi, kesenjangan sosial besar dan radikalisme agama).

Di Bali, saya sangat suka berkeliling dengan sepeda motor. Saya tidak berkunjung ke tempat-tempat yang biasa didatangi para wisatawan. Saya masuk ke desa-desa terpencilnya, jauh dari sentuhan pariwisata. Semua serba indah, asri, harmonis dan wangi semerbak dupa di segala penjuru. Lanjutkan membaca Beringin Rumah Kita

Bukan Filsafat Kematian

Oleh Dhimas Anugrah

Pendiri Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, sebuah komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains. Studi di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Kabar wafatnya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif di Yogyakarta pada Jumat 27 Mei 2022 mendatangkan duka bagi seluruh negeri. Sementara pada Minggu 29 Mei 2022 kabar duka kembali datang menyelimuti. Kali ini bagi komunitas Kristen Injili di Tanah Air. Pdt. Daniel Lucas Lukito, mantan Ketua Sekolah Tinggi Teologi SAAT di Malang, dikabarkan meninggal pada pukul 02.39 dini hari. Almarhum disebut-sebut sebagai salah satu pemikir besar dari kalangan Injili Indonesia. Kepergian kedua tokoh ini selain mengundang duka, juga mengajak kita melihat kembali realitas yang tak terelakkan: suatu hari kita akan berpulang. Lanjutkan membaca Bukan Filsafat Kematian

Bukan Filsafat Penderitaan

WhatsApp Image 2022-05-18 at 9.28.48 PMOleh Dhimas Anugrah

Pendiri Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, sebuah komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains. Studi di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Penderitaan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Pepatah India Kuno mengatakan, “Sebelum kita dapat melihat arah dengan benar, kita harus terlebih dahulu meneteskan air mata untuk membersihkan jalan.” Artinya, ada perjuangan yang tidak selalu mudah untuk mencapai tujuan hidup setiap insan. Ada tantangan penderitaan yang perlu diatasi. Ia melingkupi dan mewarnai hayat setiap orang. Tidak ada orang yang mau menderita, tetapi realitas hidup tidak selalu seperti yang diharapkan. Penderitaan secara lugas menemani setiap manusia yang terlahir ke dunia, sehingga mau tidak mau, kita hanya bisa menerima kenyataan bahwa hidup di dunia ini memiliki warna yang khas: penderitaan. Lanjutkan membaca Bukan Filsafat Penderitaan

Tiga Pertemuan: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

WhatsApp Image 2022-05-18 at 6.43.17 PMWebinar bersama Forum Kader Pemikir Islam Indonesia dan Lembaga Studi Agama dan Filsafat 

Bagaimana menemukan kejernihan di tengah jaman yang semakin membingungkan ini? Bagaimana mendapatkan kedamaian hati dan arah hidup yang tepat di tengah cengkraman politik korup, bencana ekologis, krisis ekonomi bergantian, radikalisme agama dan ancaman perang dunia ketiga? Di dalam tiga pertemuan ini, kita akan belajar bersama untuk menjawab dua pertanyaan itu sampai tuntas.

Pertemuan 1: Sejarah dan Dasar Filosofis Zen (4 Juni 2022)

Pertemuan ini membahas sejarah dan filsafat Zen. Akan dibahas arti dasar kata Zen, dan bagaimana ia berkembang di dalam sejarah. Akan dibahas juga ontologi, epistemologi dan aksiologi dari Zen. Pertemuan ini memberikan dasar pemahaman konseptual untuk Zen. Lanjutkan membaca Tiga Pertemuan: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

jardin-zen-en-miniatura-1024x682Oleh Reza A.A Wattimena

Jam 11 malam, Jumat 13 Mei 2022. Perut melilit. Sakitnya nyaris tak tertahankan. Saya pun terbangun.

Cuaca sejuk dan nikmat. Semuanya sempurna, kecuali perut yang berteriak. Perpaduan kopi, susu, arak, babi guling pedas dan bir memang mematikan. Saya sudah menduganya. Lanjutkan membaca Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

Surreal-portraits-of-women-painted-by-an-Iranian-artist-5710dae922d86__880Oleh Reza A.A Wattimena

Seorang teman bercerita. Ia berjalan di bilangan Pasar Baru, Jakarta. Ini tempat belanja klasik. Banyak barang yang menarik untuk dilihat.

Tiba-tiba terdengar suara pria. Hei, cewek, dari mana? Pertanyaan itu dibarengi dengan siulan yang terkesan kurang ajar. Teman saya kaget. Hari gini, masih ada orang “kampungan” yang suka menggoda perempuan di jalan? Lanjutkan membaca Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

Zen Pengembara Menuju Yogyakarta

IMG-20211225-WA0008Oleh Reza A.A Wattimena

Tegangan mesin itu terasa di tangan. Angin dingin menerpa seluruh tubuh. Ramai lalu lintas membuat semua terasa hidup. Semua bergerak dengan satu tujuan: Yogyakarta.

Semua sudah rapih. Jam 9 malam, badan segar. Motor sudah siap. 24 Desember 2021, saatnya berangkat. Untuk pertama kalinya, saya merayakan Natal di atas dua roda sepanjang malam. Lanjutkan membaca Zen Pengembara Menuju Yogyakarta

DUNGU

unnamedOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, seorang pemuda hendak melihat mentari terbit. Katanya, setiap jam 3 pagi, ia sudah bangun, dan mempersiapkan diri. Matahari, baginya, adalah sumber kehidupan. Setiap hari, ia pun menantinya terbit.

Setelah bangun, ia mandi. Segera, ia memakai baju yang baru, supaya tampak sopan di hadapan sang sumber kehidupan. Ia pun menghadap Barat. Sabar menanti, ia terus berdiri, dan terus berharap. Lanjutkan membaca DUNGU

Hidup Seutuhnya

Complicity-Teresa-MeierOleh Reza A.A Wattimena

Hampir jam 8 malam. Hujan mendadak tiba. Dari pelan, secara perlahan, ia menjadi keras. Suara orang berteriak-teriak di rumah ibadah terdekat terdengar keras.

Beberapa teman berkumpul di depan rumah. Ada yang merokok. Ada yang membawa cemilan. Saya duduk dari dalam rumah, mengamati mereka. Lanjutkan membaca Hidup Seutuhnya

Seminar: Etika dan Moral di dalam Dunia Digital

Eposter_Kelas Filsafat Mei 1Eposter_Kelas Filsafat Mei 2
Masih dalam tema besar “Manusia dan Dunia Digital”, kelas filsafat pada putaran kedua ini membahas bagaimana pemikiran Kant, pemikiran kaum Stoa, pemikiran Karl Marx, hingga Buddhisme dapat memecahkan soal etika di dunia digital. Daftar sekarang melalui https://tiket.salihara.org/event/etika-moral-dan-dunia-digital/ 

Zen itu Seperti Kamar Kosong

jptkA1Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa teman bercerita. Mereka sudah belajar Zen. Mereka juga sudah aktif Yoga. Namun, derita dan kecewa tetap berkunjung, seolah tak ada yang berubah.

Akhirnya, mereka lelah. Ada perasaan putus asa muncul. Hidup memang penderitaan, begitu kata seorang teman. Ucapan serupa keluar dari mulut Gautama, Sang Buddha, lebih dari 2400 tahun yang lalu. Lanjutkan membaca Zen itu Seperti Kamar Kosong

Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono

Malam itu di warung tenda pinggir jalan, tidak begitu jauh dari Jalan Abu Bakar Ali, Yogyakarta, ia memesan kerang hijau, kerang mahkota, udang bakar, kepiting saos tiram, dan ikan bakar. Kami duduk bersila, beralas tikar, di atas trotoar. Di bawahnya adalah saluran air. Lalu lalang kendaraan bermotor sudah berkurang.

“Tidak pakai nasi. Mas, tambah cah kangkung. Sama sambalnya ditambah cabainya,” kata teman itu. Mulutnya melepaskan asap rokok ke udara yang agak dingin. Ia melemparkan bungkus rokok di meja saji yang rendah. Juga tas pinggangnya yang tampak berisi. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

61GWCuVqElL._AC_SX425_Oleh Reza A.A Wattimena

Jeanne Putri, keponakan perempuan yang paling besar, berkunjung ke rumah kemarin. Spontan, ia minta gendong. Namun, karena sudah besar, saya tidak bisa lagi melakukannya. Sekarang, tubuhnya sudah besar dan berat sekali.

Adiknya pun serupa. Walaupun, saya masih bisa menggendongnya. Si bayi yang dulu gendut sekali kini menjadi anak kecil yang langsing dan lucu. Betapa cepat waktu berlalu. Lanjutkan membaca Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…