Dzogchen: Mutiara dari Tibet untuk Dunia

Introducing the Natural State of Mind from the Bön Tradition of Dzogchen  (Great Perfection) - 9 Session Course — BCCPOleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di dunia yang sedang dicekam ketakutan. Keluarga dan kerabat terancam hidupnya oleh pandemik COVID 19. Berita kematian menggempur setiap harinya, juga dari saudara dan kerabat dekat. Setiap detik, hidup kita terasa seperti di ujung tanduk.

Di samping hidup sehat, kita juga perlu untuk tetap waras. Keduanya, sebenarnya, tak bisa dipisahkan. Waras berarti kita tetap bisa bernalar sehat, walaupun keadaan terus berubah. Kita bisa tetap tenang dan jernih di hadapan krisis yang terus menghantui. Lanjutkan membaca Dzogchen: Mutiara dari Tibet untuk Dunia

Meditasi: Apa, Mengapa dan Bagaimana?

9,149 Broom Sweep Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos from DreamstimeOleh Reza A.A Wattimena

Setiap harinya, puluhan email masuk ke saya. Sebagian bertanya tentang filsafat. Sebagian lagi bertanya soal Zen dan meditasi. Beberapa bisa saya jawab. Namun, tak semuanya bisa tersentuh.

Soal filsafat sudah sering saya bahas, baik di website, buku maupun seminar. Soal meditasi sebenarnya juga sudah. Namun, saya merasa perlu untuk membahas soal ini secara sistematik dan sederhana. Lahirlah tulisan ini. Lanjutkan membaca Meditasi: Apa, Mengapa dan Bagaimana?

Ketika Hidup Tak Sesuai Rencana

Relativity: Surreal Paintings of Indecision and Uncertainty by Alex Hall |  Surrealism painting, Art, Surreal artOleh Reza A.A Wattimena

            Tiga kisah nyata di seputar hidup saya. Seorang teman bersemangat berbisnis kuliner. Ia merancang sebuah café yang diharapkan akan menjadi populer. Semua rencana disiapkan. Pinjaman modal sudah didapatkan.

            Tanpa diduga, pandemik tiba. Semua batal. Hutang memang mendapat keringanan. Tetapi, ia tetap menjadi beban yang harus dibayar. Café batal. Pemasukan nol, bahkan minus. Lanjutkan membaca Ketika Hidup Tak Sesuai Rencana

SantuyZen

surreal surrealism night picsart myedit Image by Dirga
Dirga

Oleh Reza A.A Wattimena

Kelompok meditasi itu berkumpul setiap Jumat malam. Setelah pulang kerja, beberapa orang berkumpul, termasuk saya, dan duduk meditasi bersama.

Namun, nuansa ketenangan tak tampak. Yang tampak adalah ketegangan.

Meditasi menjadi semacam perlombaan. Siapa yang bisa duduk paling lama, dialah pemenangnya.

Si pemenang biasanya tertawa bangga. Ia merasa sudah tercerahkan, karena sudah bisa duduk lama, tanpa gerak. Lanjutkan membaca SantuyZen

Buku Terbaru: Mencari Ke Dalam, Zen dan Hidup yang Meditatif

Pemesanan bisa di 
Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

Atau di Toko Buku Terdekat

Pengantar

Zen merupakan jalan untuk memahami jati diri kita yang sebenarnya. Seringkali, kita mengira, bahwa jati diri kita terkait dengan nama, agama, ras, suku bangsa dan pekerjaan. Padahal, itu semua berubah, dan tidak bisa dipahami sebagai jati diri sejati kita sebagai manusia. Di dalam jalan Zen, pertanyaan terkait dengan jati diri sejati ini dijawab tidak menggunakan nalar, melainkan dengan menggunakan pengalaman „sebelum pikiran“, atau pengalaman langsung manusia dengan kenyataan sebagaimana adanya.

Zen mengajak orang bertanya, siapa diri mereka sebenarnya. „Siapakah aku?“ „Siapa ini yang sedang bertanya?“ Ketika orang bisa menyentuh sumber dari segala pertanyaan dan pikiran yang muncul, ia sedang berjumpa dengan jati diri sejatinya. Pada titik ini, tidak ada penderitaan, dan tidak ada kebahagiaan. Yang ada hanyalah kedamaian sejati yang tidak bergantung pada hal-hal lainnya, seperti uang, kekuasaan, nama baik atau kenikmatan badani. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Mencari Ke Dalam, Zen dan Hidup yang Meditatif

Zen Studio: Mencari Kejernihan Hidup di Kota

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, menjaga kejernihan jiwa adalah sebuah hal yang sangat penting.

Qotacorner mengajak qotalovers bergabung di Zen Studio untuk berlatih meditasi agar kita bisa tetap jernih hidup di kota.

Meditasi di Qotacorner Zen Studio akan dipandu oleh

Dr.phil. Reza A.A. Wattimena.

Setiap Sabtu pukul 10.00-11.30 mulai tanggal 4 Agustus 2018. di qotacorner. Jl. Cikatomas 2/22 Jakarta 12180

Tempat terbatas untuk 10 orang. Biaya pendaftaran IDR 150.000,-.

Daftarkan diri anda segera

#zen #meditasi #filsafat

Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Oleh Reza A.A Wattimena 

Pemesanan bisa di 
Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

Atau di Toko Buku Terdekat

Buku ini lahir dari penderitaan yang saya alami. Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam depresi. Secara singkat, depresi dapat dipahami sebagai kesedihan yang berkelanjutan, kerap kali tanpa alasan yang jelas, dan membuat orang tidak bisa menjalani kesehariannya dengan damai dan bahagia. Depresi ini mempengaruhi banyak unsur dalam hidup saya, mulai dari soal hubungan pribadi, sampai dengan hubungan profesional.

Saya kerap kali bertanya, apakah hidup memang seperti ini? Ketika keadaan tidak sesuai keinginan, penderitaan dan kekecewaan muncul. Saya juga menyaksikan, begitu banyak keluarga dan teman-teman saya terjebak pada soal yang sama. Mereka mencoba menemukan jalan keluar melalui agama ataupun konsultasi dengan profesional. Namun, jawaban atas permasalahan mereka tak kunjung tiba. Lanjutkan membaca Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Jake Baddeley

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Saya sedang membaca buku. Tiba-tiba, saya teringat, bahwa saya belum membayar tagihan listrik. Saya pun mengambil telepon seluler untuk mentransfer uang. Ternyata, banyak pesan di media sosial yang saya punya. Akhirnya, saya hanyut di dalam media sosial tersebut.

Ketika melihat sebuah foto di media sosial, saya teringat sebuah kejadian di masa lalu. Di dalam kejadian itu, saya bersama mantan kekasih saya. Kini, kami sudah berpisah. Saya pun bertanya-tanya tentang kabarnya.

Tiba-tiba, terdengar suara tukang nasi goreng lewat. Perut tiba-tiba terasa lapar, padahal saya sudah makan. Konsep nasi goreng kini memenuhi pikiran saya. Tapi tunggu dulu, saya kan sedang diet?!

Apakah anda pernah mengalami hal tersebut? Pikiran melompat dari satu hal ke hal lainnya, tanpa jarak dan tanpa sadar. Satu hal belum selesai, hal lain sudah berdatangan. Tenang saja, anda tak sendiri. Saya, dan milyaran orang lainnya, juga sering mengalaminya. Lanjutkan membaca Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Spiritualitas tanpa “Spiritualitas”

Zen-circle-symbolSpiritualitas sebagai Dialektika Transrasionalitas Zen Buddhisme dari Sudut Pandang Tiga Master Zen: Ma-Tsu, Lin-Chi dan Ikkyu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, Sedang di Jerman

Kita hidup di era krisis spiritualitas. Teknologi dan ekonomi berkembang maju, tetapi jiwa dan pikiran manusia justru semakin menderita. Mereka hidup terpisah dengan alam, dan akhirnya terasing dari alam itu sendiri, dan bahkan menghancurkan alam. Orang hidup dalam kelimpahan harta dan uang, namun hatinya penuh penderitaan, rasa takut dan rasa benci.1 Tak heran, tingkat bunuh diri, stress, depresi dan beragam penderitaan batin lainnya semakin meningkat. Banyak keluarga hancur di tengah jalan, karena rasa benci dan rasa takut yang menutupi pikiran. Pengguna narkoba pun semakin meningkat dan usianya semakin muda, persis untuk mengalihkan manusia dari penderitaan batin yang dirasakannya. Agama, yang dilihat sebagai dasar dari spiritualitas menuju hidup yang bermakna, pun kini terjebak pada fundamentalisme. Mereka mendewakan tradisi, ritual dan aturan, serta bersedia mengorbankan manusia. Bahkan, agama sering digunakan untuk pembenaran bagi tindakan-tindakan bejat dan kepentingan politik yang menutupi sejuta kemunafikan. Yang dibutuhkan oleh banyak orang sekarang ini adalah jenis spiritualitas yang baru, yang bisa memberikan makna bagi hidupnya, dan mengurangi penderitaan batinnya, guna menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Di dalam tulisan ini, saya akan menawarkan bentuk spiritualitas yang baru. Ia berpijak pada tradisi Zen Buddhisme yang berkembang di India, Cina dan Jepang. Saya akan belajar langsung dari riwayat hidup dan pemikiran-pemikiran tiga guru Zen yang amat berpengaruh di dalam tradisi perkembangan Zen, yakni Ma-tsu, Lin-chi dan Ikkyu. Sebagai acuan, saya memilih menggunakan buku Thomas Hoover dan Alan Watts.2 Keduanya adalah penulis dari Amerika Serikat. Mereka membaca dan menafsirkan Zen untuk orang-orang yang terbiasa dengan pola pendidikan Barat. Tulisan-tulisan asli para guru Zen seringkali begitu tenggelam pada konteks budaya mereka masing-masing, sehingga kurang bisa dimengerti oleh orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Pada akhirnya, spiritualitas Zen adalah sebuah praksis hidup. Ia bukan cuma teori untuk menjelaskan dunia dan manusia. Ia adalah praksis hidup yang harus dijalankan, supaya manfaatnya sungguh terasa. Lanjutkan membaca Spiritualitas tanpa “Spiritualitas”