Tubuh, Pikiran dan Kehidupan

Ryohei Hase

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta 

Apa teknologi yang paling canggih di muka bumi ini? Sebagian orang akan bilang, pesawatlah teknologi tercanggih di dunia ini, apalagi pesawat luar angkasa. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, ada satu teknologi lagi yang lebih canggih dari pesawat luar angkasa. Jawabannya mungkin tak terduga, yakni tubuh manusia.

Tubuh, Pikiran dan Emosi

Tubuh manusia memiliki beragam mekanisme yang amat kompleks. Sistem pencernaan berjalan harmonis dengan sistem pernafasan, sekaligus sistem saraf. Semuanya saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Tubuh manusia juga mampu secara alami mengubah semua jenis makanan menjadi bagian dari dirinya.

Setiap orang lahir ke dunia dengan tubuhnya. Martin Heidegger, pemikir Jerman, menyebut ini sebagai fakta keterlemparan manusia ke dalam dunia. Orang tidak bisa memilih tubuh ataupun lingkungan sosial macam apa yang ia miliki. Semua ini yang nantinya akan membentuk cara berpikir maupun pola perilaku seseorang, termasuk bentuk tubuhnya.

Tubuh manusia memang selalu menjadi tema pemikiran menarik di sejarah perkembangan pemikiran manusia. Sebagian pemikir berpendapat, bahwa tubuh adalah penghalang manusia untuk mencapai kebenaran yang sejati. Tubuh, dengan segala kebutuhannya yang harus dipenuhi, menghalangi manusia untuk mencapai kesejatian. Namun, sebagian pemikir berpendapat, seperti Merleau-Ponty, pemikir Prancis, bahwa tubuh justru merupakan alat manusia untuk mendunia.

Di dalam tradisi pemikiran Timur, terutama tradisi Yoga dari India, tubuh justru dilihat sebagai alat utama untuk mencapai pencerahan. Tubuh manusia memiliki mekanisme yang amat rumit dan canggih. Jika orang bisa memahaminya, maka tubuh bisa menjadi alat bantu yang sangat baik untuk mencapai kesehatan badan dan pencerahan pikiran. Ini bisa dilakukan, jika manusia mampu memahami tubuhnya sendiri.

Jadi, apa itu tubuh? Tubuh adalah kumpulan dari semua hal yang kita makan sepanjang hidup kita. Tubuh juga merupakan kumpulan dari semua turunan genetika yang didapatkan seseorang dari keluarganya. Tak berlebihan jika dikatakan, jika kamu ingin melihat wajah nenek moyangmu, silahkan bercermin.

Dengan demikian, tubuh yang kita miliki adalah bentukan lingkungan sosial maupun biologis kita. Apa yang kita makan menentukan bentuk tubuh kita. Namun, satu hal yang perlu disadari. Walaupun tubuh ini merupakan milik kita, namun itu bukanlah kita. Jati diri kita yang sesungguhnya lebih dari sekedar tubuh yang kita miliki.

Unsur penting lain manusia adalah pikiran. Dengan adanya tubuh, kita lalu mampu berpikir, dan juga mempunyai emosi. Namun, apa itu pikiran dan emosi? Sama seperti tubuh, pikiran juga merupakan hasil dari lingkungan sosial kita. Isi dari pikiran adalah segala konsep, ajaran maupun pandangan hidup yang diajarkan oleh lingkungan sosial kita.

Emosi adalah unsur pikiran yang mengental, sehingga mempengaruhi reaksi tubuh. Emosi juga merupakan bentukan sosial. Kita membenci atau menyukai sesuatu, juga karena ajaran masyarakat kita. Sama seperti tubuh, pikiran maupun emosi adalah milik kita, namun bukanlah jati diri kita yang sebenarnya.

Kehidupan

Tubuh merupakan kumpulan makanan maupun warisan genetika keluarga kita. Pikiran dan emosi pun juga merupakan hasil bentuk masyarakat yang berisi ajaran, nilai-nilai dan pandangan hidup. Keduanya merupakan sesuatu yang kita miliki, namun bukanlah diri kita yang sebenarnya. Jika tubuh dan pikiran bukanlah kita, lalu apa jati diri kita yang sebenarnya?

Kita yang sebenarnya adalah “kehidupan” itu sendiri. Kehidupan yang berada di belakang segala bentuk pikiran yang kita miliki. Kehidupan yang memungkinkan tubuh kita menjalankan berbagai proses alamiah yang rumit, seperti mencerna makan dan memproses informasi tentang dunia luar. Kehidupan ini bisa disebut juga sebagai keawasan (awareness).

Di dalam pemikiran Jerman, keawasan ini disebut juga sebagai transzendentale Einheit der Apperzeption. Ini lebih tinggi dari sekedar kecerdasan dasar manusia. Ia berfungsi seperti cermin yang memantulkan segala sesuatu. Ia juga menjadi ruang tempat segala konsep maupun emosi terbentuk.

Di dalam tradisi pemikiran India, “kehidupan” ini disebut juga sebagai Chitta. Ia memungkinkan lahirnya ingatan dan kemampuan berpikir konseptual. Namun, ingatan dan kemampuan berpikir konseptual ini tidak mempengaruhinya secara langsung. Jika orang bisa menyadari adanya “kehidupan” ini di dalam dirinya, maka perubahan tubuh, pikiran dan emosi tidak akan mempengaruhinya.

Sayangnya, banyak orang mengira, bahwa diri mereka adalah tubuh mereka. Mereka pun semata-mata hidup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Mereka menjadi rakus harta dan nama besar. Bahkan, mereka rela mengorbankan orang lain, demi pemenuhan kebutuhan tubuh mereka.

Banyak juga orang mengira, bahwa pikiran maupun emosi mereka adalah diri mereka sendiri. Ketika pikiran mereka kacau, mereka lalu jadi ikut menderita. Ketika emosi mereka menekan, mereka juga jatuh ke dalam depresi. Pikiran dan emosi yang naik turun bisa amat menyiksa batin seseorang.

Inilah kesalahpahaman mendasar dalam hidup manusia. Hidup kita akan kacau, jika kita menyamakan diri kita dengan tubuh, pikiran maupun emosi yang ada. Kita akan menjadi rakus akan harta dan nama besar. Kita juga akan sering jatuh ke dalam penderitaan batin yang amat berat.

Tubuh perlu kita rawat. Namun, kita tetap perlu memiliki jarak dengan tubuh kita. Tubuh akan terus melemah, dan akhirnya berakhir dengan kematian. Pikiran juga perlu kita rawat. Namun, jarak juga amat diperlukan. Pikiran dan emosi seringkali berubah naik turun, sehingga menciptakan depresi dalam hidup kita.

Tak berlebihan, jika Nietzsche, pemikir Jerman, berteriak dengan lantang: Ja-Sagen, berkata YA pada kehidupan dengan segala kerumitannya….. Ja-Sagen!!!!

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

14 thoughts on “Tubuh, Pikiran dan Kehidupan”

  1. selamat siang saudara wattimena, sudah lama saya mengikuti karya 2 yang tertulis di sini. ingin saya ikut berdiskusi. baru sekarang saya coba2 berkontakt, sebab “pfad” nya lewat wordpress untuk saya gitu rumit.
    karya2 yang saya baca menimbulkan banya impulse. pertama2 saya begitu heran di indonesia ada website ke bidang spirituell, dan benar2 di bahas. saya tinggal di jerman. thema zen ada di benak sejak 30 tahun yg lalu, sedikit demi sedikit dan dengan minat besar dapat memulai, mit begeisterung.( sazen sejak 2004, sesshin beberapa kali setahun )…linie soto/ rinzai, seperti umum nya disini dari sekolah sanbo (sanbo kyodan)….linie pater lassalle, willigis jäger (benedictushof holzkirchen), sekarang saya ikut sesshin doris zölls tiap tahun (sonnenhof), dengan rekan2 dari ” gemeinschaft der stille” (köln/bonn). beberapa vortrag doris zölls bisa di lihat di youtube.
    salam kenal dari köln.
    gaby

    Suka

      1. maaf, baru baca hari ini. saya begitu senang dapat tanggapan dari bapak. kita bisa berdiskusi di sini. website “eisenbuch” juga menarik untuk di baca. sudah 2x saya kesana, sangat berkesan untuk saya doa sebelum makan (bisa di kutip di register “ernährung”) dan cara memasak, yang permulaan untuk saya begitu aneh, tapi dengan melepaskan semua bayangan ttg bentuk makan , malah badan saya setelah 1-2 hari begitu menerima jenis cara makan tsb, sangat menginspirasi saya utk berkreasi lanjut.

        Suka

  2. Sesungguhnya tidak ada “Aku” yang sejati di dalam diri ini ; tak ada inti diri. Sang Buddha menyebutnya sebagai Anatta.

    Aku, hanyalah konsep bentukan pikiran yang tercipta dari ilusi “ke-Aku-an” yang tergambar di dalam benak sepanjang keberlangsungan fenomena kehidupan saat demi saat.

    Segala bagian tubuh kita bukanlah diri kita yang sejati.
    Segala bagian jiwa kita bukanlah diri kita yang sejati.
    Kehidupan kita juga bukanlah diri kita yang sejati.
    Bahkan kesadaran kita sendiri, bukanlah diri kita yang sejati.
    Kenyataan bahwa kita bisa memikirkan dan menyadari keempat hal tersebut, memisahkan diri kita dari keempat hal tersebut.

    Yang kita sebut sebagai Aku, Saya, atau Diri, sebenarnya hanyalah koordinasi dari keseluruhan komponen – komponen jiwa dan raga kita, beserta dinamikanya.
    Kita adalah serangkaian sistem biologis dan mental yang saling bekerja sama dan berproses secara bersama – sama pula.
    Aku, Saya, atau Diri, hanyalah semata – mata konsep pikiran berdasarkan fungsi praktisnya untuk menyebut keseluruhan bagian dari diri kita.

    Hal ini akan dapat kita mengerti dengan sebuah praktek meditatif ; menyadari secara utuh apa pun yang sedang berlangsung dalam diri kita, fenomena apa pun, dan menyadarinya secara jernih tanpa membentuk konsep atau pemikiran apa pun tentang semua fenomena dan stimulus yang kita alami. Maka pencerahan akan hal ini akan di dapat.

    Shadu… Shadu… Shadu… _/\_

    Artikel – artikel bapak akan saya ikuti terus !
    Good Job !

    Suka

    1. saudara sultan yang terhormat, ulasan saya baca dengan perhatian. memang jitu pandangan tsb. bahkan untuk saya “seluruh alam semesta (dunia/kehidupan) ada dalam hidup kita. contoh (maksud saya): jari tangan kita bukanlah milik kita, tapi milik bersama. unsur guru sd melekat di jari anda dsb dsb dsb. sehingga untuk menyadari bahwa kita juga berkaitan dengan alam semesta dan semua ada nya benar benar “dahsyat”. perkataan lain untuk saya tidak ada.
      sangat menolong sajak dr “dayo kokushi ttg zen”.
      gasho !!

      Suka

  3. Ulasan yang fantastic menjadi sebuah gerbang pencerahan. Berkiblat ke sejarah Indonesia yang kadang manipulatif, apakah ini semacam cara untuk memperebutkan kepentingan pak? ataukah bagian dari ciri khas sejarah kolektif?. Mohon percerahannya..

    Suka

    1. saudara sarman yang terhormat,
      menurut saya , pandangan dan tujuan karya2 pak wattimena bukan ke arah yang saudara maksud.
      karya2 yang tertulis untuk menggugah “jalan pikiran kritis kita”, yang sudah begitu ruwet. keruwetan yang pertama2 di coba pak wattimena utk di lepas kan. menurut saya, semua hanya “permulaan” dulu. utk benar2 dapat mengerti inti nya ada baik nya membaca nya dengan cara lain. (banya hal2 dalam kehidupan yang tidak bisa di utara kan dengan bahasa/kata2 apapun, selain di alami sendiri. untuk ini ada “jalur” sendiri.
      salam .

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s