Sebelum Pertanyaan

designingsound.org
designingsound.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman

Kita sering bertanya dalam hati, darimana kita berasal? Apakah Tuhan yang menciptakan kita? Ataukah, sebelumnya kita tinggal di suatu tempat, lalu kemudian masuk ke rahim ibu kita, dan kemudian lahir di dunia ini? Setiap orang, minimal sekali dalam hidupnya, pasti pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Kita juga sering bertanya, apa tujuan hidup ini? Apa makna dari segala apa yang saya alami dan lakukan setiap harinya? Adakah makna sesungguhnya? Di tengah kesibukan kita bekerja dan belajar setiap harinya, pertanyaan-pertanyaan ini merindu untuk dijawab di dalam batin kita.

Kita juga seringkali mengalami masalah dan tantangan di dalam hidup kita. Di dalam batin, kita ingin keluar dari masalah tersebut. Kita ingin hidup bahagia. Akan tetapi, bagaimana caranya? Mungkinkah kita mencapai kebahagiaan?

Masalah dan tantangan tersebut juga seringkali membuat kita cemas. Kita lalu berpikir, jika keadaan begini terus, lalu bagaimana dengan masa depan? Masalah dan tantangan juga sering membuat kita cemas atas masa depan orang-orang yang kita sayangi. Kecemasan tersebut lalu juga sering menghantui pikiran kita, sehingga kita merasa lelah, baik secara fisik maupun batin.

Kita juga banyak melihat orang-orang sekitar kita sakit. Kita pun mungkin juga sedang sakit saat ini. Ketika sakit itu semakin berat, wajar jika kita bertanya, apa yang terjadi ya, setelah kematian? Adakah surga, atau neraka, atau sesuatu, setelah kita mati?

Semua pertanyaan ini menggiring kita pada satu pertanyaan mendasar, adakah tuhan yang menjadi tuan atas hidup kita? Apakah semua ini sudah ada yang mengatur? Apakah kita berasal dan akan kembali kepada tuhan nantinya? Ataukah, seperti di dalam tradisi Hindu, ada banyak Dewa yang akan mempengaruhi kehidupan dan kematian kita? Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari kita, yang menata semuanya?

Pikiran dan Bahasa

Inilah pertanyaan-pertanyaan abadi manusia. Hampir setiap orang dari setiap jaman dan peradaban menanyakannya. Agama A bilang A. Agama B bilang B. Aliran filsafat A menjawab A. Begitu pula aliran filsafat B. Semua memberikan jawaban, tetapi semua tetap tidak meyakinkan. Kita pun lalu terombang ambing dalam kebingungan dan ketidakpastian.

Saya ingin mengajak anda memikirkan, apa yang ada di balik semua pertanyaan tersebut. Apa yang membuat kita, sebagai manusia, bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut? Hewan dan tumbuhan, kemungkinan besar, tidak akan pernah menanyakan hal-hal ini. Dua hal kiranya muncul di kepala, yakni pikiran dan bahasa.

Ketika kita berpikir, pertanyaan muncul. Ia lalu dirumuskan di dalam bentuk bahasa. Bahasa dan pikiran adalah bahan mentah untuk melahirkan semua bentuk pertanyaan. Kita pun lalu berusaha memberikan jawaban, juga dengan menggunakan bahasa dan pikiran.

Di dalam bukunya yang berjudul Tractatus Logico Philosophicus, Ludwig Wittgenstein, filsuf asal Austria, mengajukan sebuah argumen, bahwa filsafat lahir dari kesalahan penggunaan bahasa. Jadi, masalah filsafat, sejatinya, adalah masalah bahasa. (Wittgenstein, 2001) Jika dirumuskan secara lugas, pertanyaan-pertanyaan di dalam filsafat lahir, karena para filsuf salah dalam menggunakan bahasa. Jika bahasa digunakan secara tepat, maka seluruh pertanyaan filosofis akan lenyap dalam sekejap mata.

Pertanyaan-pertanyaan yang kita diajukan sebelumnya juga dapat dilihat sebagai pertanyaan-pertanyaan filosofis. Semua akan lenyap, atau setidaknya berubah, menurut Wittgenstein, jika kita menggunakan bahasa yang kita punya dengan cara yang berbeda. Argumen ini melahirkan satu aliran filsafat yang berpengaruh pada awal abad 20 di Eropa, yakni positivisme logis. (Wattimena, 2008) Aliran ini mencoba menghapus berbagai konsep abstrak di dalam filsafat, supaya tidak melahirkan kebingungan.

Wittgenstein dan positivisme logis mencoba “menata” bahasa. Harapannya, dengan menata bahasa, pikiran pun bisa ditata. Namun, saya ingin mendorong argumen ini lebih jauh lagi, bahwa pikiran hanya bisa ditata, jika kita mampu menghentikannya. Jika bahasa dan pikiran dihentikan, maka semua pertanyaan itu juga hilang.

Jika pertanyaan-pertanyaan itu hilang, maka emosi yang lahir dari pertanyaan itu pun juga hilang. Segala ketakutan dan kecemasan yang lahir dari pikiran yang menghasilkan emosi pun juga otomatis hilang. Jawaban pun tidak lagi dibutuhkan. Akar dari segala pertanyaan diputus, ketika pikiran dihentikan.

Banyak orang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup mereka dengan merumuskan konsep-konsep baru. Artinya, mereka menambah pikiran dan bahasa baru di dalam kepala mereka. Namun, semua pertanyaan tetap tak terjawab. Setiap jawaban akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tiada habisnya.

Pertanyaan-pertanyaan baru akan memicu perasaan-perasaan baru yang sebelumnya mungkin tak ada. Alan Watts, tokoh filsafat timur di AS pada dekade 1960-an, menegaskan, bahwa suatu masalah tidak mungkin bisa dipecahkan dengan cara berpikir yang sama, yang sebelumnya melahirkan masalah tersebut. (Watts, 1995) Artinya, pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari pikiran dan bahasa tidak akan bisa dijawab oleh jawaban-jawaban yang juga lahir dari pikiran dan bahasa tersebut. Ini bagaikan berputar-putar tiada arti, seperti diskusi-diskusi di dalam kongres-kongres ilmiah di Eropa.

Ini juga bagaikan anjing yang mencoba mengejar ekornya sendiri. Analogi lainnya adalah seperti mata mencoba melihat dirinya sendiri. Usaha yang tidak akan pernah berhasil. Ini hanya menghasilkan kebingungan, ketegangan, ketakutan dan penderitaan pikiran lebih jauh.

Ranah Sebelum Pikiran

Pikiran berhenti. Bahasa berhenti. Pertanyaan berhenti. Jawaban tak lagi diperlukan. Semua perasaan dan emosi berhenti.

Pikiran dihentikan, dan bukan dihilangkan. Kita masih membutuhkan pikiran dalam hidup sehari-hari. Namun, kita tak perlu setiap saat berpikir. Ketika kita tak menggunakannya, kita bisa menghentikannya. Kita pun otomatis melenyapkan semua pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan dan membingungkan.

Mungkinkan ini dilakukan? Mungkinkah kita menghentikan pikiran dan bahasa, walaupun hanya sesaat? Jawabannya mudah, yakni Ya! Para filsuf dan mistikus di dalam sejarah manusia telah melakukannya.

Para filsuf romantik Jerman menyebutnya sebagai ranah intuisi, yakni ranah sebelum pikiran. Kant mendefinsikan intuisi sebagai pengalaman langsung atas kenyataan yang ada. (Wattimena, 2010) Ia tidak memerlukan konsep atau bahasa. Ia tidak memiliki definisi yang bisa dijelaskan secara sistematik kepada orang lain.

Di dalam ranah intuisi, pikiran tidak muncul. Bahasa tidak muncul. Keduanya baru datang kemudian. Keduanya hanya diperlukan untuk melakukan sistematisasi atas pengalaman manusia. Ini juga berarti penyepitan pengalaman manusia ke dalam bahasa. Bahasa dan pikiran tidak pernah bisa menjelaskan pengalaman manusia seutuhnya.

Pertanyaan pun tidak muncul. Emosi yang muncul dari pertanyaan tidak muncul. Ketakutan dan kecemasan akan masa depan dan akan kematian lenyap seketika. Jawaban pun tidak lagi dibutuhkan.

Ranah sebelum pikiran ini juga dijabarkan dengan panjang lebar di dalam tradisi mistik agama-agama monoteis (Yahudi, Kristen dan Islam). Meister Eckhart, mistik Kristen Jerman abad pertengahan, menyebutnya sebagai pengalaman kesatuan dengan Kristus. Santo Yohannes Salib dan Santa Theresia Avila pun juga menjelaskan hal yang sama, yakni meleburnya individualitas dengan Tuhan yang merupakan pencipta dari segala yang ada. (Lasalle,1996) Penjelasan yang sama juga dipaparkan oleh para mistikus Islam di dalam tradisi Sufisme, seperti Jallaludin Rumi. (Chittick, 2005)

Seorang mistikus di dalam tradisi Hindu, yakni Sri Ramana Maharshi, menyebutnya sebagai kesatuan dengan “Diri” (The Self). Baginya, satu-satunya yang ada di dalam kenyataan ini adalah “Diri”. Ia ada sebelum segala kenyataan yang bersifat sementara. Orang harus kembali kepada Diri ini, jika ia mau mencapai pengetahuan tertinggi. (Goodman, 1985)

Tradisi Zen Buddhis mungkin adalah tradisi yang paling langsung menyentuh ranah sebelum pikiran ini. Mereka menyebutnya sebagai “kekosongan mutlak” (Sunyata). Di dalam beberapa tradisi Zen di Jepang dan Korea, mereka menolak untuk menyebutnya. Mereka hanya memukul meja, dan membiarkan suara pukulan tersebut menggema ke seluruh ruangan. (Hyon Gak, 2012)

Seorang penulis asal Jerman, Hinnerk Polenski, menulis buku dengan judul Hör auf zu denken, sei einfach Glücklich!. Buku ini mencoba menjelaskan ranah sebelum pikiran ini sebagai kunci untuk mencapai kebahagiaan yang sejati. Ranah sebelum pikiran ini disebutnya sebagai momen cinta (Moment der Liebe), momen ada (Seinsmoment), dan esensi murni (das reine Wesen). Ketika orang menyentuh ranah ini, dalam sekejap mata, kedamaian batin yang sejati muncul di dalam hatinya. (Polenski, 2012)

Ketika pikiran dan bahasa berhenti, kita otomatis memasuki ranah sebelum pikiran, yakni ranah sebelum pertanyaan. Keadaan batin ini sejatinya tidak memiliki nama. Ia hanya “ada”. Di dalam keadaan ini, kita akan menemukan ketenangan batin yang sejati.

Kita akan menyentuh kenyataan secara langsung. Kita akan mengalami kenyataan secara langsung. Kita akan menyadari apa adanya dari segala sesuatu disini dan saat ini. Kita tidak dibebani berbagai pikiran dan pertanyaan yang menggelisahkan. (Tolle, 2012)

Pada titik itu, kita mengalami cinta yang sejati. Kita tidak lagi mencintai, melainkan menjadi cinta itu sendiri. Kita tergerak untuk membagikan kedamaian yang kita rasakan secara mendalam di dalam batin. Inilah, pada hemat saya, inti terdalam sekaligus pencapaian tertinggi dari segala bentuk ajaran moral dan spiritualitas yang ada di muka bumi ini.

Pikiran lalu bisa muncul dengan berpijak pada kejernihan batin. Pikiran lalu menjadi jernih. Ia bisa digunakan dengan baik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Ia tidak bergerak dengan prasangka dan kebencian, melainkan dengan kejernihan.

Dampak Politis

Indonesia jelas membutuhkan perubahan politik. Untuk itu, kita, sebagai warga negara, punya hak dan tanggung jawab untuk ambil bagian di dalam politik. Kita bisa bekerja atau mencalonkan diri untuk duduk di pemerintahan. Kita juga bisa aktif ambil bagian secara tidak langsung, guna mencari jawaban dari berbagai permasalahan sosial yang terjadi.

Inilah yang saya sebut sebagai aktivisme politik. Orang yang aktif mempertahankan dan menuntut hak-hak sahnya sebagai manusia dan warga negara dapat disebut sebagai aktivis. Namun, aktivisme politik, sebagaimana kita pahami sekarang ini, terbukti tidak cukup untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Segala perjuangan sosial, mulai dari perwujudan hak-hak asasi manusia sampai dengan upaya melestarikan lingkungan, seperti berhenti di tengah jalan, atau malah mundur ke belakang.

Aktivisme politik sekarang ini hanya menggunakan satu pendekatan, yakni pendekatan makro. Artinya, perubahan politik ingin dicapai dengan mengubah atau memunculkan undang-undang baru. Berbagai lembaga dan gerakan sosial didirikan, guna mengajukan tuntutan kepada pemerintah. Pendekatan makro semacam ini jelas amat penting. Namun, pada dirinya sendiri, ia tidaklah cukup.

Pendekatan ini juga berpijak pada cara berpikir kawan-lawan. Artinya, kami adalah pejuang, sementara pemerintah adalah lawannya. Cara berpikir ini disebut juga sebagai cara berpikir antagonistik. Ia memisah dunia ke dalam dua kubu, yakni kawan-lawan, benar-salah, jujur-bohong, dan sebagainya.

Cara pandang kawan-lawan menciptakan ketegangan batin di dalam diri orang. Tegangan ini lalu melebar menjadi tegangan antar manusia. Ketegangan melahirkan rasa takut, dan rasa takut lalu mendorong rasa benci serta kekerasan. Aktivisme politik yang berpijak pada tegangan, rasa takut, kebencian dan kekerasan tidak akan pernah berhasil mencapai tujuannya.

Pendekatan makro yang berpijak pada cara berpikir kawan-lawan jelas tidak akan pernah membawa perubahan politik yang bermakna. Apapun bentuk organisasinya, jika orang-orang yang didalamnya suka berbohong dan korupsi, maka organisasi itu pun akan hancur. Pendekatan makro mengabaikan fondasi dari segala bentuk gerakan sosial, yakni cara berpikir dari para pelaku gerakan-gerakan sosial tersebut. Organisasi yang hanya mengandalkan cara pandang kawan-lawan dan kemampuan managerial organisasional tidak akan pernah berhasil mencapai tujuannya.

Pendekatan mikro, dengan demikian, juga harus melengkapi pendekatan makro yang sekarang ini sudah ada. Pendekatan mikro berfokus pada perubahan mendasar cara berpikir orang-orang yang terlibat di dalam politik maupun gerakan sosial. Organisasi yang rasional adalah buah dari pikiran. Cara pandang kawan-lawan juga adalah buah dari pikiran.

Keduanya tidaklah mencukupi. Orang harus bergerak sebelum pikiran, mengalami perubahan batin yang mendasar, sebelum ia terlibat di dalam aktivisme politik. Ini menjamin kejernihan berpikir dari orang-orang yang terlibat di dalam aktivisme politik. Pendekatan mikro berjalan searah dengan pendekatan makro.

Kemungkinan untuk berhasil pun semakin besar. Kita bisa mendirikan sejuta KPK di Indonesia. Namun, selama manusia-manusianya masih menggunakan pola pikir lama, yakni cara pikir kawan lawan dan korup, maka sejuta KPK ini tidak akan bisa membasmi korupsi di Indonesia. Sebaliknya, ia mungkin justru menjadi sumber korupsi yang baru. Pendekatan makro tidak akan pernah berhasil, tanpa pendekatan mikro.

Negara paripurna yang berpijak pada Pancasila, sebagaimana dijelaskan oleh Yudi Latif, (Latif, 2011) hanya bisa terwujud, jika orang-orang Indonesia sudah menjadi manusia paripurna. Manusia paripurna hanya bisa terwujud, jika kita berani memutus segala bentuk pikiran, dan masuk ke ranah sebelum pikiran. Di titik ini, orang akan menemukan pencerahan batin yang sesungguhnya. Ini lalu menjadi dasar untuk aktivisme politik yang bergerak menuju terciptanya negara paripurna.

Perbaikan politik tidak cukup hanya dengan memperbaiki kinerja institusi. Manusia-manusia yang menggerakan institusi tersebut harus terlebih dahulu mengalami pencerahan batin. Artinya, ia menyadari dimensi “sebelum pikiran” dari keberadaan dirinya dalam hubungan dengan alam, Tuhan dan semua manusia lainnya. Baru setelah itu, perbaikan politik yang sesungguhnya bisa terjadi.

Daftar Pustaka

Chittick, William, The Sufi Doctrine of Rumi, World Wisdom, China, 2005.

Gak, Hyon, Wanting Enlightenment is a Big Mistake, Shambala, Boston, 2012.

Goodman, David (Ed), Be as You Are, Arkana, London, 1985.

Latif, Yudi, Negara Paripurna, Gramedia, Jakarta, 2011.

Lasalle-Enomiya, Hugo, M., Zen und Christliche Mystik, Aurum, München, 1996.

Polenski, Hinnerk, Hör auf zu denken, sei einfach Glücklich!, Q.W. Barth, 2012.

Tolle, Eckhart, Jetzt! Die Kraft der Gegenwart: Ein Leitfaden zum spirituellen Erwachen, Kamphausen Verlag, 2012.

Wattimena, Reza A.A., Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar, Grasindo, Jakarta, 2008.

—————————–, Filsafat Kritis Immanuel Kant, Evolitera, Jakarta, 2010.

Watts, Alan, Philosophies of Asia, Edited Transcripts, 1995.

Wittgenstein, Ludwig, Tractatus Logico Philosophicus, Routledge, London, 2001.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

12 tanggapan untuk “Sebelum Pertanyaan”

  1. Dua hari sebelum saya menuliskan komentar ini, saya telah mencoba melakukan apa yang disarankan dalam tulisan Bapak: berada pada sebelum pikiran dan pertanyaan muncul. Benar sekali, berbagai pikiran yang menimbulkan keresahan dan pertanyaan-pertanyaan misterius (yang tidak dapat saya temukan jawabannya secara pasti) yang selama ini ada tiba-tiba saja efek emosionalnya lenyap dan memunculkan ketenangan dalam diri saya. Mungkin dari ketenangan itulah, diyakini dapat menjadi dasar kejernihan berpikir untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Namun saya belum mencapai tahap itu. Ketenangan yang saya dapatkan tidak saya pergunakan untuk memikirkan kembali keresahan-keresahan saya. Dari situ, ada beberapa hal yang ingin saya ajukan menanggapi tulisan Bapak.

    Pertama, dalam praktek saya, ketika saya ingin menuju pada titik “sebelum pertanyaan” dan juga pikiran dan membahasakan pikiran saya; titik dimana saya menghentikan pikiran saya, saya menjumpai bahwa sebenarnya saya berpikir saya sedang menghentikan pikiran saya . Saya berpikir saya berada sebelum pikiran muncul. Dengan demikian, ketenangan yang muncul adalah karena menghilangnya keresahan-keresahan secara emosional dalam pikiran saya (termasuk pertanyaan-pertanyaan tak terjawab), dan ketenangan itu masih berada dalam pikiran saya (atau dihasilkan oleh pikiran saya?).

    Tanggapan pertama ini seketika mengingatkan saya pada pepatah yang dulu pernah saya dapatkan dari sebuah bacaan yang kurang lebih bunyinya begini: “Ketika saya berpikir bahwa otak saya tertidur, maka otak saya tertidur”. Lyotard juga pernah membahas tentang pikiran. Dalam bukunya yang berjudul “ Ziarah Posmodernisme: Hukum, Kondisi, Peristiwa ”, ia mengatakan bahwa pikiran adalah awan. Batasnya sulit ditentukan dan tak pernah berhenti mengubah lokasinya. “Ketika Anda merasa telah menembus keakrabannya dan menganalisis sesuatu yang kemudian disebut struktur atau silsilah atau bahkan berakhirnya struktur, sebenarnya terlambat atau terlalu dini”, tulisnya. Uniknya, Lyotard juga mengutip Wittgenstein mengenai pikiran dan permainan bahasa, tetapi Lyotard berpendapat bahwa pikiran bukanlah milik kita. Ia menuliskan, “pikiran bukanlah buah yang ada di bumi.” Frase (bahasa) membiarkan dirinya sendiri didistribusikan ke dalam keluarga.

    Meskipun pada bagian ini Lyotard sepertinya bernada mistis, tapi dapat kita tangkap deskripsinya mengenai sulitnya kita mengenali pada batas mana pikiran berawal dan dimana ia akan berakhir. Ketika saya berusaha untuk berada pada “sebelum pikiran”, kenyataannya saya sedang berpikir bahwa saya telah berada pada sebelum pikiran saya muncul.

    Kedua, muncul keberatan dibalik ketenangan yang saya rasakan. Persoalan yang dimunculkan dalam awal tulisan ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menghantui semua (atau setidaknya sebagian umat manusia termasuk saya) seperti: Mungkinkah saya mencapai kebahagiaan yang saya inginkan? Apa yang akan terjadi setelah kematian? Bagaimanakah Tuhan itu? (dan apakah Ia memang benar ada?) Bisa saya katakan bahwa apa yang disampaikan dalam tulisan ini mengajak kita untuk melampaui esensi dari kemunculan pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga mencegah agar tidak terjebak dalam jawaban yang jatuh pada nada-nada kerohanian atau moralis.

    Menyetujui bahwa selalu ada kecacatan dalam membahasakan pikiran sehingga posisi bahasa dan pikiran itu sendiri perlu dijernihkan; dan solusinya (atau setidaknya usulannya) adalah dengan berada pada “sebelum pikiran” atau menghentikan pikiran. Pada tahap ini, menghentikan pikiran atau berhenti memikirkan masalah, akan menemui kemiripannya dengan “melupakan permasalahan”. Sama-sama bukan menghapus pikiran, sama-sama dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Dalam menghadapi permasalahan, keresahan-keresahan dan tantangan dalam hidupnya, orang juga biasa melakukan “melupakan permasalahan” dengan pergi bersenang-senang. Pada contoh yang cukup ekstrim, misalnya memilih kenikmatan ekstasi atau menikmati hiburan malam sebagai alternatif melupakan permasalahan (pikiran dan pertanyaannya). Pada kemiripan keduanya, tentu dapat diajukan juga perbedaannya. Barangkali yang paling cepat teridentifikasi adalah secara moral melupakan masalah yang demikian caranya tidak dibenarkan. Atau jika dipandang dari sisi utilitas, menghentikan pikiran untuk kejernihan memahami suatu persoalan lebih bermanfaat daripada melupakan persoalan dengan kesenangan-kesenangan duniawi yang merusak. Namun bagaimana perbedaan substansial yang dapat kita ajukan agar tidak terjebak pada kedangkalan seruan moralis maupun sekedar memeriksa kegunaannya secara pragmatis? Atau memang tidak ada perbedaan di antara keduanya?
    Terimakasih.

    Suka

  2. Dua hari sebelum saya menuliskan komentar ini, saya telah mencoba melakukan apa yang disarankan dalam tulisan Bapak: berada pada sebelum pikiran dan pertanyaan muncul. Benar sekali, berbagai pikiran yang menimbulkan keresahan dan pertanyaan-pertanyaan misterius (yang tidak dapat saya temukan jawabannya secara pasti) yang selama ini ada tiba-tiba saja efek emosionalnya lenyap dan memunculkan ketenangan dalam diri saya. Mungkin dari ketenangan itulah, diyakini dapat menjadi dasar kejernihan berpikir untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Namun saya belum mencapai tahap itu. Ketenangan yang saya dapatkan tidak saya pergunakan untuk memikirkan kembali keresahan-keresahan saya. Dari situ, ada beberapa hal yang ingin saya ajukan menanggapi tulisan Bapak.

    Pertama, dalam praktek saya, ketika saya ingin menuju pada titik “sebelum pertanyaan” dan juga pikiran dan membahasakan pikiran saya; titik dimana saya menghentikan pikiran saya, saya menjumpai bahwa sebenarnya saya berpikir saya sedang menghentikan pikiran saya. Saya berpikir saya berada sebelum pikiran muncul. Dengan demikian, ketenangan yang muncul adalah karena menghilangnya keresahan-keresahan secara emosional dalam pikiran saya (termasuk pertanyaan-pertanyaan tak terjawab), dan ketenangan itu masih berada dalam pikiran saya (atau dihasilkan oleh pikiran saya?).

    Tanggapan pertama ini seketika mengingatkan saya pada pepatah yang dulu pernah saya dapatkan dari sebuah bacaan yang kurang lebih bunyinya begini: “Ketika saya berpikir bahwa otak saya tertidur, maka otak saya tertidur”. Lyotard juga pernah membahas tentang pikiran. Dalam bukunya yang berjudul “Ziarah Posmodernisme: Hukum, Kondisi, Peristiwa”, ia mengatakan bahwa pikiran adalah awan. Batasnya sulit ditentukan dan tak pernah berhenti mengubah lokasinya. “Ketika Anda merasa telah menembus keakrabannya dan menganalisis sesuatu yang kemudian disebut struktur atau silsilah atau bahkan berakhirnya struktur, sebenarnya terlambat atau terlalu dini”, tulisnya. Uniknya, Lyotard juga mengutip Wittgenstein mengenai pikiran dan permainan bahasa, tetapi Lyotard berpendapat bahwa pikiran bukanlah milik kita. Ia menuliskan, “pikiran bukanlah buah yang ada di bumi.” Frase (bahasa) membiarkan dirinya sendiri didistribusikan ke dalam keluarga.

    Meskipun pada bagian ini Lyotard sepertinya bernada mistis, tapi dapat kita tangkap deskripsinya mengenai sulitnya kita mengenali pada batas mana pikiran berawal dan dimana ia akan berakhir. Ketika saya berusaha untuk berada pada “sebelum pikiran”, kenyataannya saya sedang berpikir bahwa saya telah berada pada sebelum pikiran saya muncul.

    Kedua, muncul keberatan dibalik ketenangan yang saya rasakan. Persoalan yang dimunculkan dalam awal tulisan ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menghantui semua (atau setidaknya sebagian umat manusia termasuk saya) seperti: Mungkinkah saya mencapai kebahagiaan yang saya inginkan? Apa yang akan terjadi setelah kematian? Bagaimanakah Tuhan itu? (dan apakah Ia memang benar ada?) Bisa saya katakan bahwa apa yang disampaikan dalam tulisan ini mengajak kita untuk melampaui esensi dari kemunculan pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga mencegah agar tidak terjebak dalam jawaban yang jatuh pada nada-nada kerohanian atau moralis.

    Menyetujui bahwa selalu ada kecacatan dalam membahasakan pikiran sehingga posisi bahasa dan pikiran itu sendiri perlu dijernihkan; dan solusinya (atau setidaknya usulannya) adalah dengan berada pada “sebelum pikiran” atau menghentikan pikiran. Pada tahap ini, menghentikan pikiran atau berhenti memikirkan masalah, akan menemui kemiripannya dengan “melupakan permasalahan”. Sama-sama bukan menghapus pikiran, sama-sama dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Dalam menghadapi permasalahan, keresahan-keresahan dan tantangan dalam hidupnya, orang juga biasa melakukan “melupakan permasalahan” dengan pergi bersenang-senang. Pada contoh yang cukup ekstrim, misalnya memilih kenikmatan ekstasi atau menikmati hiburan malam sebagai alternatif melupakan permasalahan (pikiran dan pertanyaannya). Pada kemiripan keduanya, tentu dapat diajukan juga perbedaannya. Barangkali yang paling cepat teridentifikasi adalah secara moral melupakan masalah yang demikian caranya tidak dibenarkan. Atau jika dipandang dari sisi utilitas, menghentikan pikiran untuk kejernihan memahami suatu persoalan lebih bermanfaat daripada melupakan persoalan dengan kesenangan-kesenangan duniawi yang merusak. Namun bagaimana perbedaan substansial yang dapat kita ajukan agar tidak terjebak pada kedangkalan seruan moralis maupun sekedar memeriksa kegunaannya secara pragmatis? Atau memang tidak ada perbedaan di antara keduanya?
    Terimakasih.

    Suka

  3. Saya suka tulisan ini. Karena bapak menjelaskan tentang hakikat dari apa yang seharusnya manusia jalani. Kejernihan fikiran.
    Ranah sebelum fikiran bagi saya adalah titik dimana kita tidak berharap, tidak berkata, hanya menyerahkan diri seutuhnya. Tanpa pengharapan apa-apa.

    Suka

  4. Pak Reza, terima kasih atas tulisan-tulisan yang telah dikirim ke email saya. Ini sangat bermanfaat. Apakah ada tulisan Pak Reza tentang Herbert Marcuse?.

    Suka

  5. Seperti yg telah diucapkan Teilhard de Chardin kita bukanlah manusia yg mndapatkan pengalaman² spiritual akn tetapi makhluk spiritual yg melalui pengalaman² mnusiawi. Jiwa akan selamanya Kekal untk kembali ketempat yg telah ditentukan akibat perbuatan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s