Tentang ini, Saya sangat Egois…

Surrealistic Paintings by Vladimir Kush
Vladimir Kush

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita pasti pernah mengalami perubahan suasana hati tiba-tiba. Kata-kata orang lain yang menyakitkan, misalnya, bisa memicu itu. Lalu, pikiran kacau. Emosi pun memuncak.

Saya juga pernah mengalami hal serupa terkait dengan cuaca. Tiba-tiba, cuaca berubah total. Hujan lebat mengguyur. Seluruh tubuh, termasuk dompet dan alat elektronik saya, basah sampai ke dalam. Suasana hati langsung rusak.

Ini juga bisa terjadi, ketika kita teringat masa lalu. Lagu yang sedang bersenandung. Tempat-tempat yang penuh kenangan. Semua itu bisa membawa kita ke masa lalu, dan mengubah suasana hati yang ada.

Kecemasan akan masa depan pun punya akibat serupa. Kita khawatir akan apa yang belum terjadi. Biasanya, kita khawatir, jika “ada apa-apa”. Pikiran pun langsung lari ke arah ketakutan, membawa emosi kita bersamanya.

Ini artinya, hidup kita ditentukan oleh keadaan sekitar kita. Kita belum bebas. Mungkin, kita merasa bebas. Tetapi sesungguhnya, kita diperbudak oleh keadaan.

Inilah perbudakan yang paling halus, sekaligus paling mengerikan. Ekonomi boleh maju dan mapan. Pendidikan boleh tinggi. Penampilan boleh menakjubkan. Namun, jika keadaan hati kita masih ditentukan oleh keadaan di luar diri kita, kita masih menjadi budak yang paling menderita di muka bumi.

Dalam hal ini, saya egois. Saya tidak mau kebahagiaan saya ditentukan oleh keadaan di luar diri saya. Dunia boleh hancur. Ekonomi boleh berantakan. Namun, saya memilih untuk tetap gembira dan bahagia.

Orang boleh memfitnah. Mereka boleh berbohong kepada saya. Namun, saya memilih untuk tetap gembira dan bahagia. Sekali lagi, dalam hal ini, saya egois.

Bagaimana caranya? Ada dua hal sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, lenyapkan semua ekspektasi, atau harapan kita, bahwa keadaan disini dan saat ini harus sesuai keinginan kita. Ini racun yang harus dibuang jauh-jauh.

Buang harapan, bahwa orang akan selalu baik. Buang harapan, bahwa cuaca akan selalu cerah. Buang harapan, bahwa saya bisa mengatur semuanya sesuai keinginan saya. Buang jauh-jauh racun pikiran itu.

Lalu, kita bisa hidup sepenuhnya disini dan saat ini. Kita bisa melakukan apa yang perlu dilakukan. Kita tidak hidup dalam mimpi. Kita menjadi sepenuhnya manusia nyata.

Lagi pula, ekspektasi ataupun harapan itu bukanlah milik kita. Itu adalah hasil cuci otak dari masyarakat. Itu ekspektasi ataupun harapan dari orang tua kita, maupun dari guru-guru kita. Itu juga ekspektasi dari buku ataupun video yang pernah kita lihat. Mereka bukan milik kita.

Itu benda asing. Itu bangkai dari masa lalu. Jangan hidup dengan bangkai. Saya tidak mau. Dalam hal ini, saya egois.

Dua, setiap saat, kita perlu kembali terhubung ke kehidupan. Kita kerap lupa akan hal ini, karena hanyut dalam pikiran dan emosi. Kita mengira, pikiran dan emosi adalah diri kita yang sebenarnya. Ini salah paham yang selalu berujung pada nestapa.

Perhatikan apa yang hidup di dalam tubuh kita. Detak jantung, gerak napas, aktivitas panca indera, semuanya adalah tanda-tanda kehidupan. Letakkan perhatian disitu selama beberapa saat. Kamu adalah kehidupan, bukan pikiran atau emosi yang datang dan pergi.

Saya menerapkan dua metode ini. Saya tidak lagi menjadi budak. Keadaan di luar, yang terus berubah, tak saya biarkan mempengaruhi hidup saya. Saya adalah kehidupan, bagian dari energi maha besar yang mencipta dan merawat alam semesta, dan segala yang ada.

Politik kacau. Ekonomi hancur. Banyak orang sakit dan meninggal. Saya tidak membiarkan itu semua mengacaukan hidup saya. Apapun yang saya bisa lakukan untuk membantu, pasti saya lakukan.

Namun, saya tidak mau mengorbankan kegembiraan saya. Saya tidak mau mengorbankan kedamaian dan sikap welas asih di dalam diri saya. Tentang ini, saya sangat egois. Anda tertarik mengikuti?

 

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Tentang ini, Saya sangat Egois…”

  1. disini sangat jelas, hidup sehari2 seperti awan bergerak, selalu berubah dari saat ke saat.
    kalau “cara hidup” kita mengikuti hukum tsb, tanpa kelekatan apapun, kita pun dgn indirekt mengerti hidup dari saat ke saat dgn penuh kesadaran.
    tanpa “getun mburi”, spt yg sering saya dengar, keinginan memutar waktu ke zaman lampau.
    salam hangat !!

    Suka

  2. Sangat terkesan, sebagai dasar untuk merefleksi diri dari perubahan lingkungan sekitar.saya sangat tertarik dengan apa yang sudah tertulis diatas..
    Trimakasih trimakasih🙏

    Suka

  3. Saya sering kali berkutat pada pikiran sendiri menyesali masa lalu dan ingin mengendalikan masa depan akhirnya timbul penderitaan. Tulisan ini membuat saya merenung, saya tidak mau lagi menderita karena pikiran sendiri. Terimakasih Pak Reza, tulisan ini sangat mencerahkan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.