Zen dalam Percakapan

Thomas Michel Contemporary Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Praktisi Zen, Tinggal di Jakarta

Tulisan ini berawal dari percakapan dengan seorang teman. Sebagai anak dari keluarga pengusaha, ia sebenarnya cukup beruntung. Ia bisa mendapatkan penghidupan yang layak, dan pendidikan yang bermutu tinggi. Setelah itu, ia pun diharapkan bisa melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarga.

Sejak kecil, ia dididik untuk menjadi pekerja keras. Keluarganya berharap, supaya ia bisa menjadi fondasi keluarga, ketika orang tuanya tidak lagi mampu mengelola bisnis. Maka dari itu, ia pun diajar untuk menjadi manusia yang memiliki ambisi besar. Nilai-nilai persaingan, kerja keras dan fokus adalah nilai-nilai yang telah ia terima, sejak kecil.

Ambisi

Jika kita jeli, hal serupa banyak terjadi di sekitar kita. Cita-cita keluarga dipaksakan menjadi cita-cita pribadi. Hidup menjadi penuh ambisi, yakni tujuan yang amat sangat diharapkan menjadi kenyataan. Ambisi ini tidak hanya terjadi pada hal-hal soal harta dan nama besar, tetapi juga dalam soal spiritual.

Ada keluarga yang ingin anaknya menjadi orang kaya dan terkenal. Inilah yang terjadi pada teman saya di atas. Disini, uang dan harta menjadi ukuran bagi keluhuran manusia. Seperti kata Herbert Marcuse, seorang pemikir Jerman, manusia hanya diukur dari satu dimensi saja, yakni dimensi harta dan kepemilikan semata.

Sebagian keluarga lainnya ingin anaknya menjadi manusia yang luhur di hadapan Tuhan. Inilah yang saya sebut sebagai ambisi spiritual. Segala upaya dilakukan, supaya sang anak menjadi suci di dalam satu tradisi agama tertentu. Segala pernak pernik keagamaan, mulai dari baju sampai cara bicara, pun disesuaikan demi ambisi spiritual tersebut.

Pikiran yang Mencengkeram

Apapun bentuknya, ambisi adalah sumber penderitaan. Di dalam Zen, ambisi adalah sebentuk pikiran yang mencengkeram (grasping mind). Orang menginginkan sesuatu secara berlebihan. Ada paradoks disini.

Ketika ambisi menjadi kenyataan, orang tetap tidak puas. Ini terjadi, karena memang hal-hal yang ada di luar diri, seperti harta dan kuasa, tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan sejati kepada manusia. Setelah ambisi terwujud, orang justru bingung, mengapa ia belum juga merasa puas dan bahagia. Inilah ciri mendasar dari “pikiran yang mencengkeram” tersebut.

Sebaliknya, ketika ambisi tak juga menjadi nyata, derita pasti menyapa. Ambisi mengikat orang, sehingga ia tak bisa lepas darinya. Jika ikatan tersebut tak diikuti, orang pun merasa tercekik. Di dalam tradisi filsafat Asia, ambisi adalah sebentuk kelekatan (attachment) yang menjadi sumber dari penderitaan.

Ini semua terjadi, karena orang tak paham tentang dunia. Orang mengira, dengan ambisinya, ia bisa menggenggam dunia. Orang juga berpikir, dengan terus mengasah kemampuannya, dan mencapai ambisinya, ia lalu bisa merasa bahagia. Sayangnya, begitu banyak orang yang terjebak pada salah paham semacam ini.

Dunia adalah Perubahan

Seluruh ajaran filsafat Asia menegaskan, bahwa dunia adalah perubahan. Ini berarti, tidak ada yang disebut dunia, karena dunia mengandaikan adanya sesuatu yang tetap. Perubahan itu seperti gelombang yang terus bergerak. Ia tidak menyisakan bentuk apapun.

Ini bertentangan dengan pandangan banyak orang. Mereka mengira, dunia ini ada, namun ia terus berubah. Pandangan ini kurang tepat. Ia masih mengandaikan adanya sebuah dunia yang, kemudian, berubah.

Jika dunia dilihat sebagai perubahan terus menerus, maka tidak ada yang tetap. Tidak yang disebut manusia. Tidak ada yang disebut hewan ataupun tumbuhan. Tidak ada yang disebut benda. Bahkan, tidak ada yang disebut sebagai “aku”, karena segalanya adalah perubahan terus menerus yang mengalir bagaikan gelombang.

Jika segalanya adalah gelombang perubahan, apa yang bisa kita pegang? Jika segalanya adalah perubahan tanpa henti, apa yang bisa kita raih? Penderitaan muncul, ketika kita mencoba untuk mengenggam apa yang tak bisa digenggam. Ambisi berarti mencoba mencengkeram gelombang. Itu tidak akan mungkin dilakukan, dan justru menghantar kita pada penderitaan.

Ingatlah apa yang dikatakan oleh Herakleitos, pemikir Yunani kuno, lebih dari dua ribu tahun yang lalu: pantha rei. Segalanya mengalir. Karir, uang, harta, nama besar dan kuasa tak akan pernah bisa digenggam, karena semuanya mengalir. Cinta dan hubungan juga tidak akan pernah bisa digenggam, karena semuanya adalah perubahan.

Saat Ini

Dengan menyadari arti sesungguhnya dari dunia dan kehidupan ini, kita lalu secara alami melepas segalanya. Ambisi padam. Pikiran yang mencengkeram pun secara alami lenyap. Yang tersisa hanya sepercik kehidupan dan kesunyian yang mengantarkan kita pada kedamaian.

Kita berhenti untuk mengontrol masa depan. Kita berhenti untuk terobsesi pada masa lalu. Ingatlah bahwa segalanya adalah perubahan. Segalanya mengalir dari saat ke saat, tanpa menyisakan satu bentuk apapun yang bersifat tetap. Tidak ada yang bisa dipegang, apalagi dicengkeram.

Kita pun secara alami kembali ke saat ini. Apa yang sedang anda lakukan? Lakukan sepenuh hati. Just do it!

Waktunya makan, sepenuhnya makan. Waktunya berjalan, sepenuhnya berjalan. Waktunya sakit, sepenuhnya sakit. Semuanya mengalir dari saat ke saat. Just do it!

            Kesadaran akan saat ini (now awareness) itulah yang mesti dikenali, dan dipertahankan dari saat ke saat (recognizing and maintaining awareness). Jika gagal, kembali lagi ke saat ini, dan lakukan lagi. Inilah inti terdalam dari Zen. Inilah inti dari pencerahan dan pembebasan yang sesungguhnya.

Tentu saja, saya tidak menerangkan hal ini ke teman saya. Ia belum siap. Ambisi atas harta dan nama besar masih memenjara pikirannya. Mungkin nanti, setelah ia ditabrak ratusan kegagalan, baru ia sadar, bahwa ambisi dan upayanya mencengkeram dunia adalah sesuatu yang sia-sia.

Teman saya mungkin belum siap. Ya sudah. Yang lebih penting adalah, apakah anda sudah siap?

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

27 tanggapan untuk “Zen dalam Percakapan”

  1. begitu pun yg saya alami dan jalankan dalam kehidupan sehari2, yg sederhana. suatu ketika peminat bisa menyadari apa yg dimaksud, kita hanya tertawa terbahak2 !
    karya yg begitu jelas dan sederhana diterangkan. semua sudah tersedia, kita tinggal menjalankan “kearah pembebasan mutlak”, hanya umumnya manusia dgn belenggu2 pandangan menjadi silau.
    banya salam !!

    Suka

  2. Pikiran Reza dapat dipahami, tapi nasehat a la Zen memerlukan persiapan batiniah untuk membebaskan diri dari ketegangan dualis antara menerima dan menolak nasehat itu. Yang saya maksudkan ialah PENGOSONGAN DIRI BUDHIS.

    Suka

  3. Indonesia benar-benar butuh pencerahan Zen, Bang Reza. Yang saya suka dari Zen adalah bagaimana ia menerapkan azas sebagaimana adanya. Ia merupakan pelepasan dalam bentuk penyadaran, ia menjadikan diri sebagai teori sekaligus praktek nyata, Zen mengajarkan bahwa belajar adalah mengurutkan satu, dua, tiga, empat dan lima. Hal ini menjelaskan kenapa Zen dipakai sebagai jalan hidup Samurai Jepang (pada masanya); menghadapi kematian tanpa rasa takut, beraksi secara spontan sekaligus intuitif secara bersamaan. Begitu pandangan singkat nan awam saya terhadap Zen, mungkin ada yang tidak sesuai? Terima kasih.

    Suka

  4. Konsep Mengurutkan 1,2,3,4,5 pertama kali saya ketahui di film autobiografi Dogen Zenji “Zen (2009)”, kala itu diceritakan bahwa pencerahan dasar Zen yang pertama kali diberikan pada Master Dogen justru bukan datang dari guru besar, melainkan dari biksu tua yang bertugas sebagai koki kuil, ia memberitahu bahwa pengajaran pada dasarnya hanya mengurutkan 1,2,3,4,5.

    Dia bilang : “The teaching is one, two, three, four, five. Practice is always been apparent. Everything that happens in this world has always been that way. No one has anything to conceal.”

    Ada banyak tafsir untuk topik ini, tapi saya rasa itu adalah metafora untuk “moderasi” dalam psikologi moderen; yakni lakukan hal secara berurutan, selesaikan hal yang sudah dimulai, tanpa harus terbebani aktivitas/materi yang sudah menunggu. Dan juga pelajarilah segala sesuatu dari dasar-dasarnya (basic) terlebih dulu, sebelum melanjutkan ke tahap intermediate hingga advance, karena emosi manusia yang tidak sabaran biasanya mengacuhkan konsep sederhana semacam ini. Kita hidup di jaman serba instan, tanpa landasan dan minim pendalaman, begitu penafsiran saya.

    Suka

  5. Sekarang banyak orang terjebak dan menuntut tentang “kepastian”. Apapun urusannya, selalu ingin jawaban yg pasti, kalo perlu hal itu sesuai kemauannya, padahal dunia / alam adalah seni dari ketidakpastian. Akibatnya banyak pendangkalan disana-sini dan sangat emosional karena takut menggauli perubahan.

    Suka

  6. Tidak ada kesaktian yang perlu diraih. Tidak ada batin yang perlu dibersihkan. Kita hanya perlu untuk melihat kehidupan ini sebagai seorang pemula dari saat ke saat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.