Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

jardin-zen-en-miniatura-1024x682Oleh Reza A.A Wattimena

Jam 11 malam, Jumat 13 Mei 2022. Perut melilit. Sakitnya nyaris tak tertahankan. Saya pun terbangun.

Cuaca sejuk dan nikmat. Semuanya sempurna, kecuali perut yang berteriak. Perpaduan kopi, susu, arak, babi guling pedas dan bir memang mematikan. Saya sudah menduganya.

Saya membuka aplikasi medis. Konsul dengan dokter. Obat dipesan, dan segera datang dalam waktu 30 menit. Teknologi modern memang luar biasa!!

Sambil menunggu, dengan perut melilit, saya melakukan meditasi. Beberapa postur Yoga dan Tai Chi membantu menghangatkan tubuh. Sakitnya berkurang, juga karena kemampuan menerima keadaan bertambah. Saya jernih: saya tahu, bahwa ada rasa sakit datang di perut.

Obat datang. Syukur tak terhingga kepada Pak Made yang siap mengantarnya. Matur Suksma saya ucapakan dari lubuk hati terdalam. Sebelum minum obat, saya makan sedikit cemilan kecil. Kembali ke postur duduk bersila, saya menunggu sampai efek obat muncul.

Tak lama kemudian, saya tertidur. Bangun pagi, cuaca begitu cerah. Rasa sakit sudah menghilang. Setelah melakukan ritual pagi dalam bentuk meditasi, Yoga dan Tai Chi, saya keluar mencari sarapan, dan menulis. Semua sudah sempurna sebagaimana adanya.

Tanpa Rintangan

Inilah hidup tanpa rintangan. Ini bukan berarti tak ada masalah, atau tantangan. Dunia terus berubah. Tak pernah ada keadaan yang sama terus menerus.

Tubuh pun begitu. Kadang, ia sakit, dan butuh istirahat. Terkadang, ia sehat, dan siap diajak melakukan banyak kegiatan. Semuanya berubah dan sementara.

Batin manusia pun juga sama. Terkadang, ada perasaan senang datang. Terkadang, ada perasaan sedih, marah dan cemas bertamu. Semuanya berubah.

Keadaan hidup itu bagaikan awan dan langit. Terkadang, ada awan mendung menutupi langit dan matahari. Beberapa saat kemudian, awan pergi, dan cuaca kembali cerah. Matahari dan langit kembali terlihat.

Kita hanya perlu menjalani semua yang terjadi. Ini berarti, kita tahu dan sadar betul apa yang terjadi disini dan saat ini. Latihan spiritual juga membantu, supaya kita sadar, dan siap menerima semua keadaan yang sedang terjadi. Lalu, kita siap melakukan apa yang perlu dilakukan.

Kata guru saya, Zen Master Seung Sahn, “only go straight, don’t know”. Jalan terus di tengah berbagai perubahan. Jalan lurus dengan batin yang jernih. Tak perlu terlalu banyak berpikir.

Spiritualitas Kontekstual

Inilah inti Zen yang merupakan spiritualitas kontekstual. Inilah spiritualitas yang terbuka pada semua keadaan. Tidak ada ajaran yang memperbodoh dan mempermiskin, seperti di dalam agama kematian. Ia memberi kedamaian, menyediakan arah hidup sekaligus keterampilan untuk menanggapi berbagai perubahan.

Zen memang unik. Ia menggabungkan ajaran Buddha dari Nepal, sekaligus ajaran Tao dari Cina. Ajaran Buddha sangat logis dan sistematik. Sementara, ajaran Tao sangat spontan dan alamiah. Keduanya berkelindan dengan indah dan logis di dalam jalan Zen.

Buddha mengajarkan pemahaman dan latihan, supaya manusia terbebas dari penderitaan. Tak ada iman yang diperlukan. Tak ada ajaran-ajaran sesat yang dipaksakan. Semuanya sangat ilmiah, rasional dan manjur.

Hidup adalah ketidakpuasan (dukkha). Selama kita mengejar hal-hal di luar diri yang sementara dan terus berubah (anicca), maka kita akan menderita. Kita hanya perlu menemukan keheningan dan kedamaian agung di dalam batin. Cara yang paling sederhana adalah dengan menjadi satu dengan sensasi napas masuk dan keluar, sampai segala sesuatu lenyap.

Tao mengajarkan jalan hidup alamiah, sejalan dengan hukum-hukum alam. Semua hal dilakukan secara mengalir. Tidak ada yang dipaksakan. Ini disebut juga sebagai “tindakan tanpa tindakan” (wei wu wei).

Semua tindakan mengalir dari kekosongan. Ini disebut juga sebagai keadaan tanpa batin (state of no mind). Ketika makan, hanya makan. Ketika berjalan, hanya berjalan. Semua sudah jernih dan sempurna sebagaimana adanya.

Batin pun menjadi seperti cermin. Tak ada yang ditambahkan dari berbagai hal yang terjadi. Sadar dan jernih pada apa yang terjadi disini dan saat ini. Lalu, lakukan apa yang perlu dilakukan dari keheningan batin.

Jalan Keluar Penderitaan

Apa yang mesti dilakukan, ketika penderitaan datang? Apa yang mesti dilakukan, ketika keadaan tak sesuai keinginan? Ketika tubuh sakit? Ketika pikiran kacau?

Ketika menderita, sadarlah bahwa penderitaan datang. Ketika kecewa, marah dan berbagai emosi lainnya datang, sadarlah bahwa semua itu datang. Amati segala perasaan dan emosi yang muncul, tanpa penghakiman. Ini namanya kejernihan.

Di dalam kejernihan, ada penerimaan yang melegakan. Lalu, kita bisa berpikir tentang apa yang perlu dilakukan. Ketika lapar, ya makan. Ketika sakit, ya minum obat. Ketika tak punya uang, ya hidup hemat dan bekerja lebih rajin.

Kejernihan akan melahirkan kemampuan memahami keadaan. Akal sehat pun bekerja. Kita bisa bertindak dengan tepat, sesuai dengan keadaan yang ada di depan mata. Semua mengalir dari keheningan yang mendalam.

Keheningan berarti tanpa pikiran (no mind). Kita hanya menyadari apa yang terjadi di sini dan saat ini. Masa lalu dan masa depan lenyap, karena keduanya hanya ilusi. Secara alamiah dari batin yang hening, kita lalu bertindak menanggapi keadaan yang ada.

Yang juga penting adalah arah hidup kita. Selama kita hidup hanya untuk memuaskan kepentingan diri dan kelompok sempit, maka penderitaan akan datang. Sebaliknya, jika kita hidup untuk kepentingan semua mahluk, maka kedamaian dan kebahagiaan akan muncul. Ini adalah hukum alam yang abadi.

Sadhana, atau latihan spiritual, juga amat penting. Kita harus punya ritual pribadi dalam bentuk latihan batin yang sistematik. Kehadiran guru diperlukan disini. Ini bukanlah ritual hampa khas agama kematian yang merusak budaya, mengacaukan keadaan dan menindas perempuan. Ini adalah latihan untuk meningkatkan kesadaran, dan menemukan keheningan yang mendalam di dalam batin.

Hasilnya pun menakjubkan. Hidup menjadi tanpa rintangan dari saat ke saat. Kedamaian dan kebahagiaan menjadi teman setia di keseharian. Tertarik?

***

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.