Apa yang Sesungguhnya Ada

silvieandmaryl.com
silvieandmaryl.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat di Unika Widya Mandala Surabaya

Sejak awal keberadaannya, manusia ingin memahami dunianya. Ia juga ingin memahami dirinya sendiri. Dorongan ini bersifat alamiah. Ia akan selalu ada, selama manusia masih hidup.

Memahami dunia berarti mengamati dunia apa adanya. Mengamati dunia apa adanya berarti mengamati dunia di dalam perubahannya. Segala sesuatu terus berubah, tanpa henti. Kita tak akan pernah menginjakkan kaki di sungai yang sama, begitu kata Herakleitos, filsuf Yunani Kuno.

Apa yang kita lihat sekarang bukanlah yang kita lihat sebelumnya. Setiap tujuh tahun, tubuh manusia berganti sepenuhnya. Ia menjadi manusia yang sama sekali baru. Yang sama dari manusia itu dengan manusia sebelumnya hanyalah namanya.

Apa yang kita anggap tetap dan akan memuaskan kita pada akhirnya akan berubah, dan lenyap dari muka bumi ini. Apa yang kita perolah akan berubah, dan akan lenyap. Apa yang kita pegang erat-erat juga akan berubah. Apa yang kita perjuangkan dengan seluruh hidup kita akan hilang ditelan angin.

Memahami kenyataan di dalam perubahannya berarti juga memahami alam di dalam keterhubungannya. Segala hal saling terhubung satu sama lain. Hukum-hukum fisika yang bekerja, ketika kita mengangkat tangan kita, sama dengan hukum-hukum fisika yang menggerakan meteor di ruang angkasa nan jauh disana. Perbedaan hanya merupakan ilusi yang diciptakan oleh pikiran kita yang terbatas. Lanjutkan membaca Apa yang Sesungguhnya Ada

Semua (Tak?) Sama

Magritte, 1928
Magritte, 1928

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Sekitar 12 tahun yang lalu, Padi, grup band asal Surabaya, mengeluarkan lagu berjudul “Semua tak sama”. Isinya tipikal lagu-lagu romantis. Seorang pria tidak dapat menemukan sosok pengganti kekasihnya. Kekasih barunya berbeda dari kekasihnya yang lama, yang masih dicintainya. “Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kusentuh, apa yang kukecup”, begitu bunyi refren lagu itu.

Dulu, saya suka sekali dengan lagu ini. Namun, sekarang saya sadar, lagu ini memiliki kesesatan berpikir yang amat mendasar, yakni melihat kenyataan hidup sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda satu sama lain. Ia menyebarkan pesan, bahwa semua hal di dunia ini tak sama, maka harus dipisah-pisahkan satu sama lain. Banyak orang menerima begitu saja pesan lagu ini, tanpa berpikir kritis lebih jauh.

Apa yang Diajarkan Kepada Kita

Sejak kecil, kita juga diajarkan untuk melihat dunia ini sebagai sesuatu yang memiliki bagian-bagian yang terpisah. Dengan kata lain, kita diajarkan untuk berpikir secara kategorial. Kita membagi-bagi dan memecah-mecah, baru disitu muncul pemahaman. Inilah cara berpikir khas ilmu pengetahuan modern yang lahir dari tradisi Eropa dan Yunani Kuno, terutama pemikiran Aristoteles.

Kita juga diajarkan untuk melihat diri sendiri sebagai “aku”. Orang lain lalu dilihat sebagai “kamu”, atau “mereka”. Orang-orang yang memiliki kesamaan lalu dilihat sebagai “kita”. Dari cara berpikir semacam ini, lahirlah pandangan atas dunia yang terpecah-pecah antara aku, kami, kita, kalian, mereka dan kamu.

Cara berpikir ini pulalah yang menghasilkan identitas. Kelompokku berbeda dengan kelompokmu. Ini bangsaku, itu bangsamu. Ini agamaku, itu agamamu. Semua perbedaan-perbedaan ini lalu dijadikan pembenaran untuk bersikap tidak adil terhadap orang atau kelompok lain. Ketika ketidakadilan terjadi, maka konflik sudah berada di depan mata. Lanjutkan membaca Semua (Tak?) Sama