Ketika Tersesat

f150c4436370d2204660969b191a502d
pinterest.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Di dalam hidup, kita kerap kali merasa tersesat. Kita kehilangan pegangan hidup, karena masalah dan krisis datang bertubi-tubi, seolah tanpa henti. Ibaratnya keluar dari mulut harimau, dan masuk ke mulut singa. Tegangan hidup menghantam terus, tanpa memberi jeda.

Kita pun juga kerap kali merasa kehilangan arah. Kita tidak lagi punya tujuan hidup yang jelas. Pegangan hidup seolah rapuh, dan begitu mudah lepas. Kita tidak lagi menemukan makna dari apa yang sedang kita lakukan.

Ketika ini terjadi, buahnya ada dua, yakni kecemasan dan penderitaan. Kita merasa cemas atas apa yang akan terjadi di masa depan. Kecemasan itu melahirkan tegangan dan penderitaan di dalam diri kita. Pada tingkat yang ekstrem, kita jatuh ke dalam depresi, dan bahkan bunuh diri.

Hal yang sama kiranya bisa terjadi di tingkat politik. Politik yang tersesat adalah politik yang tanpa tujuan. Politik menjadi tidak bermakna. Semua kebijakan tidak bertujuan untuk menyejaterahkan rakyat, melainkan untuk memperkaya para pejabat yang korup dan biadab.

Ketika ini terjadi, buahnya dua, yakni kemiskinan dan ketidakadilan sosial yang merajalela di masyarakat. Di satu sisi, ada orang memiliki lebih dari lima mobil mewah di rumahnya. Di sisi lain, ada keluarga yang kekurangan uang sekedar untuk makan hari ini. Inilah pemandangan di ibu kota, dan juga di berbagai kota besar di Indonesia.

Mencari Mata Air

Dalam keadaan semacam ini, apa yang mesti dilakukan? Ketika tersesat, kita perlu mencari pegangan hidup. Kita perlu mencari titik tolak, dimana kita bisa memulai untuk menemukan kejernihan. Cerita pendek ini kiranya bisa membantu.

Ada orang yang mendaki gunung. Begitu tingginya gunung tersebut, sampai ia melewati batas awan. Ketika melewati batas awan, gunung tersebut dipenuhi kabut. Cuaca begitu dingin, dan mata nyaris tak dapat melihat. Ia tersesat.

Ia tidak dapat menemukan jalan pulang. Seketika itu, ia teringat. Air selalu mengalir ke bawah. Ia pun mulai mencari mata air kecil, dan mengikuti alirannya, berharap bisa menemukan jalan turun ke bawah.

Akhirnya, ia berhasil melewati batas awan, dan menemukan jalan pulang. Mata air kecil yang mengalir ke bawah telah menjadi petunjuknya untuk menemukan jalan pulang. Mata air tersebut telah menjadi pegangannya. Ia mengikutinya, dan akhirnya menemukan jalan yang ia cari.

Melestarikan Kehidupan

Mata air adalah sumber kehidupan. Tidak ada satupun kehidupan yang bertahan di alam ini, tanpa air. Dari sini, kita bisa belajar, bahwa ketika tersesat, kita perlu untuk mencari pegangan yang juga merupakan sumber kehidupan. Pegangan itu haruslah berupa seperangkat nilai ataupun tindakan yang melestarikan kehidupan itu sendiri.

Melestarikan kehidupan itu berarti berbuat baik. Melestarikan kehidupan juga berarti sedapat mungkin mengurangi penderitaan yang ada di sekitar kita. Berbuat baik disini juga harus dipahami dalam arti luas. Ia bukan hanya sekedar memberi uang untuk mendapat pahala, tetapi merupakan dorongan alami dari dalam batin untuk bertindak sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi.

Ketika kita terus berusaha melestarikan kehidupan, maka kita akan kembali menemukan arah. Kita akan kembali menemukan makna di dalam hidup kita. Secara perlahan tapi pasti, kita akan melihat jalan pulang untuk melampaui segala bentuk kecemasan dan penderitaan di dalam hidup. Pendek kata, kita akan menemukan jalan pulang.

Ketika dunia politik tersesat, hal yang sama kiranya perlu dilakukan. Korupsi dan kebiadaban politik tidak pernah menyeluruh. Selalu ada orang yang teguh berpegang pada prinsip-prinsip keberadaban, pun ketika krisis politik terjadi. Mereka tidak boleh larut ke dalam korupsi, melainkan harus tetap berpegang pada petunjuk ketika tersesat, yakni melestarikan kehidupan.

Sikap melestarikan kehidupan akan berbuah banyak. Banyak orang akan terinspirasi. Ide-ide baru demi kebaikan bersama dan pelestarian kehidupan akan berkembang. Jalan menuju keadilan dan kemakmuran bersama pun akan terbuka, walaupun mungkin tak akan pernah terwujud sepenuhnya.

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Ketika Tersesat”

  1. di tengah malam buta, insomnia, otak tak mampu memikirkan urusan gaya inti, saya berakhir di blog anda lagi untuk yang ke sekian kali nya.

    saya yang pernah anda kirimi buku-buku de Sade.

    jujur, saya masih belum membaca habis semua buku itu, karena memang bukan prioritas dan bertepatan dengan sibuk-sibuk nya tugas akhir, dan seperti yang tertulis di pengantar di sana, buku nya memang lumayan ‘keras’. bagi orag-orang seperti bapak, buku beliau memiliki makna yang dalam, sedangkan saya, dengan otak saya masih belum bisa menelaah makna tersebut, jadi saya memutuskan untuk memprosesnya secara perlahan.

    di awal-awal novel de Sade yang sudah saya baca, beliau mengatakan jadilah seperti tokoh di buku itu.! saya berfokus pada tokoh Eugene. di sini Eugenie di buat sebagai wanita yang melangkahi peraturan orang tua, agama, dan nilai-nilai yang ada.

    saya di sini bukanlah seorang yang religious. . ke gereja dalam setahun bisa di hitung jari, sekali pun saya masih berdo’a setiap hari, setiap bangun dan sebelum tidur, atau makan dsb. tapi sebenarnya seperti yang pernah di tanyakan oleh seseorang “apakah kamu benar-benar melakukan itu karena kamu yakin 100% ataukah hanya sebuah kebiasaan?” saya tidak bisa menjawab. maksudnya, saya memang merasa percaya, tapi di beberapa titik, misalnya saya sedang di landa masalah, timbul lah pertanyaan “di mana Kau Tuhan?”

    dan belakangan, iman saya yang sangat tipis ini di perburuk oleh pacar saya (yang menyarankan membaca de Sade, juga seseorang yang mendalami filsafat).

    dia Agnostik.

    suatu ketika, terjadi diskusi antara kami. cerita yang panjang tapi inti nya dia mengatakan bahwa:

    “jika memang Tuhan itu ada dan se-agung yang di katakan, maka saya dan dia pasti akan masuk surga. kenapa? karena kami tidak pernah melakukan hal yang buruk.”

    saya mengatakan bahwa kami pasti menjadi penghuni neraka. yang pertama iman dan keyakinan kami sama-sama abstrak, kemudian kami melakukan banyak hal gila salah satunya kinky s*x.

    tapi dia mengatakan bahwa Tuhan, jika memang ada akan terlalu sibuk untuk mengoreksi “apakah si a dan b yang sedang berhubungan intim itu sudah menikah atau belum.”

    dia menyarankan saya belajar filsafat lebih dalam.

    maka saya perlahan-lahan mulai mencoba mencari jawaban. . blog anda benar-benar menakjubkan, untuk itu.

    misalnya tentang Zen, filosofi kehidupan, dll. banyak jawaban yang dapat di terima otak saya.

    nah pertanyaan saya, apakah Pak Reza mempercayai adanya Tuhan?

    Jika iya, apa pegangan kuat bapak untuk bertahan di atas pemikiran-pemikiran yang sejauh ini saya lihat lebih banyak mengarah pada seperti yang pacar saya katakan: berdamai dengan alam dan isinya, bukan menyerahkan diri pada Tuhan seperti yang saya ketahui sejauh ini.

    contohnya saja di postingan ini, ketika tersesat, maka kita harus kembali melakukan tindakan yang melestarikan kehidupan. normalnya, orang di sekeliling saya 99% akan mengatakan “berlutut dan berdo’a, mohon beimbingan Bapa di Surga!”

    PS: beberapa bulan lagi saya dan dia kemungkinan besar akan tinggal bersama, di luar negara ini dimana keagamaannya lebih lemah lagi, jika saya tidak mendapatkan pegangan kuat itu, khawatirnya akan terbawa keluar.

    seperti yang bapak katakan, semakin saya berpikir, semakin saya menderita. Tapi saya benar-benar belum bisa benar-benar melakukan “Tidur ya tidur, makan ya makan.” saya berpikir secara otomatis.

    harap bapak bisa membantu. . .

    Vallendri

    Suka

    1. Salam, untuk bisa mengalami Tuhan, kita harus melepaskan semua hal yang diajarkan kepada kita oleh masyarakat tentang Tuhan. Tuhan ada di dalam diri kita. Maka lihat ke dalam. Saya mengalami Tuhan di dalam diri saya. Saya mengalami, bahwa dia ada bercokol di hati dan kepala saya. Ini bukanlah iman, melainkan sesuatu yang ilmiah, karena berpijak pada pengalaman empiris yang berulang. Di dalam tradisi filsafat India, setiap mahluk adalah pancaran dari atman itu sendiri, yakni jiwa semesta. Hiduplah dengan keyakinan, bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang abstrak di luar sana, tetapi sesuatu yang hidup di dalam dirimu dan semua mahluk lainnya. Ia bekerja dengan menghancurkan untuk menciptakan. Jangan takut dengan penderitaan, karena itu adalah awal dari kehidupan. Semoga membantu.

      Suka

      1. Terima kasih Pak Reza. *menghela napas sambil mulai berpikir untuk mengambil s2 filsafat* ilmu yang sangat menarik, sayang saya baru menyadari bahwa bidang ilmu ini ada, kurang dari setahun yang lalu.

        Suka

  2. Sy pernah mmbaca komentar dr blog bapak sebelumnya. Smuany brawal dr titik nol, titik nol bukan brrti apa2, bisa jd awal dr sgalanya..ktika mendaki gunung sy melihat brbagai pola yang indah, sungai, kota, lampu2 malam yang indah. Ttp dlm keindahan itu bnyk skali hal2 yg penuh penderitaan, canda tawa dan tangis, sering sekali kita melupakan itu. Sy prnah brtemu pemuda pnjual koran yg dr kcil trkena polio di salah 1 lampu merah di surabaya, beliau tinggal dgn ibunya. Sy tanya : apa mas tdk ingin khidupan yg lebih baik ? Beliau mnjawab,” tidak mas, sy hnya ingin diberi kekuatan saja untuk menjalani hidup” jwbn itu yg mmbuat sy trsadar dgn ap yg saya lakukan slama ini. Kecemasan yg saya alami mendorong utk mnjadikan lebih baik..saya bukan anak yang bisa mengerti ttg isyarat semesta, setidaknya saya ingin berbuat di lingkungan saya meskipun hanya menata hati saya sendiri untuk lebih dan lebih bisa menghargai orang lain. Ketika tdk ad yang mengerti dan bnyk sekali penolakan tentang pemikiran saya, saya hanya bisa menulis dlm sebuah buku berwarna biru milik saya. Terimakasih atas refleksi nya pak rezaa. 🙂

    Suka

  3. mohon izin bertanya pak reza, ini diluar kontek dari tulisan bapak. Apakah mahasiswa S1 Teknik Mesin bisa meneruskan studinya untuk ambil Jurusan Filsafat untuk S2’nya,? Terima Kasih untuk jawabannya,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s