Mendidik Dendam

zbeksinsk10
wordpress..com

Oleh Reza A.A Wattimena

Semua konflik di dunia ini terjadi, karena orang mengira, bahwa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan. Mereka mengira, bahwa ini adalah jalan keluar satu-satunya. Jika kekerasan tak dibalas dengan kekerasan, ada perasaan tidak puas di dalam diri. Bahkan, pola semacam ini sudah menjadi begitu otomatis, sehingga orang tidak lagi menyadarinya.

Bom harus dibalas dengan bom. Pukulan harus dibalas dengan pukulan. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Nyawa ganti nyawa.

Padahal, jika melihat sejarah, kita akan menemukan, bahwa kekerasan tidak pernah menjadi jalan keluar. Kekerasan hanya melahirkan kekerasan. Tidak lebih dan tidak kurang. Buahnya adalah penderitaan dan kemarahan yang semakin dalam.

Dendam

Di balik pola ini, ada satu hal yang sama, yakni dendam. Dendam adalah perasaan tidak terima, karena orang merasa diperlakukan tidak adil. Dendam menjadi dasar untuk melakukan tindakan balasan, yakni kekerasan. Disini berlaku hukum yang sama, kekerasan akan terus melahirkan kekerasan dan penderitaan, sampai kekerasan itu diputus.

Jelas, bahwa kita harus mencari jalan lain. Kita perlu menyadari, bahwa dendam tidak pernah menghasilkan apapun yang baik. Pepatah Buddhis berikut kiranya benar, bahwa orang yang menyimpan dendam itu seperti orang yang membawa bara api di tangannya, dan mau melemparkan itu ke orang lain. Orang yang menyimpan dendam itu terluka terlebih dahulu, bahkan sebelum ia menyakiti orang lain.

Oleh karena itu, kita harus mendidik rasa dendam yang ada di dalam diri kita. Kita perlu memahami bara api yang kita pegang di tangan kita sendiri ini. Tujuannya, supaya kita bisa memutus rantai kekerasan dan penderitaan yang terjadi. Hanya dengan begitu, perdamaian menjadi mungkin.

Bagaimana cara mendidik dendam? Kita harus memahami akar dendam itu sendiri. Dengan pemahaman ini, kita akan sadar, apa arti dendam itu sesungguhnya. Pemahaman ini juga membantu kita memutus rantai kekerasan yang adalah buah dari rasa dendam.

Akar Dendam

Dendam memiliki dua kaki, yakni amarah dan rasa takut. Amarah muncul, karena keinginan kita tidak sejalan dengan kenyataan yang terjadi. Rasa takut muncul, karena ketidakpastian dari kehidupan itu sendiri. Ketika dua hal ini bertemu, dendam lalu muncul sebagai reaksi atas hal-hal yang tak diinginkan.

Padahal, jika diamati dengan jeli, amarah dan takut itu sejatinya kosong. Keduanya tidak memiliki inti pada dirinya sendiri. Keduanya lahir dari kesalahan berpikir. Jika kesalahan berpikir itu diperbaiki, maka keduanya akan lenyap secara alami.

Kesalahan berpikir macam apa yang terjadi disini? Yang pertama adalah, bahwa kenyataan harus selalu sesuai dengan keinginan kita. Ini jelas tidak akan pernah mungkin terjadi. Di dalam filsafat Jerman, ini disebut tegangan antara apa yang ada (das Sein) dan apa yang seharusnya terjadi (das Sollen) yang menghasilkan “rasa sakit dunia” (Weltschmerz). Tegangan ini menghasilkan banyak emosi jelek di dalam diri manusia; salah satunya adalah amarah.

Ketika kita melepaskan keinginan kita, kita lalu bisa menerima kenyataan apa adanya. Kita tidak lagi memaksakan, supaya dunia berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kita melepaskan mimpi dan harapan-harapan kosong kita akan kehidupan. Di titik ini, kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

Yang kedua adalah soal ketidakpastian hidup yang membuat kita merasa takut. Jika dipikirkan lebih dalam, hidup itu sendiri adalah ketidakpastian. Setiap saat, segala hal bisa terjadi pada kita.

Di detik berikutnya, kita bisa mati tersengat listrik, atau mendapat hadiah undian jutaan rupiah. Siapa yang tahu? Ketika kita bisa menerima ketidakpastian ini sebagai bagian dari hidup kita, maka rasa takut pun akan hilang dengan sendirinya.

Kekosongan dari Dendam

Dendam lahir dari amarah dan takut. Namun, amarah dan takut itu sejatinya kosong. Maka, dendam juga sejatinya kosong. Ia tidak memiliki inti pada dirinya sendiri.

Di dalam tradisi Timur, kenyataan dipahami sebagai kekosongan. Nagarjuna, filsuf India, bahkan menegaskan, bahwa kekosongan (Sunyata) adalah dasar dari segala-galanya. Dari kekosongan, segala sesuatu datang dan pergi. Kekosongan adalah kemungkinan yang tak terhingga.

Di dalam filsafat Zen, segala hal itu terjadi, karena adalah hal-hal yang memungkinkannya (dependent origination). Air menjadi panas, karena ada api yang membakarnya. Api menjadi ada, karena ada gesekan yang kuat antara dua benda keras. Dua benda keras bisa bergesekan, karena ada energi yang menggerakannya, dan begitu seterusnya.

Tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Segalanya adalah bagian dari segalanya. Keterkaitan antara segala sesuatu ini adalah kehidupan itu sendiri. Tidak ada satu hal pun yang memiliki inti universal dan mampu berdiri sendiri, lepas dari jaringan kehidupan.

Di dalam buku Wissenschaft der Logik, Hegel, filsuf Jerman, menyebut ini sebagai hukum keniscayaan. Keniscayaan menjadi mungkin, karena potensi berjumpa dengan kondisi. Orang pasti menjadi presiden, ketika bakatnya sebagai pemimpin digabungkan dengan dukungan dari banyak orang. Ketika potensi atau kondisi tidak ada, maka tidak ada pula keniscayaan.

Dendam pun memiliki pola serupa. Ia bukanlah sesuatu yang mutlak. Ia lahir dari hal-hal yang memungkinkannya. Ketika hal-hal tersebut berubah, dan itu pasti berubah, maka dendam pun juga lenyap dengan sendirinya.

Ego

Ketika dendam, amarah dan takut muncul di dada, kita juga perlu bertanya, siapa ini yang merasakan emosi-emosi tersebut? Siapa yang mengalami gejolak perasaan-perasaan tersebut? Jawabannya dengan mudah diberikan: saya.

Namun, siapa, atau apa, itu “saya”? Apakah ada yang disebut “saya”? Jika diteliti lebih jauh, kita akan juga sampai pada kesimpulan, bahwa “saya” adalah kosong. Ia datang dan pergi, tergantung pada kondisi-kondisi yang memungkinkannya.

Ketika anda sedang asyik menonton film, “saya” seolah lenyap. Anda menyatu dengan film yang anda tonton. Sama halnya, ketika anda mendengar musik yang indah. “Saya” seolah mundur ke belakang, dan tak lagi tampak.

Namun, ketika anda merasa marah, “saya” muncul lagi ke depan. Biasanya, anda marah, karena kehendak anda tidak terpenuhi. Ambisi anda tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Di titik ini, si “saya” menjadi begitu kokoh dan agresif.

Jadi, “saya” sebenarnya juga kosong. Ia tak memiliki inti. Ia tergantung dari keadaan yang menghasilkannya. Ia juga adalah hasil dari perkawinan antara potensi dan kondisi, sebagaimana dikatakan oleh Hegel.

Thomas Metzinger, ilmuwan neurosains Jerman, juga menegaskan ini melalui penelitian-penelitiannya. Di dalam buku Der Ego-Tunnel, ia melihat, bahwa “saya”, atau diri, adalah gambaran semata. Gambaran ini datang dan pergi, serta terus berubah. Sejatinya, ia tidak ada.

Jika “saya” adalah kosong, maka semua perasaan dan pikiran yang dihasilkannya juga kosong. Semuanya tak memiliki inti. Dendam, amarah dan takut juga tak memiliki akar yang kuat pada kenyataan. Semuanya bagaikan awan yang terus bergerak di langit biru yang luas membentang di belakangnya.

Orang terjebak pada dendam, amarah dan takut, ketika ia tidak menyadari ini. Orang tenggelam pada penderitaan, karena kesalahan berpikirnya. Kesalahan berpikir ini adalah mengira sesuatu yang tak ada sebagai ada. Ketika kesalahan ini dilepas, amarah, dendam dan takut juga lenyap secara alami.

Kebijaksanaan

Kesadaran akan kekosongan dari segala sesuatu adalah sumber utama dari kebijaksanaan yang sejati, begitu kata Nagarjuna. Dari kesadaran ini, kita bisa memiliki kebebasan yang sesungguhnya. Kita bisa melepas semua emosi jelek kita, dan mencapai kedamaian batin yang sejati. Kita lalu bisa hidup dengan kejernihan, dan membantu orang lain di sekitar kita.

Namun, pengetahuan belaka juga tidak banyak membantu. Kita membutuhkan pengalaman langsung akan kekosongan itu sendiri. Disini letak pentingnya meditasi, yakni tindak mengamati segala sesuatu yang terjadi di dalam maupun di luar diri kita, tanpa memberi penilaian ataupun analisis apapun. Jika kita bisa mengamati dengan pola semacam ini setiap saat, kita akan menemukan kejernihan batin dan pikiran.

Kejernihan ini juga harus dikelola setiap saat. Kita harus memberikan arah pada pikiran kita, supaya ia tidak bergerak tak teratur. Arah ini dapat diberikan dengan menarik pikiran kita pada keadaan saat ini dan disini, yakni pada apa yang kita sedang lakukan. Cara lain adalah dengan mengajukan pertanyaan mendasar: apa ini yang sedang melakukan tindakan ini?

Di dalam tradisi Seon Buddhisme Korea, pertanyaan ini disebut juga sebagai Hwadu, yakni kata yang hidup. Hwadu tidak untuk dijawab dengan teori, tetapi untuk dialami secara terus menerus. Secara ilmiah bisa dijelaskan, bahwa Hwadu berfungsi memberikan arah pada pikiran kita, sehingga ia tetap fokus dan jernih dari saat ke saat.

Jika pikiran kita jernih, kita bisa memahami keadaan sebagaimana adanya di depan mata kita. Kita tidak lagi dikaburkan oleh emosi-emosi tak teratur di dalam diri kita. Kita bisa bertindak dengan bijak, sesuai dengan keadaan yang ada. Inilah kebijaksanaan hidup yang tertinggi.

Perdamaian

Mendidik dendam berarti menyadari dan mengalami langsung, bahwa dendam itu kosong. Sejatinya, ia tidak ada. Kesalahan berpikirlah yang melahirkannya. Ketika kesalahan berpikir ini diperbaiki, dendam juga otomatis hilang.

Ketika dendam lenyap, maka rantai kekerasan akan terputus. Perdamaian yang sesungguhnya pun menjadi mungkin. Berbagai perbedaan yang ada diselesaikan dengan jalan dialog yang sehat. Dendam, amarah dan takut tetap ada, karena itu adalah bagian dari perubahan kenyataan dan diri manusia.

Namun, mereka tidak lagi menganggu. Mereka datang dan pergi, seperti kabut di pagi hari. Mereka tidak lagi menjadi penjajah yang memaksa kita untuk menuruti keinginan mereka. Bahkan, pada tingkat tertentu, mereka adalah kawan kita untuk berjalan bersama menuju kebijaksanaan. Mari kita mendidik dendam yang mungkin bercokol di dalam diri kita.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Mendidik Dendam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s