Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

palace-of-wisdom

Oleh Reza A.A Wattimena

            Banyak orang cerdas di jaman ini. Mereka penuh dengan informasi dan pengetahuan. Namun, kebijaksanaan tak mereka miliki. Akibatnya, kecerdasan tersebut digunakan untuk menipu, korupsi dan merusak kebaikan bersama.[1]

Yang dibutuhan kemudian adalah nalar kebijaksanaan (Vernunft-Weisheit). Nalar kebijaksanaan lebih dari sekedar nalar keilmuan. Di jaman sekarang ini, nalar kebijaksaanaan menjadi panduan utama, supaya kecerdasan bisa mengabdi pada kebaikan bersama. Ini juga menjadi amat penting di tengah tantangan radikalisme dalam segala bentuknya, dan banjir informasi palsu yang melanda kehidupan kita. Sebagai ibu dari semua ilmu, filsafat adalah ujung tombak untuk membangun nalar kebijaksanaan.

Belajar Filsafat dan Berfilsafat

Berfilsafat bukanlah belajar filsafat. Memang, untuk bisa berfilsafat, orang perlu untuk belajar filsafat. Ini diperlukan, supaya orang bisa belajar dari pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Berfilsafat adalah upaya untuk memahami dunia yang terus berubah secara rasional, kritis dan sistematik.[2]

Belajar filsafat bisa berhenti, setelah orang selesai sekolah, atau kuliah. Berfilsafat tak pernah berhenti. Setiap saat, orang bisa berfilsafat. Berfilsafat pun bisa tentang beragam tema, mulai dari soal cinta, keadilan sampai dengan perdamaian dunia.

Alat filsafat hanya satu, yakni akal budi. Iman ditunda. Tradisi dan ajaran lama ditunda. Di dalam sejarah, filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan, sebagaimana kita kenal sekarang ini.[3]

Peran Media

Media memainkan peranan penting dalam hidup kita sekarang ini. Dalam arti ini, media adalah segala hal yang menyampaikan informasi kepada kita dalam segala bentuknya, baik informasi deskriptif maupun informasi kritis. Ia bisa berada di dunia nyata maupun maya. Tidak berhenti disitu, kini media ikut membentuk identitas kita sebagai manusia, dan sebagai bangsa.

Namun, media pun terbatas pada informasi. Ia menyediakan informasi terbaru tentang apa yang terjadi di dunia. Beberapa informasi itu berguna untuk mengembangkan kehidupan, sehingga menjadi pengetahuan. Banyak juga media yang menjadi alat politik untuk menyebarkan kebohongan, dan menciptakan perpecahan.

Nalar Kebijaksanaan

Dalam konteks ini, filsafat berperan dalam dua hal. Pertama, filsafat menjadi tameng bagi segala bentuk kebohongan yang disebarkan oleh media. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan rasional, filsafat bisa menjauhkan orang dari sikap percaya begitu saja di hadapan gempuran informasi. Peran ini amatlah penting, guna mencegah tersebarnya hoaks, dan pecahnya konflik, akibat kebohongan yang disebarkan oleh media-media sesat.

Dua, filsafat bisa meningkatkan mutu pengetahuan di era media, sehingga ia bisa menyentuh kebijaksanaan. Kebijaksanaan mengandung dua hal. Yang pertama adalah kemampuan melihat dunia apa adanya, tanpa melibatkan prasangka yang sudah ada sebelumnya. Ini juga sejalan dengan pandangan dasar dari fenomenologi, yakni kembali ke benda itu sendiri (Zurück zu den Sachen Selbst).[4]

Yang kedua adalah kebijaksanaan sebagai kemampuan untuk bersikap sesuai keadaan yang ada. Ini artinya, orang bisa menggunakan pengetahuan yang ia punya sesuai dengan kebutuhan yang ada. Ia tahu, kapan harus diam. Ia tahu, kapan harus berkata-kata, atau bertindak. Disini, kebijaksanaan adalah kemampuan untuk mempertimbangkan secara tepat.

Masyarakat Demokratis

Di dalam masyarakat demokratis, seperti Indonesia, filsafat jelas memainkan peranan amat penting. Warga negara demokratis membutuhkan nalar sehat dan sikap kritis yang dikembangkan filsafat, supaya bisa berdialog dengan sehat, dan membuat keputusan yang tepat untuk kebaikan bersama. Filsafat juga bisa membantu proses komunikasi dengan melatih orang berpikir dan berpendapat secara jelas serta sistematis.[5]

Dua hal yang kerap terjadi di dalam diskusi politik di Indonesia. Yang pertama adalah argumentum ad hominem, yakni menyerang pribadi secara langsung. Yang kedua adalah argumentum ad baculum, yakni mengancam dengan menggunakan kekerasan. Dua bentuk kesalahan berargumen tersebut kini meracuni dunia politik Indonesia.

Terlebih, filsafat bisa melahirkan nalar kebijaksanaan. Di tengah banjir informasi dan pengetahuan, orang justru semakin bingung. Dengan nalar kebijaksanaan, orang belajar untuk memilah beragam informasi dan pengetahuan yang ada. Ia lalu bisa menggunakan semua pengetahuan yang ia punya secara kontekstual, yakni sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang ada.[6]

Kritik Ideologi

Demokrasi adalah sistem politik yang paling mampu mewujudkan keadilan dan kemakmuran untuk seluruh rakyat. Dengan kata lain, demokrasi adalah sistem politik yang paling inklusif. Tentu saja, ada banyak tantangan di dalamnya. Salah satu peran filsafat sebagai pengembang nalar kebijaksanaan adalah kritik ideologi.

Ideologi adalah pemikiran sesat tentang kenyataan. Ia membuat penindasan dan kepalsuan menjadi seolah asli dan adil. Tidak hanya itu, ideologi membuat penindasan bahkan menjadi sesuatu yang diinginkan. Dengan nalar kebijaksanaan yang ada, filsafat bisa terus melakukan kritik terhadap beragam ideologi yang ada.

Dua ideologi yang tampak sekarang ini adalah radikalisme dan sofisme. Radikalisme mengambil tafsiran yang amat tertutup dan sempit terhadap suatu ajaran, baik ajaran agama maupun ajaran ilmu pengetahuan.[7] Ini mengakibatkan beragam bentuk diskriminasi dan konflik. Sofisme adalah bentuk kepandaian berbicara, tanpa memiliki unsur kebenaran di dalamnya. Di dalam masyarakat dengan mutu pendidikan amat rendah, seperti di Indonesia, sofisme dengan mudah menipu masyarakat luas.

Nalar kebijaksanaan adalah kebutuhan mendesak di jaman ini. Ia bukan lagi hanya semata kebutuhan kaum terdidik. Nalar kebijaksanaan membantu kita menjalani hidup secara bermartabat, jauh dari kebohongan dan konflik tak berkesudahan. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, nalar kebijaksanaan adalah pegangan kehidupan yang menawarkan arah yang bermakna.

Daftar Acuan

Precht, Richard David. 2015. Erkenne die Welt: Geschichte der Philosophie. Goldmann Verlag.

Wattimena, Reza A.A. 2016. Demokrasi: Dasar Filosofis dan Tantangannya. Yogyakarta: Kanisius.

—. 2018. Dengarkanlah: Pandangan Hidup Timur, Zen dan Jalan Pembebasan. Jakarta: Karaniya.

—. 2012. Filsafat Anti Korupsi. Yogyakarta: Kanisius.

—. 2008. Filsafat dan Sains. Jakarta: Grasindo.

Wattimena, Reza A.A. 2018. “Kosmopolitanisme Sebagai Jalan Keluar Atas Tegangan Abadi Antara Neo-Kolonialisme, Radikalisme Agama dan Multikulturalisme.” Jurnal Ledalero.

—. 2007. Melampaui Negara Hukum Klasik. Yogyakarta: Kanisius.

—. 2018. Mencari Ke Dalam: Zen dan Hidup yang Meditatif. Jakarta: Karaniya.

 

[1] Bdk, (Wattimena 2012)

[2] Lihat (Wattimena, Filsafat dan Sains 2008)

[3] Lihat (Precht 2015)

[4] Lihat (Wattimena, Demokrasi: Dasar Filosofis dan Tantangannya 2016)

[5] Lihat (Wattimena, Melampaui Negara Hukum Klasik 2007)

[6] Bdk, (Wattimena, Dengarkanlah: Pandangan Hidup Timur, Zen dan Jalan Pembebasan 2018) dan (Wattimena, Mencari Ke Dalam: Zen dan Hidup yang Meditatif 2018)

[7] (Wattimena, Kosmopolitanisme Sebagai Jalan Keluar Atas Tegangan Abadi Antara Neo-Kolonialisme, Radikalisme Agama dan Multikulturalisme 2018)

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

18 tanggapan untuk “Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi”

  1. Logical fallacy argumentum ad hominem dan argumentum ad baculum di saat sekarang ini sudah dijadikan sebuah bentuk kebenaran baru oleh sebagian dari kita. Seolah-olah, ya, seolah-olah itu adalah benar. Itu disebarkan secara masif dan terus menerus, sehingga kita seiring waktu sampai pada kesimpulan bahwa hal itu adalah benar. Sepertinya ada yang salah dalam masyarakat kita ini.

    Suka

  2. Menurut saya Kebijaksanaan yang suci jika kita tidak terpaku pada ideologi, seperti capres sekarang, 02 mau membangun kebijaksaan jika dilihat tidak searah dengan ideologi, begitu pun 01 yang tidak mendapat kebijaksaan karena tipu muslihat ideologi , bahkan era terbaik kebijaksaan menurut saya ada di jaman gusdur ,tapi tetap aja orang bijak akan tersingkir, bijak dan jahat akan tersingkir sebelum waktunya.

    Suka

  3. sangat bermakna dan membimbing kita untuk merenungkan jalan umum kehidupan dizaman ini.
    ada baiknya, kita benar2 hidup dan sadar dari saat ke saat.
    lain jalan tidak ada.
    di cela2 kalimat tertulis perubahan dalam segala bidang yg begitu cepat.
    banya salam !!

    Suka

  4. Berfilsafat beda dengan belajar filsafat. Orang yg sudah mempelajari filsafat, bisa terjun ke politik dan sesuai dengan kepentingan serta subjektifitasnya, dengan tema Filsafat ini malah bisa dicomot untuk menjatuhkan lawan politiknya. Katakanlah seorang yg mengaku telah belajar filsafat tetapi telah “mensodomi akal sehat” dengan berbagai gaya narasi, dan publik awam pun nampak terkesima, padahal bagi yg sudah jeli melihat jelas itu adalah tindakan mengotori politik.

    Nah, bagaimana bagusnya secara sederhana filsafat ini membersihkan segala area bidang seperti politik dalam membangun kebijaksanaan? apakah filsafat satu-satunya ilmu induk yg bisa membuat orang bijaksana?

    Suka

  5. Uraian yang menarik. Saya menangkap versi saya, dua macam kebijaksanaan yakni kebijaksanaan realistis dan kebijaksanaan situasional. Kita bijak kalau melihat sesuatu apa adanya. Kita bijak kalau melihat situasi yang berkembang, kemudian menentukan sikap. Mantap Bang Reza

    Suka

  6. ketika bung ”reza” berbicara tentang sofisme, sepertinya sangat bertebaran aktor-aktor pemakai ruang publik di negara kita, mereka beretorika seolah-olah membela kepentingan publik, padahal di dalamnya terselip niat busuk untuk membela elit tertentu, melihat ini serta peran media yang bergerak sangat liar dalam keberhasilanya menyebarkan opini palsu, mengindikasikan sebuah realitas bahwa sejatinya nalar kritis, rasionalis serta sistematis sangat jauh dari apa yang di harapkan oleh kesadaran masyarakat indonesia.

    Suka

  7. Terima kasih. Filsafat harus mengarah pada kebijaksanaan, sehingga ia tidak dipelintir untuk membenarkan kepentingan sempit tertentu. Ini hakekat filsafat. Jika terlupakan, maka terjadilah sodomi akal sehat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.