Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya.
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/
Di jalan raya kini kerap ditemui koin-koin rupiah dengan nilai nominal kecil: 50; 100; dan 200. Koin rupiah dengan nilai nominal tertinggi 1.000, masih bisa membeli kerupuk atau sepotong pisang goreng. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan koin sebagai ”mata uang logam”. Secara faktual di Indonesia koin adalah mata uang dengan nilai nominal dan nilai riil yang sifatnya recehan.
Menurut sebuah sumber, mata uang pertama di dunia berbentuk koin, muncul pada 700 SM di Pulau Aegina atau 650 SM di Lydia, keduanya di Yunani. Tentu saja koin pertama di dunia ini bukan uang recehan.
Koin-koin dengan nominal terkecil tak bisa dipakai untuk membeli apa-apa. Karena itu barangkali sebagian orang enggan menyimpannya di dompet dan membuangnya di jalan-jalan. Saya selalu memungutnya karena merasa terhina dan sedih melihat uang rupiah diperlakukan sebagai barang tak berguna.
Tiga tahun berturut-turut koin rupiah ternyata mencatat perjuangan yang cukup heroik. Ia tak hanya menjadi alat tukar, satuan pengukur nilai, alat investasi, tetapi juga lambang perjuangan. Ia tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga simbolik. Seorang rekan Facebook baru-baru ini mengingatkan koin ”sebagai lambang perlawanan”—dan menemukan aktualitasnya melalui ungkapan, melalui bahasa. Lanjutkan membaca Koin
Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya, 1 April 2011.
Kata ini bagaikan belut. Tidak ada makna pasti. Kata ini hidup dalam konteks. Cara mengucapkan sampai siapa yang dituju menentukan maknanya.
Sahabat dekat mengucapkan kata ini untuk menyapa. Musuh besar juga mengucapkan kata ini, ketika menyatakan rasa bencinya. Kata ini bukanlah kata sifat, atau kata kerja. Ia hanya kata. Ia adalah ekspresi.
Kata ini lahir dari “rahim” orang Surabaya. Kata ini secara singkat menggambarkan identitas orang Surabaya. Ia menggambarkan secara gamblang roh masyarakat pinggir pantai yang amat unik ini.
Seorang Filsuf asal Austria, Ludwig Wittgenstein, pernah berpendapat, bahwa bahasa lahir dari suatu konteks. Konteks itu disebutnya sebagai permainan bahasa (language games). Di dalam permainan bahasa, ada aturan yang harus dipatuhi. Makna suatu kata atau suatu aktivitas selalu harus dilihat dalam konteks permainan bahasanya. Lanjutkan membaca Jancuk
Kiev, Ukraina, kota yang amat dingin. Seorang nelayan pergi ke sungai untuk memancing. Namanya dirahasiakan oleh surat kabar setempat. Tak yang tahu pasti, siapa namanya.
Usianya 43 tahun. Ia mau memancing dan terlebih dahulu menyalakan kapalnya. Ia mengambil kabel lalu mencolokannya ke sumber listrik. Kakinya menginjak air. Ikan di dalam air itu mati. Terkejut, ia pun mengambil ikan gratis itu. Namun tak beberapa lama kemudian, nasibnya berubah. Ia mati… oleh sebab yang sama dengan ikan yang ia ambil.
Ternyata pagi itu ia hendak menangkap ikan, memasaknya, dan memakannya, guna mengenang kematian ibu mertua yang amat dikasihinya. Ironis. Lanjutkan membaca Kematian
Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya
Seperti segala sesuatu di bawah langit, kebahagiaan pun memiliki sejarah, walaupun sejarah kebahagiaan tidaklah sama dengan sejarah-sejarah lainnya. Sejarah kebahagiaan adalah sejarah bagian dari diri manusia, dan sejarah tentang segala sesuatu yang layak diperjuangkan di dalam kehidupan manusia. Sejarah kebahagiaan menyangkut manusia dalam kaitannya dengan segala sesuatu yang berharga untuknya, termasuk pula keseluruhan alam semesta.
Besarnya skala kebahagiaan membuat orang sulit untuk sungguh memahaminya, dan usaha mencari kebahagiaan pun seringkali adalah suatu usaha yang problematis. Banyak upaya yang bisa dicapai, namun seringkali semua upaya itu saling bertentangan satu sama lain. Akibatnya tidak ada pengertian tunggal yang menyeluruh tentang kebahagiaan. Jika kebahagiaan bisa dipahami secara menyeluruh, maka kebahagiaan hanyalah persoalan intelektual saja. Namun faktanya kebahagiaan melampaui dimensi intelektualitas. Oleh sebab itu pikiran manusia tidak dapat, dan tidak boleh, bisa memahaminya secara utuh. Kebahagiaan menyisakan misteri bagi manusia yang hendak mencarinya. Lanjutkan membaca Bahagia Part. 1
Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.
Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.
Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.
Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore. Lanjutkan membaca Pelacur
Waktu menunjukkan jam 10 pagi tepat. Hari itu Sabtu 26 Maret 2011. Cuaca mendung. Udara cukup dingin untuk ukuran Surabaya.
Ruangan sudah mulai penuh. Beberapa orang saling berbicara. Tampak beberapa teman lama yang bertukar cerita. Tampak beberapa lainnya duduk membaca buku.
Dari kejauhan tampak dengan jelas Prof. Maramis. Beliau mengenakan kemeja hijau, dan sibuk berbincang dengan beberapa tamu yang baru saja hadir. Beberapa saat kemudian datanglah Dr. Aucky Hinting. Beliau adalah salah satu pembicara dari Diskusi Terbuka Bioetika dengan tema Teknik In Vitro Fertilisation (Bayi Tabung) dan Aspek Moralnya yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya dalam kerja sama dengan Calon Fakultas Kedokteran di universitas yang sama. Lanjutkan membaca Diskusi Terbuka “Bayi Tabung” dan Aspek Moralnya
Hidup kita dipenuhi kebetulan. Berbagai peristiwa terjadi tanpa diramalkan. Hal-hal tak terduga memberikan kejutan. Kita pun bertanya-tanya, apa makna suatu kejadian?
Pada level pribadi kebetulan terus terjadi. Yang kita perlukan hanyalah melihat dengan sedikit jeli. Seperti tiba-tiba hujan, tepat pada waktu kita sampai di tempat tujuan. Atau tepat mendapatkan uang, ketika kita sedang amat membutuhkan.
Hal yang sama terjadi pada level sosial. Konon revolusi seringkali tidak direncanakan. Revolusi seringkali merupakan serangkaian kebetulan. Kita pun patut mempertanyakan akurasi teori-teori yang berusaha menjelaskan perubahan. Lanjutkan membaca Kebetulan
Negara yang telah kehilangan sensibilitasnya terhadap sastra adalah negara yang tengah menegasikan potensinya sendiri dalam hal menumbuhkembangkan kreativitas dan otentisitas.
Sudah menjadi aksioma, persaingan ekonomi dan industri pada abad ke-21 berbasis inovasi. Sementara inovasi itu sendiri berpijak pada kreativitas dan otentisitas. Tanpa inovasi, mustahil daya saing ekonomi dan industri dapat diwujudkan. Begitu pun tanpa kreativitas dan otentisitas, mustahil inovasi dapat digelorakan. Sementara tak dapat dielakkan, sastra merupakan lahan subur tumbuhnya ”pohon” kreativitas dan otentisitas.
Sudah lebih dari cukup berbagai penjelasan menyebutkan, negara-negara berteknologi maju dewasa ini adalah negara dengan warisan (legacy) sastra. Hampir tidak ada negara maju kini miskin karya sastra. Bahkan sebuah negara mampu beranjak maju tatkala elemen ekonomi dan industri negara tersebut mampu mereguk ilham dari narasi-narasi sastra. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Harian Kompas: Negara Tanpa Sastra
Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya
Žižek adalah seorang filsuf kontemporer yang ternama sekarang ini. Walaupun begitu cara berpikir dan gaya hidupnya jauh dari kesan seorang filsuf yang kering dan membosankan. Ia menulis dan berpikir dengan cara yang sangat unik, bahkan menghibur. Ia bahkan membuat filsafat menjadi menyenangkan, seperti layaknya komedi. Argumennya mengagetkan. Cara ia menyampaikannya selalu dengan jelas dan meledak-ledak.[i] Beberapa tema yang pernah dibicarakannya, “lelucon tentang siapa yang akan dimakan oleh ayam berikutnya, lalu ia menjelaskan sikap etis heroik Keanu Reeves di dalam film Speed, menjelaskan dasar filosofis dari Viagra, lalu berakhir dengan penjelasan nilai paradoksal Kristianitas dan Marxisme.”[ii]
Dalam salah satu wawancaranya, Žižek pernah bertanya, “mengapa segala sesuatu seperti itu?”[iii] Sikap penasaran yang dikembangkan Žižek adalah suatu taktik untuk mengajak orang berpikir lebih mendalam tentang segala sesuatu. “Filsafat dimulai”, demikian kata Žižek, “pada saat kita tidak lagi menerima apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan.”[iv] Terkadang ia bertanya seperti anak kecil, mengapa langit berwarna biru? Di saat lain ia bertanya tentang siapa sesungguhnya manusia, apa yang sedang kita lakukan, dan mengapa kita melakukannya. Ia bertanya seperti anak kecil, namun menjawab dengan ketajaman argumentasi seorang filsuf besar. Lanjutkan membaca Slavoj Žižek
Fenomenologi (phenomenology) adalah sebuah cara mendekati realitas yang pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Edmund Husserl.[1] Cita-cita dasarnya adalah menjadikan fenomenologi sebagai ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Dalam arti ini fenomenologi adalah “sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama.”[2] Fenomenologi sendiri secara harafiah berarti refleksi atau studi tentang suatu fenomena (phenomena). Fenomena adalah segala sesuatu yang tampak bagi manusia. Fenomenologi terkait dengan pengalaman subyektif (subjective experience) manusia atas sesuatu. Dalam hidup sehari-hari, orang sebenarnya telah melakukan praktek fenomenologi, ketika mereka melakukan proses refleksi, yakni proses bertanya pada dirinya sendiri.
Dengan demikian fenomenologi adalah sebuah cara untuk memahami kesadaran yang dialami oleh seseorang atas dunianya melalui sudut pandangnya sendiri. Jelas saja pendekatan ini amat berbeda dengan pendekatan ilmu-ilmu biologis ataupun positivisme.[3] Ilmu-ilmu biologis ingin memahami cara kerja kesadaran melalui unsur biologisnya, yakni otak. Dalam arti ini mereka menggunakan sudut pandang orang ketiga, yakni sudut pandang pengamat. Kesadaran bukanlah fenomena mental, melainkan semata fenomena biologis. Sebaliknya fenomenologi menggunakan pendekatan yang berbeda, yakni dengan “melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama.”[4] Lanjutkan membaca Politik (fenomenologi)
Beberapa waktu lalu, empat teman datang ke rumah. Mereka membawa manuskrip berjudul ”Pedagogik Kritis”.
Teman-teman ini ingin tahu pendapat saya dan sekaligus meminta saya menulis kata sambutan untuk penerbitan buku itu. Ini berarti mereka berasumsi bahwa saya akan setuju dengan isi manuskrip tersebut. Sebuah fait accompli yang halus!
Manuskrip terdiri dua bagian: sejarah perkembangan pedagogik kritis dan beberapa karangan tentang pendidikan di Indonesia yang berciri pedagogik kritis.
Menurut pendapat saya, kata kritis sebagai adjektiva kata pedagogik agak berlebihan (redundant). Pedagogi (teori tentang membimbing anak menuju kedewasaan) dan pedagogik (praksis membimbing anak menuju kedewasaan) lahir dan berkembang karena adanya pemikiran kritis mengenai gagasan-gagasan dan praksis pendidikan yang berlaku selama suatu kurun waktu. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Harian Kompas: Pedagogik Kritis
SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu bom dijatuhkan.
Saya bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina yang bisa mendarat di permukaan laut berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk. Tak lama kemudian, kapal terbang kecil itu pun berhenti di teluk. Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda yang kurus, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap. Lanjutkan membaca Sjahrir di Pantai
Bangsa kita krisis militansi. Orang terjebak dalam rutinitas. Mereka menjalani hidupnya dengan terpaksa. Kerja pun dijalan dengan separuh hati.
Tak heran banyak hal gagal dijalankan. Pemberantasan korupsi gagal. Pengentasan kemiskinan gagal. Perlawanan pada teror bom kini tersendat.
Menjadi militan berarti hidup dengan sebuah nilai. Bahkan orang rela mati demi terwujudnya nilai tersebut. Menjadi militan tidak melulu sama dengan menjadi fundamentalis. Nilai hidup seorang militan lahir dari penempaan kritis dan reflektif.
Berita tentang kemubaziran dana rakyat triliunan rupiah akibat telantarnya ribuan unit rumah susun sewa di DKI Jakata (Kompas, 1-2 Maret 2011) sungguh terasa amat menyesakkan dada.
Betapa tidak. Begitu banyak saudara kita sebangsa dan setanah air yang masih tinggal di kolong jembatan, sepanjang tepi rel kereta api, bahkan di kuburan, dengan kondisi mengenaskan. Kok, bisa-bisanya di negara Pancasilais ini ada 74 dari 78 menara kembar rumah susun yang sudah terbangun ternyata mangkrak atau telantar. Kendalanya, menurut pihak berwenang, karena tak tersedia prasarana (infrastruktur) seperti air bersih dan listrik, serta sarana pendidikan dan akses transportasi. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Semarang: Renaisans Perkotaan
Kita sedang menyaksikan bangsa Jepang menghadapi bencana: gempa, tsunami, dan nuklir sekaligus.
Lewat televisi, Facebook, dan Twitter, kita tahu seluruh dunia memuji mereka karena terlihat bagaimana Pemerintah Jepang yang terus mengobarkan semangat dengan tenang dan tidak emosional, bekerja tenang dan teratur, meminta warga tetap waspada, mengimbau warga bahu-membahu menghadapi bencana, termasuk menghemat listrik dan makanan, serta meminta maaf karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik bergilir.
Pemerintah juga memberikan tips-tips menghadapi bencana, menyediakan call centre yang bisa dihubungi 24 jam, dan mengirim tim SAR dari setiap prefektur menuju lokasi-lokasi bencana. Warga dan pemerintah bahu-membahu menyelamatkan korban sehingga terasa betul bahwa di Jepang manusia benar-benar sangat berharga. Terlihat pula pemandangan warga yang saling menyemangati.
Hiruk-pikuk politik belakangan ini menyembunyikan sesuatu yang banal: retak koalisi akibat pengajuan hak angket oleh parlemen, anti-kebebasan pers Menteri Sekretaris Kabinet, dan bocor kawat diplomatik yang menyengat beberapa tokoh republik ini.
Kita tahu semua itu akan berakhir di meja negosiasi. Politik berubah menjadi sesuatu yang purba bernama oikonomia. Oikonomia alias ekonomi sesungguhnya kehilangan sesuatu yang fundamental dalam politik bernama militansi. Logika oikonomia adalah logika pertukaran yang saling menguntungkan. Ia tak punya kosakata menjelaskan militansi. Politik, sebaliknya, adalah militansi berkelanjutan terhadap prinsip atau ideologi. Militansi boleh dibilang adalah raison d’être politik.
Kita senang sekali dengan lomba. Sedikit-sedikit kita ikut lomba. Sedikit-sedikit kita mengadakan lomba. Seolah kita tidak bisa hidup tanpa lomba.
Katanya dengan lomba kita bisa tahu, siapa yang lebih baik di antara kita. Dengan lomba kita bisa kenal orang-orang baru. Dengan lomba kita bisa belajar dari orang lain. Dan dengan menang lomba, kita bisa meningkatkan reputasi kita.
Apakah benar begitu?
Saya yakin di balik lomba, ada keinginan untuk berkuasa. Saya juga yakin di balik lomba, ada keinginan untuk menghancurkan lawan. Ini semua jauh lebih dominan, daripada keinginan untuk belajar bersama, apalagi belajar dari orang lain.
Maka itu saya tidak setuju dengan lomba, apapun bentuknya.