Ada dan Hibrida

WallHere

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu acara untuk masyarakat luas di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) minggu lalu, saya mendengarkan satu ide yang amat menarik dari Komaruddin Hidayat, salah satu pemikir publik terbesar di Indonesia saat ini. Ia berkata, bahwa generasi sekarang adalah generasi hibrida (bercampur aduk). Latar belakang orang tua datang dari beragam suku dan ras. Ini membuat identitas etnis dan ras menjadi begitu cair di Indonesia sekarang ini.

Pernyataan itu langsung menyentil diri saya. Saya memang hibrida, baik dari segi fisik maupun pemikiran. Kedua orang tua saya adalah kumpulan dari beragan suku, etnis dan ras. Ayah saya keturunan Ambon, Belanda, Portugis dan Batak, mungkin masih ada yang lainnya. Sementara, ibu saya keturunan Cina, Padang dan sedikit percikan Jawa Surabaya. Akhirnya, lahirlah manusia yang berambut keriting, bermata sipit, dan berbadan besar. Lanjutkan membaca Ada dan Hibrida

Heidegger, “Ada” dan Utopia

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ilmu pengetahuan modern lahir dari rahim filsafat. Filsafat sendiri dapat dilihat sebagai upaya manusia untuk memahami segala yang ada secara kritis, rasional dan sistematik. Buah dari filsafat adalah pengetahuan tentang kehidupan. Walaupun begitu, menurut Martin Heidegger, filsafat haruslah bergerak lebih dalam dengan mempertanyakan dasar dari keberadaan segala sesuatu itu sendiri, atau yang disebutnya sebagai “Ada” (Sein).

Filsafat berkembang melalui pertanyaan tentang alam. Inilah yang disebut sebagai kosmosentrisme. Alam menjadi obyek utama berbagai diskusi dan refleksi filosofis. Inilah akar dari ilmu fisika modern, sebagaimana dipahami sekarang ini. Walaupun begitu, alam adalah bagian dari Ada, dan bukan merupakan Ada itu sendiri. Lanjutkan membaca Heidegger, “Ada” dan Utopia

Parmenides: Peri physeos, atau Tentang Alam (über die Natur)

http://library.duke.edu
library.duke.edu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Kita hidup di era informasi. Begitu banyak informasi kita terima setiap harinya. Televisi, koran, internet bahkan tembok WC umum menawarkan informasi kepada kita. Apa yang terjadi di ujung dunia sebelah selatan bisa langsung kita ketahui melalui telepon selular yang kita gunakan setiap harinya.

Namun, tidak semua informasi itu benar dan layak disimak. Banyak yang hanya merupakan gosip. Banyak juga yang merupakan fitnah untuk memenuhi kepentingan politis tertentu, terutama pada waktu pemilihan umum politik, seperti Indonesia di 2014. Sebagian lainnya hanya informasi tak penting yang tak perlu disimak, seperti kisah hidup para artis.

Seringkali, kita bingung, karena banjir informasi semacam ini. Yang mana yang benar, dan yang mana yang salah? Apa yang harus dilakukan dengan semua informasi ini? Banyak juga informasi yang justru menyulut konflik, karena seringkali berpijak pada fitnah, atau fakta yang salah. Lanjutkan membaca Parmenides: Peri physeos, atau Tentang Alam (über die Natur)