Bahagia Part. 1

happyart.aleloop.com

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Seperti segala sesuatu di bawah langit, kebahagiaan pun memiliki sejarah, walaupun sejarah kebahagiaan tidaklah sama dengan sejarah-sejarah lainnya. Sejarah kebahagiaan adalah sejarah bagian dari diri manusia, dan sejarah tentang segala sesuatu yang layak diperjuangkan di dalam kehidupan manusia. Sejarah kebahagiaan menyangkut manusia dalam kaitannya dengan segala sesuatu yang berharga untuknya, termasuk pula keseluruhan alam semesta.

Besarnya skala kebahagiaan membuat orang sulit untuk sungguh memahaminya, dan usaha mencari kebahagiaan pun seringkali adalah suatu usaha yang problematis. Banyak upaya yang bisa dicapai, namun seringkali semua upaya itu saling bertentangan satu sama lain. Akibatnya tidak ada pengertian tunggal yang menyeluruh tentang kebahagiaan. Jika kebahagiaan bisa dipahami secara menyeluruh, maka kebahagiaan hanyalah persoalan intelektual saja. Namun faktanya kebahagiaan melampaui dimensi intelektualitas. Oleh sebab itu pikiran manusia tidak dapat, dan tidak boleh, bisa memahaminya secara utuh. Kebahagiaan menyisakan misteri bagi manusia yang hendak mencarinya.

Dengan kata lain kebahagiaan adalah sebuah harapan, sebuah cita-cita yang layak untuk terus dikejar. Di dalam sejarah Anda bisa menemukan banyak cara untuk mencapai harapan ini. Dan seperti sudah disinggung sebelumnya, cara-cara tersebut seringkali bertentangan satu dengan yang lainnya. Beberapa filsuf dari Inggris, yang mengajarkan cara untuk mencapai kebahagiaan, lebih memilih menggunakan kata well-being, daripada kata happiness. Itulah konsep kebahagiaan menurut mereka. Di peradaban Yunani Kuno, para filsuf menggunakan kata Eudaimonia. Tidak ada kata yang pas untuk menerjemahkan maksud kata itu, namun kira-kira maksudnya terkait dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan di dalam sejarah manusia selalu terkait dengan gejala politik, ekonomi, dan budaya yang terjadi pada jamannya. Walaupun begitu ide-ide tentang kebahagiaan tersebut seolah mengatasi jamannya, sehingga bahkan sampai sekarang pun ide-ide tersebut masih relevan. Pada abad pertengahan konsep kebahagiaan terkait erat dengan agama. Namun pada abad-abad berikutnya, konsep tersebut mulai dilepaskan dari agama, dan mulai dikaitkan dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan psikologi. Sejarah kebahagiaan adalah sejarah yang panjang yang melibatkan banyak sekali pemikiran dari peradaban kuno. Namun pemikiran-pemikiran itu masih bisa menjadi tema diskusi yang menarik sekaligus inspiratif bagi manusia jaman sekarang.

Konsep kebahagiaan selalu berakar pada kehidupan manusia. Kebahagiaan itu tidak hanya soal senang saja, tetapi juga soal penderitaan untuk meraih sesuatu, harapan, tangis, dan bahkan amarah, dan di dalam proses itu, kebahagiaan adalah proses trial and error, yakni proses untuk mencoba, mengalami kesalahan, dan kemudian mencoba lagi. Maka tidak ada yang abadi di dalam kebahagiaan, kecuali proses yang dijalani manusia untuk memperolehnya. Dalam arti ini kebahagiaan adalah suatu proses belajar manusia di dalam menjalani kehidupan.

Memang kebahagiaan tidak mempunyai dimensi abadi di dalam dirinya sendiri. Yang abadi adalah Tuhan, serta usaha manusia untuk mendekati-Nya, dan kemudian memperoleh kebahagiaan. Namun bukan berarti kebahagiaan itu sama sekali tidak memiliki tatanan, atau bahwa kebahagiaan itu penuh dengan relativitas. Kebahagiaan tidak memiliki konsep yang pasti sepanjang jaman, karena ia tertanam erat pada derita, tawa, dan tangis manusia yang berubah sepanjang jaman, serta berubah seturut dengan perubahan manusia itu sendiri.

Kebahagiaan sebagai Gaya Hidup[1]

Banyak orang lupa bahwa mereka sesungguhnya sudah memiliki semuanya untuk merasa bahagia. Dalam kondisi itu mereka ingin mendapatkan lebih dari sekedar ‘bahagia’. Dengan bahagia yang mereka maksud adalah keinginan untuk tertawa lebih banyak, mendapatkan kenikmatan lebih banyak, lebih sukses, lebih kaya, lebih berhasil dalam hal relasi dengan orang lain, dan ‘lebih-lebih’ lainnya. Perasaan tidak cukup tumbuh di hati mereka. Hidup bahagia tidak cukup, mereka ingin ‘lebih’ bahagia. Apakah Anda salah satu dari orang-orang semacam itu? Coba pikirkan sebentar.

Berdasarkan penelitian yang dibuat oleh Heather Summers and Anne Watson (2006), orang-orang yang paling berbahagia di muka bumi ini adalah orang-orang yang berpendapat, bahwa kebahagiaan merupakan suatu pilihan, bahkan suatu gaya hidup. Dan pilihan gaya hidup tersebut dapat dibentuk melalui proses pembiasaan, atau habituasi. Summers dan Watson juga menambahkan, hanya dibutuhkan sekitar 21 hari latihan intensif untuk mengubah kebiasaan orang. Bayangkan Anda bisa berubah menjadi orang yang bahagia hanya dengan 21 hari intensif memilih kebahagiaan sebagai suatu gaya hidup!

Titik awal yang perlu menjadi perhatian adalah, bahwa Anda bisa dan akan berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun untuk mengerti arti kebahagiaan dan menjadi orang yang bahagia, Anda perlu memahami apa arti ketidakbahagiaan terlebih dahulu. Ketidakbahagiaan adalah situasi-situasi, baik yang ada di luar maupun di dalam diri Anda, yang tidak perlu, karena memangkas potensi kebahagiaan yang ada di dalam diri Anda. Ketidakbahagiaan adalah semacam penghalang yang membuat pikiran kita terperangkap dalam emosi-emosi negatif, seperti takut, cemas, marah, sedih, dan sebagainya. Hal ini akan dibahas pada bagian-bagian selanjutnya.

Kebahagiaan juga tidak dapat disamakan dengan euforia. Memang euforia adalah salah satu bagian dari kebahagiaan, namun bukan keseluruhan kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan juga tidak melulu sama dengan kenikmatan. Kenikmatan yang dijadikan tujuan demi kenikmatan itu sendiri justru menghasilkan ketidakbahagiaan. Dalam arti ini kebahagiaan lebih merupakan kemampuan untuk merasakan disini dan saat ini. Artinya kebahagiaan itu bukan nanti, melainkan sekarang dan disini. Maka nikmatilah saat ini dengan sungguh-sungguh.

Banyak orang memikirkan tentang kebahagiaan di masa depan, yakni setelah saya kaya, setelah saya menikah, setelah saya lulus kuliah, setelah hutang rumah saya lunas, setelah menang undian, atau setelah saya pensiun. Pemahaman itu kurang tepat. Kebahagiaan itu selalu merupakan situasi sekarang, tidak pernah di masa depan. Inilah hal pertama yang harus Anda pelajari. Ketika Anda menghadapi situasi sulit, cobalah untuk tidak terlalu memproyeksikan kebahagiaan Anda ke masa depan. Cobalah untuk hidup disini dan saat ini. Niscaya Anda akan lebih bersemangat menghadapi tantangan di depan mata.

Ada beberapa premis yang kiranya bisa dirumuskan, ketika kita mulai membicarakan kebahagiaan. Yang pertama kebahagiaan terkait dengan kesehatan fisik. Memang kesehatan fisik tidak otomatis memberikan kebahagiaan. Akan tetapi kesehatan fisik yang buruk akan membuat orang tidak bahagia. Yang kedua sikap membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain akan menciptakan ketidakbahagiaan. Memang orang cenderung untuk membandingkan diri mereka dengan orang lainnya. Mereka membandingkan diri dan harta miliki mereka dengan orang lainnya. Apapun bentuknya pola perbandingkan semacam ini hanya akan menciptakan perasaan cemas dan tidak bahagia.

Yang ketiga banyak orang sekarang ini merasa, kalau mereka sudah memiliki harta benda yang berlimpah, maka mereka akan merasa bahagia. Namun hal ini tidak tepat. Tindakan menumpuk harta hanya akan menambah intensitas untuk memiliki harta lebih banyak lagi. Tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Dan yang keempat sumber utama dari kebahagiaan adalah relasi antar manusia yang akrab dan harmonis, baik itu dengan teman, keluarga, ataupun dengan kekasih. Namun ada faktor lain yang kiranya juga mempengaruhi. Menurut penelitian Summers dan Watson (2006), faktor cuaca memberikan pengaruh besar bagi tingkat kebahagiaan seseorang. Cuaca yang buruk akan meningkatkan perasaan tidak enak. Tidaklah mengherankan banyak orang yang hidup di iklim subtropis menggunakan banyak waktu liburan mereka untuk berlibur ke daerah tropis.

Penelitian mereka juga membuahkan satu cara pandang yang menarik. Usia ternyata juga sangat mempengaruhi sikap orang di dalam mencari kebahagiaan. Misalnya dalam soal uang. Bagi banyak orang muda, uang adalah faktor yang penting untuk mencapai kebahagiaan. Jika mereka tidak memiliki uang, maka mereka merasa tidak bahagia. Namun bagi orang tua, uang memang penting, tetapi bukan faktor utama untuk mencapai kebahagiaan.

Di sisi lain orang muda jauh lebih memiliki optimisme daripada orang yang lebih tua. Dan seraya dengan perjalanan usia, orang menjadi semakin tidak bahagia. Ini terjadi karena orang tidak lagi bebas menentukan dirinya sendiri, tetapi dipengaruhi dengan cukup signifikan oleh banyak faktor luar yang tidak dapat dikontrol. Padahal salah satu sumber utama kebahagiaan adalah kebebasan untuk mengatur diri sendiri. Kebahagiaan sejati muncul dari dalam diri, dan hanya dengan mengatur diri sendirilah orang bisa merasa bahagia. Oleh karena itu dalam keadaan apapun, Anda harus ingat bahwa Anda tidak boleh hanyut ke dalam peristiwa-peristiwa yang menyedihkan dan mengecewakan. Anda harus mulai menjadi tuan atas perasaan diri Anda sendiri. Hanya dengan mengatur emosi dalam dirilah orang bisa merasa bahagia.

Pada akhirnya setiap orang memiliki jenis kebahagiaannya masing-masing. Namun begitu struktur kebahagiaan setiap orang itu pada dasarnya sama, yakni bahwa kebahagiaan itu tidak diberikan begitu saja, melainkan harus dibangun, diusahakan, dan ditumbuhkan dari hari ke hari…..


 

[1] Untuk bagian berikutnya saya adaptasi dari Heather Summers dan Anne Watson, The Book of Happiness, Sussex, Capstone, 2006 dengan tambahan beberapa untuk menyesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s