Sjahrir di Pantai

Google Images

Oleh: Goenawan Mohamad

I

SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu bom dijatuhkan.

Saya bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina yang bisa mendarat di permukaan laut berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk. Tak lama kemudian, kapal terbang kecil itu pun berhenti di teluk. Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda yang kurus, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap.

Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meski pun salah satunya masih berumur tiga tahun. Sesampai di tempat pesawat, sebuah problem harus dipecahkan: ruang di Catalina itu terbatas. Enambelas kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. Enambelas kotak buku tak jadi dibawa –untuk selama-lamanya—kecuali Bos Atlas yang sempat disisipkan Hatta ke dalam kopor pakaian. Empatpuluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu.

Saya bayangkan Sjahrir di pantai Banda Naire pagi itu, di dalam Catalina yang meninggalkan pulau, ke laut, ke udara. la memandang ke luar jendela, melambai sekenanya. Seluruh Banda Neira tampak baru bangun, belum sepenuhnya berpakaian dan mandi, berjajar di tepi laut menyaksikan perginya kedua orang buangan itu, yang membawa pergi tiga anak Banda yang masih kecil. Hari itu telah jadi hari penutup sesudah hampir enam tahun Hatta dan Sjahrir tinggal bersama mereka di pulau kecil itu, di antara 7000 penduduk. Ada peperangan di seberang sana, dan mungkin semua orang, sudah menduga, Hatta, Sjahrir, dan anak-anak itu tidak akan pernah kembali.

Setengah jam setelah Si Catalina menghilang, pantai pun berubah suasana. Orang dan anak-anak berlarian, ketakutan, bersembunyi. Bom jepang jatuh dari langit. Di pesawat yang menjauh itu, Sjahrir tak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di pulau yang baru ditinggalkannya. Mungkin juga ia tak tahu persis apa yang akan terjadi dengan ketiga anak yang duduk, terdiam dalam ruangan sempit Catalina itu.

Ia hanya tahu ia mencintai mereka.

II

Saya bayangkan Sjahrir enam tahun sebelum 1 Februari 1942, di sebuah rumah tua di Banda Neira. Sejak ia datang sebagai orang buangan di pulau itu, ia tinggal di sana bersama Hatta. Sejak di hari pertama ia datang, ia sudah mulai bertemu dengan anak-anak. Ia akan mengunjungi teman atau tetangga, atau ia duduk di beranda rumah besar itu, dan ia akan menegur anak yang ia temui: “Hendak bermain? Hendak belajar?”

Hari itu ia bersama anak-anak yang datang kepadanya untuk belajar, bermain, bergurau. Rumah itu luas. Bangunan itu dulu ditempati pejabat pekebunan, dengan ruang dalam yang 50 meter persegi dan beranda yang 40 meter panjangnya. Hari itu seorang dari anak-anak itu menumpahkan vas kembang. Airnya membasahi sebagian buku yang ditaruh Hatta di atas meja. Hatta, selalu sangat sayang kepada buku-bukunya, selalu rapi dengan benda-benda itu, marah.

Sjahrir pun memutuskan untuk tidak tinggal lagi di sana…. Ia pindah ke paviliun kecil di kebun keluarga Baadilla. Ia bergabung dengan anak-anak itu. Baadilla tua, seorang keturunan Arab yang dulu saudagar kaya, menitipkan pendidikan cucu-cucunya kepada Sjahrir. Dua anak laki-laki, dua anak perempuan: Does dan Des, Lily, dan Mimi. Sjahrir segera jadi bagian dari keluarga itu.

“Mereka, di sini, adalah teman terbaik yang saya miliki,” itu yang dikatakan Sjahrir tentang hubungannya dengan anak-anak Banda itu, dalam sepucuk surat bertanggal 25 Februari 1936. Ia tidak menyebut tahanan politik lain yang ada di pulau itu: Hatta, Cipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri….

Saya bayangkan Sjahrir di paviliun itu: Ia seorang hukuman yang berbahagia. Ia mengajar anak-anak itu dan teman-teman mereka menulis, matematika, sejarah, cara makan yang sopan, dan entah apa lagi. Ia menyewa mesjin jahit Singer dan menjahitkan pakaian Does dan Des, Lily dan Mimi, bahkan ia berlangganan majalah mode untuk mencari contoh pakaian anak-anak perempuan yang polanya hendak ia tiru.

Ia seperti bapak. Ia seperti ibu. Ia memasak. Di sela-sela pekerjaan dalam rumah itu ia berenang bersama mereka, menyeberang teluk, ke arah gunung di seberang, yang cukup jauh. Jika ia tidak sedang membaca buku atau menulis surat, ia akan membawa anak-anak berjalan meninggalkan dataran pulau, berlayar, atau daki gunung di sebelah sana.

Sepucuk surat Sjahrir kepada isterinya waktu itu, Maria, 12 Oktober 1936: “Pukul setengah lima pagi, saya sudah bangun dan siap, dan pukul setengah enam, kami sudah berada di laut. Kami mengatur sendiri layar dan kemudi. Selama tiga jam, perahu melaju, karena angin yang membantu. Melintasi kebun laut, menyaksikan matahari terbit yang gemilang. Kemudian mendarat kembali. Di pantai kami menghabiskan sisa hari, dan makan.”

III

Anak-anak, permainan, pantai — mungkin itulah kiasan terbaik bagi hidup yang spontan, tak berbatas, dengan kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan, proses yang tak berangkat dari satu asal. Saya teringat sebuah sajak Tagore:

“Mereka bangun rumah dari pasir, mereka rajut kapal dengan daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam…

“Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Ada yang tak dipatok oleh tujuan dan tak dikejar-kejar oleh “manfaat” di sini, laku yang lalai tapi gembira. Kapal itu dirajut dan diapungkan ke laut dalam, entah ke mana. Kersik itu dikumpulkan dan kemudian ditebarkan kembali, entah untuk apa.

Saya bayangkan anak-anak Banda Neira di tahun 1930-an itu menyeberangi selat, melintasi kebun laut, bersama seorang buangan yang tak jelas asalnya dan masa depannya. Pantai itu berubah. Dalam keasyikan bermain, mereka tak tahu adakah pantai itu membatasi laut ataukah pulau, awal penjelajahan atau tempat asal. Di saat itu, di ruang itu, mistar tak ditarik dan hitungan tak ada. Hidup tak boleh, dan tak bisa, terlampau lempang pasti. Hidup tak bisa “terlampau positif”, seperti yang ditegaskan Sjahrir dalam suratnya bertanggal 29 Mei 1936. Hidup seperti itu tak memadai, sebuah “penalaran abstrak” tanpa “pengalaman” (”ervaring“).

Ia tampaknya menegaskan yang sudah dikatakannya sebelumnya: sebuah sikap yang menampik mutlaknya “penalaran abstrak” dan mengedepankan “pengalaman” adalah sebuah sikap yang praktis menampik peran utama rasionalitas. Dalam sepucuk surat 17 Maret 1936, Sjahrir menulis kepada isterinya: “Sesungguhnyalah, impuls, dorongan, gairah (drifts), seperti yang saya yakini sekarang, tak pernah akan dilenyapkan akalbudi. Bahkan sebaliknyalah yang benar — akalbudi bertahta hanya sepanjang impuls, dorongan, gairah membiarkannya…”

Di sini Sjahrir tampak merapat ke Nietzsche. Seperti dikatakannya, pengertian Nietzsche, Triebeleben, lebih mampu mengungkapkan apa yang dimaksudkannya. Beberapa tahun kemudian, ia makin mengatakan, “Nietzsche itu kebudayaan, Nietzsche itu seni, Nietzsche itu genius,” sebagaimana ditegaskannya kepada adiknya yang lebih muda, dalam sepucuk surat bertanggal 7 November 1941.

Saya bisa bayangkan Sjahrir menyukai Nietzsche dan pada saat yang sama percaya kepada Marx. Pada akhirya ia memang seorang materialis. Dalam Marx — dan dalam perkara ini ia melihat kesejajaran Marx dan Freud — ia menemukan pandangan bahwa “manusia bukanlah apa yang manusia maksudkan, tetapi apa yang manusia secara tak sadar lakukan, sebagai satuan jasmani…”.

Dengan kata lain, pada mulanya adalah tubuh dengan kaki di tanah. Pikiran atau ide hanya mempunyai otonomi yang semu. Subyek sebenarnya dibentuk oleh hubungan sosial (seperti diutarakan Marx), atau subyek adalah fiksi yang terpaksa dikonstruksikan oleh tatabahasa (seperti dikemukakan Nietzsche), untuk kelangsungan perbuatan.

Baik Nietzsche maupun Marx berbicara tentang ketak-bebasan dalam sebuah pertalian sosial. Bagi Nietzsche, naluri hidup yang melahirkan pelbagai hal telah dikekang oleh “mentalitas kawanan” yang jadi seragam oleh konvensi. Hasilnya — seperti tampak dalam sebuah masyarakat burjuis — adalah sebuah dunia yang dijadikan sama, sesuatu yang “dangkal, tipis, tanda yang relatif bodoh dan umum”.

Bagi Marx, proses “peradaban” itu adalah efek komodifikasi, perubahan nilai-guna yang padat-ragam menjadi sekadar indeks tukar-menukar, transformasi apa yang partikular menjadi yang umum. Di sini berlangsung represi. Juga ilusi, seakan-akan hidup adalah sesuatu yang dapat diatur sepenuhnya. Tulis Sjahrir di akhir tahun 1936: sebuah kehidupan yang “sepenuhnya rasional”, boleh dikata adalah “sebuah kehidupan yang hanya seakan-akan (een schijnleven), sebuah kehidupan yang mengelabui diri…”.

Agaknya karena itulah ia menampik ide yang tersusun tenang dan memilih apa yang dipungut Nietzsche dari Schiller: merayakan “dorongan bermain”,Spieltrieb. Hidup mendapatkan metafornya di pantai Banda Neira itu — hidup yang seperti anak-anak di pantai dunia dalam sajak Tagore itu: “Mereka tak mencari harta karun, mereka tak tahu menyebar jala….

Hasil, juga tujuan, tak relevan. Tapi bila demikian, bagaimana dengan niat, dan rancangan, mengubah dunia, dan tak sekadar menafsirkannya? Bagaimana dengan politik?

IV

Saya bayangkan Sjahrir: ia seorang tahanan yang betah, yang tak pernah berbicara “bila-nanti-saya-bebas” di Banda Neira. “Di sini benar-benar sebuah firdaus,” tulisnya di awal Juni 1936.

Sebuah kenang-kenangan yang ditulis Sal Tas, sahabatnya sejak muda di Belanda, menyebutnya kenapa demikian: di pulau itu, dalam pembuangan itu, Sjahrir bisa melampiaskan gairahnya dalam dua hal –bermain dengan anak-anak dan mengajar. “Seakan-akan ia, dalam bermain dengan anak-anak, menghilang ke dalam dunia yang tanpa ketegangan, pertikaian dan problem”.

Dan inilah kesimpulan Sal Tas, melihat semua itu: “Di lubuk hatinya, Sjahrir tidak menyukai politik. Ia melibatkan diri ke dalamnya karena tugas dan bukan karena terpikat. Ia tidak terpesona oleh fenomena yang dahsyat, menarik, bergairah —terkadang luhur, sering kotor, namun sepenuhnya manusiawi— yang kita sebut politik. Ia tak merasakan ada panggilan.”

Politik tidak mengerumuninya di Banda Neira.

Tetapi di setiap pantai, juga di pantai yang paling bersih sekalipun, orang harus memilih. Tiap tahanan politik adalah sebagian dari ikhtiar bersama yang belum selesai. Meskipun ia agak hendak dilupakan, walaupun ia agak hendak berlupa. Maka bila ada sesuatu yang harus selesai tetapi terbukti belum, apa yang akan dipilih Sjahrir? Jika anak-anak, permainan dan pantai yang tak terbatas itu adalah oposisi dari sebuah usaha yang mesti selesai, apa yang hendak dilakukannya? Pilihan apa yang tersedia?

Di pagi 1 Februari 1936 itu, ia pergi bersama tiga anak pungutnya, meningggalkan pantai, di pesawat yang mungkin tak diketahuinya hendak tiba di mana. Pada saat itu, inilah pilihannya: anak-anak, bukan buku; pergi jauh, bukan kembali ke rumah asal; berangkat ke tempat yang tak terikat, bukan ke alamat yang terjamin.

Tapi itulah yang tak sepenuhnya terjadi. Di dalam tubuh MLD Catalina yang melayang itu semua kontradiksi yang ada dalam dunia Sjahrir berkecamuk. Terbang, penjelajahan, avontur, pembuangan, anak-anak rantau—mungkin dalam hal ini ia mengalami secara intens, apa yang oleh Nietzsche disebut sebagai “kelupaan yang aktif”, aktive Vergeszlichkeit. Namun di dalam kabin itu juga ada Hatta dan buku atlasnya, pilot yang mengikuti angka-angka beban, bahan bakar dan peta yang pasti, tubuh dan mesin pesawat yang bergerak dengan perhitungan aerodinamik, dan keinginan untuk selamat dari ketidak-pastian cuaca dan situasi perang.

Pesawat Catalina itu bukan “the only possible non-stop flight”, untuk “terbang, mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat”, seperti dihasratkan dalam sebuah sajak Chairil Anwar. Pada akhirnya Sjahrir tetap harus ketemu dan mendarat, dengan rencana, sebagaimana Catalina itu akan mendarat dengan kalkulasi. Dunia tidak seluruhnya tergelar hanya dalam impuls, dorongan, gairah. Sjahrir tak selamanya berada di pantai.

Meskipun ia memeluk Nietzsche, zaman dan posisinya tak memungkinkannya menampik rasionalitas. Ambivalensinya muncul di sana-sini. Seperti orang di tahun 1930-an itu, baik yang Marxis maupun yang nasionalis, bahkan juga yang Islam, Sjahrir percaya bahwa kemajuan adalah sesuatu yang perlu dan niscaya. Ia menerjemahkan abad ke-15 Nusantara sebagai zaman yang buruk, sebagaimana abad-abad pertengahan Eropa: sesuatu yang tak bagus dan juga sesuatu yang tak bisa terus. Apa yang ada di Jawa harus dan akan ditinggalkan: mistik, stagnasi, kehalusan dan toleransi yang berlebihan, kesukaan pada kemenyan dan museum.

Seperti Tan Malaka dan PKI, seperti Takdir Alisjahbana di tahun 1930-an dan “Surat Kepercayaan Gelanggang” di tahun 1940-an, Sjahrir percaya bahwa kebudayaan Indonesia harus siap untuk mencapai cita-citanya dengan cara baru.

Itu ditulisnya di bulan Mei 1938. Dua tahun sebelumnya ia mengatakan bahwa hanya rasionalitas-lah yang cukup kuat untuk menguasai dunia. Di Banda Neira itu juga Sjahrir, seperti umumnya mereka yang terbentuk oleh pendidikan pemerintah kolonial, menulis tentang perlunya nuchterheid danzakelijkheid, sikap berpertimbangan dan lugas, pada saat yang sama ketika ia melihat kebaikan dalam dinamisme dan vitalitas, dalam semangat berjuang dan bergerak.

Dengan kata lain, Sjahrir, pendiri Partai Sosialis itu, juga tak bisa lepas dari nilai yang diunggulkan tata sosial borjuis, yang juga mengandung kontradiksi. Di satu pihak yang dikumandangkan adalah energi produktif yang tak ingin dibendung, yang berani menjelajah dan menemukan, dan dengan demikian mengandung sesuatu yang liar dan kaotik; tapi di lain pihak ada kehendak akan stabilitas, kelugasan, rasionalitas, dan yang terakhir ini perdagangan, industri, teknologi, dan juga hukum, lahir –-dan membentuk sebuah masyarakat borjuis yang berhasil, sebuah kombinasi antara hasrat dan kekuasaan.

Saya kira pada akhirnya memang Sjahrir tak bisa mengelakkan kontradiksi itu. Seperti disebutkan di atas, ia tak selamanya berada di pantai. Barangkali ini menyebabkan ambivalensinya di kelak kemudian hari ketika menghadapi perkara kekuasaan. Apa yang Nietzschean dalam dirinya bertemu, tapi juga berlaga, dengan apa yang Marxis. Tapi yang Nietzschean memang menjadi problematik ketika seorang tahanan politik ke luar dan harus kembali ke sebuah proyek bersama yang tertinggal.

Di pantai Banda Neira, di kancah anak-anak yang bermain dengan rumah pasir dan lokan kosong, mudah merasakan bahwa dalam pengertian Wille zur Macht Nietzsche yang penting bukan hanya Wille (hasrat) dan Macht(kuasa). Juga penting adalah zur (ke arah).

Tapi dalam pengertian Marxis, kuasa tak berharga sebagai hanya “ke arah”, hanya sebagai proses. Pembebasan manusia mau tak mau harus menggunakan kuasa itu sampai berhasil, meskipun kemudian melepaskannya. Kuasa adalah sebuah bagian yang niscaya dalam sejarah. Bagaimana mengelakkannya?

Saya bayangkan Sjahrir dalam pesawat Catalina itu sebelum mendarat. Ia melihat dataran, mungkin sawah, mungkin hutan, mungkin masa depan. Yang di bawah itu adalah sebuah negeri, sebuah polis, yang setengah siap, dan harus disiapkan, sebuah ruang di mana yang publik harus dikukuhkan, sebuah arena di mana pengukuhan itu memerlukan persaingan hegemoni dan kekuasaan.

Bertahun-tahun kemudian ia hidup dalam benturan dan kompetisi politik, menang dan kalah. Pada akhirnya ia kalah. Ia dipenjarakan Soekarno, lawan politiknya, berdasarkan tuuduhan yang tak pernah dibuktikan — suatu indikasi bahwa ada yang brutal ketika kuasa demikian dibutuhkan, ketika tujuan dan hasil demikian penting, dalam pergulatan mengkonstruksi sebuah negeri. Sjahrir sakit dan meninggal sebagai seorang tahanan di sebuah tempat yang jauh dari rumah, di Swiss yang tak berpantai, bukan di Banda Neira.

Di bulan April 1966 Soedjatmoko menulis sepucuk surat dari Zurich, beberapa jam setelah Sjahrir tidak ada: “Dalam arti yang sangat nyata saya sadar, bahwa kegagalannya dalam politik menandakan kebesarannya sebagai seorang manusia…”

[Ditulis kembali sebagai versi panjang Catatan Pinggir TEMPO, 14 Maret 2009. Diolah dari Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia (Studies on Southeast Asia, No. 14) oleh Rudolf Mrazek]

Sumber http://goenawanmohamad.com/esei/sjahrir-di-pantai.html

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s