Slavoj Žižek

http://www.vvork.com

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Žižek adalah seorang filsuf kontemporer yang ternama sekarang ini. Walaupun begitu cara berpikir dan gaya hidupnya jauh dari kesan seorang filsuf yang kering dan membosankan. Ia menulis dan berpikir dengan cara yang sangat unik, bahkan menghibur. Ia bahkan membuat filsafat menjadi menyenangkan, seperti layaknya komedi. Argumennya mengagetkan. Cara ia menyampaikannya selalu dengan jelas dan meledak-ledak.[i] Beberapa tema yang pernah dibicarakannya, “lelucon tentang siapa yang akan dimakan oleh ayam berikutnya, lalu ia menjelaskan sikap etis heroik Keanu Reeves di dalam film Speed, menjelaskan dasar filosofis dari Viagra, lalu berakhir dengan penjelasan nilai paradoksal Kristianitas dan Marxisme.”[ii]

Dalam salah satu wawancaranya, Žižek pernah bertanya, “mengapa segala sesuatu seperti itu?”[iii] Sikap penasaran yang dikembangkan Žižek adalah suatu taktik untuk mengajak orang berpikir lebih mendalam tentang segala sesuatu. “Filsafat dimulai”, demikian kata Žižek, “pada saat kita tidak lagi menerima apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan.”[iv] Terkadang ia bertanya seperti anak kecil, mengapa langit berwarna biru? Di saat lain ia bertanya tentang siapa sesungguhnya manusia, apa yang sedang kita lakukan, dan mengapa kita melakukannya. Ia bertanya seperti anak kecil, namun menjawab dengan ketajaman argumentasi seorang filsuf besar.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Žižek hendak melakukan analisis terhadap budaya populer dan pengalaman sehari-hari manusia. “Ia sendiri mengakui”, demikian Myers mengutip wawancara dengan Žižek, “argumentasi teoritis diperkuat dengan berbagai contoh dari sinema dan budaya populer, dari lelucon dan anekdot politik yang seringkali secara berbahaya mendekati batas-batas dari selera yang bagus.”[v] Semua hal itu membuat filsafatnya semakin kaya dan bahkan menghibur. Dengan perspektif dialektika Hegelian dan psikoanalisis Lacan, ia hendak membongkar segala sesuatu yang tidak disadari di dalam kehidupan sehari-hari orang modern, mulai dari perilaku di toilet, selera film, sampai soal utopia komunisme yang terlupakan.

Bagi Myers karya-karya Žižek juga memiliki nilai puitis yang tinggi. Di dalam tulisan-tulisannya, Žižek menjahit berbagai bentuk pemikiran yang kelihatan tidak berhubungan menjadi satu kesatuan sistematika ide yang indah dan mencerahkan.

“Žižek”, demikian tulis Myers, “membangun hubungan-hubungan tekstual yang kaya dan ketat, yang kemudian berputar mengelilingi kebenaran dari obyek, sampai, akhirnya, mengelilinginya seperti suku asli Amerika yang mengelilingi kemah api John Wayne seperti dalam salah satu film yang sering dikutip oleh Žižek.”[vi]

Myers juga berpendapat bahwa jika membaca buku Žižek, anda tidak bisa langsung melompat ke halaman terakhir untuk memahami inti argumennya. Setiap kalimat dan paragraf selalu memiliki ide yang unik yang mungkin saja terlepas dari ide keseluruhan buku. Maka anda harus secara perlahan mengunyah setiap paragraf dan bab untuk sungguh memahami kekayaan analisis Žižek yang unik.

Keunikan Žižek menurut Myers juga tampak di dalam gayanya di dalam menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri. Bagi banyak orang gaya Žižek tersebut membuat pusing dan bingung. Ia pernah bertanya di dalam salah satu bab bukunya, “Mengapa wanita adalah gejala dari Manusia?”[vii] Namun jawaban atas pertanyaan tersebut tidak juga muncul. Ia memilih untuk membahas isu tersebut dengan gaya apophasis, yakni meninggalkan lubang diskursus yang membuat penasaran pembacanya. Jawaban atas pertanyaan ganjil tersebut akan diberikan pada bagian buku lainnya, dan sekaligus digunakan untuk menjawab pertanyaan lainnya yang juga ganjil.

Apa kiranya tujuan Žižek menulis dengan cara seperti ini? Menurut Myers, Žižek sama sekali tidak mau membuat pembacanya bingung. Tujuan sesungguhnya adalah untuk menunjukkan, bahwa segala sesuatu yang dibicarakan, atau ditulisnya, saling berhubungan tanpa bisa terpisahkan. “Alasan ia melakukan ini,” demikian tulis Myers, “bukanlah keinginan ganjil untuk mementalkan harapan pembacanya, tetapi untuk menetapkan hubungan antara pelbagai hal.”[viii] Lebih lanjut Myers menegaskan, “Ini bukan hanya upaya untuk menunjukkan bagaimana segala sesuatu cocok satu sama lain, tetapi juga menegaskan tesis dasar Žižekian bahwa kebenaran adalah sesuatu yang ada di tempat lain.”[ix]

Žižek lahir pada 21 Maret 1949 di Ljubljana, Slovenia, yang pada waktu itu masih merupakan bagian dari Yugoslavia. Ia lahir dan berkembang di keluarga kelas menengah. Keluarganya sendiri berharap Žižek akan menjadi seorang ahli ekonomi. Pada waktu itu Yugoslavia dipimpin oleh Marshal Tito. Pemerintahannya terkenal dengan corak komunisme liberal. Artinya rezim Tito memberikan kebebasan, namun dengan aturan-aturan yang begitu ketat dan mengekang. Myers menjelaskan bahwa salah satu peraturan yang cukup unik adalah bahwa pada waktu itu, semua film yang akan diputarkan di publik haruslah diberikan kepada universitas terlebih dahulu untuk dievaluasi. Hal ini menguntungkan Žižek. Ia bisa menonton film Amerika dan Eropa Barat yang akan di putar di sinema setempat. Film-film tersebut nantinya akan menjadi ilustrasi yang menarik bagi filsafatnya di kemudian hari.[x]

Myers juga menegaskan bahwa walaupun Žižek selalu berada di luar kesepakatan umum tentang apa itu berfilsafat, dan ini mengakibatkan ia sulit untuk memperoleh posisi resmi di dalam lingkaran dalam para filsuf Eropa, ia tetap menegaskan dirinya, dan justru memperoleh posisinya sebagai filsuf. Dengan kata lain menurut Myers, “ia mendefinisikan posisinya hanya dalam perlawanannya terhadap institusi-institusi resmi itu.”[xi] Filsafat Žižek “justru berkembang dari kegagalan institusi-institusi filsafat tradisional untuk mengakomodir pemikirannya.”[xii] Pemikiran Žižek justru mampu berkembang, karena ia berhasil membedakan dirinya dari sistem sosial tempat ia hidup dan berkarya. Ia bukan pemberontak. Ia hanya lain dari yang umum. Dan dengan kelainannya itu, ia membentuk tradisi berpikirnya sendiri setelah menempuh proses yang lama dan melelahkan.

Fenomena Žižek menurut Myers menunjukkan, bagaimana keterasingan justru bisa membentuk dan menegaskan identitas. Dalam arti ini identitas terkait erat dengan kapasitas manusia sebagai subyek. Dan memang seperti dinyatakan secara tegas oleh Myers, konsep manusia sebagai subyek juga menjadi tema utama filsafat Žižek. Tema ini jugalah yang menjadi fokus utama kajian tulisan ini. Jika dirumuskan secara singkat, Žižek kiranya akan menjawab begini.

“Jika anda melepaskan semua karakteristik, semua kebutuhan partikular anda, kepentingan, dan kepercayaan-kepercayaan, maka yang tertinggal adalah subyek. Subyek adalah bentuk dari kesadaranmu, yang berlawanan dari isi kesadaran yang spesifik kepadamu.”[xiii]

Subyek adalah kesadaran yang kosong, lepas dari semua kepentingan dan kualitas-kualitas diri lainnya. Subyek itu kosong di dalam keutuhannya, dan utuh di dalam kekosongannya. Subyek adalah dialektika itu sendiri.

Bagi orang awam yang tidak mendalami filsafat, argumen Žižek tentu terdengar absurd. Ia tidak menawarkan pencerahan apapun. Namun Žižek sendiri menegaskan, sebagaimana dicatat oleh Myers, subyek dialektis, yang hanya merupakan sebentuk kesadaran dan kosong dari kualitas lainnya, justru merupakan subyek demokratis, yakni warga negara masyarakat demokratis itu sendiri. Bagi Žižek masyarakat demokratis terdiri dari warga-warga yang abstrak. “Demokrasi”, demikian tulis Myers tentang Žižek, “adalah hubungan formal antara individu-individu abstrak.”[xiv] Demokrasi tidak mengenal individu konkret yang historis, berdarah, dan berdaging. Oleh karena itu di hadapan sistem pemerintahan demokrasi, menurut Žižek, setiap orang itu setara.

“Demokrasi tidak mencatat ras, gender, seksualitas, agama, kekayaan, etiket di meja makan, atau kebiasaan tidur warganya. Demokrasi hanya tertarik ketika segala karakteristik ini sudah dihilangkan..”[xv] Dalam definisi inilah argumentasi Žižek tentang subyek menjadi pas. Dengan mengosongkan subyek Žižek justru hendak memberi tempat yang lebih besar bagi mentalitas demokratis, di mana setiap warga setara di hadapan sistem, hukum, dan tradisi. Pada titik ini ia memberikan analogi, subyek adalah sebagai suatu cara pandang terhadap dunia. Dalam bahasa Myers subyek adalah, “suatu tempat dimana dunia itu dilihat.”[xvi] Dengan kata lain subyek itu terbentuk dan menjadi jelas identitasnya, ketika ia menjaga jarak dari dunia. Myers menawarkan analogi yang menarik. Kita tidak dapat melihat retina kita sendiri, ketika kita menggunakannya, sama dengan manusia tidak dapat memahami dirinya sendiri, selama ia masih tenggelam dalam dunia kesehariannya.

Subyek dengan demikian adalah bagian dari dunia yang kemudian memisahkan diri, dan mencoba memahami hakekat dari dunia itu sendiri. Subyek dalam arti ini bukan hanya merupakan manusia, tetapi juga sebuah cara pandang, atau sebuah posisi epistemologis. “Subyek”, demikian tulis Myers tentang Žižek, “adalah pandangan individual atau partikular atas dunia.”[xvii] Rupanya pemikiran Žižek juga konsisten dengan pilihan-pilihan hidupnya. Seperti sudah dilihat sebelumnya, ia selalu menjaga jarak dengan dunianya. Misalnya ia berfilsafat secara tidak umum, berbeda dengan para filsuf Slovenia lainnya. Ia juga meneliti tentang Lacan tidak sejalan dengan tafsiran Lacan ortodoks yang berkembang di Perancis. Ia juga menjaga jarak dari gaya berfilsafat para filsuf pada umumnya, dan memilih untuk menjadikan budaya populer sebagai titik tolak filsafatnya. Myers menulis hal ini dengan sangat bagus. “Dan hanya dengan mempertahankan keterasingan dari sistem di dalam atau melawan sistem di mana ia bekerja ia (Žižek) mampu membentuk identitasnya sendiri sebagai seorang pemikir.”[xviii]


[i] Reza A.A Wattimena, Slavoj Žižek dan Fenomena Kesurupan Otak, dalam http://www.dapunta.com/slavoj-Žižek-dan-fenomena-“kesurupan-otak”.html diunduh 21 Januari 08.30.

[ii] Pada bagian ini saya mengikuti pemaparan Tony Myers, Slavoj Žižek, Routledge, London, 2003.

[iii] Ibid.

[iv] Ibid, hal. 1.

[v] Ibid.

[vi] Ibid, hal. 4.

[vii] Ibid. hal. 5.

[viii] Ibid.

[ix] Ibid.

[x] Ibid. hal. 6.

[xi] Ibid, hal. 9.

[xii] Ibid.

[xiii] Ibid, hal. 10.

[xiv] Ibid

[xv] Ibid.

[xvi] Ibid.

[xvii] Ibid, hal. 11.

[xviii] Ibid.


Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.