Dua Diskusi di Jakarta dan Depok: Tentang Kosmopolitanisme dan Urban Zen

Iklan

Kota dan Ilusinya

Alternate-Perspectives-ESB-Slavin-671x479
newyorkwritesitself.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tak tergoda dengan gemerlap cahaya kota di malam hari? Gedung-gedung tinggi menjulang memamerkan kecanggihan dan keindahannya. Kota-kota besar dunia memikat begitu banyak orang untuk hidup di dalamnya. Sayangnya, daya pikat tersebut tidak selalu berakhir sebagai cerita bahagia.

Tukang parkir itu masih muda. Setelah lama meninggalkan Jakarta, saya mulai banyak kehilangan arah. Saya bertanya satu alamat kepadanya. Anak muda asal Madura itu menggeleng kepala, tanda tidak tahu. Lanjutkan membaca Kota dan Ilusinya

Untuk Gubernur Jakarta Selanjutnya: Tujuh Langkah Praktis Membenahi Jakarta

http://wikitravel.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Saat ini, saya sedang menetap di Jakarta. Hampir setiap hari, saya berkeliling kota untuk melihat keadaannya sekarang. Sambil jalan, mengamati, menganalisis, membuat alternatif solusi, saya juga sekalian nostalgia. Saya tumbuh dan besar di kota yang besar sekaligus kacau ini.

Setelah beberapa kali berkeliling, muncul beberapa ide dalam kepala saya untuk membenahi Jakarta. Kebetulan, Jakarta sedang melaksanakan pemilihan Gubernur, dan salah satu kandidatnya amat potensial untuk memperbaiki Jakarta. Siapa itu? Tebak sendiri, yang pasti bukan orang lama. Ada tujuh langkah praktis yang, pada hemat saya, bisa dengan segera dilakukan oleh gubernur terpilih selanjutnya.

Membenahi Pasar

Yang pertama adalah membenahi pasar. Banyak pasar di Jakarta, mulai dari Pasar Klender, Pasar Minggu, Pasar Senen, sampai dengan Pasar Pramuka. Mayoritas tempatnya jorok, dan tidak punya tempat parkir resmi. Pelayanannya juga tidak profesional. Lanjutkan membaca Untuk Gubernur Jakarta Selanjutnya: Tujuh Langkah Praktis Membenahi Jakarta

Inspirasi dari Semarang: Renaisans Perkotaan

deanhc.com
Oleh Eko Budihardjo

Berita tentang kemubaziran dana rakyat triliunan rupiah akibat telantarnya ribuan unit rumah susun sewa di DKI Jakata (Kompas, 1-2 Maret 2011) sungguh terasa amat menyesakkan dada.

Betapa tidak. Begitu banyak saudara kita sebangsa dan setanah air yang masih tinggal di kolong jembatan, sepanjang tepi rel kereta api, bahkan di kuburan, dengan kondisi mengenaskan. Kok, bisa-bisanya di negara Pancasilais ini ada 74 dari 78 menara kembar rumah susun yang sudah terbangun ternyata mangkrak atau telantar. Kendalanya, menurut pihak berwenang, karena tak tersedia prasarana (infrastruktur) seperti air bersih dan listrik, serta sarana pendidikan dan akses transportasi. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Semarang: Renaisans Perkotaan