Legitimasi sebagai Roh Demokrasi

s-l500

Oleh Reza A.A Wattimena

Atas nama agama, ia membunuh orang lain. Ia mengorbankan diri dan keluarganya. Mereka membawa peledak pembunuh massal di rumah ibadah agama lain. Banyak orang meninggal, dan seluruh bangsa mengalami shock.

Mereka melakukan kekerasan dengan sewewang-wenang. Dasarnya adalah kebodohan. Tidak ada legitimasi, atau persetujuan dari masyarakat luas atasnya. Indonesia sudah kenyang dari aksi kekerasan semacam ini, mulai dari Bom Malam Natal, Bom Bali sampai dengan Bom Gereja.

Di tempat lain, polisi menangkap tersangka teroris. Ada perlawanan terjadi. Gencetan senjata tak bisa dihindari. Korban jiwa pun berjatuhan, baik dari pihak teroris, maupun dari polisi.

Keduanya adalah tindakan yang melibatkan kekerasan. Namun, apa yang membedakan keduanya? Tindakan teroris yang melakukan pembunuhan massal adalah tindakan tanpa legitimasi. Sementara, tindakan polisi menangkap tersangka teroris adalah tindakan dengan legitimasi, yakni dengan persetujuan dari masyarakat luas di dalam masyarakat demokratis.

Tentang Legitimasi

Tentang legitimasi, ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, di masyarakat demokratis, seperti Indonesia, legitimasi adalah dasar bagi semua kebijakan. Legitimasi berarti, sebuah kebijakan, atau tindakan, mendapat dukungan dari masyarakat luas. Dukungan tersebut didapatkan dari berbagai pertimbangan yang sejalan dengan Undang-undang Dasar, hukum positif maupun rasa keadilan masyarakat luas.

Dua, legitimasi diperoleh, ketika sebuah tindakan berpijak pada hukum yang sah. Apa itu hukum yang sah? Di titik ini, filsafat politik Habermas kiranya bisa memberikan jawaban yang kokoh. Hukum yang sah adalah hukum yang telah disepakati secara setara dan bebas oleh orang-orang yang nanti dipengaruhi oleh hukum tersebut.

Tiga, legitimasi adalah persetujuan yang telah melalui proses menimbang-nimbang. Semua data diajukan. Semua sudut pandang dinyatakan. Dari itu semua, sudut pandang paling baik akan menjadi kebijakan, dan memperoleh legitimasi yang penuh.

Empat, legitimasi diperoleh, ketika sebuah kebijakan langsung mengarah pada kebaikan bersama. Dalam arti ini, kebaikan bersama adalah kebaikan untuk seluruh anggota masyarakat. Tidak boleh ada kecuali. Kelompok dominan, atau mayoritas, tidak boleh mendapat perlakuan istimewa atas alasan apapun.

Terorisme sebagai Anti-Legitimasi

Tindakan teror, ataupun kekerasan dalam bentuk apapun, adalah tindakan tanpa legitimasi. Ia tidak sejalan dengan hukum yang sah. Ia tidak lahir dari pertimbangan dengan akal sehat, ataupun nurani yang jernih. Ia hanya ingin mencapai tujuan kelompok tertentu yang sesat, dan berbahaya untuk peradaban manusia.

Terorisme lahir dari kelompok intoleran. Di dalam masyarakat demokratis, seperti Indonesia, intoleransi harus ditindak dengan tegas. Ia tidak boleh dibiarkan. Segala bentuk intoleransi tidak boleh hidup di dalam masyarakat beradab dan demokratis.

Terorisme tidak pernah mendapat legitimasi. Hanya tindakan dan kebijakan yang mendapat legitimasilah yang layak untuk hidup di dalam masyarakat demokratis. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa legitimasi adalah kunci dari demokrasi. Sebagai sistem politik, demokrasi memberikan ruang untuk pencarian legitimasi untuk semua kebijakan yang berpengaruh pada kehidupan rakyat.

Legitimasi sebagai Komunikasi

Bagaimana legitimasi dibangun? Jawaban atas pertanyaan ini juga datang dari filsafat Habermas. Di dalam masyarakat demokratis, seperti Indonesia, legitimasi dibentuk dari proses komunikasi yang berkelanjutan. Komunikasi tersebut haruslah dilakukan dengan kejujuran, kebenaran dan kejelasan, sehingga kesalingpemahaman bisa dicapai.

Komunikasi, dalam arti ini, bisa juga dilihat sebagai percakapan. Percakapan ini terjadi di antara pihak-pihak yang memiliki nilai berbeda di dalam masyarakat demokratis. Ada keterbukaan di dalamnya. Keterbukaan ini dibarengi dengan kedudukan yang setara, serta kebebasan untuk menyampaikan pendapat.

Di dalam proses, gangguan pasti terjadi. Habermas menyebutnya sebagai distorsi komunikasi, sehingga pihak-pihak yang bertentangan tidak bisa mencapai rasa saling pengertian. Ini akan menciptakan ketegangan, dan sangat mungkin akan melahirkan kekerasan. Ketika ini terjadi, apa yang bisa dilakukan?

Komunikasi yang terganggu, demikian Habermas, hanya dapat dilampaui dengan melakukan komunikasi secara intens. Disini diperlukan kreativitas untuk menemukan cara-cara baru berkomunikasi. Diperlukan juga usaha tanpa henti, dan sikap pantang menyerah untuk terus mencoba berkomunikasi. Seluruh filsafat Habermas memang berpijak pada satu pengandaian ini, bahwa komunikasi adalah kunci untuk mewujudkan dunia yang demokratis dan damai.

Komunikasi tidak boleh berhenti. Ketika komunikasi berhenti, perang adalah buahnya. Ini sudah berulang kali di dalam sejarah manusia. Perang terhadap terorisme selalu terjadi di dua tingkat, yakni tingkat fisik dan tingkat pemikiran. Memilih yang satu, dan mengabaikan yang lain, adalah sebuah kebodohan.

Semoga bisa terus menjadi pelajaran bersama.

***

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.