Politisi Baper

Pinterest
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita memang hidup di jaman yang aneh. Banyak pemimpin bangsa, yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyatnya, kini justru cengeng dan emosional dalam bersikap.

Dalam bahasa pergaulan sekarang, mereka itu adalah orang-orang baper, alias bawa perasaan. Mereka begitu emosional terhadap berbagai kritik dan masukan dari rakyat, sehingga akhirnya menjadi bahan tertawaan masyarakat luas.

Di AS, kita bisa melihat seorang presiden yang seringkali marah-marah di akun twitternya, sehingga menimbulkan kehebohan yang tidak perlu. Di Indonesia, hal yang serupa bisa disaksikan dari keluarga mantan presiden Indonesia, walaupun lebih dalam bentuk ratapan dan keluhan.

Tindakan emosional semacam itu tentu tidak diharapkan dari seorang pemimpin negara. Emosi membuat orang bertindak tidak masuk akal, kerap kali karena ketakutan yang tanpa alasan. Lanjutkan membaca Politisi Baper

Dari Harian Kompas:”… Kami Juga Ada…”

kami-juga-adaOleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Kompas Sabtu 18 Februari 2017 hal 24

“..Kami juga ada…” adalah seruan kelompok minoritas di berbagai penjuru dunia. Karena jumlah yang kecil, atau tidak memiliki sumber daya ekonomi dan politik yang kuat, kaum minoritas di berbagai tempat cenderung terpinggirkan.   Lanjutkan membaca Dari Harian Kompas:”… Kami Juga Ada…”

Demokrasi, Pemilu dan Kaum Muda: Sebuah Usul

imagesOleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang.

Pada hakekatnya, demokrasi mengandung tiga unsur utama terkait dengan pemerintahan, yakni dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya, rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi, dan memerintah melalui wakil-wakilnya di parlemen dan kabinet kementerian.

Tentu saja, demokrasi, sebagai sebuah tata pemerintahan, tidaklah sempurna. Banyak hal yang masih harus terus diperbaiki, seringkali dengan perjuangan yang berat dan lama.

Minus Mallum

Namun, kita harus ingat, demokrasi, dengan ketidaksempurnaannya, tetap merupakan bentuk tata pemerintahan terbaik (terbaik di antara yang buruk – minus mallum). Tata pemerintahan lainnya, seperti kerajaan, militerisme, aristokrasi dan kekaisaran, mudah sekali diselewengkan, sehingga menghancurkan keadilan dan kemakmuran sebuah bangsa.

Demokrasi membuka ruang untuk kontrol dari rakyat terhadap para pemimpinnya. Ia menawarkan sebuah cara, sehingga rakyat bisa memastikan, bahwa para pemimpinnya bekerja untuk kebaikan bersama, dan bukan untuk memperkaya diri, ataupun kelompoknya. Lanjutkan membaca Demokrasi, Pemilu dan Kaum Muda: Sebuah Usul

Janji-janji Palsu

Art by Aykut Aydoğdu
Art by Aykut Aydoğdu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Pepatah hukum klasik mengatakan, Pacta sunt servanda: Perjanjian dimaksudkan untuk dijalankan. Ketika kita menyetujui sesuatu, kita terikat untuk menjalankannya.

Awal 2017 ini, Donald Trump, presiden Amerika Serikat, menolak mematuhi perjanjian dengan Australia. Ia tidak mau menerima pengungsi yang terdampar di salah satu pulau dekat Australia, sebagai bagian dari perjanjian AS dengan Australia, sewaktu Obama masih menjadi presiden.

Trump melanggar janji. Tindakannya membuat hubungan AS dan Australia retak.

Di tingkat nasional, pelanggaran janji juga merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Para politisi mengabaikan janjinya kepada rakyat, ketika mereka sudah terpilih menduduki jabatan tertentu.   Lanjutkan membaca Janji-janji Palsu

Perspektif

fullsizerenderVersi cetak bisa hubungi 

Jl. Gabus VII No. 24 – Rt 23/Rw 05, Minomartani
YOGYAKARTA – 55581
Telp. 0818271454
e-mail: penerbitmaharsa@gmail.com

Versi ebook bisa diunduh di link berikut: 978-602-0893-29-7_persppektif_reza_aa_wattimena

Toleransi dan Revolusi

Hilltown Families
Hilltown Families

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sepanjang sejarah manusia, kita melihat ribuan konflik, akibat perbedaan latar belakang sosial. Keanekaragaman, yang sejatinya bisa menjadi daya dorong kemajuan peradaban, justru dipelintir untuk memecah belah, sehingga menciptakan konflik berdarah, semata demi memenuhi kepentingan politik yang bejat.

Di abad 21 ini, kita pun kembali ke jatuh ke lubang yang sama. Di beragam tempat di dunia, kita bisa menyaksikan, bagaimana perbedaan memicu konflik berkepanjangan yang memakan banyak korban.

Jelas, dunia membutuhkan perubahan mendasar dan menyeluruh terkait hal ini. Kita membutuhkan revolusi atas intoleransi yang menyebar dalam bentuk kebencian, rasisme dan diskriminasi dalam berbagai bentuk.

Tingkat-tingkat Toleransi

Untuk itu, kita perlu memahami secara mendalam makna toleransi sesungguhnya. Pemikiran Rainer Forst, di dalam bukunya yang berjudul Toleranz im Konflikt: Geschichte, Gehalt und Gegenwart eines umstrittenen Begriffs, bisa membantu kita dalam hal ini. Lanjutkan membaca Toleransi dan Revolusi

Buku Terbaru: Perspektif, Dari Spiritualitas Hidup sampai dengan Hubungan antar Bangsa

screenshot-1

Perspektif: Dari Spiritualitas Hidup sampai dengan

Hubungan antar Bangsa

Oleh Reza A.A. Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Pengantar oleh Anak Agung Banyu Perwita

Guru Besar Hubungan Internasional, Universitas Presiden Cikarang

Penerbit: Maharsa

ISBN 978-602-0893-29-7

“Buku yang kini berada di hadapan para pembaca sejatinya
merupakan sebuah upaya olah pikir dan olah rasa dari penulis
untuk memetakan dan menjelaskan beragam aspek, perspektif dan
‘level of analysis’ para individu manusia di dunia ini.”

Anak Agung Banyu Perwita”

“Bisa dibilang, perspektif adalah harta kita yang paling berharga
sebagai manusia di dalam hidup ini. Harta bisa hilang. Keluarga
pun bisa pergi meninggalkan kita. Namun, jika kita hidup dengan
perspektif yang tepat, kita bisa merangkai hidup kita kembali,
walaupun berbagai tantangan datang menghujam.”

Reza A.A Wattimena

Versi cetak bisa hubungi 

Jl. Gabus VII No. 24 – Rt 23/Rw 05, Minomartani
YOGYAKARTA – 55581
Telp. 0818271454
e-mail: penerbitmaharsa@gmail.com

Versi ebook bisa diunduh di link berikut:

978-602-0893-29-7_persppektif_reza_aa_wattimena

Ini tentang Ahok…

Ahok dan audit (step-12-11-2013), by Tb Arief Z.
Ahok dan audit (step-12-11-2013), by Tb Arief Z.

Penistaan Agama, Ruang Publik, Permainan Bahasa dan Kritik Diri yang Berkelanjutan

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Naskah Pemancing Diskusi untuk “Ngompol” (Ngomong Politik), Fakultas Humaniora, Universitas Presiden, Cikarang, 16 Februari 2017.  

2012 adalah tahun yang amat penting untuk penduduk Jakarta. Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta.

Keduanya amat fenomenal. Mereka membawa perubahan-perubahan besar bagi perkembangan Jakarta, mulai dari pelaksanaan program Mass Rapid Transportation yang tertunda puluhan tahun, sampai dengan pembebasan Tanah Abang dari cengkraman preman-preman liar.

Tak lama kemudian, Indonesia pun mengalami peristiwa yang mengguncang: Joko Widodo naik menjadi presiden pada 2014. Ahok pun resmi menjadi gubernur Jakarta yang menggantikan Joko Widodo.

Sebagai gubernur, sepak terjang Ahok tak kalah mencengangkan. Birokrasi lambat dan korupsi di kalangan pemerintahan daerah Jakarta dibabat habis. Infrastruktur dan tempat-tempat kumuh juga dibereskan, walaupun banyak mengundang kontroversi. Lanjutkan membaca Ini tentang Ahok…

Dunia dan Kepalsuan

pinterest
pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada yang palsu dari debat Pilkada Jakarta 2017. Beberapa calon tampak sekedar mengatakan hal-hal luhur, tanpa sungguh memahami apa maknanya.

Mulut manis dibarengi dandanan mewah. Namun, itu tak mampu menutupi bau kepalsuan yang keluar dari suara dan gerak tubuh.

Kepalsuan lahir dari ketidakjujuran dan ketidaktulusan. Yang satu dititipi pesanan pihak lain, sementara yang lain tampak sakit hati, karena tak lagi diberi kedudukan politis yang tinggi.

Beberapa berkampanye dengan berita-berita fitnah. Masyarakat kita pun semakin muak dengan fitnah bertubi-tubi. Lanjutkan membaca Dunia dan Kepalsuan

Jakarta, Pilkada,… dan Serigala

Night Wolf by Anastasiya Malakhova
Night Wolf by Anastasiya Malakhova

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sebagai ibu kota Indonesia, Jakarta memiliki keunikan tersendiri. Ia menjadi tolok ukur bagi semua daerah lainnya di Indonesia.

Apa yang terjadi di Jakarta akan membuka kemungkinan bagi daerah-daerah lainnya untuk mengalami kejadian serupa. Jika Jakarta gagal mewujudkan cita-cita keberadaan negara Indonesia yang adil dan makmur untuk semua, tanpa kecuali, maka, kemungkinan besar, daerah-daerah lainya juga akan jatuh ke lubang yang sama.

Indonesia lalu menjadi negara gagal. Konflik dan ketidakadilan pun merajalela.

Untuk mencegah itu, Jakarta jelas membutuhkan kepemimpinan yang bersih dan kuat di berbagai jenjang organisasinya. Sudah terlalu lama, Jakarta menjadi kota yang macet, kumuh, banjir dan tidak aman untuk ditinggali. Lanjutkan membaca Jakarta, Pilkada,… dan Serigala

Kemalasan, Keutamaan dan Tata Dunia

Pictaram
Pictaram

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Apakah anda sudah punya resolusi di tahun 2017 ini? Jika belum, saya ingin menyarankan satu hal, yakni jadilah orang malas di tahun 2017 ini.

Tidak.. anda tidak salah baca. Saya sungguh menyarankan anda untuk belajar menjadi orang malas di tahun 2017 ini.

Di dalam ajaran moral tradisional, kemalasan dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang yang malas pasti akan menjadi orang yang miskin dan bodoh.

Di berbagai peradaban, kemalasan dicerca dan dibenci. Namun, mereka lupa, ada sisi baik kemalasan yang justru amat berguna. Lanjutkan membaca Kemalasan, Keutamaan dan Tata Dunia

Memerangi Keterbelakangan di 2017

dd2e1b28e6-1
bashny.net

Oleh Reza A.A Wattimena 

Tahun 2016 akan berakhir. Tahun 2017 mengetuk pintu di depan mata.

Banyak hal yang telah terjadi, dan banyak yang selalu bisa dipelajari. Kesalahan pasti dibuat, namun kemampuan untuk terus belajar membuka berbagai kemungkinan baik di masa depan.

Di berbagai belahan dunia, konflik masih mewarnai kehidupan manusia. Perang di Suriah yang tak kunjung padam, sampai dengan tegangan di Afrika tengah yang masih belum menemukan jalan keluar.

Kesempitan, Kerakusan dan Ketidakpedulian

Kesempitan berpikir juga masih melanda berbagai kehidupan manusia, mulai dari hubungan di dalam keluarga sampai dengan hubungan antar bangsa. Dari kesempitan berpikir tersebut lahirlah berbagai keputusan yang salah kaprah. Lanjutkan membaca Memerangi Keterbelakangan di 2017

“Ruang Hening” untuk Perdamaian Dunia

ed4a957d3cbf1b87b666627e96d4c491Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Anda mungkin belum sadar, bahwa kita sedang mengalami perang dunia ketiga. Perang yang terjadi di Suriah adalah perang antar bangsa-bangsa, mulai dari Arab Saudi, AS, Russia, Iran, sampai dengan Turki.

Kita tidak sadar akan hal ini, karena konsep kita soal perang dunia amat bersifat eropasentrik. Artinya, kita hanya memahami perang dunia sebagai perang antar negara-negara di Eropa yang melibatkan sekutunya.

Kerusakan dan korban jiwa, akibat perang Suriah, amatlah besar. Dampaknya pun merembet ke berbagai belahan dunia lainnya.

Di hadapan begitu banyak konferensi perdamaian internasional, penelitian-penelitian kajian perdamaian, dan berbagai upaya menjaga perdamaian lainnya, mengapa kita jatuh lagi ke dalam lubang yang sama, yakni perang dan kekerasan yang berkepanjangan? Apa yang bisa kita refleksikan dari semua peristiwa ini? Lanjutkan membaca “Ruang Hening” untuk Perdamaian Dunia

Memahami Hukum-hukum Kehidupan

9b8b883b951611d659a263c66e1dd7b8
pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tidak kesal, ketika menyaksikan pengendara yang begitu ceroboh di jalan raya, dan sama sekali tidak peduli pada peraturan lalu lintas? Siapa yang tidak marah, ketika menyaksikan para penegak hukum di Indonesia justru menjadi pelaku pelanggaran hukum, dan tidak ada seorang pun yang berani menindaknya?

Padahal, banyak peraturan dibuat untuk menata hidup manusia, supaya damai dan aman. Ketika peraturan tersebut dilanggar, yang menderita bukan hanya si pelanggar, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Kegagalan untuk mematuhi prinsip-prinsip hidup bersama berakar pada ketidaktahuan, atau tiadanya perspektif. Ketika orang gagal menjalankan prinsip-prinsip hidup bersama, maka konflik akan menjadi buahnya.

Pentingnya Perspektif

Pemahaman akan perspektif melibatkan tiga hal. Pertama, orang memahami hukum sebab akibat yang bekerja di dalam kenyataan. Lanjutkan membaca Memahami Hukum-hukum Kehidupan

Kanker itu Bernama Kesenjangan Global

fgl2
The Kiss- Read Opium

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Berapa gaji presiden direktur sebuah perusahaan swasta menengah di Jakarta? Bandingkan dengan gaji seseorang yang baru saja lulus kuliah.

Anda pasti akan menemukan jarak yang amat besar, apalagi jika anda bekerja di perusahaan multinasional dengan modal raksasa. Banyak orang tidak lagi mempertanyakan hal ini, karena sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat Indonesia.

Di tengah peliknya kompetisi ekonomi nasional, yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin justru semakin miskin. Terciptalah kesenjangan sosial yang amat besar antara si kaya dan si miskin.

Yang satu sibuk memikirkan mau nongkrong di mall mana nanti malam. Yang lain sibuk memikirkan mau makan apa nanti malam. Lanjutkan membaca Kanker itu Bernama Kesenjangan Global

Kedewasaan Beragama dan Perdamaian Dunia

surrealistic_room_by_mcrace
deviantart.net

Dari Hakekat Agama, Kesadaran Murni sampai dengan Perdamaian Dunia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Tulisan untuk Buku “GKI di mata Sahabat”, KOMISI NETWORK & MISI

GEREJA KRISTEN INDONESIA, KLASIS BOJONEGORO,

Anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.

Tulisan ini merupakan pengembangan ide dari berbagai tulisan yang dimuat di http://www.rumahfilsafat.com.

Agama lahir dan berkembang sebagai bagian dari peradaban manusia. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus gentar manusia terhadap segala yang ada, yakni alam dan seisinya.

Agama memberikan makna terhadap hidup manusia. Ketika krisis melanda, agama memberikan arah dan penguat harapan.

Sayangnya, agama kini banyak menjadi permainan kekuasaan. Ajaran dan tradisi religius digunakan untuk mengabdi pada kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sehat.

Akibatnya, agama kini justru menjadi alat pemecah. Ia menjadi ideologi yang keras dan jahat terhadap hal-hal yang berbeda dari dirinya. Lanjutkan membaca Kedewasaan Beragama dan Perdamaian Dunia

Agama dan Perdamaian Dunia

img_8617_dark_resurrection_the_birth_of_the_antichrist
Kazuya Akimoto Art Museum

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden Cikarang

Agama lahir dan berkembang sebagai bagian dari peradaban manusia. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus gentar manusia terhadap segala yang ada, yakni alam dan seisinya.

Agama memberikan makna terhadap hidup manusia. Ketika krisis melanda, agama memberikan arah dan penguat harapan.

Sayangnya, agama kini banyak menjadi permainan kekuasaan. Ajaran dan tradisi religius digunakan untuk mengabdi pada kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sehat.

Akibatnya, agama kini justru menjadi alat pemecah. Ia menjadi ideologi yang keras dan jahat terhadap hal-hal yang berbeda dari dirinya. Lanjutkan membaca Agama dan Perdamaian Dunia

Politik di Abad Kegelapan

1934e23f0c7383386b1bf9cdcca4e886Oleh Reza A.A Wattimena

Tampaknya, kita hidup di abad kegelapan. Di dalam abad ini, kesempitan berpikir menjadi semangat jaman (Zeitgeist).

Beragam fenomena menggiring kita menuju abad ini, mulai dari perang tak berkesudahan di Timur Tengah, politik yang semakin semerawut di Indonesia, gunjang ganjing di Uni Eropa, dan terpilihnya para politikus fasistik di AS. Amerika selatan pun menyaksikan jatuhnya berbagai pemerintahan pro rakyat, dan bangkitnya pemerintahan sayap kanan yang tak peduli pada keadilan sosial.

Abad Kegelapan

Kata abad kegelapan (dark age) diambil dari upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi di Eropa, setelah kekaisaran Romawi Barat jatuh. Kemiskinan, kebodohan dan fanatisme berkembang biak, seperti anak kelinci.

Ada empat hal yang kiranya menjadi ciri dari abad kegelapan di awal abad 21 ini. Pertama, irasionalitas menjadi menu sehari-hari di dalam politik dunia. Lanjutkan membaca Politik di Abad Kegelapan

Manusia Kosmopolis

cosmic-birth-ian-macqueenPendidikan dan Pencarian yang “Asli”

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Banyak konflik di dunia ini disebabkan kelekatan kita pada identitas sosial kita. Kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, entah ras, etnis, bangsa, negara ataupun agama.

Lalu, kita beranggapan, bahwa kelompok kita memiliki kebenaran tertinggi. Kelompok lain adalah kelompok sesat.

Kesalahan berpikir ini telah mengantarkan manusia pada konflik berdarah, pembunuhan massal, pembersihan etnis sampai dengan genosida. Ratusan juta orang terkapar berdarah sepanjang sejarah, akibat kesalahan berpikir semacam ini.

Bagaimana supaya kesalahan berpikir mendasar tentang dunia ini bisa diperbaiki? Saya ingin menawarkan ide tentang manusia kosmopolis. Lanjutkan membaca Manusia Kosmopolis

Belajarlah Sampai Ke Skandinavia

Kari-Lise Alexander Tutt'At@
Kari-Lise Alexander

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Pepatah lama mengatakan, bahwa kita harus belajar sampai negeri Cina. Tentu, banyak sekali yang bisa dipelajari disana, mulai dari seni sampai dengan politik.

Namun, ada region yang jauh lebih menarik untuk dikaji sekarang ini. Prestasinya di tingkat nasional maupun internasional amat diperhitungkan di awal abad 21 ini.

Letaknya sedikit lebih jauh dari Cina, tepatnya di Eropa Utara. Mereka adalah negara-negara Skandinavia, yakni Norwegia, Finlandia, Swedia dan Denmark. Lanjutkan membaca Belajarlah Sampai Ke Skandinavia