“Mengapa”, “Apa” dan “Bagaimana”?

artyfactory.com
artyfactory.com

Dialektika Pembuatan Keputusan

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup kita diisi dengan berbagai pilihan. Beberapa pilihan bernilai amat penting. Ia menentukan arah hidup kita selanjutnya. Beberapa pilihan lain memberikan dampak besar bagi kehidupan orang banyak.

Di balik pilihan, ada satu kata sakral, yakni kebebasan. Memang, ia kerap kali terselip dibalik untaian hal dan peristiwa. Namun, sesungguhnya, ia tak pernah hilang. Kita hanya perlu menengok ke dalam diri, dan menggunakannya untuk membuat pilihan.

Apa, Mengapa dan Bagaimana

Sering kali, pertanyaan yang membuat bingung adalah, “apa yang harus kita lakukan?” Kita sibuk dengan hal “apa”. Ini mengacu pada tindakan konkret yang harus diambil di dalam keadaan tertentu. Semakin rumit keadaannya, semakin sulit pilihan yang kita punya.

Namun, “apa” itu tidaklah terlalu penting. Tindakan kita akan menjadi jelas, jika kita pertama-tama memahami “mengapa”. Ini mengacu pada alasan dasar dari tindakan kita. Di dalam filsafat Timur, ia juga bisa disebut sebagai arah tindakan yang nantinya menentukan “apa” dari tindakan kita.

Friedrich Nietzsche, pemikir Jerman, pernah menulis, bahwa orang yang memiliki alasan untuk hidupnya bisa bertahan dalam keadaan apapun. Alasan yang kuat akan menjadi energi tindakan, terutama ketika tantangan besar datang menghujam. Ini dibuktikan dengan orang-orang yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi selama perang dunia kedua lalu. Alasan hidup yang kokoh, atau “mengapa”, membuat mereka mampu bertahan di keadaan yang amat sangat sulit.

Setelah memahami arah dan bentuk, kita perlu memahami cara, yakni dari “mengapa” menuju “bagaimana”. Ada satu konsep yang penting untuk diperhatikan, yakni kesadaran. Apa pun yang kita lakukan haruslah disertai dengan kesadaran penuh dari saat ke saat. Di dalam wacana psikologi modern, hidup dengan penuh kesadaran dari saat ke saat ini disebut juga sebagai mindfulness.

“Mengapa” akan menentukan “apa” yang kita lakukan di dalam hidup. Dari keduanya, kita perlu menjalaninya dengan kesadaran penuh dari saat ke saat. Inilah sisi “bagaimana” dari keputusan. Ketiganya membentuk dialektika keputusan yang akan membantu kita di dalam hidup.

Pribadi dan Politik

Dialektika keputusan adalah metode untuk membuat keputusan. Arah akan menentukan isi dari keputusan kita, sekaligus cara untuk mewujudkannya. Arah yang baik adalah arah yang berguna tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang banyak. Arah yang hanya memberikan kenikmatan pada diri sendiri hanya akan menggiring orang pada ketidakpuasan terus menerus, dan akhirnya penderitaan.

Jika arah hidup kita sudah jelas, yakni untuk membantu sebanyak mungkin orang, maka kita bisa memilih bentuk kehidupan yang sesuai. Artinya, “apa”nya hidup kita pun menjadi jelas. Kita bisa menjadi pemusik, guru, akuntan, dokter, pengacara atau pedagang yang mengarahkan seluruh hidupnya tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan sebanyak mungkin orang. Ini lalu dibalut dengan pola hidup berkesadaran dari saat ke saat yang mengantarkan kita pada kejernihan dan kedamaian.

Hal yang sama berlaku di ranah politik. Politik yang sejati mengarah pada perdamaian, keadilan dan kemakmuran untuk semua. Jika arahnya jelas, maka isi programnya tinggal mengikuti arah tersebut, lalu dijalankan dengan penuh kesadaran. Inilah politik yang sesungguhnya, dan bukan politik yang isinya tipu daya untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan demi kepuasan pribadi ataupun kelompoknya semata, seperti yang biasa kita amati sehari-hari.

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

21 tanggapan untuk ““Mengapa”, “Apa” dan “Bagaimana”?”

  1. Terima kasih kak Reza untuk sumber bacaan dini hari. Tuhan memberkati selalu karir dan cita ka Reza. Syalom.

    Suka

  2. Nice post.
    Anyway,mengapa politikus serta pejabat yang menjual visi misi demi keuntungan pribadi masih saja menjamur ya? Bagaimana cara mengurangi politikus serta pejabat semacam ini?

    Salam Hangat,

    Cilukba mwahhh 💋

    Suka

    1. Thx.. penegakan hukum yang konsisten dan adil. Itu kuncinya. Jika penegak hukum masih lembek, kita sebagai masyarakat sipil yang perlu mendorong mereka dengan berbagai cara untuk menjalankan tugas utama mereka. Bagaimana menurut anda?

      Suka

  3. Saya akan selalu ingat pulang ketika lelah berpetualang, dan rumah filsafatmu pak Reza? Penuh dengan ruang – ruang tenang. Terima kasih, saya senang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s