Melampaui Budaya Pembiaran

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Alkisah, seorang pria muda duduk menonton televisi. Ia mendapat berita soal orang-orang yang menderita, karena bencana alam gempa bumi di kota lain. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Biarlah, yang penting aku aman di rumahku sendiri ini.” Dengan perasaan lega, ia pun lanjut menghibur diri dengan nonton acara-acara lainnya di televisi.

Keesokan harinya, ia mendapat kabar, bahwa sepupunya menderita sakit parah. Keluarga berkumpul untuk memberikan dukungan. Namun, ia tidak ikut serta. Ia berpikir, “Ah biarkanlah. Yang penting, aku nyaman dan aman di rumahku tercinta ini.”

Tak lama kemudian, tetangganya datang untuk meminjam motor, guna membeli keperluan anaknya di toko yang letaknya agak jauh dari rumah. Ia pun menolak, karena merasa tidak perlu membantu. Apalagi, motornya masih baru. Ia berpikir, “Siapa suruh ga punya motor. Udah gitu, mau pinjam motorku yang baru ini lagi. Big NO!”

Suatu hari, rumahnya mengalami musibah kebakaran. Ia pun harus kehilangan semua harta bendanya. Karena tak memiliki tabungan, ia pun memohon bantuan kepada semua kerabatnya. Ia pun kesulitan, karena tak seorang pun keluarga ataupun kerabatnya tergerak membantu.

Pembiaran

Inilah cerita tentang pembiaran yang menular dari satu orang ke orang lainnya. Pembiaran adalah sikap tak peduli, ketika masalah terjadi, dan orang lain tertimpa penderitaan. Pembiaran juga adalah sikap tak peduli di hadapan berbagai kesalahan dan kejahatan yang terjadi. Masalahnya, pembiaran adalah boomerang, karena ia akan juga menyerang balik orang yang membiarkan.

Jika satu kesalahan dibiarkan, maka ia akan menjadi kebiasaan. Orang tak lagi melihat hal tersebut sebagai suatu kesalahan. Inilah yang disebut Hannah Arendt, seorang pemikir Jerman, sebagai banalitas kejahatan (Banalität des Bösen). Jika kebiasaan sudah menyebar, ia akan menjadi apa yang disebut Anthony Giddens, seorang pemikir Inggris, sebagai bagian dari kesadaran praktis (practical consciousness) masyarakat tersebut.

Dengan kata lain, kebiasaan tersebut akan menjadi budaya. Dalam arti ini, budaya adalah seperangkat nilai dan aturan yang dihayati oleh sebuah kelompok. Budaya, menurut Charles Taylor, seorang pemikir Kanada, bisa secara sederhana dipahami sebagai bentuk-bentuk kehidupan (forms of life). Jika sikap tak peduli telah menjadi budaya, maka ia akan semakin sulit untuk diubah.

Pembiaran juga memperbesar suatu masalah. Kesalahan kecil dapat langsung ditanggapi dengan tepat, sehingga masalah bisa cepat selesai. Namun, jika kesalahan kecil didiamkan, maka ia akan semakin besar, dan melahirkan masalah baru. Pada akhirnya, masalah kecil ini akan menciptakan krisis di banyak aspek kehidupan yang amat sangat sulit untuk diurai dan diselesaikan.

Salah Paham

Sikap tak peduli melahirkan tindak membiarkan. Ini terjadi, karena orang salah memahami arti dari kehidupan ini. Mereka berpikir, mereka bisa hidup sendiri dan nyaman di dalam ketidakpedulian mereka. Mereka juga berpikir, bahwa mereka bisa membiarkan berbagai kejahatan dan kesalahan terjadi di sekitar mereka, tanpa ada pengaruh apapun ke hidup mereka.

Pembiaran juga terjadi, karena sikap meremehkan. Orang meremehkan sebuah masalah kecil, dan menganggapnya tak ada. Masalah tersebut lalu menjadi berulang, dan menciptakan beragam masalah lainnya. Sikap tak peduli dan meremehkan, dalam arti ini, adalah sumber dari segala petaka.

Ini adalah kesalahan berpikir. Orang yang hidup di dalam kesalahan berpikir akan mengundang petaka tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, kesalahan berpikir tidak bisa didiamkan. Ia harus diubah, demi terciptanya kebaikan bersama.

Kita harus melihat hidup sebagai sebuah jaringan yang saling terhubung satu sama lain. Di dalam wacana-wacana terbaru, kehidupan dilihat sebagai keterhubungan yang ekstrem. Perubahan di satu hal akan secara langsung mengubah hal-hal lainnya. Jika melihat hidup seperti itu, maka sikap tak peduli dan membiarkan akan lenyap secara otomatis.

Orang lalu terdorong untuk membantu orang lain, sesuai dengan kemampuannya. Orang juga lalu terdorong untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Ia sadar, bahwa kebaikan orang lain adalah kebaikannya juga. Isolasi adalah sebuah ilusi.

Hukum, Keadilan dan Keberanian Sipil

Sikap membiarkan, meremehkan dan tak peduli bisa dihilangkan, jika kita menerapkan kepastian hukum. Hukum, aturan dan undang-undang dibuat untuk menata kehidupan bersama. Tentu saja, tidak ada hukum yang sempurna. Walaupun begitu, penerapannya sedapat mungkin harus mencapai tingkat kepastian yang cukup tinggi.

Untuk memastikan, bahwa hukum dan aturan berjalan dengan baik, kita memerlukan jajaran penegak hukum yang kuat dan adil. Kekuatan tanpa keadilan akan berubah menjadi penindasan. Keadilan tanpa kekuatan hanya akan menjadi cita-cita luhur tanpa kenyataan. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain.

Pada titik ini, kita juga memerlukan apa yang disebut Gerd Meyer, seorang pemikir Jerman, sebagai keberanian sipil (Bürgermut). Dalam arti ini, keberanian sipil adalah tindakan aktif dari warga negara untuk menyuarakan pendapat kritis mereka di dalam berbagai persoalan bersama. Pendapat kritis ini lalu diikuti dengan tindakan yang tepat, guna menyelesaikan masalah yang ada. Bentuk konkretnya adalah dengan berani menegur, ketika melihat kesalahan, atau melaporkannya kepada pihak yang berwajib.

Di sisi lain, salah satu bentuk keberanian sipil adalah dengan tidak meremehkan masalah. Kita perlu tanggap terhadap berbagai masalah yang muncul, baik kecil ataupun besar. Semua krisis di muka bumi berawal dari kesalahan kecil yang didiamkan. Sikap meremehkan, atau sikap anggap enteng, akan melahirkan kejahatan dan masalah besar yang sebelumnya tak ada.

Hanya dengan keberanian sipil yang tinggi, bangsa Indonesia bisa mewujudkan kebaikan bersama (Bonum Commune). Kebaikan bersama, di dalam ilmu Hubungan Internasional, terkait erat dengan perdamaian dan kemakmuran untuk semua pihak. Inilah tujuan tertinggi dari semua ajaran agama dan ilmu pengetahuan di muka bumi ini. Semuanya dimulai dengan kepedulian kita terhadap orang-orang terdekat di dalam hidup kita, dan tak meremehkan masalah, sekecil apapun itu…

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

9 thoughts on “Melampaui Budaya Pembiaran”

  1. Pembiaran juga cermin dari lumpuhnya kreativitas, yaitu saat orang “mati gaya”, tidak lagi tahu cara mencapai solusi atau memilih tindakan tepat guna? Ketakutan akan kemungkinan melakukan kesalahan karena “budaya” bully dan teror turut menyurutkan keberanian dalam menyuarakan pikiran kritis dan memilih tindakan tepat guna.

    Suka

  2. Mantap.
    Dosa ketidakpedulian dlam Kitb Injil juga diangkat dalam cerita orang kaya dan Lazarus. Dosa ketidakpedulian yang kelihatan sepele menjadi sebab utama orang kaya mendapat hukuman kekal dalam penderitaan yang tidak bisa ditebus lagi dengan bayaran apapun.

    Suka

  3. Apakah memang sikap meremehkan itu tidak diperlukan?
    Bukankah dalam mencapai satu tujuan, kita juga perlu untuk tidak mempedulikan hal yang tidak penting?
    Bukankah mempedulikan semua hal nantinya akan memicu kita utk overthinking?
    Statement terakhir Pak Reza, bagi saya terkesan memicu overthinking.

    Suka

  4. Agama akan menjadi baik jika di perankan olah orang yang berakal dan baik, tanpa akal yang baik agama hanya mainan batin yang cacat. Semua agama yang bertahan hingga ke peradaban saat ini adalah agama yang bisa diterima olah akal sehat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s