Manusia Lintas Agama

Pinzellades al món: James C. Christensen

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di abad 21. Setidaknya, ada empat ciri utama abad 21. Pertama, nalar memainkan peranan penting dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama. Ini terbukti dari berkembangnya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan teknologi.

Dua, abad 21 ini ditandai dengan semakin kencangnya badai globalisasi. Jaman ini ditandai dengan perubahan pemahaman manusia tentang ruang, waktu dan identitas, terutama akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang amat cepat. Tiga, semua ini menciptakan keterhubungan yang luar biasa besar antara berbagai negara di dunia. Tidak ada satu pun negara yang bisa menciptakan keadilan dan kemakmuran, tanpa kerja sama dengan negara-negara lainnya. Lanjutkan membaca Manusia Lintas Agama

Iklan

Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar

Oleh Reza A.A Wattimena

Morning Star: Surrealism, Marxism, Anarchism, Situationism, Utopia. by Michael Lowy

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Di seluruh dunia, kita menyaksikan gerakan radikalisasi. Orang-orang menjadi radikal di dalam beragama, sehingga kehilangan akal sehat, dan bersikap keras terhadap perbedaan. Orang justru semakin tertutup melekat pada identitas etnis, ras dan agama mereka di jaman globalisasi ini. Inilah salah satu ciri mendasar dari globalisasi, yakni paradoks antara keterbukaan di satu sisi, dan ketakutan untuk bersikap terbuka di sisi lain.

Radikalisasi adalah sebuah proses untuk menjadi radikal. Orang yang sebelumnya bersikap sehat terhadap identitasnya kini berubah menjadi amat keras, dan takut pada perbedaan. Lebih dari itu, mereka bahkan menjadi kasar dan keras terhadap orang lain yang berbeda dari mereka. Ciri khas radikalisasi adalah sikap yang menjadi semakin intoleran. Lanjutkan membaca Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar

Toleransi dan Revolusi

Hilltown Families
Hilltown Families

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sepanjang sejarah manusia, kita melihat ribuan konflik, akibat perbedaan latar belakang sosial. Keanekaragaman, yang sejatinya bisa menjadi daya dorong kemajuan peradaban, justru dipelintir untuk memecah belah, sehingga menciptakan konflik berdarah, semata demi memenuhi kepentingan politik yang bejat.

Di abad 21 ini, kita pun kembali ke jatuh ke lubang yang sama. Di beragam tempat di dunia, kita bisa menyaksikan, bagaimana perbedaan memicu konflik berkepanjangan yang memakan banyak korban.

Jelas, dunia membutuhkan perubahan mendasar dan menyeluruh terkait hal ini. Kita membutuhkan revolusi atas intoleransi yang menyebar dalam bentuk kebencian, rasisme dan diskriminasi dalam berbagai bentuk.

Tingkat-tingkat Toleransi

Untuk itu, kita perlu memahami secara mendalam makna toleransi sesungguhnya. Pemikiran Rainer Forst, di dalam bukunya yang berjudul Toleranz im Konflikt: Geschichte, Gehalt und Gegenwart eines umstrittenen Begriffs, bisa membantu kita dalam hal ini. Lanjutkan membaca Toleransi dan Revolusi