Toleransi dan Revolusi

Hilltown Families
Hilltown Families

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sepanjang sejarah manusia, kita melihat ribuan konflik, akibat perbedaan latar belakang sosial. Keanekaragaman, yang sejatinya bisa menjadi daya dorong kemajuan peradaban, justru dipelintir untuk memecah belah, sehingga menciptakan konflik berdarah, semata demi memenuhi kepentingan politik yang bejat.

Di abad 21 ini, kita pun kembali ke jatuh ke lubang yang sama. Di beragam tempat di dunia, kita bisa menyaksikan, bagaimana perbedaan memicu konflik berkepanjangan yang memakan banyak korban.

Jelas, dunia membutuhkan perubahan mendasar dan menyeluruh terkait hal ini. Kita membutuhkan revolusi atas intoleransi yang menyebar dalam bentuk kebencian, rasisme dan diskriminasi dalam berbagai bentuk.

Tingkat-tingkat Toleransi

Untuk itu, kita perlu memahami secara mendalam makna toleransi sesungguhnya. Pemikiran Rainer Forst, di dalam bukunya yang berjudul Toleranz im Konflikt: Geschichte, Gehalt und Gegenwart eines umstrittenen Begriffs, bisa membantu kita dalam hal ini.

Forst merumuskan empat tingkatan toleransi. Setiap tingkat berpijak pada tingkatan yang lain.

Tingkat pertama adalah “sekedar membiarkan ada” (Erlaubnis). Di tingkat ini, kelompok mayoritas sekedar membiarkan ada kelompok minoritas, dengan segala budaya dan cara hidupnya, tanpa pemahaman sama sekali.

Di tingkat ini, hubungan kekuasaan yang tidak adil masih amat terasa. Tingkat kedua adalah “berada bersama” (Koexistenz), dimana ada hubungan yang setara dan beradab antara kelompok-kelompok yang berbeda budaya dan cara hidup.

Tingkat ketiga adalah hubungan yang berpijak pada rasa hormat (Achtung). Di tingkat ini, berbagai kelompok yang berbeda melihat satu sama lain sebagai setara (Gleichheit) dalam hal moral dan budaya.

Tingkat tertinggi adalah tingkat pengakuan (Anerkennung) dan penghargaan terhadap keanekaragaman kehidupan itu sendiri. Ini juga termasuk pengakuan dan penghargaan pada perbedaan budaya dan cara pandang di dalam bidang agama, politik dan ekonomi.

Prinsip-prinsip Toleransi

Rheinhold Weber, di dalam bukunya yang berjudul Toleranz lernen: zur Auseinandersetzung mit Toleranz und Intoleranz, merumuskan enam prinsip toleransi. Prinsip pertama adalah prinsip tanpa kekerasan.

Prinsip kedua adalah pengakuan dan penghormatan terhadap segala perbedaan di dalam hidup sosial. Yang ketiga adalah keadilan di dalam hubungan dengan orang lain, terutama yang memiliki latar belakang berbeda.

Prinsip keempat adalah kemampuan untuk mempertanyakan posisi pribadi di hadapan berbagai peristiwa dunia. Ini juga berarti kerendahan hati, bahwa orang tidak bisa sampai pada kebenaran seutuhnya, sehingga ia bersedia untuk terus mempertanyakan dirinya sendiri, dan berdialog dengan orang lain.

Prinsip kelima adalah kemampuan dan kemauan untuk memperlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Prinsip ini juga tertanam di berbagai ajaran agama maupun budaya berbagai bangsa.

Prinsip terakhir adalah komitmen untuk menyelesaikan semua konflik akibat perbedaan dengan cara-cara yang damai, kreatif dan beradab. Konflik yang diselesaikan dengan kekerasan dan dendam akan melahirkan konflik lainnya yang lebih parah.

Revolusi atas Intoleransi

Toleransi adalah kunci untuk kehidupan yang damai di dalam masyarakat multikultur dan demokratis, seperti Indonesia. Tanpa toleransi, kehidupan bersama akan selalu diwarnai dengan tegangan dan konflik terus menerus.

Keadaan penuh intoleransi, sebagaimana yang kita hadapi sekarang, jelas harus segera mengalami revolusi, yakni perubahan yang cepat, menyeluruh dan mendasar. Revolusi ini harus terjadi di berbagai tingkatan, mulai dari sudut pandang pribadi, dan kemudian menyebar di kehidupan sosial politik.

Revolusi atas intoleransi haruslah menjadi agenda utama langkah politik kita, baik di dalam maupun di luar negeri. Jika ini tidak terjadi, maka kehidupan bersama akan jatuh kepada kekacauan.

Ketika politik kacau, maka peluang untuk lahirnya pemerintahan otoriter yang kejam akan semakin besar. Indonesia memiliki trauma sejarah dengan itu semua. Jangan sampai terulang lagi.

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Toleransi dan Revolusi”

  1. Harus saya akui bahwa saya kagum melihat konsistensi Pak Reza membuat tulisan-tulisan yang berkualitas. Saya kaget melihat notifikasi mengenai tulisan Pak Reza yang sering masuk ke email saya. Bagaimana caranya supaya produktif seperti ini, di tengah tugas lain yang padat Pak?

    Suka

  2. Damai sendiri merupakan konsep yg utopis. Konflik selalu ada, terlepas sifatnya negatif atau positif ini tergantung bagaimana menghadapinya. Saya setuju dgn pendapat bapak yg mengusahakan toleransi ut itu kita perlu mengkoreksi toleransi kita berada pd tingkatan apa spt yg tertulis di atas. Toleransi hny akan muncul apabila ada perubahan pola pikir, kedewasaan dan kebijksanaan bertindak dan ini hny bs diciptakan melalui ruang2 dialog.

    Suka

  3. Pak Reza, benarkah teori yg mengatakan bahwa sejarah itu suka terulang, kalau tidak mungkin peradaban sudah maju tidak seperti saat ini yg kita lihat di ruang publik sepertiny zaman jahiliah masih hidup kembali kekerasan, arogansi, intoleran. Mohon tanggapannya pak, salam kenal.

    Suka

    1. sejarah memang cenderung mengulang dirinya sendiri, namun dengan tokoh2 yang berbeda. Selamat kita tidak belajar dari kesalahan masa lalu, dan berdamai dengan masa lalu kita, maka kita cenderung akan jatuh pada kesalahan yang sama…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s