Memerangi Keterbelakangan di 2017

dd2e1b28e6-1
bashny.net

Oleh Reza A.A Wattimena 

Tahun 2016 akan berakhir. Tahun 2017 mengetuk pintu di depan mata.

Banyak hal yang telah terjadi, dan banyak yang selalu bisa dipelajari. Kesalahan pasti dibuat, namun kemampuan untuk terus belajar membuka berbagai kemungkinan baik di masa depan.

Di berbagai belahan dunia, konflik masih mewarnai kehidupan manusia. Perang di Suriah yang tak kunjung padam, sampai dengan tegangan di Afrika tengah yang masih belum menemukan jalan keluar.

Kesempitan, Kerakusan dan Ketidakpedulian

Kesempitan berpikir juga masih melanda berbagai kehidupan manusia, mulai dari hubungan di dalam keluarga sampai dengan hubungan antar bangsa. Dari kesempitan berpikir tersebut lahirlah berbagai keputusan yang salah kaprah.

Kerakusan politis dan ekonomis juga masih bercokol kuat di dalam politik. Orang menggunakan jabatannya untuk menindas orang lain serta memperkaya diri dan keluarganya, sambil melupakan peran utamanya di dalam masyarakat.

Di sisi lain, menyaksikan itu semua, banyak orang menjadi muak dengan politik. Mereka lalu menjadi warga negara yang tidak peduli pada nasib bangsanya sendiri.

Ketidakpedulian ini makin mendorong terciptanya tata kelola politik yang jauh dari rasa keadilan, dan justru menciptakan kesenjangan yang semakin besar antara si kaya dan si miskin. Dari kedua hal tersebut lahirlah beragam masalah yang membuat kehidupan bersama menjadi semakin sulit.

Semua masalah tersebut berakar pada satu hal yang sama, yakni keterbelakangan berpikir. Keterbelakangan ini lahir dari rendahnya mutu pendidikan, terutama di Indonesia.

Apa yang bisa Dilakukan?

Ada enam hal yang kiranya bisa dilakukan menanggapi itu semua. Pertama, mutu pendidikan jelas harus diperbaiki, terutama mengubah paradigma pendidikan para guru yang ada.

Kemampuan berpikir kritis dan kreatif harus lebih diasah lebih tinggi dari kemampuan untuk patuh dan menghafal. Guru harus diberikan ruang untuk mengembangkan materi dan metode ajarnya, bukan terjebak pada tugas-tugas administratif belaka.

Kedua, ini semua dilakukan dengan pertimbangan atas kebaikan bersama. Segala kebijakan politik dibuat dengan berpijak pada apa yang baik untuk semua, dan bukan untuk segelintir kelompok saja.

Minoritas tidak melulu harus berkorban, hanya karena ia minoritas. Mayoritas tidak bisa seenaknya melanggar hukum, hanya karena ia mayoritas.

Ini terkait dengan langkah ketiga, yakni membentuk sistem dan mental demokratis. Indonesia, sudah sejak awal berdirinya, adalah negara demokrasi dengan niat untuk mengembangkan sistem dan mental demokratis bagi seluruh warganya.

Ini tidak boleh dilupakan, terutama ketika banyak ancaman dan masalah bangsa yang datang bertubi-tubi. Diskusi dan nalar harus memperoleh tempat yang lebih tinggi, daripada otot dan ancaman.

Ini semua hanya dapat terwujud melalui langkah keempat, yakni kepastian hukum. Hukum harus menjadi acuan utama di dalam setiap pembuatan kebijakan, dan ia harus berlaku untuk semua warga negara, tanpa membeda-bedakan.

Namun, hukum tidak boleh melayani dirinya sendiri, melainkan melayani rasa keadilan. Ketika hukum melanggar rasa keadilan, maka hukum itu secara alamiah tidak berlaku.

Di dalam bukunya yang berjudul Faktizität und Geltung, Beiträge zur Diskurstheorie des Rechts und des demokratischen Rechtstaats, pemikir Jerman, Jürgen Habermas, merumuskan tiga prinsip pembuatan hukum yang adil di dalam masyarakat demokratis. Ini juga merupakan langkah kelima yang penting untuk diambil, yakni bebas dari paksaaan, dirumuskan di dalam kesetaraan dan terbuka bagi semua pihak yang nantinya terkena dampak dari keputusan itu.

Jika sebuah kebijakan dibuat tidak berdasar dengan prinsip-prinsip tersebut, maka ia kehilangan legitimasinya sebagai kebijakan. Artinya, ia bisa, dan bahkan, wajib untuk tidak dipatuhi.

Keenam, orang harus berpikir sesuai dengan konteks. Jaman berubah, waktu berubah dan kita semua berubah di dalamnya.

Jika kita masih saja menganut ajaran yang sudah lama berlalu, maka kita akan ketinggalan kereta kemajuan peradaban. Kita menjadi bodoh dan miskin, sementara seluruh dunia berkembang maju ke arah keadilan dan kemakmuran.

Keenam langkah ini adalah langkah untuk memerangi keterbelakangan. Tahun 2016, kita banyak menemukan keterbelakangan berpikir semacam ini yang menimbulkan berbagai masalah.

Semoga kita tidak jatuh ke dalam lubang yang sama di tahun 2017 nanti. Selamat tahun baru.

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

24 thoughts on “Memerangi Keterbelakangan di 2017”

    1. hmm.. ini pertanyaan bagus. Mungkin ini beberapa saran yang mungkin:

      1. Membuat organisasi resmi pendidikan politik yang terdiri dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda.
      2. Membuat program pendidikan politik yang menarik sekaligus mendalam.
      3. Memasarkan program itu segencar mungkin, dan dengan bungkusan semenarik mungkin.
      4. Menjaga keutuhan organisasi resmi tersebut, sehingga program pendidikan politik tersebut bisa berjalan secara berkelanjutan.

      Ada saran lainnya?

      Suka

  1. Benar sekali tulisan bapak. Di tahun ini ada beragam kemajuan yang di buat contoh PIala AFF dimana kita runner-up (kalau dulu selalu tersisih), penangkapan teroris yang jelas sangat cepat dll. Namun ada beberapa kemunduran khususnya dalam hal toleransi, politik dan etika di media sosial. Sementara PR lama masih belum dikerjakan cth bagaimana agar Indonesia memiliki lebih banyak saham Freeport, tekanan Dollar yang terus menguat dan aksi radikalisme.
    Menanggapi tulisan bapak tentang kreatifitas dalam pendidikan, saya ingat ketika dulu saya menggambar matahari ada 3 saya di tegur oleh guru seni rupa saya bahwa matahari hanya ada 1. Setelah dewasa saya tahu bahwa guru itu mengekang kreatifitas saya. Dalam hal ini murid yang kreatif tapi dikekang oleh guru. Apa saran/pendapat bapak mnanggapi guru yang mengekang kreatifitas murid?

    Suka

  2. Dear mas Reza A.A Wattimena,

    | | | | | |

    |

    | | | | Reza A.A Wattimena Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan… | |

    |

    |

    Mantap. Terima kasih untuk tema terbaru nya mas. hormat saya,Naizal

    Suka

  3. Salam kenal Bang Reza
    saya senang baca artikel anda mudah2an dapat mengadah daya fikir saya shg akal budi bisa mengendslikan hawa nafsu. Trims

    Suka

  4. Salam kenal Pak Reza,
    Setelah membaca saya jadi muncul pertanyaan, apakah keterbelakangan berpikir dan rendahnya mutu pendidikan lalu pada langkah yang diajukan bapak, pertama-tama dapat dimulai dari mengubah tradisi dalam keluarga? Mengingat, anak zaman sekarang di satu sisi lebih cerdik dari orang tuanya, di sisi lain pola pengasuhan orang tua yang ketinggalan zaman berkemungkinan menurunkan nilai yg itu-itu lagi (kalau kata dosen saya: gak mau bertanya/menjawab karena takut salah). Saya sendiri beranggapan perlunya anak dan orang tua saling memahami dunianya, dan itu terlaksana lewat perubahan tradisi, selanjutnya diperluas ke pendidikan di luar, sehingga guru tidak melulu sebagai pemberi tugas killer yang memukul rata potensi anak pada mata pelajaran. Bagaimana menurut bapak?

    Suka

  5. Salam kenal Pak Reza,
    Setelah membaca saya jadi muncul pertanyaan, apakah keterbelakangan berpikir dan rendahnya mutu pendidikan lalu pada langkah yang diajukan bapak, pertama-tama dapat dimulai dari mengubah tradisi dalam keluarga? Mengingat, anak zaman sekarang di satu sisi lebih cerdik dari orang tuanya, di sisi lain pola pengasuhan orang tua yang ketinggalan zaman berkemungkinan menurunkan nilai yg itu-itu lagi (kalau kata dosen saya: gak mau bertanya/menjawab karena takut salah). Saya sendiri beranggapan perlunya anak dan orang tua saling memahami dunianya, dan itu terlaksana lewat perubahan tradisi, selanjutnya diperluas ke pendidikan di luar, sehingga guru tidak melulu sebagai pemberi tugas killer yang memukul rata potensi anak pada mata pelajaran. Bagaimana menurut bapak?

    Suka

    1. Salam kenal. Saya sepakat. Keluarga adalah unsur utama pendidikan dalam hubungan dengan sekolah dan masyarakat luas. Maka dari itu, orang harus sungguh paham tugas orang tua, sebelum mereka punya anak. Banyak orang belum siap berkeluarga, tetapi sudah punya anak. Akhirnya terjadi salah asuh. Ini salah satu akar masalah kita sekarang ini

      Suka

    1. saya tidak sepakat. Semua data dan pengalaman menunjukkan, bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling mungkin untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Saya tidak mau berpikir bertentangan dengan data dan pengalaman nyata.

      Suka

    1. saya tidak sepakat. Semua data dan pengalaman menunjukkan, bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling mungkin untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Saya tidak mau berpikir bertentangan dengan data dan pengalaman nyata.

      Suka

  6. bapak Reza kami sangat menghargai tulisan bapak yg sangat bermanfaat ini…
    menyangkut soal pendidikan kritis yg dikonsepkan oleh Fraire, apa bapak menilai cocokah jika diterapkan di indonesia ??

    salam hangat dari selatan negeri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s